Because Of You

Because Of You
Party



Happy Reading


***


Kenny POV


Aku turun dari taxi setelah membayar ongkosnya dan itu cukup mahal. Aku melihat bangunan berwarna putih tersebut yang berdempetan dengan rumah yang lain. Yah, ini disebut Townhouse, biaya sewa per bulannya sangat mahal. Tapi, aku tidak punya pilihan. Aku tidak terlalu suka apartemen. Itu mengharuskanku berada di lift, seperti yang kalian ketahui bahwa aku bermasalah dengan ruangan sempit.



Dengan susah payah mengangkat koperku dan akhirnya aku sampai di depan pintu. Aku menarik napas panjang seraya membereskan bajuku sedikit. Lalu, aku membunyikan bel. Tidak ada sahutan. Aku membel lagi dan tetap hening. Aku membuka ponselku dan menelpon pemilik ini.


"Halo?" ucapku setelah tersambung, "Mrs.Robinson, aku sudah berada di Townhouse milikmu. Apa kau ada di rumah?" lalu bunyi pintu terbuka terdengar dari rumah di samping. Di sana berdiri seorang wanita tua seumuran Mags, sekitar 60-an, dan dia memakai piyama cokelat dengan ponsel ditangannya.


"Ms.Cullen?" ucapnya dan suaranya terdengar melalui ponsel.


"Mrs.Robinson..."


***


"Dulu aku membeli ini untuk anakku..." ucap Mrs.Robinson saat kami mengelilingi Townhouse yang akan aku sewa.


Aku melihat dindingnya yang mulus dan tanpa cela. Mencari sebuah kekurangan di mana saja, mulai dari dinding, toilet, tangga, dan segalanya yang perlu di periksa. Dan semua benar-benar sempurna. Tidak ada yang perlu ku khawatirkan.


"Ada tangga menuju atap bangunan ini. Kau bisa menjemur di sana."


"Tentu..."


"Bagaimana menurutmu? Aku jamin ini adalah bangunan dengan harga pas dan tentunya lokasinya sangat strategis."


"Aku setuju soal lokasinya, tapi tidak dengan harganya."


Dia melihatku di balik kaca matanya, "Young Lady, aku yakin kau tidak akan menemukan yang seperti ini di kota New York."


"Mrs.Robin-..."


"Panggil aku Debs. Mrs.Robinson membuatku sangat tua."


Aku tersenyum, "Jangan lupa panggil aku Kenny. Jadi Debs, aku suka rumahmu dan ini benar-benar indah."


"Kau benar..."


"Hanya saja, bisakah kau mengurangi biaya sewanya?"


Dia memajukan bibir bawahnya, "Baik akan kuturunkan $100 per bulannya hanya jika kau membayar penuh untuk bulan ini..." Biaya sewa perbulannya $2500. Hanya turun $100, baiklah. Tidak masalah.


Aku mengarahkan tangan kananku padanya, "Deal..."


"Deal..."


****


Aku melihat beberapa pekerja memindah-susunkan barangku. Aku mengaturnya sedemikian rupa. Aku tidak memiliki banyak perabot karena aku tidak terlalu suka jika rumahku terlalu penuh dan sempit. Aku mendekor, membersihkan, dan mengisi semua bangunan dengan furnitur sepanjang hari.


Saat malam, semuanya telah selesai. Aku melihat sekitar dan merasa puas walau lelah. Suara bel terdengar dan aku segera berjalan ke arah pintu tanpa memeriksa siapa yang datang. Di sana ada pria yang melakukan pesan antar.


"Satu pizza, kentang goreng, dan cola oleh Kenny Cullen."


"Itu aku.."


Aku menerima pesananku dan membayarnya dengan kartu debitku.


Aku membawa makananku dan menaiki tangga menuju lantai paling atas. Saat membuka pintu, angin sejuk musim panas menyambutku. Aku melihat pemandangan lampu-lampu malam di New York. Lalu, aku duduk di atas karpet yang sengaja kutaruh disini dan duduk seraya menikmati langit malam New York dan pizzaku yang sudah mendingin.


Aku meminum colaku dan berbaring, menatap langit New York. Ini benar-benar sempurna. Menenangkan. Aku berharap besok hari jauh lebih baik dan rencana rekamanku dapat dilakukan segera. Lalu, aku merasa sepi. Aku merindukan Jacob, Maldives, orang tuaku, dan... Aku menarik napas.


Perasaan kosong dan aneh muncul kembali. Ini kurasakan setelah di sini. Aku mengingat Scout lebih sering setelah sampai di New York. Yah, itu wajar karena kota besar nan kapitalis ini memiliki banyak kenangan di dalamnya. Kenanganku bersama banyak orang.


Kenangan yang tidak bisa kuhapus, tapi berusaha kulupakan. New York memang kota kecil, tapi aku berharap aku tidak akan bertemu dengan 'semua orang' itu karena akan meruntuhkan segala pertahananku dan ketenanganku.


****


Sudah hampir sebulan aku hidup di New York dan tidak ada sesuatu yang terjadi. Semua berjalan lancar. Sesekali aku bisa bertelepon dengan Maldives, perbedaan waktu yang sangat jauh membuat kami jarang berbicara. Aktivitasku lebih banyak kuhabiskan di studio untuk latihan dan semacamnya.


Aku bertemu pemusik lain di sini. Pemusik murni, yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk musik. Aku senang karena dari mereka aku belajar banyak hal dan membantuku dalam pembuatan rekamanku. Inilah yang kusebut hidup tenang tanpa hambatan.


"Kenny..." suara Ana mengejutkanku saat aku makan siang.


Ana segera duduk di depanku dan wajahnya terlihat sangat kebingungan.


"Yah?" ucapku dengan mulut penuh makanan.


"Aku memiliki sedikit masalah..."


Aku mengangguk dan menelan makananku yang belum halus.


"Pemusik harus mengisi acara pesta elite besok malam, tapi Josh, pemain piano memiliki halangan sehingga dia harus datang terlambat..."


"Jadi?" aku meminum airku.


"Bisakah kau mengisi kursi Josh, hanya satu jam Kenny-- Mungkin lewat setikit. Kumohon Kenny, hanya satu jam.."


"Ana, aku bahkan tidak tau jenis lagu dan itu dilaksanakan besok malam..."


"Baiklah.. Baik.."


Segera Ana memeluk erat dan membuatku terkejut, "Thank you, Kenny. Aku sangat menhargainya..."


"Yah, Ana..."


Dia melepaskan pelukannya dan memakai kembali kacamatanya, "Datanglah ke lantai 10 untuk latihan besok pagi. Hanya lagu biasa.. Bye, Kenny" dia segera pergi dari rumah makan itu dengan tergesa-gesa dan aku tidak sempat mengucapkan 'Bye' kembali padanya.


Aku menatapnya sebentar lalu beralih ke makananku, "Kembali kepadamu lagi, makanan..." Dan aku kembali menyantap makan siangku tanpa merasakan firasat buruk.


***


Aku memoles wajahku dengan make-up tipis. Memakai anting dan menyanggul rambutku membentuk bulatan. Aku melihat diriku di cermin. Aku memakai gaun merah yang mengikuti bentuk badanku dan jatuh melebar pada bagian kaki. Yah, dress code mereka berwarna merah. Ana yang menyuruhku memakai ini, sopan dan cukup mewah.



Aku memasukkan barangku ke tas kecilku saat bel rumahku berbunyi. Aku yakin itu Ana karena dia yang akan menjemputku. Aku berjalan melangkah tangga dan segera membuka pintu.


"Wow, Ken.. Kau terlihat keren..." ucapnya dan melihat pakaian biasanya. Dia memakai jeans bellel dan blezernya. Pakaian sehari-harinya. Loh?!


"Kau memakai itu? Bukankah dress codenya merah?"


"Aku bekerja di belakang panggung dan soal dress code, aku memakai ikat rambut berwarna merah..." dia memutar kepalanya dan memamerkan kucir kudanya yang diikat dengan karet berwarna merah. Bagus. Great.


"Sempurna..." ucapku seraya menggeleng-gelengkan kepala.


"Yah.. Ayo berangkat, Lady..."


***


Pestanya berjalan lancar. Pemusik dan pelayan tiba lebih awal di lokasi pesta tersebut. Itu benar-benar pesta elite karena dilaksanakan di hotel bintang lima, mewah, dan di hadiri oleh kaum ber-uang banyak. Aku memainkan pianoku dengan senang hati karena ini memang pekerjaanku walau aku kurang nyaman dengan semua orang-orang kaum elite.


Lalu, dirhen yang memimpin kami menyuruh kami berhenti saat seorang pria muda yang kuyakini MC acara ini menaiki panggung. Dia mulai berbasa-basi dengan sangat heboh dan aku tidak heran akan itu. New York penuh dengan manusia-manusia heboh. Aku tidak mendengar apa yang diucapkan dan fokus pada tuts painoku. Tanganku bergerak di atas tuts tanpa kutekan. Walaupun begitu, aku tetap bisa mendengar nadanya di kepalaku.


".... Di malam yang luar biasa ini, kita akan mendengar kata sambutan dari tuan rumah pesta ini.... Tuan Scout Sharp, waktu dan tempat kami persilahkan.."


Aku menghentikan gerakan jemariku dan mengangkat kepalaku. Suara riuh tepuk tangan terdengar menyambut kedatangan pria yang disebut. Mulutku terbuka lebar saat melihat Scout Sharp naik ke panggung. Dia memakai setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya, rambutnya di sisir dengan rapi, memesona, tinggi, berwibawa, dan wajahnya datar serta kasar. Suara bisikan kagum terdengar dan aku melihat beberapa wanita melemparkan senyum nakal padanya.



"Selamat Malam..." suara barittonnya terdengar khas di telingaku dan menimbulkan jeritan tertahan dari wanita-wanita. Buluku meremang, darahku berdesir cepat, dan membuat jantungku berdetak kencang.


Scout....


DANG!!!!


Suara nada kacau dari pianoku terdengar, aku tidak sengaja menekan tuts piano dan membuatku aku menjadi sorotan tamu, termasuk Scout. Aku menoleh ke puluhan pasang mata yang menatapku dan tatapanku bertemu dengan Scout. Tatapannya tajam dan menusuk. Lalu dia tersenyum padaku. Senyum miring yang tidak sampai ke matanya. Membuat jantungku ingin terbang, aku tau aku berlebihan tapi itu senyum maut yang luar biasa.


"Butuh bantuan, Young Lady?"


****


Jacob POV


"Kita akan pergi ke mana, Daddy?" tanya Maldives setelah kami naik pesawat. Ini pertama kalinya aku duduk di kelas bisnis. Nyaman dan tenteram. Aku mengelus kepala Maldives.


"Menemui Mommy."


"Benarkah?"


"Yah.. Sekarang tidurlah agar kau memiliki tenaga untuk memeluk erat Mommy."


Maldives menggangguk senang dan berusaha untuk tidur. Aku menatap Mags yang duduk di sampingku. Aku mengikuti saran Ken untuk mengikuti balapan resmi. Entah keajaiban apa yang menghampiriku, aku menang dengan berada di posisi ketiga. Yah memang di posisi di ketiga, tapi aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan pelatihan pertandingan berikutnya di New York. Dan jika aku beruntung, aku akan dikontrak. Lalu, di sinilah aku sekarang, di dalam pesawat bersama mags an Maldives menuju New York


Yang perlu kuusahakan saat ini adalah membuat diriku pantas untuk Kenny. Aku akan menang dan menghasilkan banyak uang untuk Maldives, Mags, dan tentunya Kenny. Akan aku buktikan bahwa aku pantas untuk Ken walau sulit. Yah, mengingat mantan suaminya seorang billioner sialan, membuatku harus berjuang keras merebut hati Kenny.


Aku akan berusaha keras memantaskan diriku sehingga Kenny tidak akan memeberi alasan tentang 'umur' padaku


"I'm coming, Ken.." bisikku.


***


Ms.Fox


Ada yg rindu POV Scout? Ada yg rindu Harry, Lolita, dan Jenn? Wkwkw Keep waiting gays. Jangan lupa beri dukungan untuk author berupa love, vote, like, dan komentar. Komentar kalian adalah moodbooster terbaikku.


Lopyuh gais from the moon and back