Because Of You

Because Of You
Bab 11 : Menjauh



"Untuk saat ini, biarkan aku sendiri."


_________________________________________


SETELAH kejadian di taman kemarin, Amazora dan Aoi jarang bertemu. Aoi selalu mencoba untuk menghindari Amazora. Dan Amazora selalu menghindari Arva. Sedangkan Aoi selalu bertemu dengan Rey. Bahkan sering pergi bersama, mungkin untuk melupakan semua yang telah terjadi.


Rey tahu akan hal ini karena Arva bercerita untuk tidak menggangu Amazora lagi dan menyuruhnya untuk fokus terhadap Aoi. Serta menceritakan bahwa ia sudah menegaskan perasaanya terhadap Amazora kepada Aoi. Rey paham akan hal itu.


Sekarang, Rey sedang menunggu Aoi di depan gerbang utama. Tak lama, datanglah Aoi yang sudah ditunggu dari tadi bersama Amazora yang sedari tadi mengejar.


Tanpa balasan apapun, Aoi segera masuk ke dalam mobil Rey tanpa menghiraukan Amazora. Melihat Aoi yang sudah naik, ia pun langsung melajukan mobil.


"Aoi." buka Rey.


"Jangan sekarang!" Tegas Aoi.


"Tapi."


"Tapi apa?" bentak Aoi.


"Kasihan Amazora, dia gak salah."


"Apa sekarang Kakak juga membelanya? Apa Kakak membela seseorang yang telah merebut gebetan sahabatnya sendiri?"


"Tidak, kamu salah Aoi. Disini Amazora tidak salah. Kalau mau menyalahkan, salahkan Arva. Tapi menurutku Arva juga gak salah."


"Jadi maksud Kakak yang salah aku? Gitu? Ok, percuma saja aku cerita sama Kakak. Turunin aku disini," Perintah Aoi. Namun tidak Rey turutin untuk kali ini.


"Turunin," Kata Aoi lagi dengan nada tinggi. Yang seketika membuat Rey terkejut dan memberhentikan mobil itu di kiri jalan.


"Dengarkan aku Aoi, aku hanya ingin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Aku kenal Arva dan aku juga kenal Amazora. Dilihat dari dulu, Arva begitu menyukai Ama. Tapi Ama tidak menyukai Arva, entah itu mungkin karena dia tahu kamu menyukainya jadi dia tidak berniat untuk membuka hati untuk Arva atau memang dia tidak menyukainya, aku juga tidak tahu.” Sambil menatap Aoi


“Disamping itu, Amazora yang dulunya menyukaiku telah merelakanku untukmu. Karena apa? Karena dia pikir aku menyukaimu. Tapi asal kamu tahu. Dulu, awalnya aku tidak menyukaimu. Aku menyukai Amazora. Itulah yang sebenarnya. Namun, setelah aku mengetahui bahwa Arva lebih menyukai Amazora. Akupun harus merelakannya untuk Arva. Dan aku sekarang mencoba untuk mencintaimu sebesar Arva mencintai Amazora." lanjut Rey.


"Jadi intinya kalian semua menyukai Amazora? Tidak menyukaiku?!" Tanya Aoi dengan senyum sinis. "Terus, buat apa Kakak berperan seolah menyukaiku? Kalau Kakak sebenarnya tidak menyukaiku." Lanjutnya.


"Dengarkan aku Aoi. Itu dulu, rasaku yang dulu. Tapi sekarang aku sudah mulai menyukaimu. Sifatmu yang bertolak belakang padaku cocok untuk membuatku lebih dewasa. Aku ingin membuatmu bahagia, aku ingin membuatmu melupakan Arva dan semua kejadian ini. Tapi tidak untuk cara menyalahkan mereka berdua. Karena mereka tidak salah. Melainkan pemikiranmu yang salah. Kamu terlalu iri terhadap Amazora, dan berlanjut kamu membenci dan menyalahkannya. Sedangkan Arva, kamu berpikir kalau Amazora telah merebut Arva darimu. Padahal disini yang merebut Amazora darimu adalah Arva sendiri. Kamu paham?" jelas Rey dengan sabar.


Hingga tanpa sadar Aoi mengeluarkan air mata. Melihat gadis itu menangis seketika Rey mendekap dan Aoi menangis dalam pelukan Rey. Berlangsung cukup lama, hingga tanpa sadar hari mulai petang.


Ke esokan hari, Aoi masih memilih untuk menghindar Amazora. Namun disamping itu, ia juga masih memikirkan perkataan Rey kemarin. Apakah ia harus berbaikan kepada Amazora? Atau dia harus meminta maaf akan semua hal ini? Dia masih memikirkan semua itu. Hingga tanpa sadar, Arva datang.


"Apa yang lo lakuin disini?" Tanya Aoi tanpa basa-basi.


"Gue disini, mau meminta lo untuk gak ngehindari Tya. Karena dia gak salah."


"Apa urusannya dengan lo?"


"Banyak. Salah satunya dia jadi ngehindari gue. Karena apa? Karena elo. Dia masih anggep lo tuh sahabatnya yang suka gue. Dan dia masih ngejaga perasaan lo. Tapi lo? Lihat! Dengan santainya pergi dengan Rey. Naik mobil Rey tepat di depan Tya."


"Memangnya kenapa? Ama juga gak masalah. Toh, dia juga gak suka Rey."


"Gak suka lo bilang? Sahabat macam apa yang gak tau sahabatnya sendiri, hah?!" Kata Arva meremehkan sambil berniat untuk pergi. Namun,


"Apa maksud lo? Jangan berkata seperti itu, karena seolah gue begitu jahat."


"Lo emang jahat. Gak dapat ngejaga perasaan sahabat sendiri. Sedangkan Tya, hingga saat ini masih ngejaga untuk lo."


"Tapi, dulu Ama bilang dia gak suka Rey."


"Iya, karena ia pikir bahwa Rey gak suka dia melainkan suka lo dan mencoba untuk merelakan. Hingga ia membuat sebuah kebohongan pada lo. Tapi, setelah semua terjadi lo masih aja menyalahkan Tya akan semua ini. Teman macam apa lo ini? Hah?" Dan berlalu pergi.


Mencoba mencerna setiap perkataan Arva tanpa sadar ia mulai menangis lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini ia menjadi sangat sensitive sekali. Memikirkan perkataan Arva dan Rey kemarin membuatnya menjadi bersalah kepada Amazora.


Karena benar, disini Amazora tidaklah salah. Ia terlalu iri hingga menyalahkan semua kepada Amazora. Faktanya, Arva tidak pernah memberi perhatian khusus ataupun harapan untuknya. Sedangkan Amazora? Mendapatkannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa Arva menyukai Amazora tidak dirinya. Dan untuk Rey, ia telah mendapat perhatian khusus itu. Apalagi Rey juga sudah pernah menyatakan perasaan kepada Aoi. Dan itu sudah memperjelas.


Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menuju kelas Amazora. Berlari dari koridor ke koridor hingga ia berhenti tepat di depan kelas Amazora. Namun nihil, Amazora tidak ada disana.


Dikantin? Tidak ada. Ditaman? Tidak ada. Di perpusatakaan? Juga tidak ada. Hingga ia berakhir di lapangan basket,


"Akhirnya ketemu," Gumam Aoi. Yang semula berlari, sekarang mulai berjalan mendekati Amazora yang masih duduk disana. Namun, sebelum itu. Ia melihat Arva dari arah samping menghampiri Amazora yang tengah duduk tenang disana. Entah apa yang diobrolkan, Aoi tidak begitu mendengar.


Hingga ketika Arva mulai memegang tangan Amazora ia mendengar teriakan Amazora yang terdengar hingga masuk ke telinga.


"Lepaskan gue Arva! Dengan cara lo ini, sama aja nyakitin hati Aoi."


"Ada ataupun enggak itu gak penting. Karena bagi gue dia lebih berarti dari pada lo. Dan gue akan ngejaga hatinya. Karena gue tahu bagaimana rasanya sakit hati ketika melihat orang yang disukai berduaan dengan sahabatnya."


"Tapi, bukankah dia sudah bersama Rey?"


"Gue tahu, tapi cintanya ke lo gak akan mudah luntur gitu saja."


"Tapi apa lo gak sakit lihat Rey dan Aoi berduaan?"


"Sakit? Tentu aja. Tapi gue udah ikhlas. Jadi untuk sekarang rasa sakit itu sudah menghilang seiring berjalannya waktu."


"Dan kapan lo akan ngebalas cinta gue?"


"Gue gak tahu. Mungkin gak pernah. Untuk saat ini, gue gak ingin ngebicarain masalah ini. Gue mau fokus belajar untuk UN besok." berlalu meninggalkan Arva sendiri disana.


Disisi lain, Aoi yang mendengar obrolan mereka berdua mulai merasa bersalah kembali kepada Amazora yang masih menjaganya hingga saat ini. Meskipun ia telah berulang kali menyakiti Amazora. Tanpa sadar, Arva mengetahui Aoi yang sedang bersembunyi di balik pohon dekat lapangan basket. Ia mendekat.


"Lo dengar? Baik sekali kan dia. Masih mikirin sahabatnya ini." Dan berlalu dari sana.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Aoi berusaha mencari Amazora dengan mendatangi kelasnya. Bukannya menemukan Amazora, ia malah bertemu Arva disana. Arva mengatakan bahwa Amazora sudah pulang baru saja.


Mendengar informasi ini segera Aoi berlari berharap masih bisa mengejar Amazora. Sesampai di depan gerbang ia menemukan Amazora yang sedang berbicara sesuatu dengan Rey.


"Amazora, aku tahu disini kamu tidak salah. Jadi maafkan Aoi ya," Kata Rey.


"Untuk apa Kakak meminta maaf. Aoi tidak salah kok, aku yang salah." berusaha untuk meninggalkan Rey. Tapi seketika di tahan Rey.


"Ama, bolehkah aku jujur? Sebenarnya dulu aku juga menyukaimu. Aku tahu bahwa dulu kamu juga menyukaiku. Tapi-." Belum sempat melanjutkan, seketika terpotong oleh Amazora


"Maaf, aku tidak pernah menyukai Kakak. Dan aku mohon jangan pernah mengatakan hal seperti ini lagi. Satu lagi, aku mohon jangan pernah membuat Aoi menangis. Tolong jaga dia." Dan meninggalkan tempat itu.


Tak sadar, Aoi yang sedari melihat itu ternyata disampingnya juga ada Arva yang melihat adegan ini. Rey berbalik, ia pun melihat Aoi dan Arva yang berada tak jauh dari sana. Ia memanggil. Aoi mendekat, sedangkan Arva lebih memilih untuk pergi dari sana .


"Bagaimana sekolahnya?" Tanya Rey basa-basi.


"Alhamdulillah lancar. Oh ya Kak, untuk saat ini aku gak bisa pulang bersama dulu."


"Kenapa?"


"Aku ingin jalan Kaki saja. Dah ya Kak. Aku duluan."


Beberapa menit setelah memperhatikan gadis itu menghilang dari pandangan. Ia pun masuk ke mobil


"Semoga masalah ini, selesai hari ini juga," gumam Rey.


Di tengah perjalanan menyusul Amazora, Aoi melihat Arva yang mengikuti dari belakang menggunakan motornya. Melihat Arva yang mencoba menggoda Amazora hingga membuat Amazora kesal. Ingin rasanya tertawa melihat tingkah konyol Arva.


Tanpa sadar ia tertawa terbahak-bahak. Yang seketika membuat Amazora dan Arva berbalik. Suasana yang semula biasa berubah menjadi canggung dan tegang.


Selang beberapa menit, akhirnya Aoi mendekat. Tidak langsung berkata, ia mengumpulkan nyalinya dulu untuk membuka.


"Ama"


"A..e.. iya?" jawabnya dengan sedikit gugup.


"Maafin gue ya. Untuk semuanya, gue telah salah menilai lo. Gue emang sahabat lo, tapi gue rasa gue juga bukan sahabat lo. Karena, seolah disini gue gak bisa ngenalin lo. Sedangkan lo, selalu ngejaga gue. Makasih untuk semuanya." Tanpa sadar sebuah air menetes.


"Hey jangan nangis donk. Udahlah, gak apa-apa Aoi. Yang terpenting kita sekarang baikan ya?" jawab Amazora.


"Iya. Dan juga Arva, gue udah ngerestui. Gue udah ngerelain kalian. Jadi sekarang Ama, lo boleh ngebalas cintanya Arva kok," Kata Aoi sambil mengusap mata dan mencoba untuk tersenyum


"Gak," Jawab Ama mantap.


"Kenapa?" Tanya Aoi bingung "gue udah ngerelain." Lanjutnya.


"Biarlah Aoi, biarkan Tya menjalani sesuai keinginannya. Dan gue akan siap menunggu hingga kapanpun," Kata Arva sambil mengerlingkan mata kepada Amazora.


"Apaan sih? Gue hanya ingin fokus UN sana ini dulu kok," Jawab Amazora.


"Iya. Iya, karena itu gue nungguin lo. Kan saat ini fokus UN, besok fokus gue," goda Arva.


Dan berakhir mereka bertiga sudah baikan.