Because Of You

Because Of You
Hidup Baru



Happy Reading


***


Kenny POV


Aku memerhatikan Harry yang memotong buah untukku. Tanganya sangat telaten saat melakukan itu. Dia tersenyum menatapku setelah selesai memotong buahnya. Aku memakan buah itu saat Harry memotong buah yang lain.


"Aku senang..." ucapnya masih tetap fokus pada buah.


"Karena?"


"Kau sudah sadar dan kembali pulih.."


"Tuhan mengizinkan aku berpetulang untuk waktu yang lebih lama..."


"Kapan waktu sidangmu?"


Aku berhenti mengunyah makananku dan menelan makanan yang belum halus itu.


"Seharusnya lusa, tapi Scout sedang sibuk dengan perjalanan dinasnya. Jadi harus ditunda seminggu lagi."


Dia menatapku dan aku segera mengalihkan tatapannya. Aku benci tatapan memohon Harry. Dia terlalu baik dan sempurna untukku yang sudah cacat ini.


"Sejujurnya, aku tidak menyukai dia. Namun, setelah melihat apa yang dia lakukan dan dia korban untukmu, aku yakin dia benar-benar mencintaimu."


"Terlalu baik sehingga aku tidak pantas untuknya..."


"Ken..." bisik Harry dan aku tau ke mana arah pembicaraan ini. Aku belum siap dengan kisah baru, terutama jika kisah itu bersama Harry.


"Harry... Makan buahmu." ucapku dan tetap memakan buahku.


"Apa rencanamu setelah sidang itu selesai?"


Aku sudah memiliki rencana. Namun, aku belum yakin dan butuh banyak persiapan untuk rencana ini. Aku akan memulai hidup baru tanpa hingar-bingar kota New York bersama manusia-manusianya.


"Aku belum yakin, tapi aku sudah mulai memikirkannya."


"Kau tidak akan memberitahuku?" suara Harry berubah sendu dan aku segera menatap padanya.


"Harry... Kumohon, ini bukanlah waktu yang tepat bagi kita untuk berdebat."


"Aku lelah menunggu, Ken.."


"Aku tidak bisa memberi apa pun, Harry dan aku tidak mau kau menungguku..."


"Kita bisa mencobanya..."


"Harry.. Please.. Jangan berdebat dengan seorang pasien. Itu melanggar hukum yang tak tertulis."


"Setidaknya beri tahu aku rencanamu.."


Aku menarik napas panjang.


"Eropa..."


"Eropa memiliki banyak negara.."


"Aku belum memilih.... Bagaimana kabar Lolita?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan..."


Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak melakukan apa pun..."


Harry menarik napas panjang.


"Kau membingungkan..."


"Kau hanya terlalu berpikir keras. Aku seperti buku yang terbuka, sangat mudah dibaca. Kau tau jelas itu."


"Kau semakin membingungkan seiring waktu..."


"Harry... Aku serius. Kau membaca jelas diriku dan maksudku padamu."


"Aku menolak menerima itu..."


"Apa aku perlu memperjelasnya dengan kata-kata?" sungguh aku tidak mau menyakiti perasaan Harry. Namun, jika dia terus memaksa dan mendesakku maka aku akan mengatakannya.


"Berulang kali pun kau katakan, aku tidak akan menyerah."


"Aku menganggapmu sebagai keluarga, Harry..."


"Keluarga? Aku bisa menjadi suamimu. Suami adalah bagian keluarga."


Aku menggeleng kepala. Sial. Kenapa Harry membuatku jengkel?


"Saudara lebih tepatnya.... Stop... Jangan mendebatku lagi. Aku seorang pasien, ingat? Aku akan istirahat."


Aku mengambil posisi berbaring, memejamkan mata, dan menarik selimutku.


"Baiklah... Selamat istirahat, sayang." Harry mencium bibirku sekilas dan aku tidak bisa mengelak. Suara pintu terbuka dan tertutup terdengar, tanda bahwa Harry sudah pergi.


Aku kembali membuka mataku dan menatap langit-langit. Aku merasakan kekosongan dalam hatiku. Sejujurnya, aku lelah akan semua ini. Aku ingin pergi segera dari benua ini dan pergi ke tempat baru, di mana aku akan memulai hidup baru, memiliki teman baru, dan kenangan yang baru.


Masalah cinta, aku enggan memikirkannya. Aku sudah hampir berusia 28 tahun tahun ini dan belum memiliki apa pun untuk dibanggakan. Aku merasa bahwa 28 tahun hidupku sangat sia-sia. Aku hanya hidup bergantung pada orang lain. Aku tidak menghasilkan apa pun. Aku terlalu di manja, membuatku lupa bahwa hidup yang kujalani sangat sia-sia.


Dengan ini semua, aku ingin memulai hidup baru. Tentang pasangan, aku tidak mau berpikir terlalu cepat. Jika aku beruntung, aku ingin pria itu adalah pria sederhana, tidak rumit, baik, dan tentunya jauh lebih miskin dari Scout karena aku tidak mau lagi berhubungan dengan orang-orang kaya sialan. Mereka benar-benar tidak cocok untukku.


****


"Apa terasa gatal?" ucap Dr.Murphy seraya memeriksa luka jahitan di perutku.


"Lebih ke perih dari pada gatal."


"Luka dalam seperti ini memang sulit pulih. Namun, apakah masih sakit saat kau bergerak?"


"Tidak.. Bahkan, aku sudah berjalan sendiri ke kamar mandi."


Kuberitahu sebuah fakta, aku memakai pempres sialan selama aku koma. Itu membuatku serasa 10 tahun lebih tua.


Berbicara di mana tempatku di rawat, aku berada di klinik keluarga milik Dr.Murphy di pinggir kota. Aku di beri kamar khusus. Lebih tepatnya, kamar tamu di rumah Dr.Murphy. Alasannya sederhana, untuk keamananku. Aku senang di sini. Sepi dan menenangkan. Lalu, soal Jenn, dia sudah di adili akhir tahun lalu. Dia di putuskan bersalah dan membuat dia harus mendekam di penjara sakit jiwa. Sama seperti Susan. Dia layak mendapatkan itu. Mereka semua.


"Apa kau tahu keberadaan, Scout?" ucapku seraya menurunkan bajuku menutupi perutku.


"Aku tidak yakin. Dia bisa di mana saja..." Murphy membereskan barangnya.


"Yah, kau benar..."


"Jangan khawatir, dia baik-baik saja."


"Apa dia sudah sembuh?"


"Dia baik-baik saja, nak... Jangan menkhawatirkannya."


"Baiklah... Terimakasih Murphy..."


"Tidak masalah, nak... Baiklah, aku permisi..."


"Okay.."


Lalu, aku kembali memikirkan Scout. Aku.. Aku sangat merindukannya. Aku penasaran di mana dia sekarang. Apa yang dia pikirkan. Apa dia juga memikirkanku seperti aku memikirkannya? Apa lukanya sudah sembuh? Apa dia ingin hubungan kami kembali seperti yang kuharapkan? Scout... Where are you?


****


The day, Pengadilan Agama, XX Januari 20XX


Aku menelan ludahku melihat sepinya ruang pengadilan itu. Dingin dan mencengkam. Hakim dan tentunya Scout belum datang. Di ruangan ini hanya ada aku dan Kris, pengacaraku. Inilah akhirnya. Perpisahanku dengan Scout. Sebulan lebih sudah berlalu. Akhirnya hari aku bertemu pertama kalinya untuk tahun ini dengan Scout akan terjadi sekaligus perpisahan kami.


"Kau tidak perlu gugup. Karena tidak ada tuntutan dari pihak kita mau pun pihak suamimu maka peradilan ini akan berlangsung cepat." ucap Kris padaku.


"Secepat apa?"


"Jika hakimnya tua dan lamban, mungkin memakan waktu 30-45 menit."


Hah?


"Jika dia muda?"


"Jika muda, kau beruntung karena peradilan ini bisa selesai dalam waktu 15 menit."


15 menit? Pernikahan benar-benar beda dengan perceraian. Hanya selembar kertas dan ketuk palu seorang hakim maka semua akan selesai. Aku dan Scout selesai. Scout... Aku benar-benar gugup memikirkan bahwa aku akan bertemu dengannya.


"Wow... Itu.. Itu sangat cepat."


Beberapa saat kemudian, suara pintu terbuka terdengar. Aku mengalihkan pandanganku ke belakang. Seluruh bulu kudukku berdiri saat melihat Scout. Wajah dan tatapannya keras. Rambut yang mulai menyentuh kerah bajunya tersisir dengan rapi. Wajahnya bersih dengan janggut tipis. Dia memakai setelan jas di dalam dan mantel hitam panjang. Tinggi. Memesona. Sehat dan baik-baik saja. Dia sempurna. Dan mengetahui keadaanya tidak kacau membuat hatiku semakin perih.


Kupikir aku akan bertemu Scout dengan keadaan seperti saat aku bertengkar dengannya. Janggut tumbuh dan wajah tidak terurus. Rambut acak-acakan. Dia kehilangan berat badan. Melihat keadaannya yang sangat luar biasa hari ini membuktikan bahwa dia baik-baik saja tanpaku. Dia benar baik-baik saja, seperti ucapan Murphy.



Dasar bodoh. Bagaimana mungkin dia tetap memikirkanku di saat aku sudah membuang, menfitnah, dan mencelakainya. Aku berhak mendapatkan ini. Di tambah, Scout tidak melirikku sedikit pun. Dia benar-benar sudah bertekad menyelesaikan apa pun tentang kami. Itu membuat hatiku semakin perih.


Scout duduk di kursi seberangku dan kami duduk bersampingan dengan pengacara kami masing-masing. Aku menggigit bibirku agar tidak menangis. Sial. Aku kecewa dan malu di saat yang bersamaan. Scout... Aku tidak bisa mengungkapkan apa pun saat ini. Aku kehilangan kata-kata.


Aku meremas-remas ujung bajuku. Menggigit daging dalam mulutku, menahan diri untuk tidak menangis. Lalu, suara pintu terbuka terdengar lagi. Hakim dan anggotanya masuk ke ruangan dan duduk di bangku mereka. Aku melihat semuanya berjalan sangat cepat.


Hakim berdiri, membacakan pasal-pasal. Kris membacakan sesuatu yang tidak kudengar, lalu diikuti pengacara Scout. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Pikiranku kacau. Semua berjalan dengan cepat. Aku dan Scout di suruh berdiri untuk mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti. Aku mengucapkannya tapi tidak tau apa isinya. Aku seperti robot. Bingung.


Aku hanya mendengar suara baritton Scout yang dalam. Aku tidak mendengar suaraku sendiri ataupun hakim. Yang kudengar hanya suara Scout. Suara merdunya. Suara yang tidak akan kudengar lagi. Aku meresap setiap kata-kata yang diucapkan. Menghirup parfum musk dan mint khas milik Scout. Semua ini tidak akan pernah kurasakan lagi. Aku menyimpan itu dengan aman dan erat dalam bayanganku.


Palu dibunyikan tiga kali.


Tuk. Dua langkah lebih dekat dengan perpisahan


Tuk. Satu langkah lagi...


Tuk. Semua berakhir. Benar-benar berakhir.


Aku merasakan duniaku runtuh dan hancur. Kris mengarahkanku agar menjabat tangan Scout. Jabatan terakhirku dan dia. Jabatan bahwa ini adalah akhir kami. Aku berdiri linglung dan mengarahkan tanganku ke arah Scout. Aku menjabatnya dengan lemah saat dia menjabatku dengan keras. Tangannya lembut dan kuat. Urat gembul muncul di balik kulitnya. Urat yang akan aku rindukan. Mataku menatap bola mata gelap milik Scout. Sangat dingin dan tidak ada emosi di sana. Beda dengan diriku yang menunjukkan tatapan memohon agar dia membatalkan ini semua.


Jabatan kami terlepas. Aku menggenggam bekas jabatan tadi dengan erat. Berusaha menyimpan kenangan betapa lembutnya kulit Scout. Wanginya yang memabukkan. Tatapannya yang setajam mata elang. Suara barittonnya yang berat. Dan semuanya. Semua tentangnya yang akan aku rindukan.


Aku mengikuti arah kepergian Scout. Dia berjalan meninggalkan ruang pengadilan tanpa melirikku sedikit pun. Dia tidak mengucapkkan satu patah kata apa pun padaku. Berakhir sudah. Selamat tinggal, Scout. Aku mencintaimu. Selalu.



(NB: Kenny disini panjang rambut yah)


***


Dua Tahun kemudian, Musim Panas, London.


"It's okay, honey..." ucapku pada gadis kecil di depanku.


"Apa di suntik itu sakit, Mom..."


"No, Maldives... Itu tidak sakit.. Percayalah"


"Di mana, Daddy?"


"Dia sedang membelikanmu mainan baru..." aku mengelus rambut pirang Maldives. Kami sedang duduk di ruang tunggu klinik anak. Musim panas adalah mimpi buruk bagi orang tua muda. Maldives masih berusia empat tahun dan sangat rentan di gigit oleh nyamuk DBD, terutama musim panas seperti ini. Orang tua perlu waspada akan segala kemungkinan yang terjadi di musim panas seperti ini. Mulai dari nyamuk DBD, biang keringat, kulit merah pada balita, iritasi, dan banyak lagi yang membuat orang tua harus membawa anak mereka ke Dokter anak untuk menerima berbagai vitamin dan vaksin.


"Daddy..." teriak Maldives dan segera turun dari bangku. Dia berlari dengan kaki kecilnya ke arah Jacob Anderson, ayah dari Maldives Anderson.


****


MrsFox


sekadar informasi, yang jadi wajah Scout itu namanya Tobias Cameroon, lalu si Kenny namanya Emily Rudd. Kalo harry aku lupa ..-.. Tapi terserah sih, tergantung imajinasi masing". Gimana gaais tentang chap ini? Sai Hi to our new guest, Jacob Anderson.... Wellcome Jacob Anderson, plis be a nice guy, okay?. wkkwk :v. Nah, kan kemarin ada yang minta dia cuman satu pandangan ajah, gk usah pake POV karna buat bingung, okkeh kita buat. Sekarang menurut kalian gimana. Enakan semua dikasih POV atau enggak cuman khusus Kenny ajah sebagai pemain utama? Lalu gimana tanggapanmu tentang pasangan tragis kita 'Kenny dan Scout' (kasihannya Harry gak dianggap)  Berikan like,, coment, vote, love kalian gais. Itu sangat membantu mood dan semangatku saat mengetik di malam suntuk gini.


Lop yuh gaisss