Because Of You

Because Of You
Mengertilah..



Happy Reading


***


Scout POV


Aku memerhatikan layar ponselku yang menyala saat aku sedang rapat. Aku memeriksanya dan menemukan nama Kenny di layar. Aku tersenyum senang. Akhirnya dia membalas pesan dan panggilanku. Dia mengirim pesan padaku dan aku membukanya.


'Kuharap kita bisa bicara malam ini. Datanglah ke rumahku pukul delapan.'


Singkat, padat, dan mengkhawatirkan. Aku kurang suka kata 'bicara' yang ada di sana. Terlalu.... Aneh. Entahlah, seharusnya aku senang dan bukan waspada karena dia mengajakku untuk bertemu. Dan kami bertemu di rumahnya, siapa yang tau akan seperti apa akhir malam kam. Seharusnya aku senang..


"Sir?"


Aku mengangkat kepalaku dan menyadari orang yang rapat bersamaku menatapku. Dan tentunya orang yang sedang presentasi. Semua wajah seolah menunggu jawabanku. Sampai di mana pembicaraan ini?


"Apakah menurut anda ini adalah jalur yang pas?"


Aku memerhatikan layar sebentar, aku hilang fokus karena pesan singkat Kenny. Untungnya aku segera melihat sampai di mana pembicaraan kami, menganalisinya, dan menemukan jawabannya.


"Laksanakan segera." ucapku dan rapat segera selesai.


***


Kenny POV


Aku mendengar bunyi bel saat menyisir rambutku dan segera mengikat rambutku . Aku menatap diriku di cermin. Aku tidak memakai riasan, baju yang kukenakan hanya celana satin hitam dan kaos longgar warna biru, dan aku tidak memakai parfum. Bagus karena aku tidak mau terlalu berusaha tampil cantik di depan Scout. Kerutan halus dan lingkar mata menghiasi wajahku, yah itu wajar karena aku sudah menginjak usia 30 tahun.


Aku segera berlari menuruni tangga dan membuka pintu. Aku melihat Scout memakai baju santai musim panas dan yah.. Seperti biasa, dia sangat luar biasa. Dia memakai kaos dan jeans. Rambut acak-acakan karena angin musim panas dan dia sangat wangi.


"Hai..." sapaku


"Hai..."


"Silakan masuk..." ucapku dan mengarahkannya ke dapur.


"Rumah yang bagus."


"Trims.. Omong-omong, apa yang kau bawa itu?" tanyaku saat dia duduk dan menaruh paper bag di atas meja


"Untukmu." aku segera mengambil dan memeriksanya. Aku mengeluarkan sebotol anggur yang sangat mewah. Yah mewah, aku bisa melihat dari bentuk tutup botolnya. Lalu sebuah kotak silver sepanjang telapak tanganku dan tingginya hanya seruas jari.


"Oh itu? Kau bisa membukanya saat aku tidak di sini."


Aku menahan diriku untuk tidak tersenyum, "Trims.... Kuharap kau tidak keberatan jika kita makan di atas."


"Di atas?"


Aku mengganguk dan berjalan menuju atap rumahku. Di sana aku sudah menatap meja dan makan malam kami. Bukan aku ingin memperlakukan dia special, aku hanya sudah menebak bahwa dia akan membawa hadiah dan ini sebagai bentuk penghormatanku padanya. Aku berjalan di depan dan Scout di belakangku.


"Di lantai dua ada empat ruangan, satu untuk kamar tidurku, satu untuk ruang untukku mengekspresikan diriku, dan dua kamar untuk kamar penghuni tak kasat mata..." jelasku dengan gaya ala-ala pemandu wisata amatir.


"Penghuni tak kasat mata? Keren. Kuharap mereka bisa makan bersama kita.."


Aku terkekeh, "Kuharap, tapi mereka tidak suka di ganggu dan tidak bisa dilihat.. Dan di lantai tiga, ada dua ruangan, tapi tidak tau untuk kuapakan.."


"Aku mungkin bisa menyewanya..."


Aku memutar mataku, "Jangan harap, Sharp..."


"Kenapa tidak, mahkluk tak kasat mata saja kau terima..."


"Karena mereka kasat mata maka aku menerima mereka...." aku membuka pintu besi yang mengarahkan ke lantai terakhir. "Here we are, Sir...." lalu, angin musim panas menyambut kami. Auh, kuharap masakanku tidak dingin.


Scout segera melihat pemandangan lampu-lampu New York, "Kau beruntung mendapat townhouse ini. Tidak terlalu berisik, bersih, dan pemandangannya cukup bagus."


"Kau benar dan kita harus segera makan..."


Dalam cahaya temaram, aku bisa melihat senyumnya. Di segera duduk di depanku di saat aku menuangkan anggur yang dia bawa tadi. Dia melihat masakan yang kubuat, yah.. Aku memasak cukup banyak makanan dan tentunya ada masakan kesukaan Scout. Ayam panggang dengan arak putih.


"Kau memasak segala yang sangat istimewa..." ucapnya saat aku memotong ayam untuknya, kentang tumbuk, dan isian dari dalam ayam, lalu memotongnya untukku sendiri.


"Selamat makan..."


"Selamat makan.."


Aku memakan ayamku dan merasakan rasa yang sangat luar biasa, kuharap aku tidak mabuk. Yah, aku bisa mabuk, tapi tidak dengan adanya Scout di rumahku. Itu berbahaya dan tidak diizinkan karena aku marah padanya.


"Sejak kapan?" tanyaku tanpa melihatnya dan tetap makan.


"Apa?" aku mendengar bunyi denting dari sendok dan piring keramik terdengar, menandakan dia fokus juga pada makanannya. Dia ternyata sadar bahwa atmosfer di sekitar kami sangat aneh dan berbeda.


"Sejak kapan kau memata-mataiku?"


"Maksudmu?" suaranya santai, tapi deru napasnya sedikit berubah. Aku mengenal dia dengan sangat bagus.


"Aku mendapat kesempatan rekaman karenamu, bukan?"


"Ini malam yang sangat bagus, Ken dan kuharap kau tidak merusaknya."


"Kau yang membawaku kembali ke New York, bukan?"


"Ken..." ancam Scout dan dia sudah berhenti memotong makanannya. Aku tetap menikmati makananku dengan santai tanpa terancam. Aku tau sikapku sekarang sangat menyebalkan. Tapi, dia jauh lebih menyebalkan.


"Aku curiga  pertemuan pertama kita diatur secara sengaja olehmu..."


Scout meneguk anggur miliknya dengan marah, lalu menuangkannya lagi.


"Kau tidak makan lagi? Itu ayam arak putih kesukaanmu..."


"Hentikan, Ken. Kau sangat menyebalkan saat ini."


"Aku selalu meneybalkan, Scout..."


"Ken, kumohon.. Aku.. Aku melewati waktu-waktu sulit seumur hidupku. Dan itu semakin sulit tanpamu, Ken..."


Aku berhenti memotong ayamku dan merasakan perih.


"Jujur, Scout...  Apa kau juga mematai-mataiku saat masih bersamamu dulu?"


"Yeah...." bisiknya.


Aku menggigit bibir bawahku.


"Kupikir kita berjanji untuk saling memercayai..." ucapku berusaha tegar


"Saling memercayai?! Jangan main-main dengan kata-kata itu..." aku menatap dia dengan marah, "Kau pun melakukan hal yang sama..."


"Itu karena kau tidak mau jujur!!" teriakku tak kalah histeris. Scout memandangku tidak percaya dan segera berdiri memunggungiku.


"Aku tidak jujur karena demi kebaikanmu!!"


"Kebaikan? Semuanya mungkin baik-baik saja jika kau mencoba lebih jujur padaku."


"Aku tidak bisa , Ken! Aku hanya ingin menjaga perasaanmu.... Kumohon.. Kumohon mengertilah..."


"Itu salah, Scout.." ucapku pelan


"Aku tau.." ucapnya putus asa. Dia meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangannya, "Aku tau, Ken.. Aku mencoba menghindari segala yang berhubungan denganmu setelah bercerai, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa..." suaranya bergetar dengan hebat.


Seharusnya tidak begini, seharusnya perasaanku tidak begini... Seharusnya aku marah dan mengancamnya akan pulang ke London karena dia sudah melanggar banyak undang-undang dan membuatku seperti wanita lemah. Namun, hatiku perih melihat Scout seperti ini. Sangat perih.Segera aku bangkit dari dudukku dan segera memeluk Scout dari belakang.


"Ken..."


"Jangan menangis bocah besar..." bisikku, "Wajahmu sangat jelek jika menangis..." segera Scout memutar tubuhku dan memelukku erat.


"Ken... Ken..." dia mengucapkan namaku dengan penuh syukur dan kelegaan luar biasa.


"Jangan lakukan hal seperti itu.. Itu membuatku lemah dan merasa tidak bisa dipercayai. Aku tidak suka dianggap seperti itu.."


"Tidak akan... Tidak akan..." dia memelukku teramat erat, mengelus punggungku, dan tidak henti-hentinya mencium pucuk kepalaku.


****


Jacob POV


Aku turun dari sepeda motorku dan berjalan dengan riang ke rumah Kenny. Pertandinganku akan dilaksanakan besokbdan aku datang kemari untuk meminta restu kemenangan darinya. Yah, aku juga membawa buket bunga yang sangat besar dan sekeranjang buah. Dia suka yang segar dan alami. Kupikir bunga dan buah adalah perpaduan yang pas. Segar dan alami.


Aku membunyikan bel beberapa kali, tapi tidak ada yang menyahut. Akhirnya, aku membuka pintu yang tidak terkunci itu. Tumben sekali dia seceroboh ini dan membuatku waspada. Aku memanggil namanya pelan, siapa tau ada pencuri di sini. Aku mencari di dapur dan menemukan paper bag. Aku menaurh bunga dan buahku di atas meja, lalu memeriksa paper bag. Ada kotak silver yang tampak mewah di sana. Dari siapa?


Keheningan tidak biasa di rumah ini membuatku waspada. Aku mencari sesuatu di lemari dan rak piring Kenny, sesuatu yang bisa kugunakan untuk alat memukul. Aku mengambil roller dan segera berjalan ke tiap ruangan rumah ini, tapi tidak menemukan apa pun. Aku mendengar suara terikan dari atap rumah ini dan segera berlari ke arah sana. Melihat pintu terbuka membuat adrenalin semakin berpacu dalam diriku. Aku hendak meneriakkan nama Kenny, sebelum aku menemukan dua sejoli yang sedang berpelukan.


Itu hanya siluet, tapi aku yakin itu Kenny dan... Scout. Aku meremas roller tersebut dengan kuat dan segera meninggalkan tempat itu. Aku terlambat. Benar-benar terlambat. Inilah yang kutakutkan sejak dia berencana pindah ke New York, aku tidak memiliki kesempatan. Akhirnya, aku harus mundur dan itu benar-benar menyakitkan.


****


Scout POV


"Aku mengaku salah soal itu, tapi CEO agensi itu mendengar lagumu sendiri dan menyukainya, Ken. Kau memang memiliki bakat dan itu semua karena usahamu. Aku hanya membantumu sedikit.." ucapku takut-takut saat dia meminta penjelasan segalanya padaku. Kami kembali makan setelah kejadian menegangkan tadi. Seandainya dia menolak dan memilih sesuatu yang membuatku harus kesepian lagi, kupikir aku akan melompat dari gedung ini. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Benar-benar tidak bisa.


"CEO?" ucap Kenny penuh keterkejutan.


"Ken, percayalah.. mereka mendengar lagumu dan mereka suka. Aku tidak bohong soal itu."


"Soal rekaman harus ada di New York?"


"itu memang peraturannya dan itu tujuanku..." suaraku mememelan di ujung kata-kataku.


"Aku akan memaafkanmu karena aku sudah menandatangani kontrak. Namun, kuharap lain kali kau tidak melakukannya lagi..."


"Aku mengerti dan berjanji,,," aku memakan potongan ayam dengan gembira. Dia menerimaku. Akhirnya.


"Scout..." suaranya berubah menjadi dalam dan serius. Itu membuatku khawatir.


"Yah?"


"Lihat aku..." suaranya menjadi lebih lembut dan membuatku mengangkat kepala ke arahnya.


"Aku mungkin sudah mengucapkan maaf padamu beberapa hari yang lalu., tapi dalam keadaan mabuk..."


"Kau tidak perlu, Ken. Itu sudah berlalu..."


"Maafkan aku... Jika di beri kesempatan untuk memperbaiki masa lalu, aku akan memperbaikinya dengan sangat baik..."


"Aku memaafkanmu, Ken dan kuharap kita tidak perlu membahasnya. Itu adalah masa lalu. Walau tidak dapat di hapus atau di ubah, kita hanya perlu mengiklaskannya dan menjadikannya pembelajaran yang berarti..." aku mengelus tangannya yang ada di atas meja.


"Terima kasih untuk selalu ada untukku, Scout.."


Aku menggeleng kepala, "Justru aku yang harus mengatakannya, terima kasih karena kau tidak pernah lelah akan sikapku dan terima kasih telah hadir di hidupku. I love you..."


"I love you to.."


***


Kenny POV


Aku bangun dengan keadaan luar biasa dan tentunya kesiangan. Untung sekarang akhir pekan. Aku dan Scout menyelesaikan masalah kami dan sekarang kami memulai hubungan yang baru. Kami akan melangkah dengan hati-hati sekarang. Tidak mau terlalu terburu-buru. Aku sedih karena dia tidak bisa menginap karena ada masalah kantor. Aku segera bangkit dan membereskan meja makan kami semalam. Aku menampungnya ke dalam ember dan membawa ke bawah untuk di cuci.


Saat di dapur, aku melihat buket bunga yang besar dan sekeranjang buah. Aku menaruh ember itu dan duduk memeriksa dari siapa bunga itu. Aku menemukan amplop di sana dan membukanya. Ada surat dan tiket. Tiket balapan. Jacob!


'Dear Kenny


Aku meminta doa restumu untuk kemenanganku besok  dan jangan terlambat. Aku mencintaimu. Selalu.


Love


Jacob Anderson'


Pertandingan?! Balapan?! Sial... Bagaimana bisa aku kelupaan seperti ini?!


Aku segera naik untuk mempersiapkan diriku menuju sirkuit balapan. Bahkan, aku tidak mandi karena aku sudah terlambat satu jam. Dan bisa dua jam karena ini New York. Lokasi jauh dan macet! Aku tidak memakai riasan lagi dan hanya membawa tiket dan dompetku. Aku segera menghentikan taxi. Aku menunjukkan alamatnya.


"Kubayar dua kali lipat jika kau mengantarku kurang dari 25 menit..."


Sepanjang perjalanan, aku gelisah dan takut. Astaga. Semoga dia tidak menyadari bahwa aku terlambat. Lalu, pikiranku kembali ke buket bunga dan buah darinya. Kapan dia datang ke rumahku? Astaga.. Kuharpa dia tidak melihatku dan Scout. Jika sampai dia melihat kami semalam dan membuat pikirannya buyar saat pertandingan, maka aku akan......... Sial. Ini membuatku kehilangan kata-kata. Bagaimana mungkin aku melupakan pertandingan sepenting ini.


Supir taxi itu benar-benar cepat dan mengebut. Dia membawaku melewati jalan tikus hingga aku bisa smapai ke tempat pertandingan itu. Aku segera membayar dan berlari menuju tempat itu. Dari luar, aku bisa mendengar deru raungan motor. Aku memberi tiketku dan berjalan masuk. Suaar teriakan penonton dan raungan motor semakin terdengar. Aku mencari tempat duduk, tapi  tidak menemukannya. Aku memilih berdiri dan menatap pebalap. Sial, aku tidak tau yang mana Jacob.


"Ladies and Gentleman, ini dia putaran terakhir kita. Dan lagi-lagi pebalap 808 memimpin di depan... Jacob Anderson!!!!" teriak MC dengan suara dilebih-lebihkan dan mendengar namanya di sebut membuatku senang bukan kepalang, "Oh.. Apakah pria besar kita yang dari London ini akan menang?!!"


Suara teriakan penonton yang riuh semakin keras dan beradu dengan raungan motor. Aku memusatkan fokusku pada pria yang memimpin di depan, seorang lawannya berusaha mendahuluinya dan berhasil. Lalu lawanyang lain, membuat Jacob tertinggal di belakang.


Ayolah, Jacob... C'mon!!! Aku berteriak terus dalam hatiku. Sial, dia semakin terlambat di belakang.


"Sepertinya keadaan berubah!! Kita memiliki peserta 547 sebagai pemimpin.... Dan-- Apa?! Jacob Anderson melaukan lompatan spot di putaran terakhir?!!"


Lompatan spot terakhir?! Apa itu? Dan apa pun itu, penonton semkain riuh dan meneriakkan nama Jacob. Aku segera mengetahu lompatan spot. Jacob melaju dengan cepat menuju tanjakan buatan yang membentuk lengkungan dengan derajat kemiringan yang mengerikan. Saat para lawannya memilih jalur bawah, Jacob memilih jalur itu. Dia melajukan motornya semakin cepat dan dia terbang di udara. Melewati para peserta lain. Dia terbang dan motornya bergerak maju menuju garis finish melewati peserta lain.


Teriakan penonton semakin riuh dan Jacob mulai menurun ke arah gairs finish. Dan segalanya terjadi sangat cepat, Jacob meraih garis finish, tapi sebuah kesalahan terjadi. Pendaratan Jacob tidak mulus membuat dia dan motornya terpantul di tanah dan terseret snagat jauh dari tanah. Aku menatap itu dengan tidak penuh percaya.


"JACOB!!!!" teriakku


 


***


MrsFox


Aku kaya baca koment kalian dan bandingan ke tiap-tiap chapter gitu. Koment klian jauh lebih rame kalo itu adalah bagian romantis Kenny ama Scout, dan justru sepi kalo dibagian sedih'nya. Gak salah sih itu, cuman liat-liat ajah. Dan kebanyakan koment banyak banget yg benci sama tokoh fiksiku bernama Kenny dari pada Jenny yang notabenya tokoh fiksi antagonis. Wkwkw.. Dia itu pemeran utama malah dibenci hehe, dan mungkin kebanyakan cerita yg kalian baca buat pemeran utama dengan sikap baik dan membuat para pembaca jatuh hati gitu. Tapi, gk selamanya pemeran utama itu harus baik, polos, alim, dan gk punya sikap buruk. Justru aku senang baca koment yang hujat Kenny gitu, berarti aku berhasil dungs buat karakter utama yg dibenci karna itu tujuan utama aku. But, harus realistis sih, kan manusia gk harus yg baek"nya doang dan ini biar saling melengkapi gitu pasangan kita. Ini udah dekat banget ke puncak. Mungkin tinggal beberapa chapter lagi(semoga), tunggu kisah aku yang lain yah(bakal update sebentar lagi), dan warna story aku itu seputar gaya orang barat karena kek lebih bebas mengekspresikan diri gitu dan lebih leluasa tulis adengan 21+, karna kalo timur kurang cocok. Okkeh. Lop yuh gais. Jangan lupa dukungan anda sekalian yah. See you..