
"Katanya most wanted, tapi kok gak mau sama gue sih?."
_________________________________________
BEBERAPA hari kemudian...
"Pagi Tya," Sapa Arva yang baru datang. Terlambat 15 menit.
"Sudah gue bilang! Panggil aja Amazora," Jelas Amazora dengan sedikit membentak.
"Gak mau," Jawabnya sambil mengerlingkan mata, jahil.
"Sudahlah Ama, dapat nama spesial dari most wanted terima aja." Jelas teman sebangku Amazora. Lisa.
"Siapa?" Tanya Amazora, bingung.
"Ya guelah, Arva Askara Felizio yang merupakan most wanted sekolah ini," Jelasnya dengan nada angkuh.
Namun tak dihiraukan oleh Amazora yang pergi keluar setelah menerima pesan dari guru untuk mengambil tugas. Jam kosong. Yes!
Disela perjalanan, ternyata Arva mengikuti. Memperhatikan gadis itu yang sedang berjalan santai dengan membawa selembar kertas ketika habis keluar dari ruang guru.
Merasa ada yang mengawasi ia berhenti. Melirik kanan-kiri. Melanjutkan dengan langkah besar. Hingga tanpa sadar Arva tercekikik sendiri.
"Lucu," gumamnya.
Sesampai di kelas, Amazora langsung menuliskan tugas dari guru di papan tulis.
Krek
suara pintu terbuka. Muncullah sesosok yang katanya most wanted itu.
"Dari mana aja?" Tanya Amazora dengan tegas selaku ketua kelas.
"Cie kepo," goda Arva. "Kenapa? Kangen ya? Padahal kita baru aja habis jalan bareng." Sambil mendekati Amazora.
"Jalan bareng dari Hongkong," Jawab Amazora sambil melanjutkan menulis.
"Mau ke Hongkong? Aduh, jauh banget sayang permintaanmu."
Mendengar kata 'Sayang' yang terucap dari mulut Arva membuat seisi ruangan yang dari tadi memperhatikan mereka dengan diam berubah menjadi riuh. Saling melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Sayang? Sayang sayang sendiri sana."
"Uluh uluh.. ngambek ya?" goda Arva.
"Buat apa ngambek sama lo. Kurang kerjaan aja." kembali ke tempat duduk.
Namun beberapa detik kemudian, bangku Amazora pun dikelilingi oleh para siswi yang penasaran dengan hubungannya bersama Arva.
"STOP! Gue gak ada hubungan apapun dengan Arva," Teriak Amazora, Frustasi.
"Untuk saat ini sih belum. Tapi gue udah suka ma tuh anak.." tunjuk Arva kepada Amazora yang berada di depan bangkunya. Seketika membuat Amazora berbalik. "Dan bagi kalian yang udah suka sama Tya. Jangan pernah lagi deketin dia. Karena Tya milik gue. My mine." Jelas Arva.
"Tya? Panggilan macam apa itu?" Kata Toni remeh di ujung ruangan yang merupakan wakil ketua kelas. Namun, sedetik kemudian ia sudah terlempar oleh Arva.
"Panggilan sayang guelah. Kenapa? Lo iri ya? Udah gak usah sok deketin Tya gue lagi. Dia gak suka lo," Kata Arva dengan tegas. Melihat Toni yang baru saja dihajar Arva membuat Amazora merasa bersalah dan segera membantu membangunkan Toni.
Tidak terima akan perkataan Arva ia melepaskan pegangan Amazora dan membalas pukulan Arva. Baku pukul pun dimulai hingga berakhir di ruang BK.
"Apa-apaan kalian? Mau jadi jagoan di sekolah? Hah?"
"Enggak pak," Jawab Toni dan Arva serempak.
"Dia yang mulai duluan kok pak," Kata Toni.
"Udah-udah. Dan kamu nak Ama, sebagai ketua kelas seharusnya bisa memberitahu anggotamu untuk tidak melakukan ini," Kata pak Zul
"Tya tidak salah pak. Kami sendiri yang salah kok pak," Bela Arva
"Iya pak kami sendiri yang salah," jelas Toni
"Eh lo ikut-ikutan mulu," Kata Arva kepada Toni.
"Suka hati gue lah."
"Lah? Lo suka gue? Di hati lo ada nama gue? Gue kira tadi lo suka Tya. Yaudah deh gak papa kalau lo suka ma gue. Tapi maaf gue udah suka sama Tya." Goda Arva sambil mengerlingkan mata jahil ke Toni. Yang seketika jijik melihat wajah most wanted itu.
"Stop! Tya? Tya siapa lagi? Apa jangan-jangan gara-gara Tya itu kalian berantem? Ama apa kamu tahu Tya itu siapa?" Tanya pak Zul dengan kepo
"E.. itu pak anu," jawab Amazora dengan sedikit bingung.
"Tya itu Tyandra Mazora pak. Dan nama panggilan sayang dari saya adalah Tya," Jelas Arva. "Dan tolong doain dia mau nerima cinta saya ya pak." Lanjutnya sambil melirik si gadis yang dipanggil Tya itu.
"Ogah!" jawab Toni, tegas.
"Woi, gue gak minta doa dari lo ya. Mentang-mentang tadi gue nolak terus lo sensi amat ma gue."
"Ya.. ya.. udah balik ke kelas sana," Perintah pak Zul yang segera dilaksanakan mereka bertiga
Ke esokan harinya, di sekretariatan, Amazora dan Aoi piket bersama. Keadaan sudah mulai membaik. Aoi menceritakan bahwa dirinya sudah mulai dekat dengan Rey. Sedangkan Amazora? Ia masih menghindari Arva.
Di ruang kelas dengan kondisi seperti biasa, dengan guru yang menerangkan materi yang sangat membosankan. Karena tidak betah Arva ijin keluar dengan alasan ke kamar kecil. Melewati sekretariatan yang terbuka sedikit membuatnya ingin masuk. Melihat sekeliling, tak ada siapapun ia memutuskan memasukinya.
"Bersih," gumam Arva. Melihat setiap dinding yang dipenuhi foto Osis dari periode pertama hingga sekarang. Merasa sudah cukup ia ingin kembali, namun sebelum itu. Ia melihat satu buku yang tergeletak di lantai. Terjatuh, mungkin. Ia mengambil dan membuka halaman yang terdapat selipan pembatas buku disana.
"Mungkinkah aku juga bisa mendapat sebuah surat seperti ini? Begitu romantis," Gumam Arva membaca sebuah tulisan tangan di novel itu.
Seperti kenal dengan tulisan tangan ini. Kemudian ia membuka halaman pertama yang bertulis. Buku Amazora kelas XII IPS 1. Jika ada yang menemukan tolong kembalikan ya. Makasih :)
"Emot aja bisa senyum, kenapa aslinya sulit banget liatnya." Dan membawa buku itu.
Bel berbunyi, waktu pulang pun tiba. Sesampai di rumah, Arva langsung menenggelamkan diri di pulau kapuk yang pernah dibuat peta olehnya-Kadang-kadang.
Teringat sesuatu, iapun mengambil tas dan merogoh sesuatu disana. Membawa buku dan membacanya di kasur.
"Apakah cinta sejati itu akan datang padaku? Kapan?"
"Bunga? Tidak perlu. Coklat? Aku suka. Tapi tidak perlu. Lalu apa? Aku hanya ingin dirimu."
"Kenapa dia suka banget nulis sesuatu di novel ini. Dan romantis apanya? Gaya tokoh si cowok aja biasa, kerenan gue. Dan yang terpenting gue nyata. Dan dia vampire, gak akan ada di dunia nyata." Angkuhnya.
"Apanya yang nyata?" Tanya Rey yang tiba-tiba muncul.
"Ah lo, ganggu aja," Gerutu Arva.
"Yelah, gue mandi dulu," kata Rey.
Berniat menutup buku itu, tak bermaksud ia melihat sesuatu di belakang buku. Dihalaman terakhir.
"Sebenarnya, diriku juga menyukaimu. Tapi, aku tidak bisa mengatakan. Why? Karena seolah aku masih terikat."
"Jujur! Aku ingin menaiki sepeda bersamamu lagi."
"Apa maksudnya? Menyukai? Siapa yang dia sukai? Terikat? Sepeda? Mungkinkah," gumam Arva menggantung sambil memikirkan sesuatu.
"Dah selesai. Lo mandi juga sana gih. Buawuuuuu!" kata Rey yang baru tiba sambil melempar handuk tepat di wajah adiknya itu.