Because Of You

Because Of You
31. Pulang



hari sudah mulai petang sementara yobi masih berjalan di lapangan sekolah, suasana libur yang melelahkan tanpa ada wacana sebelumnya.


kakinya melangkah ke letak Rubicon nya di parkiran sekolah, ia menyampirkan Hoodie hitam dia kedua pundaknya, lalu mengikat kedua lengan Hoodienya di depan dada. lelah, gerah! rafil masih di dalam bersama beberapa anggota OSIS yang lain sedangkan Ardi dan jevier udah kabur duluan saat jam 3 barusan.


saat yobi membuka pintu mobil seseorang menutup kembali pintu mobilnya, yobi capek dia sudah mau mengumpat jika tidak ingat Ardi dan jevier sudah pulang lebih awal. lantas siapa yang sudah berani mengusik hidupnya??? dia harus segera sholat Maghrib, waktu Maghrib ke isya begitu dekat tidak seperti isya ke subuh jadi dia harus segera mencari musholla tepi jalan, rasanya sangat malas buat kembali kedalam untuk sholat.


liburan semester sudah mau berakhir tapi tidak ada hal apapun yang spesial dalam liburan kali ini. dirinya hanya berharap tidak ada yang mempermainkan hidupnya.


yobi menatap seseorang yang berdiri di samping Rubicon nya bahkan untuk mengatakan 'ada apa?' saja yobi merasa begitu malas. beberapa saat mereka saling berpandangan


"krystal bakal pindah ke sini..." nada suara Yudha biasa saja, tidak ada kesan marah atau pertanyaan penasaran ingin tau jawaban yobi. rasanya yobi ingin berkata 'udah tau kali....'


tapi dia lebih memilih bertanya "terus...???"


Yudha mengalihkan pandangan sambil berdecak harusnya yobi mengerti apa maksud Yudha "gue bakalan lebih sibuk di kelas dua belas semester 2, gue harap Lo bisa ngendaliin dia..."


"gue gak bisa! gue juga sibuk, emang Lo doang yang sibuk??" yobi tau menjaga seseorang tidak akan semudah itu. dan ini, krystal!!! enak saja Yudha menumpahkan bebannya kepada dirinya.


Yudha menepuk bahu yobi "Lo bisa! dia lebih nurut sama Lo..." Yudha tersenyum terhadap yobi. dia meninju dada yobi pelan lalu pergi meninggalkan sepupunya sambil menggulung folio di tangannya


mata yobi mengekor ke kepergian Yudha "sialan.... dia tau apa yang gak gue suka?! harusnya dari awal gue tau, gak mungkin kan dia menyukai apa yang gue benci!" yobi menggerutu sendirian lalu menendang ban mobilnya, tapi berakhir dia memegangi kakinya karena kesakitan


*****


setelah memasuki gerbang rumahnya kaki Elsa kembali terlihat ragu melangkah, dia sudah berperang dengan pikirannya sendiri untuk masuk atau tidak akhirnya ia memilih memasuki gerbang rumah itu.


kini dirinya kembali di hadapi oleh dua pilihan, ketuk atau tidak, pintu bercat putih itu nampak sunyi dari luar. seribu keraguan Elsa kembali menyergap pikirannya. berarti ia harus siap bertemu dengan lelaki pilihan mamanya untuk yang kedua kalinya.


saat tangan Elsa sudah terangkat untuk mengetuk pintu tiba tiba pintu itu terbuka. tampak seorang pria bule berdiri di hadapannya. Elsa mengernyit, apakah ini pria itu??? Elsa juga lupa.


"who are you???" tanyanya sambil tersenyum. senyum smirk yang menjengkelkan buat Elsa.


"gue mau ketemu mama!" Elsa hendak menerobos masuk tapi pria itu tetap berdiri di tempatnya tidak memberi celah untuk Elsa masuk. please, dia ngerti bahasa Indonesia kan??


"Alexa, right???" tebaknya yang membuat Elsa memutar bola matanya malas.


"bukan" pria itu mengangkat sebelah alisnya lalu bersandar kesisi pintu sambil bersedekap dada like a model dan ya... dia memang model pria dewasa. dia menunggu Elsa mengoreksi kata kata nya "Elsa" ucap Elsa pada akhirnya yang membuat cowok itu tersenyum dan kembali masuk ke dalam rumahnya, Elsa mengikutinya dengan malas.


"honey.... Elsa coming in here!!!" teriaknya. pria bule itu duduk di sofa ruang tamu memperhatikan Elsa dari atas hingga bawah, Elsa risih. dia juga ragu apakah dia akan duduk atau.... tiba tiba mamanya terlihat turun dari lantai dua. Elsa tersenyum, jujur mamanya terlihat semakin cantik dan jauh lebih muda, apakah itu tuntutan atau aura alamiah???


Elsa meraih uluran tangan mamanya yang hendak memeluknya, membiarkan mamanya menghujaninya dengan beberapa kecupan di wajahnya "kangen banget mama sayang..."


Elsa tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukan mamanya "Elsa juga ma!" dan Elsa menyadari sesuatu, perut mamanya sudah kempes.


lalu sang mama mengajaknya keatas, Elsa bersyukur setidaknya dia tidak harus duduk di sofa dengan pantauan mata pria mamanya yang... nakal.


ini kamar mama dan papanya dulu, hati Elsa kembali sakit memasuki kamar itu, terlalu banyak kenangan indah. matanya memendar ke seluruh penjuru ruangan dan terdapat box bayi disana. mamanya menarik tangan Elsa ke dekat box bayi itu.


"dia... brielle! adik kamu!" Elsa tersenyum memandangi wajah bayi yang terlelap tenang di dalam box itu. ia ingin bertanya apakah penerbangan untuk bayi se usia dia aman?? apakah brielle tidak rewel di pesawat?? Elsa mengelus pipinya halus. hatinya memuji adiknya itu cantik tapi dia tidak bisa mengungkapkannya.


"mama memilih untuk melahirkan di Venice dan menikah disana" tangan Elsa berhenti mengelus pipi brielle, telinganya tajam mendengarkan penjelasan mamanya "awalnya mama memilih menikah disana karena beda keyakinan sama Thomas tapi ternyata dia memilih Islam dan mengakui syahadat. mama senang karena dia tidak mau brielle tumbuh dalam dua keyakinan"


diam diam elsa tersenyum ternyata pria bule itu tidak seburuk apa Yang ada di pikirannya. setidaknya dia mau bertanggung jawab terhadap anaknya. setelah ini Elsa berharap kehidupan mamanya bahagia.


"makan malam disini ya sayang... mama sudah menyuruh BI ni masak lumayan banyak akan ada tamu Thomas nanti" Elsa mengangguk mengiyakan. BI ni?? sebenarnya Elsa penasaran apakah itu ART baru di rumah ini??? berarti mamanya akan menetap tinggal disini lagi dong??? tidak akan pergi lagi. tapi rasa gengsi jauh lebih besar untuk tidak kepo dengan urusan rumah tangga mamanya dan suami barunya.


jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, akhirnya mamanya mengajak Elsa turun buat makan malam. sedari tadi dia tidak melihat Thomas lagi, Elsa cukup tenang sejauh ini.


saat hendak turun dari lantai dua Elsa sudah mendengar tawa dan keributan di bawah, Elsa melongo dari lantai dua ke arah sofa yang di duduki Thomas sejak dirinya di ajak sang mama ke atas. di sana terdapat empat pria dan 2 wanita yang... pertama melihat Elsa sudah kurang suka.


dengan ragu Elsa melangkahkan kakinya di undakan anak tangga. sang mama memegang lengan Elsa, Elsa menoleh, mamanya tersenyum seolah mengatakan 'gak apa apa sayang,,, ada mama!'


mamanya melakukan cipika cipiki dengan dua wanita itu, Elsa tidak berniat melakukannya. sang mama lantas duduk di dekat Thomas, Elsa bisa menangkap mamanya ingin memberikan kesan baik untuk Thomas di hadapan Elsa. Thomas langsung merangkul pundak istrinya.


Elsa duduk di kursi tunggal dekat sang mama, rasanya ia ingin muntah melihat kelakuan Thomas itu.


"wiiiihhh siapa nih....???" tanya salah satu dari mereka dengan nada yang sok friendly, itu yang bisa Elsa tangkap.


"dia Elsa!!! anak tiri gue" kata thomas lagi lagi sambil tersenyum smirk ke arah Elsa, sungguh Elsa tidak suka senyum itu.


"wuiiiiihhhh cakep bener thom, lempar id line nya dong..."


"WA... WA.... aja deh..."


"Ig juga boleh...."


bukan mamanya yang menolong Elsa tapi keadaan yang menolong Elsa, BI ni datang dan mengatakan makan malam sudah siap. Elsa bisa bernafas lega, ia segera beranjak dan mengikuti mamanya ke meja makan.


mamanya duduk di samping Thomas, posisi Elsa langsung berhadapan dengan Thomas dan di sebelahnya.... Elsa menoleh kenapa harus cowok ini??? tidak adakah yang perempuan berniat untuk duduk di sampingnya???


Elsa kurang suka dengan cowok yang duduk di sampingnya, dia terlihat ingin mencari perhatian Elsa dengan mengambilkan beberapa menu makanan. sebenarnya yang tamu disini siapa??? seandainya Elsa adalah orang paling tidak sopan dia pasti berani menanyakan hal itu sayangnya dia dididik untuk menjadi sopan.


Thomas hanya tersenyum melihat ketidak nyamanan Elsa, mamanya nampak sudah tidak memperhatikannya. cowok di sampingnya berusaha mengambil tangan Elsa di bawah meja, Elsa menepisnya. oke, berhasil! semuanya masih Elsa pantau. nafas Elsa nampak memburu melihat suasana sudah kurang kondusif.


terlebih mamanya harus pergi meninggalkan meja makan karena brielle menangis, Elsa mulai pasrah. cowok yang di sampingnya sepertinya memang kurang aajar. Thomas tersenyum kepada Elsa lagi, rasanya Elsa ingin meminta tolong untuk menjauhkan satu temannya di samping Elsa.


makan malam sudah akan berakhir dan dessertnya cowok di samping Elsa tangannya semakin kurang ajar. tangan cowok itu meraba paha elsa, spontan Elsa berdiri mendorong kursi dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras! semua mata memandangnya.


cowok di samping Elsa berusaha meraih tangannya untuk tetap duduk tapi Elsa menghindar dan menampar cowok itu. Elsa juga sedikit terkejut dengan keberaniannya. cowok itu berdiri dan memegangi pipinya, ia tersenyum mengejek


cowok itu menangkup pipi Elsa dengan satu tangannya hingga Elsa meringis kesakitan "jangan sok suci... Lo pikir apa bedanya sama nyokap Lo??? yang terlahir dari rahim j*l*Ng juga uj___"


"lepas!!" kata thomas tiba tiba sambil melepas tangkupan tangan temennya di pipi Elsa "jaga ucapan Lo, men!"


Elsa tidak punya waktu untuk mendengarkan keributan "****, b*tch!" gumam Elsa sambil menunjukkan jari tengahnya di hadapan cowok itu. dia melihat Thomas yang tengah menatapnya. ia bergegas ke ruang tamu, mengambil tasnya dan berlari keluar rumahnya tanpa pamit kepada mamanya.


rumah bersejarah yang harusnya di dalamnya ada papa, mama dan dirinya. hanya mereka tidak boleh ada orang lain. hati Elsa kembali sakit, ingin semuanya terulang sebelum kejadian perceraian kedua orang tuanya.


air mata Elsa lolos begitu saja, ia berlari takut sang mama menyusulnya dan menemukannya. menanyakan kenapa??? Elsa tidak mau menjawab dengan bersedih mengatakan bahwa ia di panggil j*l*Ng di rumahnya sendiri dan kata kata itu juga melekat terhadap mamanya di mata teman teman Thomas.


Elsa mulai memelankan larinya ia menunduk hingga rambutnya menutupi wajahnya. ia kembali berjalan lirih. hidupnya benar benar sebatang kara. siapa yang mau peduli terhadap dirinya???


'f*CK i just did'


elsa berjalan sudah cukup jauh entah dimana? dia memasuki mini market membeli minum dan beberapa es krim lalu duduk di kursi yang tersedia di depan mini market.


ia mengumpat sialan tiada henti kepada Thomas dan kawan kawannya. Elsa memakan ice cream dengan rakus seperti bocah, dia kesal, hanya kesal. dan bingung mau meluapkannya kepada siapa???


Elsa melihat kehadiran mobil Rubicon di halaman minimarket dan pengemudinya langsung turun menemui Elsa, tidak untuk memasuki minimarket.


"sialan.... Ardi nyuruh gue putar balik cuman buat nemuin dia.... k*MPR*t tuh bocah emang... udah tau nih cewek ada cowoknya. dia pasti pendukung UU perselingkuhan!"


yobi menarik nafasnya lelah sambil melengos. lalu duduk di hadapan Elsa, memandang Elsa intens. yang di pandang bodoh amat pasalnya yobi kembali cuek beberapa hari ini paska penerimaan raport di sekolah hari itu. Elsa tidak mau ambil pusing dengan sikap yobi yang berubah ubah seperti bunglon sesuai suasana hatinya.


sejak hari dimana yobi bilang suka sama Elsa sejak saat itu pula Elsa jadi tidak mengenal sosok yobi. sikapnya cepet banget berubahnya.


yobi mengetuk ngetuk meja di hadapan Elsa dengan jari jarinya, pandangannya tidak lepas dari mata Elsa. yobi melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. sekilas Elsa melirik penampilan yobi. sebuah Hoodie hitam terpasang sempurna di tubuhnya.


"pulang!!!!" ucapnya tiba tiba sambil berdiri dari duduknya. Elsa melirik yobi sekilas tapi tidak bergeming dari tempatnya. kembali fokus dengan es krim di tangannya. yobi menarik nafas lelah lalu menarik tangan Elsa menuju mobilnya.


"apaan sih lepasin!!!" yobi tidak menggubris "lepasin gak?!"


"gak!"


"lepas! ihhh...." Elsa menghentak tangan yobi hingga cengkraman itu terlepas, Elsa memegang pergelangan tangannya. mereka berdiri saling berhadapan tapi Elsa membuang muka. yobi bersandar ke kap rubiconnya dan bersedekap dada memperhatikan Elsa


"kenapa lagi Lo???"


"bukan urusan Lo!!" Elsa hendak pergi menghindari yobi tapi pergelangan tangannya di raih cowok itu dan menariknya ke sisi kiri mobil.


yobi membuka pintu mobilnya "masuk!" perintahnya sambil menyuruhnya masuk dengan dagunya


hey!!!! siapa Lo seenak jidat merintah merintah!!! Elsa menatap masam yobi. yobi melengos lagi sambil mengusap wajahnya gusar lalu mengangkat tubuh Elsa layaknya brides maid agar duduk di rubiconnya.


Elsa mau protes tapi yobi sudah menutup pintu mobil dengan kasar. yobi memutari mobil dan segera duduk di balik kemudi.


please, hari ini yobi sudah sangat capek, dia hanya tidak mau ada drama baru dan hari ini segera berakhir dengan tenang.


yobi melihat Elsa yang Memandang lurus kedepan sambil bersedekap "seltbelt, please!" Elsa menoleh ke arah yobi. dirinya benar benar tidak berniat ada urusan dengan yobi hari ini.


Yobi mendekatkan wajahnya ke wajah Elsa, matanya tak lepas dari manik mata Elsa. Elsa berjengit mundur memperhatikan yobi yang semakin mendekat. lalu tangan yobi terulur ke samping Elsa


Tek!


seltbelt terpasang dan wajah yobi perlahan mundur dengan mata masih fokus ke Elsa, seolah yobi ingin mengatakan Elsa manja, centil atau semacamnya tapi tidak dia lakukan. tau urusannya akan panjang.


Rubicon berjalan keluar dari halaman Minimart, membelah hiruk pikuk kota Jakarta yang tak pernah mati.