
Happy Reading
***
Scout POV
Aku memarkirkan mobil setelah sampai di depan townhouse milik Kenny. Itu rumah sempit khas New York dan di sana ada pria yang tidak asing bagiku. Jacob. Dia berdiri di sana seolah mencari sesuatu. Menunggu sesuatu lebih tepatnya.
"Dia Jacob?" tanyaku tanpa menatap Kenny.
"Yah, Jacob Anderson.."
Lalu hening. Aku bingung harus menjawab apa. Kenny bingung dan membuatku khawatir. Suasana hati ken tidak baik saat ini dan itu menular kepadaku, memberikan getaran kekhawatiran yang tidak ku mengerti. Membuat atmosfer dalam mobil ini sangat berbeda.
"Kuharap aku bisa berkunjung ke rumahmu lain waktu..." ucapku seraya melihatnya dan dia tersenyum manis padaku.
"Aku akan menghubungimu dan kita bisa makan malam juga..."
"Baguslah..."
"Aku akan turun. Terimakasih atas tumpangannya..."
"Tidak masalah...."
Kenny mengambil barang dan membuka pintu, sebelum aku menarik lehernya mendekat dan mencium bibirnya sekilas.
"Sampai jumpa, Ken.."
"Sampai jumpa, Scout"
***
Kenny POV
Aku melihat mobil Scout melaju menjauh dan aku segera memutar tubuhku ke arah rumahku. Di ujung tangga teras ada Jacob berdiri melihatku. Aku segera berjalan ke arah rumahku seraya tersenyum padanya. Setelah sampai, aku segera memeluknya.
"Hei..." ucapku setelah melepaskan pelukannya.
"Hei..."
"Maldives?" tanyaku seraya berjalan masuk ke dalam rumah dan segera mendapat jawaban dengan Maldivesh yang berlari dari arah ruang tamu.
"Mommy!!" teriaknya dan aku segera menggendongnya.
"Wah.. Kau semakin berat..."
"Aku merindukanmu, Mommy.." Maldivesh mencium bibirku dan memeluk leherku erat. Owh.. My little girl.
"Aku juga, sayang..."
Jacob mengarahkan kami menuju dapur dan wangi menyenangkan tercium. Aku duduk dan Maldivesh di sampingku.
"Kau memasak?" tanyaku saat Jacob menyajikan piring
"Aku? Jangan harap Ken..."
"Jadi?"
Jacob segera mengambil sepiring pizza yang berada di microwave.
"Aku memesannya tadi. Karena dingin, aku menghangatkannya kembali."
"Jadi untuk apa piring ini?" ucapku jengkel dan segera menarik potongan pizza ke dalam mulutku.
"Untuk ini..." Jacob menarik potongan lain ke atas piring Maldives dan miliknya.
"Jangan konyol.. Pizza orderan di makan dengan garpu dan sendok? Sangat tidak beradap.."
Jacob terkekeh dan ikut makan. Sesekali Maldivesh mengoceh, menceritakan banyak hal, dan itu memberi energi sehat bagiku. Melihat pipi gembulnya yang memerah, tangan kecilnya, bola matanya yang biru, dan wanginya yang menyenangkan menyalurkan energi positif bagiku.
Setelah selesai makan, Maldivesh berlari ke ruang tamu untuk menonton televisi seraya membawa gummy bear miliknya.
"Pizza yang enak.." komentarku.
"Aku bukan koki yang buruk, bukan?"
"yah kau bukan koki yang buruk walau hanya memasukkan pizzza orderan ke microwave."
"Trims atas pujianmu..." dia membuka tutup soda dan memberikannya padaku.
"Jadi... Ceritakan padaku.."
"Apa?" Jacob bersendawa selesai meminum soda.
"Kenapa seorang Jacob Anderson datang jauh-jauh dari London ke New York?"
"Aku mengikuti saranmu..." Jacob bersandar pada kursinya dan menatapku lekat.
"Saran? Aku tidak pernah memberi saran yang membawamu ke New York."
"Aku mengikuti pertandingan resmi dan.. Bummm.. Aku menang."
"Kau mengikuti perlombaan resmi dan kau menang, dan...."
"Dan aku harus mengikuti pertandingan musim panas di sini dan melakukan pelatihan juga. Dan pastinya, aku akan menang dan mendapatkan kontrak resmi."
"Woww... Selamat, Jacob. Astaga, kita seharusnya makan sesuatu yang lebih enak dari pada pizza yang dihangatkan.."
"Kita bisa makan malam."
"Jadi bagaimana dengan Megs dan Maldives?"
"Aku membawa Megs ke sini untuk sedikit liburan. Ada sebuah asosiasi yang memberi liburan kepada lansia. Dan Maldivesh, dia akan kutitip di penitipan anak, atau dia ikut denganku, atau.. Yah, kau tau... Banyak hal yang bisa kulakukan untuk menjaga dia..."
"Wah.. Sepertinya kau memiliki uang yang banyak.."
Dia mengangkat alisnya, menyombongkan dirinya. Jacob Andreson si sombong kurang ajar.
"Aku akan menjaga Maldivesh sesekali. Kau tau, aku cukup sibuk dengan segala hal."
"Tidak apa, Ken.."
"Di mana kalian menginap? Kalian bisa menginap di sini..."
"Aku tidak tau defenisi 'cukup layak' bagimu, Jacob."
"Tenanglah, mereka tidak memberi kami kandang sebagai tempat tinggal."
"Uhm.. Baiklah.." aku mengangguk, menyerah pada komentar sarkastiknya.
"Bagaimana dengan rekamanmu?"
"Rekamanku? Yah, aku dan rekanmu mulai menggarap konsep dan sebagainya."
"Itu akan menjadi album yang hebat, Ken. Percayalah."
Aku menaikkan sebelah alisku, "Kau yakin? Kau bahkan belum pernah mendengar musikku."
"Ayolah.. Aku bisa membacanya dari wajahmu.."
"Wajahku?" aku tersenyum lebar, aku senang percakapan santai ini, "Beri tahu aku apa yang kau lihat"
"Well.. Kau memiliki garis wajah yang keren, hidung mancung, dagu yang lancip, dahi yang tidak terlalu lebar, gigimu putih, dan..."
"Gigi?" potongku dengan tidak percaya "Kau menilai gigiku... Aku tidak percaya kesuksesan bisa dibaca melalui gigi, Anderson. Apa gigiku mirip gigi Albert Einstein atau semacamnya , huh?"
"Aku bisa dan yah.. Gigimu mirip Albert Einstein.."
Lalu kami tertawa dan bercerita tentang kegiatan kami. Jacob bercerita betapa payahnya rasa hot dog di New York, betapa ributnya kota ini bahkan malam hari, betapa mahalnya segala hal di sini, dan segala hal penilaiannya tentang New York dengan gaya sarkartisnya.
Lalu...
"Apa yang mengantarmu tadi adalah Scout?"
"Jacob, aku..."
"Aku melihatmu turun dari mobil mewah keluaran terbaru dengan keadaan acak-acakan. Rambut diikat seadanya, riasan wajah kacau, bau alkohol bercampur parfum seorang pria, dan gaunmu tidak terkancing dengan baik..."
Aku menarikn napas dan melihat dia tidak percaya. Ini salah satu bagian yang kubenci dari Jacob Anderson. Mulut bi*adabnya sangat kurang ajar.
"Semua begitu indah tadi dan kau merusaknya..."
"Kau menginap bersama mantan suamimu. Atau lebih tepatnya 'having seex'."
Aku segera berdiri dan menatapnya marah, "Bukan urusanmu, baj*ngan..."
Aku segera meninggalkan dia dan naik ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamar. Aku berjalan melewaati cermin dan mundur untuk melihat diriku sendiri. Jacob benar.. Aku benar-benar kacau dan aku seperti... P*elacur..."
Aku menarik napas tidak percaya dan mengganti gaun bodoh sialan milikku. Lalu melemparkan diriku sendiri ke dalam tempat tidur. Menangis untuk hal yang tidak kumengerti. Aku kembali mengingat malam itu. Menjijikkan. Aku menjijikkan. Aku dengan mudahnya membuka pahaku pada Scout!! Padahal itu pertemuan pertama kami setelah dua tahun. Betapa murahan dan menjijikkannya...
Aku benci dengan semua ini. Aku tidak ingin terlibat dengan pria sialan mana pun, terutama pria Amerika dan London. mereka semua bi*adab.
****
Aku masuk ke dalam rumah makan terdekat dari studioku untuk makan siang. Aku melewati hari yang berat minggu ini. Scout tidak henti-hentinya menelponku dan Jacob selalu berusaha menerobos rumahku dengan Maldivesh sebagai temengnya.
"Paket A.." ucapku pada pelayan menunjukkan menu pilihanku. Aku membayar bill dan menunggu pesananku datang. Setelah pesananku datang, aku mencari meja kosong di antara lautan manusia. Aku bersyukur ada meja kosong di ujung dan aku segera berlari ke arah meja, aku tidak mau kelambatanku membuatku kehilangan kesempatan untuk duduk.
Aku segera duduk dan hampir menumpahkan minumanku. Yah, hampir... Yah, ini lah makan siangku. Kentang tumbuk, sepotong ayam popcorn, bacon, dan sayuran. Paling cepat, kurang sedap, tapi lebih sehat dibanding makanan cepat saji. Aku tidak sempat memasak makan siangku karena aku bermasalah dengan bangun pagi dan hampir setiap pagi aku berlari menuju studio agar tidak terlambat. Itu membuatku kehilangan banyak berat badan.
"Hei, bisakah aku menumpang bersamamu di meja ini?" aku mengangguk tanpa melihatnya. Dan yah, New York mengajarkanku lebih apatis dan tidak ramah.
"Kenny? Kenny Sharp?"
Aku mengangkat kepalaku dari makananku dan melihat pria grondong di depanku. Rambut panjang, kumis memenusi tulang pipi bawahnya.
"Wah... Sebuah kebetulan luar biasa... Kau ingat aku? Edward... Edward Mclurk.."
Aku melihat bola matanya dan segera mengenalinya. Edward?! Dia masih hidup dan..
"Edward?" aku mengingat kejadian terakhir kami di ruangannya. Sialan, kenapa aku bertemu satu lagi manusia bi*adab?
"Kenny Sharp, sebuah--"
"Kenny Cullens..." potongku kesal dan melanjutkan makanku. Aku harus mengabaikannya.
"Kenny Cullens? Oh.. Maaf. Maaf, kupikir kau masih bersama Scout."
"Begitulah..." aku memakan makananku semakin cepat.
"Kenny, aku sangat minta maaf soal kejadian itu. Kau tau, Jenn mengancamku."
Aku mengangguk, "Aku sudah melupakannya..."
"Aku sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi padamu.."
"Aku mengerti, Edward..." ucapku tidak sabaran. Semoga dia paham gerak tubuhku bahwa aku sedang tak ingin di ganggu.
"Terima kasih, Ken.. Apa kau kerja di agensi X?" dia melihat tanda pengenalku yang tergantung di saku, "Wah, aku juga kerja di agensi itu setelah aku kehilangan studioku. Hanya saja aku tidak di New York, Scout menempatkanku di Las Vegas, jadi aku ke sini hanya--"
"Scout?" aku mengangkat kepala menatapnya.
"Yah, Scout memberi kesempatan dan kemurahan dengan memberiku pekerjaan di sana walau harus di tempatkan di kota lain setelah studion belajar musik milikku di tutup karena khasusku yang di bongkar Jenn ke media..."
Aku tidak peduli tentang masalahnya dan Jenn. Yang kupedulikan adalah....
"Kenapa Scout memberimu pekerjaan?"
"Untuk menebus kesalahan Jenn dan--"
"Bukan. Bukan.." potongku tajam, "Maksudku, kenapa dia bisa memberimu itu?"
Dia menatapku terkejut karena sifat agresifku, "Yah.. Kau mungkin tidak tau, Scout salah satu pemilik saham terbesar di agensi itu walau dia tidak mengambil bagian apa pun di agensi itu. Namun, dia sebagai orang dalam masih bisa memberiku pekerjaan.."
Aku segera meninggalkan mejaku dan menghiraukan panggilan Edward. Aku menembus lautan manusia dan merasakan sakit luar biasa saat melihat gedung tinggi agensi X, tempat aku bekerja. Tempat aku akan membuat album yang kumimpi-mimpikan sejak dulu.
Aku menatap ke atas, ke arah gedung tinggi itu. Pantas aku merasa bahwa perjalanan karierku terlalu mudah, ternyata ada Scout. Aku yakin dia di balik semua kemudahanku ini. Hari itu, di London, entah angin apa yang berembus, aku mendapatkan agensi yang tertarik pada laguku. Aku tidak melalui serangkaian tes atau apalah, tapi aku langsung tanda tangan kontrak dan rekaman di New York, seperti sihir..
Scout ada dibalik semua ini. Sejak kapan? Apa Scout juga yang mengatur hidupku dari jauh? Memata-mataiku? Menentukan arah hidupku seolah dia Tuhan? Dan.. Dan apakah pertemuan pertama kami direncanakan? Jika benar, itu benar-benar salah dan menjijikkan.
***
MrsFox