Because Of You

Because Of You
Bab 8 : Olahraga



Kenapa ya? Kalau mau ngejauh, takdir malah mendekatkan?


_________________________________________


MASALAH dengan Arva belum selesai dan hari ini anehnya pemuda itu datang ke sekolah menambah mood Amazora down.


Waktu pelajaran olahraga tiba. Pak Rifai membagi kelompok secara acak. Nasibnya Amazora sekelompok dengan Arva. Dengan melakukan lari estafet bersama.


Sekarang, kelompok Amazora beradu dengan kelompok Lisa. Peliut di tiup, Amazora dengan kencang berlari menuju Arva sebagai pelari ke dua.


Tanpa melihat batu di depannya ia tersandung. Hingga akhirnya menindihi Arva yang dengan sigap menangkap Amazora


Suasana seketika menjadi canggung. Dan teman-teman Amazora berteriak gak jelas. Ada yang iri hingga mendekati Amazora dan mendorongnya menjauh dari tubuh Arva.


"Aduh," rintih Amazora.


"Apa-apaan sih lo," bentak Arva kepada seorang gadis yang baru saja mendorong Amazora.


Melihat gadis itu masih merintih. Dengan peka Arva menggendong Amazora ala bridal style menuju UKS. Sedangkan teman-teman yang lain hanya menatap iri Amazora.


***


Di sela perjalanan banyak mata memandang melihat Arva dan Amazora yang begitu serasi.


"Turunin gue! Gue tahu gue berat," kata Amazora yang sama sekali tak ada balasan dari pemuda itu.


Sesampai di UKS dengan hati-hati Arva menurunkan Amazora di ranjang. Ia mengambil beberapa obat serta kapas. Dengan telaten Arva mengobati lutut Amazora yang berdarah. Tidak terlalu parah.


"Udah, gue bisa sendiri." mencoba merebut kapas itu dari tangan Arva. Tapi masih tidak ada balasan dan hanya menghindari tangan Amazora yang hendak ingin merebut kapasnya.


"Udah ah gue mau balik," kata Amazora berusaha berdiri. Namun sebelum itu ia segera dibopong oleh Arva kembali. Yang seketika membuat syok Amazora.


"Turunin gue Arva," teriak Amazora sambil memukul-mukul punggung Arva.


Bel sudah berbunyi dari tadi, tapi Arva baru saja mengantar Amazora ke kelas.


"Dari mana aja kalian?" tanya Bu Indah selaku wali kelas yang berada di kelas.


"Maaf bu, kami dari UKS. Kakinya Tya sakit jadi saya bopong."


"Huhuuuuuuuuuuu."


"Gak mutu"


"Sok looo"


Teriak teman-teman kelas


"Kenapa? Iri? Gue yang suka Tya, lo yang marah. Gak ada hubungan. Ok?!" jelas Arva kepada teman perempuannya yang dari tadi iri kepada Amazora.


"Turunin gue Ar," bisik Amazora


"Bentar." menuju bangku Amazora dan menurunkannya sambil mengikat tali sepatu Amazora yang terlepas disana.


"Lo apa sih Ar?" kata Amazora yang seketika ditutup mulutnya oleh Arva menggunakan jari telunjuknya


"Sttt... Aku akan menjagamu." dan mencium punggung tangan Amazora.


***


Waktu pulang tiba, ketika akan mendatangi kelas Aoi. Tiba-tiba ia terasa ada genggaman tangan yang menariknya menuju kamar mandi.


"Hey lo, gue tau lo tuh gak suka ma Arva. Jadi gak usah deket-deket deh," kata salah satu gadis dari sekelompok orang-fans Arva.


"Jangan sok juga deh, walaupun Arva udah nyatain ke lo. Jangan anggap lo tuh aman."


"Lo tuh kalau dingin, dingin aja gak usah sok cari perhatian." yang kali ini di dorong menatap tembok di pojok.


"Aaawwwu." rintih Amazora yang lututnya masih sakit dari tadi.


"Kalian apa-apa sih? Kalau udah tau gue gak suka kenapa lo giniin gue? Hah?!" protes Amazora


"Lah malah ngelawan guys. Enaknya diapain nih?"


"Enaknya di beri pelajaran matematika," jawab suara berat disana yang seketika semua mata melihat arah pintu.


"Minggir!" lanjutnya yang seketika para gadis itu mundur teratur


Ia langsung membopong Amazora keluar kamar mandi


"Ama.. Ama kamu kenapa?" tanya Aoi berlari melihat temannya tak berdaya.


"Turunin gue," bisik Amazora


"Jagain sahabat lo nih. Tadi dibully." jelas Arva.


"Apa? Terus lo gimana? Gak apa-apa kan?"


"Gak kok, kan ada gue," goda Arva


"Arva! Apa-apa sih lo. Kemarin kan udah gue jelasin juga. Pergi sana," kata Amazora


"Gak boleh gitu lo ma. Udah di tolong juga," kata Aoi menasihati


"Yaudah makasih."


"Ya udah gue pulang dulu. Titip ya Aoi"


"Iya Arva tenang aja."


"Idih." dan meninggalkan Aoi dan Arva yang masih gak


jelas disana