
"Panggilan khusus adalah panggilan dari seseorang yang dirasanya sangat begitu spesial baginya. Dan itu kamu. Dariku."
_________________________________________
SORE menjelang petang ini, para pengurus osis masih berada disekretariatan. Mereka sibuk mengurusi berbagai hal untuk keperluan lusa. Yang merupakan puncak acara setelah beberapa hari di lalui dengan berbagai lomba untuk kemeriahan HUT SMA Keita.
Ada yang membuat susunan acara, ada yang sibuk membungkus beberapa doorprize, dan ada juga yang bolak balik dari desa ke desa hanya untuk mendata masyarakat yang diberi baksos. Di pojok ruangan sekretariatan dengan masih serius mengetik beberapa peraturan di layar komputer, tiba-tiba dikagetkan oleh seseorang yang hadir di sampingnya sambil menepuk pundak.
"Udah beres," ujar Aoi kepada Amazora sambil menunjuk semua yang berada di lantai sekretariatan yang sudah tertata rapi.
Mengingat beberapa hari ini Arva tidak berangkat sekolah, membuat Amazora tenang setiap hari karena dia tidak perlu capek-capek membuang waktu. Dan sekarang dia bisa mengerjakan tugas osis dengan tenang.
Melihat semuanya sudah beres, menunggu mesin print mengeluarkan sebuah kertas yang sudah tergores tinta secara otomatis. Amazora segera membentuk forum untuk membacakan peraturan osis yang di buatnya selama puncak HUT besok.
Dibacakan satu persatu peraturan demi peraturan yang disetujui oleh para seksi-seksi dengan sebuah anggukan. Jumlah peraturan yang berkisar antara 20-an akhirnya selesai terbaca semua.
Hari juga sudah mulai petang akhirnya forum itu ditutup dan semua pulang kerumah masing-masing begitupun Aoi. Tidak bagi Amazora, dia harus segera kembali ke rumah sakit untuk menjaga Hana menggantikan Deni. Mengingat beberapa hari ibunya mengalami kecelakaan.
Sudah 3 hari sejak hari itu Hana dirawat disana. Untungnya setelah operasi selesai, beberapa jam kemudian Hana sadarkan diri. Yang membuat kelegaan bagi Amazora dan Deni terpancar. Hanya luka lecet yang masih menempel. Tapi itu tak berarti selain kesadaran Hana.
Ke esokan harinya, pukul 06.25 seperti biasa Aoi dan Amzora sudah sampai di sekolah. Bukan langsung ke kelas. Melainkan singgah ke rumah ke duanya dulu-sekretariatan- untuk membersihan karena sekarang jatah piket mereka. Bel masuk telah berbunyi, mereka sudah berada dikelas masing-masing. Pelajaran dimulai seperti biasa. Masuk, istirahat, masuk, istirahat dan menunggu untuk pulang.
Ditengah pelajaran tiba-tiba ada sebuah ketukan pintu dan Amazora sesegera membukanya, berhubung saat itu adalah jamkos-jam kosong.
Arva? dia datang ke sekolah? jam segini? Memang ini sekolah Kakeknya, apa?, batin Amazora.
Jelas saja sekarang sudah pukul 15.20 yang sama saja 10 menit lagi adalah waktu pulang. Gila! Tanpa merasa sungkan, Arva segera masuk dan duduk dibangku yang berada di belakang Amazora, yang juga diikuti gadis itu untuk kembali duduk mengerjakan tugas dari guru piket.
Bel pulang berbunyi, anak-anak dengan cepat membereskan buku dan berhamburan pergi dari sana. Begitupun Amazora. Tapi sebelum itu, ia dipegangi Arva dengan kepala yang masih diletakkan diatas meja dengan mata tertutup.
"Jangan pergi," gumamnya dengan nada lirih.
Hah? Apa dia akan minta kelas tambahan? Batin Amazora.
Setelah sekian lama menunggu balasan dari pemuda itu. Akhirnya ia membuka mata dan menyuruh Amazora untuk duduk dibangkunya kembali yang berada di bagian paling pinggir.
"Tadi pelajarannya gimana?"
"Lancar."
"Tentang?"
"Pelajaran."
Mendengar jawaban Amazora, Arva mendengus kesal sambil mengacak-acak kepala.
"Ada pe-er?" lanjutnya.
"Hm.."
"Apa?" jawabnya datar sedari tadi.
"Buka bukumu!" pinta Amazora yang dengan intruksinya segera dilaksanakan oleh Arva.
Tiba-tiba dari luar terdengar langkah Kaki yang terasa ingin mendekat kelas ini.
Krek.
Pintu terbuka
"Ama ayo pulang!" teriak Aoi tanpa sadar akan kehadiran Arva yang berada disana.
"Oh, maaf mengganggu. Aku pulang duluan aja kalau gitu." sebenarnya Aoi juga sudah tau bila Amazora mengajari Arva karena pak Zul. Tapi melihat Amazora dan Arva berduaan hatinya terasa begitu sakit. Tak terima akan hal itu. Mencoba untuk tegar dan pulang.
Disisi lain, melihat Aoi meninggalkannya sendiri bersama Arva, sesegera Amazora menyusul. Namun, tidak semudah itu. Arva dengan cepat menahan tangan Amazora. Suka banget nih anak narik tangan gue, batin Amazora.
"Pe-ernya? Mana?" tanya Arva dengan bingung.
"Cari nomer gue di grup kelas, tanya aja di WA nanti gue kasih tau," kata Amazora sambil melepas genggaman Arva dan menyusul Aoi.
"Gila! Gue aja gak masuk grup kelas," geram Arva sendirian.
***
"Aoi... Aoi tunggu!" teriaknya.
Mendengar suara itu seketika nama yang di panggil pun berhenti dan berbalik.
"Kenapa disini? Gue bisa pulang sendiri kok," jawabnya setengah berbohong menahan sakit hati.
"Gak! Gue mau pulang bareng lo."
"Tapi Arva?"
"Gak ada kelas tambahan. Tadi cuman tanya pe-er." dan di jawab dengan mulut berbentuk 'O'
Menelusuri lorong ke lorong akhirnya sampai di pintu gerbang.
Pip pip,
suara tlakson mobil di depan mereka ber-2.
"Hey, Aoi ayo temenin gue lagi," kata seseorang yang baru saja keluar dari mobil.
"Kemana lagi?" tanyanya dengan nada frustasi.
"Ke rumah Kak Linalah."
"Gak mau, capek."
"Ayolah.. Ama gue pinjem sahabat lo ini dulu ya. Gue harus ajak dia bentar. Gak pa pa kan lo pulang sendiri?"
"Ouh iya Kak. Gak pa pa santai aja," jawabnya disertai senyum yang manis.
Mendengar persetujuan Amazora, Aoi langsung diseret oleh Kakaknya untuk masuk ke dalam mobil. Berakhir mobil itu hilang dari pandangan Amazora. Iapun memutuskan untuk pergi pulang juga. Bukan langsung pulang ke rumah atau ke rumah sakit ia lebih memilih untuk menikmati senja dulu di sebuah ayunan taman sambil mendengarkan sebuah musik.
Mengingat hari ini banyak yang menjenguk ibunya. Jadi, dia bisa santai untuk pulang. Dengan headset yang di pakainya, ia pun terhanyut akan lagu yang sekarang sudah keluar dari mulutnya juga.
Bagai pelangi..
Yang indahnya hanya sesaat.
Tuk ku lihat yang mewarnai hari.
Tetaplah engkau disini, jangan datang lalu kau pergi.
Jangan anggap hatiku jadi tempat persinggahanmu untuk cinta sesaat.
Sebuah lagu yang pas untuk kegundahan hatinya. Hingga ia tidak sadar ada seseorang yang merekam disamping ayunannya. Benar saja, dia adalah Arva. Entah sejak kapan dia sudah ada disana hingga Amazora tidak sadar akan keberadaan Arva. Mungkin terlalu menghayati lagunya. Melihat Arva ada di dekatnya seketika dia melepas headset dan bergegas untuk pulang. Sayangnya sebelum itu terjadi, dia malah mngambil ponsel Amazora. Melihat beberapa daftar lagi koleksinya-favorit.
"Ternyata lo anak cinta juga. Apakah ada seseorang yang lo sukai?" tanya Arva yang masih memelihat daftar lagu. Sementara Amazora mencoba untuk merebutnya.
"Bukan urusan lo."
"Baiklah. Coba gue tebak, pasti orang itu adalah gue." mendengar Arva yang begitu menjijikan dihadapannya seketika Amazora berhenti sejenak mencerna kalimat yang Arva keluarkan.
Tak percaya akan hal itu, dia malah meninggalkan Arva disana bersama ponselnya karena tidak ingin berdebat.
"Ok ok." menghadang Amazora. "Nih gue kembaliin."
Segera Amazora merebut ponsel itu dari tangan Arva sambil berkata "Yang jelas orang itu lebih baik dari lo," jelas Amazora dan pergi.
Mendengar perkataan Amazora yang terkesan merendahkan seketika dia jengkel. Menendang beberapa batu disana. Jelas saja, dia belum pernah direndahin perempuan bahkan banyak yang tergila-gila padanya. Alasannya hanya karena Amazora suka sama Kakaknya-Rey. Bisa disimpulkan seperti itu karena Arva pernah menemukan sebuah puisi di meja Kakaknya dengan nama Amazora tertulis disana. Yang setelah itu ia kembalikan pada yang punya-dulu.
***
Sesampai dirumah, Arva segera membersihkan diri setelah Rey keluar dari kamar mandi. Ia menghindari Rey sejak tadi yang membuat Kakaknya itu heran pada tingkah adiknya. Cemburu mungkin. Malam hari telah tiba, makan malam sudah selesai Arvapun kembali ke kamar.
"Ah lupa! Kenapa gue gak minta nomernya tadi," gumamnya.
"Ren, masukin gue di grup kelas donk. Lo kan admin disana." telfon Arva kepada Rendi yang merupakan teman sejak SMPnya.
Setelah itu, Arva telah dimasukan dalam grup kelas. Yang niat utamanya adalah mencari nomer si ketua kelas. Bila tadi minta sama Rendi pasti dia akan mendapat pertanyaan bertubi-tubi. Mengetahui si Rendi sangat suka bergosip.
Disela-sela mencari nomer ketua kelas yang diprivat, seketika membuat Arva berdecak kesal. Hingga di dalam ponselnya masuk beberapa pesan yang menurutnya begitu banyak. Itu dari grup kelas yang heboh karena Arva akhirnya mau masuk grup kelas dan beberapa siswi jadi bisa punya nomer ponsel Arva yang sangat privasi itu. Setelah selesai mendapatkan nomer sang ketua. Ia langsung keluar dari grup yang membuat teman-temannya heran.
***
Hari puncak HUT telah tiba, sebelumnya sekolah SMA Keita mengadakan jalan sehat yang dilanjutkan pembagian doorprize bagi yang beruntung. Diselingi beberapa lagu dari para siswa-siswi yang ingin menyumbangkan lagu. Sudah pukul 12.30 setelah adzan zuhur. Band-band ternamapun dimulai. Hingga hampir seluruh siswa-siswi mendekat sambil bernyanyi bersama disana. Band pertama selesai, digantikan oleh MC untuk ikut memeriahkan acara tersebut.
"Ok guys. Disamping ini ada seorang pemuda yang ingin menyumbangkan lagu untuk seseorang. Di ijinin gak nih?" tanya mc cowok kepada siswa-siswi. Yang diperbolehkannya. Sedangkan para osis, apalagi seksi acaranya frustasi. Karena jadwal yang tidak sesuai, melenceng dari acara.
Sudah terlanjur semua siswa-siswi menyetujui. Tak lama, seorang siswa maju ke depan. Para siswi menjerit histeris. Berdirilah disana Arva Askara Felizio yang ingin menyubangkan sebuah lagu.
Disamping itu Aoi yang berada disamping Amazora juga ikut histeris dan terkejut serta penasaran Arva menyanyikan lagu kesukaannya siapa? Sedangkan Amazora, batinnya jengkel akan sikap Arva yang digunakan untuk membuang-buang waktu serta merubah segala jadwal yang sudah dibuat jauh-jauh hari bersama seksi acara. Cari perhatian banget tuh anak, batinnya.
Gitar yang di bawa Arva mulai di petik, suara berat nan merdu Arva pun akhirnya terdengar.
Memenangkan hatiku bukanlah satu hal yang mudah.
Kau berhasil membuat ku tak bisa hidup tanpamu.
Menjaga cinta itu bknlah satu hal yang mudah.
Namun sedetikpun kau tak prnh berpaling drku.
Beruntungnya aq dimiliki kamu.
Kamu adalah bukti...
Mendengar lagu itu banyak para siswa menirukan sambil melambaikan tangan keatas, terhanyut akan melody itu.
Dari cantiknya paras dan hati.
Kau jd harmoni saat ku bernyanyi.
Tentang terang dan gelapnya hidup ini...
Hingga selesai lirik lagu itu dinyanyikan. Sebuah tepuk tangan meriah di dapat oleh Arva. Belum sempat ia turun dari panggung. Banyak siswi menanyai lagu favorit siapa yang sedang ia nyanyikan. Dibalik lubuk hati Amazora, dia juga penasaran. Bahwasanya di daftar lagu favoritnya lagu 'bukti' merupakan salah satunya.
"Entah," jawab Arva dengan datar. Hingga para mc datang sambil bertepuk tangan kagum akan suara merdu Arva
"Lagu itu lo tujukan untuk siapa bro?" tanya salah satu mc disana-cowok
"Tya," jawabnya dengan tegas dan langsung turun dari panggung.
Mendengar jawaban itu, semua siswa-siswi menjadi bingung sekaligus heran. Memikirkan nama 'Tya' yang belum pernah mereka dengar.
Disisi lain Aoi dan Amazora pun juga ikut bingung, memikirkan nama itu. Pernah tadi Amazora merasa kepedean akan lagu yang dinyanyikan Arva untuknya tapi semua sirna seketika. Kembali menjadi tenang. Sedangkan Aoi masih memikirkan dan bertanya tentang seseorang yang bernama "Tya" pada orang-orang sekitar.
***
"Udah pulang?" tanya ibu Arva yang mengetahui anaknya masuk ke rumah.
"Udah mah," jawab Arva tanpa semangat
"Tumben, kan biasanya belajar sama Tya dulu."
"Udah di tolak paling ma, lihat wajahnya! Kusut kek keset." canda Dava-Ayah Arva
"Enak aja, Tya lagi sibuk osis jadi Arva gak mau nganggu dulu. Arva tuh masih berusaha pa. Doain aja bisa sampai pelaminan... Hehehe."
"Emang Tya mau?" goda Ocha-ibunya.
"Maulah," jawabnya tegas "Tapi kalau gak mau ya harus mau." lanjut Arva sambil cengar-cengir.
***
HUT telah usai beberapa hari lalu, sekolah berubah menjadi seperti biasa kembali. Dengan pembelajaran yang begitu membosankan. Syukurnya setelah HUT, Arva tak pernah kelihatan batang hidungnya disekolah yang membuat Amazora tenang, damai, bahkan mungkin lupa akan kejadian kemarin atau melupakan Arva sekaligus. Memang sifatnya yang tidak pernah memperhatikan Arva sih. Tapi di setiap harinya ia selalu berdoa untuk di pertemukan kembali dengan Rey seperti dulu lagi tanpa sengaja. Untuk masalah ini, Aoi tidak mengetahui. Sifat Amazora yang begitu penutup tidak pernah ingin menceritakan masalah pribadinya kepada Aoi. Yang akan hal itu, sering kali membuat Aoi takut bila Amazora juga menyukai Arva. Pangeran sekolah itu. Tapi, faktanya tidak sama sekali hingga saat ini.
***
Suatu hari, ketika Amazora sedang mengikuti Olimpiade diluar kota. Aoi pulang sendiri. Ditengah perjalanan dia tanpa disangka bertemu Rey yang baru jatuh ketika mengendarai sepeda motor. Sifat Aoi yang begitu baik kepada semua orang tanpa diintruksi mendekat, membantu Rey bangun.
Melihat Aoi yang mencoba memapah tubuh Rey yang lebih besar darinya membuat Rey terkejut, lalu tersenyum melihat Aoi dengan lucunya mengiring dengan susah payah sambil bergumam sendiri. Kesusahan memapah tubuhnya hingga duduk dipinggir jalan-saat itu jalanan sepi. Dengan sigap Aoi membuka tas, mengeluarkan beberapa obat luka. Mendapat perilaku ini, bukannya menolak seperti biasanya. Rey hanya diam, sesekali memperhatikan gadis kecil itu yang telaten mengobati.
"Selesai," ujar Aoi kemudian setelah sekian lama serius mengobati pemuda di depannya.
Tidak ada tanda-tanda terima kasih dari Rey, Aoipun ijin untuk pulang duluan. Sebelum itu terjadi, Rey segera membuka diri menawari Aoi untuk diantar pulang. Sebenarnya ia bimbang, karena ia hanya ingin mengantar seseorang yang menurutnya spesial. Tapi, karena merasa kehutangan budi akhirnya ia menawarkan. Mendengar tawaran itu Aoi secara halus menolak, mengingat dia-Rey-yang merupakan gebetan Amazora, walaupun sampai detik ini Amazora masih belum mengakuinya.
Ditolak Aoi sebenarnya ia merasa senang karena tidak harus mengatar, tapi merasa kehutangan Budi membuatnya nekat memaksa Aoi untuk segera naik. Akhirnya ia mengiyakan. Langit yang semula cerah berubah menjadi mendung hingga rerintik air turun deras. Sial! Di dalam jok Rey tidak ada mantol sama sekali disana. Ia lupa menaruh mantol lagi saat ia keringkan kemarin. Dengan susah payah ia melajukan motornya dengan sangat cepat karena Aoi tidak ingin berteduh. Takut ia pulang terlambat. Bisa-bisa keluarga dibuat khawatir.
***
Ke esokan harinya, Amazora yang sudah pulang dari luar kota dengan senang hati memerhatikan pelajaran matematika. Apalagi ia mendapat juara 1 olimpiade matematika se-provinsi. Dengan teliti, Amazora mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh Bu Dian. Sedangkan Arva yang berada dibelakangnya, hanya diam sambil menundukkan kepala.
Merasa bosan, ia menyenggol kursi Amazora yang berada di depan. Satu kali, dua kali, tiga kali tidak ada respon. Setelah itu, dengan jengkel tanpa sadar Amazora mengangkat kursinya kemudian di duduki kembali yang membuat Kaki Arva terjepit. Merasa kesakitan iapun menggoyangkan kursi Amazora-berusaha mengangkat-sambil menahan jeritan. Tahu maksud Arva, Amazora hanya bisa berdiri, dengan senyum agak merasa bersalah. Beberapa menit kemudian, Arva berdiri dan berusaha keluar kelas, tapi ketika berada disamping Amazora dia berkata
"Aku duluan." dengan nada berbisik yang membuat gadis itu merinding seketika. Tidak mempedulikan Bu Dian yang tengah memanggil-manggil Arva untuk kembali.
Merasa bingung harus kemana, ia pun memutuskan untuk pergi ke atap. Tak disangka, ketika ia baru membuka pintu, terlihat sekelompok perempuan yang sedang duduk disana. Lebih tepatnya menunggu Arva. Sambil membawa beberapa bingkisan untuknya. Bukannya senang ia malah menatap horor para gadis itu.
"Pergi dari sini!" usirnya dengan sedikit membentak.
Mendengar ucapan itu, mereka pun sesegera pergi, takut Arva menjadi marah besar. Selain, ia sangat bermasalah. Dia juga sangat membenci perempuan, apalagi yang terlalu berani seperti tadi. Dia muak. Anehnya, masih banyak siswi yang menyukainya. Bahkan mengejarnya. Sayangnya dimata Arva tidak ada yang menarik baginya, kecuali Amazora. Dan kenapa dia tidak pernah dikeluarkan dari sekolah? Karena jelas, keluarganya merupakan penyumbang terbesar. Jadi, sekolah tidak berani mengeluarkannya.
Masih merasa bosan, akhirnya ia mengambil ponsel dan mengetik sebuah pesan. "Oiii" terkirim.
***
Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba. Seperti biasa, Amazora dan Aoi janjian bertemu di kantin. Lama menunggu Aoi tidak datang, akhirnya ia niatkan untuk mendatangi kelasnya. Sesampai disana, ia melihat Aoi yang sudah pucat, serta deru nafas yang tidak lagi seperti biasa. Melihat sahabatnya sakit, sesegera ia memapah dan membawanya ke UKS. Membaringkan sambil menyuruh untuk istirahat. Bersamaan itu, tiba-tiba terdengar suara notifikasi masuk. Melihat siapa yang mengirim pesan, sesekali alisnya terangkat sambil dahinya bergelombang.
Si Bermasalah
"Oiii"
sebuah pesan dari Si Bermasalah yang tidak ia niatkan untuk membalas. Karena baginya itu sama sekali tidak penting.
"Aduh, pu..sing," gumam Aoi sambil menggigil.
Secara langsung, Amazora mengambil beberapa obat dan sebuah selimut untuk Aoi. Bel sekolah berbunyi menandakan untuk para murid segera masuk. Tapi, tidak ada tanda-tanda Amazora untuk pergi dari sana. Ia tidak tega meninggalkan sahabatnya sendiri yang sedang sakit itu. Sambil membaca buku pelajaran jam ke 5 ini. Tiba-tiba ponselnya berdering lagi.
Si Bermasalah
"Oiii!!! Jawab!"
malas berurusan dengannya iapun mematikan ponselnya lagi. Tapi, melihat kondisi Aoi yang seperti ini akhirnya ia membalas pesan Arva.
Ditempat Arva berada, terdengar getaran ponsel, sesegera ia mengambil setelah berharap ponsel itu bergetar terlalu lama. Melihat jawaban dari orang seberang, ia menjadi kesal dan segera turun kembali ke kelas. Mengambil tasnya tanpa menghiraukan guru yang sedang mengajar untuk pulang duluan.
"Aku pulang," ujar Arva ketika sampai dirumah. Yang segera disambut oleh Rey, Kakaknya.
"Gak biasa lo pulang jam segini? Biasanya keluyuran dulu," sindir Rey.
"Males, bosen ah. Dan juga buat apa nunggu sampai pulang kalau Tya aja ngabarin hari ini gak ada acara tambahan belajar."
"Tambahan belajar? Sejak kapan, adik gue suka belajar?" goda Rey.
"Sejak gue tertarik ma tuh cwe lah."
Mendengar jawaban Arva, entah kenapa Rey merasa sedikit terkejut dan aneh.
"Oklah. Terus kenapa dia ngebatalin? Alasannya apa coba?"
"Alasannya sepele, cuman gara-gara Aoi demam dan dia harus jagain sahabatnya itu."
Mendengar jawaban Arva, seketika Rey terkejut. Apa ini salahnya? Karena kemarin tidak berteduh dulu? Hingga membuat Aoi jatuh sakit. Panik, cemas, bimbang. Ia pun langsung pergi menuju SMA Keita.
Berlari dari koridor untuk mencari ruang UKS yang anehnya ia lupa tempatnya. Sudah lama ia berkeliling, akhirnya ia menemukan ruangan dengan tulisan UKS di papan atas. Dengan nafas yang masih memburu, sesegera ia membuka pintu
"Aoiii," teriaknya. Yang membuat si empunya nama terbangun sedangkan Amazora terkejut dan mencari sumber suara itu, yang begitu familiar baginya.
Korden dibuka seseorang. Membuat mereka berdua terkejut tak terkira. Rey berada di depannya. Amazora senang bisa melihat Rey kembali tapi juga bingung untuk apa ia kemari. Belum sempat ia bertanya, Rey langsung mendekat. Ia pikir mendekatinya, tapi salah. Rey malah mendekati Aoi, serta melemparkan berbagai pertanyaan bertubi-tubi dengan nada cemas.
"Kamu kenapa bisa sakit? Karena aku ya? Karena kemarin kan?" melihat orang yang dikagumi begitu mengkhawatirkan Aoi didepannya, ia tidak sanggup. Apalagi bahasa aku-kamu yang dipakai Rey membuat Amazora iri.
Disamping itu, Aoi yang mendapat pertanyaan Rey itu hanya bingung dan merasa tidak enak hati kepada Amazora yang terlihat menunduk dan berusaha untuk keluar dari sana.
"Ama, tunggu," jerit Aoi hendak turun dari ranjang.
Tapi karena badannya yang belum fit, ia malah oleng. Untungnya segera mungkin Rey dapat menangkap. Ya ampun, dalam hati Amazora terasa sakit, sesak walaupun tahu sahabatnya itu tidak memiliki rasa apapun terhadap Rey. Tapi, melihat Rey yang begitu mengkhawatirkan dan perhatian dengan kondisi Aoi membuat Amazora mengetahui bahwa Rey tidak pernah menyukainya melainkan menyukai Aoi. Iapun melangkah keluar. Sekali lagi, Aoi berteriak mencegah Amazora. Namun gadis itu malah membalas.
"Gak pa pa. Gue keluar dulu aja, toh ini kan udah jam 13.45 pasti pelajaran akan dimulai lagi. Mumpung ada Kak Rey titip Aoi dulu ya. Saya duluan." pamit Amazora dengan lembut.
Mendengar perkataan Amazora, seketika membuat Aoi merasa bersalah walaupun ia tidak melakukan kesalahan sama sekali.
Maafkan aku Ama. batin Rey, ketika melihat gadis itu pergi keluar. Sebenarnya ia juga tidak sanggup melihat gadis itu sakit karenanya. Tapi ini adalah cara terbaik agar Aamzora mampu melupakan perasaanya itu.
Waktu akhirnya sudah menunjukkan pukul 15.30. Waktunya pulang. Dengan langkah bimbang, kecewa, bingung ia menuju UKS berniat menjemput Aoi untuk pulang bersama. Di lihatlah keseluruh ruangan itu, hingga terhenti di sebuah kertas. Dengan ragu ia mengambil serta dibaca.
Ama, aku bawa pulang Aoi dulu ya, panas banget soalnya. Takut kenapa-napa. Kalau perlu sih nanti ku bawa ke rumah sakit. Dari Rey.
Membaca surat ini menjelaskan semuanya. Bahwa Rey jelas-jelas menyukai Aoi. Cintanya dengan Rey ternyata bertepuk sebelah tangan. Ia menangis dalam diam, hingga tak terasa butir air mata pun jatuh ke lantai saat ia menunduk.