Because Of You

Because Of You
Bab 1 : Pandangan Pertama



"AMAZORAAAA...." teriak seorang gadis berambut sebahu berwarna kecoklatan dengan make up tipis yang terkesan natural serta terdapat beberapa buku ditangannya. "Amazora" teriaknya lagi di dekat telinga gadis yang sedang duduk di pinggir lapangan basket.


"Ada apa?" tanyanya sambil melepas headset disalah satu telinga.


"Ayo pulang," ajaknya menarik tangan Amazora. Secara refleks dia terseret, tanpa sengaja secarik kertas yang berada di tengah buku yang ia niatkan untuk diselip pun terjatuh di sana bersamaan lewatnya angin senja.


Disisi lain, di lapangan basket dengan banyak pemuda yang masih bermain basket di sana. Terlihat salah satu pemuda mendapati sebuah kertas yang beterbangan di depannya yang sedang duduk untuk istirahat. Dengan ragu ia pun mengambilnya.


Selesai membaca, terukirlah sebuah kerutan di dahi. Menandakan keheranan. Penasaran dengan siapa yang membuat, dibaliklah kertas itu dan mendapat sebuah tulisan "Milik Amazora."


***


Keesokan harinya, ketika sedang pelajaran Bahasa Indonesia - di kelas Amazora. Bukannya serius mendengarkan guru, ia malah gelisah mencari secarik kertas puisi yang ia tulis ketika sedang menunggu Aoi kemarin, berniat untuk melanjutkan puisinya.


Bel berbunyi menandakan istirahat. Dengan cepat ia langsung berlari menuju kelas Aoi yang berada di lorong ujung lantai 3.


"Aoi," teriaknya sambil mencari sesosok gadis pendek itu. Memang benar Aoi memiliki badan pendek, kecil, tapi berisi. Berlawanan dengan Amazora yang memiliki badan tinggi -walaupun tidak tinggi-tinggi amat- kecil, terkesan ramping dengan rambut panjang berwarna hitam gilapnya.


"Ada apa?" tanya seseorang yang berada di belakangnya. Secara otomatis ia pun berbalik.


"Lo tahu kertas yang gue tulis kemarin?"


"Kertas? Kertas apa? Gak tahulah."


"Benarkah? Yaudah makasih." dan berniat untuk kembali ke kelas sebelum,


"Tunggu." terdengar suara berat serta genggaman yang begitu kuat yang sedang menahan Amazora.


"Siapa?" tanya Amazora tanpa basa basi serta melepaskan genggaman itu.


"Astaga, Ama.." kata Aoi sambil mendekat, "Apa lo gak kenal? Dia adalah Arva Askara Felizio, teman sekelas lo." lanjutnya dengan nada berbisik.


"Oh ya? Mungkinkah, dia anak bermasalah di sekolah ini? Arva kan?" tanya Amazora sambil mengintimidasi pemuda itu dari bawah ke atas. Terlihat baju osis yang keluar dari asalnya serta rambut yang begitu berantakan. Di samping itu, walaupun wajahnya terdapat beberapa luka baru dan lama, ketampanannya tidak dapat dipungkiri. Bahkan dia merupakan idola para kaum hawa disana.


"Ih.. Jangan gitu. Bermasalahpun, dia juga baik kok. Buktinya, saat gue pulang sendiri terus ada sekumpulan orang yang mendekat. Tiba-tiba dia datang menyelamatkanku. Kami berlari bersama. Lo tahu? dia memegang tangan gue," jelasnya panjang lebar tak lupa senyum-senyum sendiri.


"Ya ya. Terserah." dilanjutkan berpaling melihat pemuda yang bernama Arva itu "Dan kau? Ada apa?" tanya Amazora sekali lagi.


"Lo Amazora kan?" tanyanya memastikan. Dan hanya dibalas dengan anggukan oleh yang punya nama itu.


"Apa lo nyariin ini?" sambil memperlihatkan secarik kertas berwarna biru langit.


"Kau! Bagaimana bisa-?"


"Rahasia. Nih gue balikin. Dan juga gue tahu puisi itu untuk siapa," katanya dengan senyum sinis sebelum menghilang dari tempat itu.


"Hah? Siapa? Gak usah sok tahu deh." kata Amazora dengan sedikit berteriak.


***


Hari yang melelahkan bagi Amazora dan Aoi karena hari ini mendapat begitu banyak laporan tugas yang diberikan seksi-seksi osis. Karena jelas, Amazora adalah Ketua osis yang di pilih karena dia mendapat ringking pertama pararel sedangkan Aoi merupakan wakilnya, tapi bukan karena dia ringking dua -melainkan ringking 15 besar di pararel. Tapi karena Amazora yang merekomendasikan sahabatnya sendiri. Sebab baginya biarpun Aoi tidak begitu membantu dalam menangani osis, setidaknya dia ada di sampingnya itu sudah cukup.


Matahari mulai tenggelam merekapun baru selesai meneliti semua laporan di ruang sekretariatan.


Dalam perjalanan pulang, mereka melewati lapangan basket kemarin lagi -bila melalui jalur lain akan menempuh waktu lebih. Tanpa sadar, Amazora terhenti. Dia terlalu fokus memperhatikan seorang pemuda yang kira-kira berusia mahasiswaan. Cukup dewasa, dengan kacamata minus berwarna hitam yang bertengger di sana serta rambut hitam basah karena keringat yang masih bercucuran. Mungkin habis selesai bermain basket. Dan faktanya puisi tadi yang ditemukan oleh Arva sebenarnya ia tulis untuk pemuda itu. Pemuda yang tak dikenal, yang hanya bisa ia lihat dari ke jauhan. Pemuda yang dengan bahagianya bisa memasukan bola ke dalam ring lawannya. Tanpa sengaja, mata mereka bertemu. Yang seketika membuat Amazora berpaling, salah tingkah serta menyusul langkah Aoi yang sudah semakin jauh darinya.


Sadar akan sahabatnya yang tidak ada disamping, ia pun berbalik melihat Amazora yang sedang bertingkah aneh. Curiga dengan tingkah sahabatnya iapun mencari, melihat sekeliling yang dianggap janggal. Hingga ia menemukan seorang pemuda yang tengah mengawasi Amazora -mahasiswa itu- dari arah timur, tepatnya di lapangan basket.


"Ehemm.. Oh gue tahu, pasti puisi yang ditemukan Arva untuk Kakak itu kan?" tebak Aoi yang membuat Amazora sadar akan kegelisahannya serta menunjuk pemuda itu.


"Eh.. Apaan sih?" dan melanjutkan jalannya. Melarikan diri dari pertanyaan Aoi.


"Amazora!!!" tariknya untuk duduk di pinggir taman itu.


"Gue kasih tau ya, lo tahu? Sejak Arva nolongin gue, mulai saat itu gue jatuh cinta. Entah kenapa? Seolah berita buruk tentangnya tidak masalah. Memang, cinta tidak memandang bulu. Jadi, kalau lo, Amazora yang terkenal cuek, pendiem, kalem, dan peringkat pertama di sekolah menyukai seorang mahasiswa tetangga sekolah kita. Itu tidak masalah, bukan sesuatu yang salah kok."


"Tunggu! Lo kenapa? Nyimpulin sesuatu tanpa bukti. Gue perjelas aja ya, gue gak suka Kakak itu." tunjuknya, "tapi entah kenapa, saat kemarin melihatnya memasukan basket dalam ring seketika kagum. Apalagi wajahnya yang terlihat begitu dewasa. Dan saat ia memakai kacamata, pasti dia kutu buku. Terlihat pintar."


"Lha iya, lo itu suka!"


"Kagum!"


"Suka!"


"Kagum!"


"Sama saja. Kagum, suka. Sama saja. Karena pada akhirnya akan menjadi cinta," jelas Aoi di depan Amazora sambil merenggangkan badan yang mulai letih.


"Ya ampun tuh anak dibilangin juga," gerutunya dilanjutkan menyusul Amazora.


***


"Assalamualaikum." sambil menuju tangga kamarnya.


"Wa'alaikumsalam. Mandi dan ganti bajumu. Calon suamimu akan datang," kata Hana -ibu Amazora.


"Apa? Ibu, tunangin aku lagi? Dengan siapa sekarang? Ibu, aku sudah bilang. Ama bisa cari sendiri kok, gak usah dicariin," katanya sambil menutup pintu dengan keras.


Di dalam kamar, sesegera Amazora mengabari Aoi untuk membawanya pergi dari rumah karena ditunangin dengan anak teman ibunya. Sebenarnya Hana berniat baik, karena ia menunangi anaknya bukan bermaksud apa-apa selain mencarikan seorang pelindung untuk Amazora.


Apalagi ibunya juga sadar akan penyakit yang sedang ia derita yang kadang malah menyusahkan anaknya serta kadang malah tidak dapat membantu Amazora. Tapi, dimata Amazora ini terlalu cepat. Apalagi mengingat dia yang masih SMA kelas 3 dan akan melanjutkan kuliah, kerja, bahagiain orang tua baru dilanjut nikah-prinsipnya.


Bel berbunyi, menandakan ada tamu. Syukurlah itu Aoi, secepat mungkin Amazora membuka pintu dan pergi dari rumah. Bukan yang pertama ia melarikan diri karena dijodohin. Sudah berkali-kali hingga tak dapat dihitung-mungkin lupa karena terlalu sering. Sejak kelas 1 SMA.


Saat ini pukul tujuh malam, mereka pusing ingin pergi kemana untuk melarikan diri. Bila di rumah Aoi itu pasti akan sangat membosankan. Akhirnya sebuah ide pun muncul, mereka memutuskan untuk menuju pasar malam. Mencoba hampir semua wahana, menenangkan pikiran dan berakhir di sebuah kedai coklat. Di sana mereka menikmati hangatnya susu coklat bersama roti bakar coklat tentunya -kesukaan Amazora.


Tanpa diduga, ketika Aoi hendak mengambil sendok di ujung meja. Tiba-tiba tak sengaja pula ia memegang sendok yang juga hendak diambil oleh seseorang. Anehnya, seseorang itu adalah Arva.


Kenapa dia disini? Mungkin dia pergi dengan keluarga. Mengingat dia tidak punya pacar karena terlalu dingin terhadap perempuan. Tapi, banyak yang menyukainya sih.


"Arva, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Aoi mendahului secara refleks.


Tanpa jawaban darinya, Aoipun mengulang karena ia pikir mungkin dia tidak mendengarnya. Melihat sahabatnya di cuekin oleh si bermasalah, Amazorapun turun tangan.


"Heh, punya kuping gak sih? Ada orang ramah lagi nanyain. Apalagi teman sekolah, malah lo cuekin."


"Gue? Punyalah. Nih ada 2 dikanan sama kiri." Pegangnya.” Dan masalah teman sekolah. Gue aja gak kenal." lanjutnya tanpa peduli.


"Gak kenal lo bilang?! Hey, bukannya lo udah nolongin dia akan sekelompok laki-laki tempo hari lalu?"


"Oh ya? Gue gak ingat tuh."


"Wah, bukannya jengkel gue reda, malah tambah naik. Ayo kita pergi Aoi," katanya dengan penuh amarah.


"Tunggu!" tahannya dengan memegang lengan Amazora. "Kita menolong orang bukan berarti kita mengenal, tapi karena kita merasa kasihan," jelasnya dengan sedikit penekanan di kata terakhir.


Mendengar perkataan Arva, Amazora pun berdebat argument -sebenarnya malas tapi karena tidak terima sahabatnya dipandang seperti itu dan lagi untuk melampiaskan kekesalannya. Hingga Aoi pun menarik Amazora pergi dari tempat itu.


"Kok bisa sih lo suka dengan tuh anak, hah?!" tanya Amazora yang mulai jengkel. Tapi hanya dibalas senyuman oleh Aoi.


Terburu-buru jalan, tanpa memperhatikan sekitar. Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang cukup tinggi darinya. Karena hanya sebatas dada saja, iapun mendongngak dan mendapati mahasiswa itu. Gugup, berkeringat, tak dapat berkata apa-apa seolah menjadi bisu mungkin terlihat seperti orang bodoh-walaupun sebenarnya sangat pintar.


"Ah, maaf" hanya dua kalimat itu yang dapat Amazora keluarkan dan berlari meninggalkan Aoi disana.


***


Pagi datang, sinar matahari mencoba menerobos kamar Aoi yang berdominan putih dengan beberapa warna hijau yang menghidupkan sekeliling. Diatas tempat tidur yang cukup besar bila digunakan dua remaja yang bertubuh mungil tidur pulas. Salah satu dari mereka pun mulai terbangun akan sinar yang masuk. Hingga sebuah ketukan membangunkan mereka sepenuhnya.


"Aoi, Amazora bangun nak. Ayo sarapan dulu." kata Rini-ibu Aoi.


Benar, kemarin malam bukannya pulang kerumah, Amazora memutuskan untuk tidur di rumah Aoi.


Setelah selesai mandi, mereka turun untuk sarapan dengan keluarga kecil Aoi. Yang terdiri dari ayah, ibu, dan Kak Andre-mahasiswa.


"Habis ini Ama pulang ya. Nenangin ibu dulu, mungkin nanti ibumu juga sudah lupa." nasihat ibu Aoi


"Iya tante, habis sarapan Ama pulang. Makasih dan maaf ngerepotin tante terus" ucapnya dengan nada malu.


"Gak kok. Gue malah senang kalau lo main kesini kok Ma. Bisa buat nih bocah..." sambil mengacak-acak rambut Aoi "jadi gak ganggu gue." lanjut Kak Andre.


Berakhir mereka semua tertawa bahagia, dengan diselingi beberapa obrolan ringan lainnya.


***


Sesampai di rumah dengan ditemani Aoi, Amazora mencari ibunya. Syukurlah, dia ada di dapur seperti sedang membuat sebuah kue coklat kesukaan Amazora-coklat.


"Eh, anakku sudah pulang. Kenapa dari kemarin kamu gak pulang? Apa ibu berbuat salah padamu lagi sampai kamu gak pulang nak?" tanya Hana dengan penuh kecemasan.


Asal kalian tahu, ibu Amazora mengindap penyakit amnesia sesaat. Tapi penyakit ini kambuhnya tidak terduga. Pagi ini, penyakit itu kambuh lagi, kejadian semalam yang berlangsung seketika terhapus diingatan Hana. Kadang ini adalah alasan kenapa Amazora sangat belajar giat karena ingin menjadi dokter untuk menyembuhkan penyakit ibunya serta mencari beasiswa untuk sekolah. Memang dia orang yang tergolong mampu, apalagi ayahnya yang memiliki perusahaan sendiri. Tapi dia memiliki prinsip untuk tidak terlalu bergantung kepada orang tuanya.


Disamping itu, untung ayahnya sabar menghadapi ibunya, yang bahkan kadang melupakan suami serta anaknya sendiri. Penyakit ini diderita Hana sejak Amazora kelas 1 SMA.


Saat itu, Hana berniat menjemput Amazora. Ketika ingin menyebrang dari arah samping tiba-tiba ada sebuah tabrakan beruntun. Nasibnya saat itu musim dingin, jalan menjadi es karena salju-licin. Hingga mobil dan truk yang sudah oleng itu menabrak Hana. Waktu itu ketika Amazora masih di Jepang. Namun, setelah hal itu terjadi. Ayahnya menyuruh untuk pindah ke Indonesia. Dengan alasan supaya bisa dirawat lebih dekat.