Because Of You

Because Of You
Fix You



Happy Reading


***


Scout POV


"Jika bersamamu harus membuatku menggugurkan bayi ini, maka aku siap untuk tidak bersamamu lagi, Scout Sharp..."


Hancur.


Itulah kata yang bisa mendeskripsikan diriku saat ini. Aku kehilangan arah, aku tidak tau mana yang benar dan salah. Yang kuinginkan hanyalah dia bisa baik-baik saja. Aku ingin memiliki hidup bahagia dengannya dan membuktikan padanya bahwa kami akan baik-baik saja dengan atau tanpa bayi. Namun, dia tidak peduli. Dia tidak mempedulikan aku. Dia selalu berkata bahwa dia mencintaiku lebih dari apa pun, tapi sekarang aku meragukannya. Meragukan hal itu setelah dia mengatakan hal seperti itu.


"Kau tidak serius...." bisikku parau. Suaraku bergetar. Takut. Aku takut. Aku terus begini. Selalu takut. Sejak kecil, rasa takut selalu menghantuiku. Aku takut pada Kakek yang keras, aku takut pada Paman dan Bibiku yang selalu menatap benci ke arah keluargaku, dan ketakutan terbesarku adalah kehilangan Kenny untuk kesekian kalinya. Membayangkan dia tidak bernapas, kulitnya memucat, dingin, dan dia tidak akan menyebut namaku lagi dengan suaranya yang lembut. Aku takut dan itu terus membayangiku setiap saat dan bayangan itu semakin buruk saat perutnya semakin membesar.


Dia menggeleng, "Aku serius, Scout..."


Aku membuka mulutku tidak percaya dan aku maju hendak meraihnya, tapi dia menjauh dan memeluk dirinya sendiri, berusaha melindungi mereka. Dia menatapku nanar. Dia sama hancurnya denganku.


"Tapi kau sudah berjanji... Berjanji tidak akan meninggalkanku.." aku merasakan air mata mengalir di wajahku, bukti bahwa aku sudah di ambang batas ketakutanku. Aku hancur dan aku benar-benar hancur.


"Yah.. Aku memang berjanji, tapi kau berusaha membuatku merusak janjiku sendiri. Janji kita. Dalam senang dan sedih, dalam keadaan sakit atau sehat. Ingat? kau ingat janji kita? Dan kau merusaknya...."


Aku terengah-engah, bingung, "Aku hanya ingin melindungimu...."


"Kau menyuruhku menggugurkan bayi kita. Kau sebut itu melindungi?"


"Aku.. Aku hanya..." aku terisak.


"Kau hanya apa? Katakan..."


Aku menggigit bibirku, "Pergilah.."


"Apa?"


Aku membuang muka darinya, menghindari tatapan menuduh itu.


"Pergilah.. Aku tidak berpikir jernih. Kita berdua... Kumohon pergulah..."


Kenny segera pergi dari hadapanku dan menutup pintu dengan keras. Aku berjalan ke arah piano dan mengambil botol alkohol. Aku segera ambruk ke lantai dan menyandarkan tubuhku pada dinding, lalu meminum alkohol. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan dan apakah yang kulakukan tadi benar, yang kuinginkan hanyalah menghilangkan bayangan Kenny yang tidka bernapas lagi.


***


Kenny POV


Aku tidak bisa tidur dan bangun dengan keadaan tidak menyenangkan. Tidak seharusnya aku stress dan membahayakan calon bayiku, tapi tidak bisa. Pertengkaranku dengan Scout semalam benar-benar menguras emosi dan tenagaku. Aku tidak menyangka dia kan berpikir sejauh itu, menyuruhku menggugurkan bayi kami, darah dagingnya sendiri.


Namun, perkataannya semalam benar. Kami tidak berpikir jernih. Aku yakin Scout tidak memiliki maksud buruk mengatakan hal itu. Sama halnya denganku, aku jelas tidak ingin berpisah dengan Scout. Aku tidak bisa memilih antara Scout dan bayi kami, aku mencintai mereka berempat dengan bentuk cinta yang berbeda. Dan aku yakin, Scout bisa melakukan hal yang sama, mencintai bayi kami.


Aku melihat keadaan di luar melalui jendela, mendung. Aku berpikir sekarang masih pukul tujuh pagi karena melihat keadaan langit, tapi ternyata sudah hampir pukul sepuluh. Aku segera bangkit dari tidurku dan memakai sweaterku serta sendalku. Aku harus makan walau aku tidak selera karena tiga nyawa lagi perlu makan. Aku mengambil ponselku dan berjalan ke arah pintu yang sengaja ku kunci agar Scout tidak masuk ke dalam kamar. Aku perlu jarak dengannya setelah pertengakaran kami.


Aku turun tangga dengan perlahan, bayangan aku terpeleset di tangga selalu membayangiku setelah menonton film yang menunjukkan ibu hamil yang mati karena terpeleset di tangga, itu benar-benar mengerikan. Aku bertanya-tanya, apakah aku masih sanggup naik tangga jika perutku semakin besar? Mungkin aku akan tidur di kamar bawah.


Saat sudah di bawah, aku melihat ke arah sayap kanan, bertanya-tanya di mana Scout dan apa yang dia lakukan setelah pertengkaran kami. Aku hendak melangkah ke arah sayap kanan dan segera mengurungkan niatku. Yah, Scout yang harus mendatangiku dan meminta maaf terlebih dahulu. Jangan harap aku akan akan melakukannya terlebih dahulu, apa yang dia katakan kemarin benar-benar di luar batas.


Akhirnya aku berjalan ke arah sayap kiri, ke arah dapur. Semakin dekat dengan dapur, aku mendengar suara dentingan sendok dengan piring kaca. Aku melihat Scout sedang makan di meja bar, dia masih memakai baju kemarin, dan wajahnya kusut. Sadar bahwa sedang ditatapi, Scout mengangkat kepalanya ke arahku seraya tetap mengunyah. Kami lomba menatap dan kupastikan aku tidak akan kalah dalam hal menatap dengannya.


"Apa yang kau lihat? Kau tidak makan?" ucapnya akhirnya dan memutuskan tatapannya ke arahku. Aku tersenyum kecil. Aku menang lomba menatap denganmu, Scout Sharp.


Aku berjalan ke arah Scout dan duduk bergabung dengannya. Dia segera berdiri memunggungiku dan menyiapkan makanan untukku. Lalu dia kembali ke arahku dengan semangkuk sup ayam dan sepiring kentang tumbung. Aku melihat bercak-bercak makanan pada kemenjanya.


"Kau yang memasak?"


"Yeah..." ucapnya tanpa menatapku. Dia kembali memungungiku. Membuka lemari pendingin dan mengambil kotak susu promil milikku. Dia memutar kepalanya ke arahku.


"Tiga sendok, bukan?"


Aku mengangguk.


"Air panas atau air hangat?"


"Air panas...."


Beberapa saat kemudian, dia kembali duduk dan memberiku segelas susu. Aku menatapnya heran, kenapa dia sangat membingungkan. Perasaannya sangat cepat berubah.


"Makanlah. Aku bukanlah pemasak yang buruk. Kau tau jelas itu..." ucapnya seraya kembali memakan makanannya dan aku mengakui itu. Scout bukan pemasak yang buruk, bahkan dia terampil. Yeah, dia terambil dalam banyak hal. Dia multi-talent.


"Di mana Lidsey?" Aku mulai memakan makananku.


"Sekarang akhir pekan..."


Yeah, akhir pekan adalah libur bagi pekerja kami.


"Apa yang terjadi?" tanyaku tanpa melihat dia.


"Apanya?"


"Kau mengerti apa yang kutanyakan..."


"Aku tidak mau membahasnya. Lakukan apa yang ingin kau lakukan..."


"Itu bukan penyelesaian masalah kita dengan mengatakan hal seperti itu..."


"Makanlah makananmu, Ibu hamil..."


"Kau sangat kasar..."


Kami berdua tetap berdebat tanpa melihat satu sama lain, hanya fokus pada sarapan pagi kami.


"Aku memang kasar. Kau tau jelas itu."


"Kau menyebalkan..." suara denting sendokku semakin keras.


"Kau jauh lebih menyebalkan..."


Aku menghentikan sendokku dan menatap ke arahnya, "Oh yeah?" suaraku naik satu oktav


"Jangan berdebat denganku di pagi yang indah ini, Mrs.Sharp..."


Aku menatapnya dengan tidak percaya, "Pagi yang mendung... Yeah, sangat indah..."


"Makan saja, Ken.. Kau sangat keras kepala..." dia tetap tidak melihat ke arahku.


"Aku tidak selera lagi makan..."


Scout mengehentikan sendoknya dan menatapku lembut, hampir membuatku luluh.


"Makanlah, Ken.. Tiga bayi itu butuh makan...."


Dia tersenyum hangat.


"Scout.. Kau membingungkan..."


Aku menggeleng, "Kau seperti manusia berkepribadian ganda...."


"Aku hanya begitu saat di dekatmu.. Kau mengeluarkan sisi lain dalam diriku..."


Aku masih tidak mengerti apa yang dia bicarakan.


"Apa inti pembicaraan ini? Kau sudah menerima kenyataan bahwaa ku hamil? Kau sudah menerima mereka bertiga? Calon bayimu?"


Dia mengangkat bahunya, "Aku tidak tau. Yang ku tau hanya, aku akan mengikuti apa pun keinginanmu. Keinginan yang membuatmu bahagia."


"Kenapa begitu?"


"Jika kau bahagia, aku akan bahagia juga. Itu saja sudah cukup padaku, melihatmu tersenyum bahagia..."


Itu sangat manis, hingga membuatku ingin menangis..


"Sekarang, habiskan makananmu...." dia kembali melanjutkan makan, "Kita perlu pergi ke toko bayi dan merencanakan renovasi kamar untuk mereka bertiga..." ucapnya santai dengan suara kalem.


Aku mengigit bibirku dan segera bangkit dari dudukku. Aku segera memeluknya dengan erat, akhirnya.. Dia belajar untuk menerima. Itu membuatku senang, hingga membuatku menangis bahagia.


"Terimakasih, Scout.. Terimakasih....." bisikku penuh haru.


Dia membalas pelukanku dan mengelus punggungku dengan lembut, "Hey.. Jangan menangis..."


Aku menggeleng, "Tidak.. Bagaimana mungkin aku tidak menangis. Kau sangat pengertian, Scout."


"Sudah seharusnya aku begitu sejak awal, kau sumber bahagiaku Ken... Maaf mengabaikanmu..."


"Aku.. Aku mencintaimu, Scout dan aku tidak pernah berpikir untuk berpisah denganmu. Maafkan perkataanmu semalam..."


"It's okay..."  bisiknya, "Kita berdua tidak berpikir jernih saat itu..."


"Aku mencintaimu dan juga bayinya, Scout. Aku tidak bisa memilihnya..." hisakku lagi.


Dia memutar tubuhnya ke arahku dan menarik diriku untuk duduk di pangkuannya. Dia mendorong bahuku lembut dan menatapku, lalu membelai wajahku untuk menghapus air mataku.


"Jangan menangis lagi, Ken... Jika kau menangis, aku juga menangis. Jika kau hancur, aku pun begitu..." bisiknya


"Aku mencintaimu, Scout. Benar-benar mencintaimu..." Andai ada alat yang bisa menunjukkan betapa aku mencintai dia. Sangat mencintainya.


"Aku juga... Aku tidak akan pernah bosan mengatakannya untukmu, sweetheart.."


Lalu aku menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Menyalurkan segala emosiku padanya dan membuktikan betapa aku menyayanginya, betap aku mencintai pria ini. Dia segalanya untukku, dia sumber bahagiaku. Seberat apa pun masalah kami, aku yakin bahwa kami bisa menemukan jalan untuk pulang.



***


Tiga bulan kemudian.


Sudah bulan dua belas dan perutku sudah memasuki bulan ketujuh. Aku bahkan tidak bisa melihat kakiku sendiri karena perutku yang besar. Sebagian kegiatanku bahkan harus ditolong oleh Scout. Dia yang memandikanku, mengikat rambutku, memasang sepatuku, dan lainnya karena aku kesulitan dan Scout sangat protektif. Kami terpaksa tidur di kamar bawah karena tubuhku tidak sanggup untuk naik-turun tangga lagi.


Aku duduk di kursi goyang di depan perapian, untuk menghangatkan tubuhku. Salju turun lebat di luar. Aku mendengar lantunan musik seraya mengelus perutku yang besar dan ini masih membesar dalam waktu dua bulan ini. Aku merasakan tendangan lembut dari dalam perutku, salah satu keajaiban luar bisa yang kualami beberapa akhir ini.


"Bayi pintar.." bisikku


Aku bertanya-tanya jenis kelamin mereka, terkadang aku berpikir itu adalah pria karen mereka menendang sangat keras, terkadang juga wanita. Namun, apa pun itu tidaklah masalah unutkku. Yang kuinginkan adalah mereka bisa lahir dengan sehat. Aku merasakan pelukan Scout dari belakang tubuhku, dia menciumi leherku dan aku memiringkan leher untuk menikmatinya


"Aku merindukanmu..." ucapnya sendu.


Kami sudah tidak melakukan hubungan intim sejak kehamilanku menginjak usia enam bulan, bukannya aku tidak mau tapi dia tidak bisa dan tidak tega. Ada saat malam kami yang menyenangkan dan cukup lucu jika kuingat, saat itu Scout berusaha memasukkan miliknya dalam milikku dan kami hampir menemui puncak kami, tapi sebuah kejadian tidak terduga terjadi, untuk pertama kalinya bayi kami menendang dengan sangat keras hingga Scout bisa merasakannya. Awalnya, Scout ingin mengabaikannya dan terus mendesak masuk, tapi tendakan itu terus terjadi dan membuat Scout mundur perlahan dan kami tidak mendapat pelepasan itu. Yeah, sejak itu dia tidak berusaha untuk memasukiku lagi.


"Aku juga..."


"Tapi ada yang tidak ingin berbagi tubuhmu, Ken..."


"Mereka bayi kita, Scout..."aku menguap keras, hingga membuat daguku bergetar dan air mataku keluar.


"Kau mengantuk, sayang..." bisiknya dan menarik tubuhku kembali ke kamar kami. Aku menyadarkan tubuhku pada tubuhnya yang hangat, lalu dia membantuku berbaring, tapi aku menahan tubuhku.


"Ada yang salah?" tanyanya.


"Aku ingin di pijat, Scout..."


"Kau serius?" dengusnya.


"Yeah.." bisikku


 


***


Scout POV


Aku memutar mataku jengkel dan tetap mengikuti keinginan Kenny. Aku mengambil posisi di belakang tubuhnya dan meletakkan tanganku pada bahunya. Aku mulai memijit dengan lembut. Dia selalu menggodaku untuk melakukan hal seperti ini.


"Ah... Ini nikmat, Scout.." desahnya lembut dan membuat badanku bergetar. Dia sengaja.


Aku melirik ke arah badan Kenny yang benar-benar berisi sejak dia hamil. Pada bagian-bagian tertentu, seperti dada dan pantat, mereka semakin besar dan berisi. Aku pernah menyentuh daging kenyal itu dan membayangkan bagaimana mulutku berada di sana. Hanya saja, aku tidak ingin. Mereka bertiga tidak mau berbagi tubuh Kenny, mereka menendangku. Bahkan saat aku memeluk kenny, seolah mereka mengetahui bahwa aku adalah pria yang sempat berusaha menggugurkan mereka. Aku layak mendapatkannya.


"Pelipisku, Scout..." pinta Kenny dan aku mengarahkan tanganganku pada pelipisnya.


Mataku mencuri pandang pada belahan dada Kenny yang cantik. Persetan, aku benar-benar menginginkannya.


"Oh, yeah... Kau sangat hebat, Scout..."


"Jangan menggodaku...."


"Aku tidak menggodamu. Kau benar-benar hebat dalam hal memijat..."


Aku melepas tanganku dan pergi dari tempat tidur, "Aku akan mandi...." dengusku.


"Jangan marah Scout..." Kenny tertawa dan aku memutar mata dengan jengkel. Jelas dia menggodaku, terus menggodaku. Lihat saja jika kelahirannya sudah selesai, tidak akan aku biarkan dia tidur. Dia akan kubuat berteriak keras setiap malam, memohon-mohon, dan mengeksploitasinya.


Aku masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan shower, aku berdiri di atas shower dan menikmati air dingin itu. Perlahan, suhu tubuhku semakin turun. Lalu sebuah bayangan menghantam pikiranku. Rencanaku untuk membuat Kenny berteriak keras setiap malam mungkin akan hanya rencanaku saja karena tidak ada jaminan yang membuat dia selamat saat melahirkan nanti.


Sebuah kenyataan pahit. Dalam malam-malamku, terkadang yang kulakukan hanya menatap Kenny yang sedang tertidur dan memastikan dia tetap bernapas hingga pagi datang. Melihat dadanya tetap bergerak untuk bernapas dan melihat matanya terbuka saat pagi merekah. Ketakutankulah yang membuatku seperti itu, takut bahwa dia tidak akan bangun di hari esok...


 



****


MrsFox


Spoiler, next chapter udah lahiran Kenny yah dan... Rahasia. Gimana pun hasil kelahirannya, kita terima dengan lapang dada. Gila, udah sepanjang ini ternyata dan udah seramai ini yang baca cerita aku dan ini baru karya pertama aku. Senang banget lihat antusiasme kalian, terutama komen kalian. kadang suka ketawa sendiri, ternyata bisa juga aku buat orang uring"an lewat kata-kata. Big thanks untuk kalian semua gais. Aku mencintai kalian para readersku. Apalagi yang ngikuti cerita ini dari awal, pas masih sepi"nya dan memberi waktu untuk mendukung ceritaku. Untuk pecinta Scout, dia kirim salam untuk kalian wkwkwk. Intinya aku mencintai kalian semua dan lop yuh.. Tunggu cerita aku selanjutnya.