Because Of You

Because Of You
59. Kode Nomor Singapura



.......


.......


.......


🍒


Pukul 09:00, Bandara Changi.


Steven menatap muak papa-nya dan beberapa bodyguard yang berjalan disamping kiri dan kanan. Pagi-pagi sekali asisten pribadi papa-nya datang menjemput keapartmen bahwa ia harus ikut ke Singapura untuk peresmian cabang perusahaan. Steven tidak bisa berbuat apa-apa ketika asisten James mengatakan kalau ia tak ikut papa-nya akan berbuat sesuatu pada Kara. Maka dari itu Steven setengah hati menurut. Marlon, menjadikan nama Kara untuk mengancam Steven agar menuruti semua perintahnya. Ternyata wanita itu mampu membuat anaknya tak berkutik.


"Menurutlah kalau tak mau terjadi sesuatu pada dia".


Steven menatap datar, sudah malas menyahut. Padahal hari ini ia berencana untuk mengajak Kara mengunjungi tokoh buku dan berjalan-jalan ke pantai menghabiskan waktu sore sambil menatap matahari terbenam.


"Apa yang dilakukan Kara sekarang?". Steven bertanya pada diri sendiri dengan lesu. Apa pacarnya itu akan datang ke kelas 12 untuk mencarinya, apa pacarnya itu akan makan dengan benar hari ini. Hari ini Kara kembali masuk sekolah, yah ia ingat itu. Steven mengibaskan jas hitam yang ia kenakan karena merasa gerah padahal cuaca tidak panas.


Marlon melirik anaknya yang bergerak membuka jas dengan tatapan terus kedepan sambil berjalan.


"Tuan, apa kita langsung ke perusahaan?". James bertanya, tangannya memegang handle pintu mobil lalu membukanya.


"Ya...".


James mengangguk. Diikuti dirinya yang memutari mobil, ikut masuk. Steven telah masuk kemobil tanpa embel-embel dibukakan oleh bodyguard.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Dengar, kau harus ikut berbaur dengan beberapa kolega papa".


"Cih... Apa papa lupa berapa umurku?. Papa menyuruhku berbaur dengan orang-orang yang sudah sangat dewasa. Bahkan mungkin mereka lebih tua dari papa". Steven berdecih, berbicara sinis menekan kata tua. Asisten james melirik dari spion mobil, ia hanya diam mendengar pembicaraan orang tua dan anaknya itu.


Marlon tau umur Steven masih sangat muda tapi ini demi kebaikan Steven juga. Agar anaknya itu terbiasa dengan dunia bisnis. Dulu bahkan saat usia 23 tahun Marlon sudah memimpin perusahaan. Jadi ia akan melatih Steven seperti dirinya dulu.


Steven menyadari sesuatu, ponselnya tidak ada. Ntahlah ia menyimpannya dimana. Sambil memeriksa saku jasnya Steven bertanya...


"James, ponselku?".


"Maaf tuan muda, bukanya tadi anda tidak membawa ponsel".


"What!!!. Lo nggak ambil diapartemen tadi?".


"Maaf tuan muda".


"CKK, Si*l". Steven kini tambah kesal, bagaimana bisa ia melupakan benda pipih yang sangat penting itu. Lalu bagaimana ia menghubungi Kara.


"James, mampir ke tokoh ponsel atau...mall". Steven berpikir gila. YA, ia akan beli ponsel dulu.


"Stev, tidak ada waktu untuk membeli benda itu".


"Kalau papa melarang. Aku akan pergi saat acara nanti". Ancam Steven.


"Anak ini...". Marlon menatap geram anaknya. "James, suruh salah satu bodyguard yang membelinya".


"Baik tuan". James segera meraih ponselnya satu tangannya memegang stir mobil satunya lagi memegang ponsel, menelpon salah satu bodyguard.


.


Kara benar-benar tidak lapar saat ini.


Sahabat-sahabatnya heboh mengambil posisi duduk dikantin. Beberapa siswa yang lainnya juga berdatangan masuk tertawa-tawa. Kara mengelilingkan matanya, mengamati semua siswa-siswi yang berkunjung. Hufftt, Kara menghela napas pelan.


"Steven mana?". Gumamnya.


"Lo kenapa?". Tegur Citra.


"Gue nyari Stev". Jawab Kara cepat matanya tak beralih dari pintu kantin.


"Tunggu aja, mungkin bentar lagi datang". Ucap Nada.


Benar saja baru 2 menit menunggu, Kara langsung melihat Willy. Eh, alis Kara berkerut ketika tak mendapati Steven. Willy malah bersama beberapa senior yang Kara tidak kenal. Disana tidak ada Steven.


"Gue kesana dulu yah...". Kara langsung bergegas bejalan mendekati Willy. Sahabat-sahabatnya memperhatikan Kara.


"Kak Willy...".


Orang yang dipanggil langsung menoleh.


"Kak, kak Stev mana?".


Willy bingung, tidak tau harus menjawab apa. Ia juga tidak tau Steven dimana. "Gue nggak tau, tadi pagi gue kira Stev udah jalan duluan ke sekolah karena apartemennya kosong".


"Hah...".


Willy mengangguk. "Dannn... Gue juga bingung, soalnya motor Stev masih ada diparkiran apartemen".


"Eh Kara ya...". Sapa salah satu pria yang bersama-sama Willy. Kakak kelas itu berniat untuk kenalan.


Mata Kara beralih ke sumber suara mengangguk. Willy melihat kearah temannya. "Sorry, Kalian duluan deh". Sambil menyuruh temannya menyingkir karena mengerumuni dia dan Kara.


"Emmm, ikut gue sekarang". Willy mengajak Kara keluar kantin. Sekarang pria itu tak mood untuk makan.


Kara mengikut dibelakang, suara sahabat-sahabatnya yang memanggil namanya terdengar seantero kantin. Ia hanya mengangkat tangan kemudian menunjuk Willy.


"Emang lo nggak di chat atau di telfon gitu?". Willy bertanya ketika mereka telah sampai di koridor kelas yang agak sepi karena semua siswa di kantin.


Kara menggeleng. "Nggak. Maka dari itu gue tanya kak willy".


Willy berdecak pinggang. Lalu meraih ponselnya disaku celana. Mencoba menelfon Steven. Panggilan masuk tapi tidak diangkat. Membuat Willy menggeram kesal beberapa kali. Hal itu terjadi dari tadi pagi saat ia mencoba menghubungi Steven saat di apartemen temannya itu.


Kara juga mencoba mengecek ponselnya, mana tau Steven sudah menghubunginya. Nihil.


"Steven nggak angkat".


"Saya coba kak".


Baru saja Kara ingin menekan nomor Steven tiba-tiba panggilan masuk. Kara mencoba melihat benar nomor yang tertera dilayar ponselnya sekarang.


"Nomor apa ini". Batin Kara menyerngit heran sambil mencoba mengingat.


"+65, Singapura". Ucap Kara, mampu didengar oleh Willy.


"Apa yang Singapura?".


"Ini kak, ada yang nelfon tapi...kode nomor singapura".


"...Coba angkat".


"Hallo".


"Sayang, kenapa lama sekali mengangkat telfonku".


Kara langsung menjauhkan dari telinganya.


"Heh, Sayang?". Kara menatap ponsel dan Willy bergantian dengan kebingungan.


Mereka berdua mendengar omelan orang yang berbicara diponsel Kara.


"Sayang".


"Sayang".


"Itu suara Steven". Willy bersorak kegirangan. Walau samar-samar suara yang dia dengar. Willy bisa tebak itu suara Steven.


"H-Hallo".


"Sayang kenapa kau hanya hallo hallo saja dari tadi". Steven seperti orang tidak sabaran.


"Ah ya, k-kenapa?". Kara ragu menjawab. Ia masih belum yakin kalau yang berbicara dengannya saat ini Steven. Masa sih Steven memakai kode nomor Singapura. Apa pria itu ada di Singapura sekarang.


"Dengarkan aku. Jangan khawatir, sekarang aku sedang berada di Singapura... Aku hanya ingin mengingatkanmu jangan dekat-dekat sama pria manapun yang ada disekolah, kalau kau tidak mendengarkan ucapanku ini aku akan memberimu hukuman saat pulang nanti. Apalagi sama pria yang bernama Panji itu. Awas saja kalau berani dekat-dekat dengannya. Oh ya, aku akan menelfon Willy untuk mengantarmu pulang. Apa kau sudah makan?". Steven panjang lebar berbicara.


Ternyata benar Steven berada di Singapura. Kapan pria itu pergi?. Itulah dalam benak Kara. "Aku belum...".


"Kau belum makan?!l". Steven cepat memotong lalu Terdengar helaan napas. "Sekarang berjalan lah ke kantin. Kau harus makan, pesanlah makanan yang kau sukai asal jangan mie. Aku akan menyuruh Willy membayar semua makanan yang kau makan. Baiklah, aku tidak banyak waktu untuk menelfon saat ini...".


"Kara! Kau mendengarkanku?".


"Sayang!!!".


"Iya, aku dengar".


"Bagus. Jangan membantah. See you, aku mencintaimu".


Tut...


Willy yang ada disamping Kara memutar bola matanya malas.


"Ternyata dia sebucin itu sama lo yah".


Kara meringis mendengar betapa mengaturnya Steven.


"Ayo ke kantin, nanti gue di bantai sama pacar lo itu". Willy mengajak Kara ke kantin. Ia yakin sebentar lagi ponselnya akan berdering. Steven akan menelponnya dan memerintah ini dan itu. Willy sudah siap.


.


Steven bernapas lega, syukur nomor Kara dan Willy ia hafal. Setelah mengirim beberapa pesan pada Kara dan Willy, Steven bergegas keluar dari toilet ia akan menuju Aula peresmian gedung setinggi 45 lantai ini.


Bruk


Steven menoleh cepat ketika bahunya ditabrak kuat oleh seseorang.


"don't you...". Wanita itu tak jadi berbicara kasar saat melihat siapa yang ia tabrak. "Stev". Ucapnya dengan berbinar.


Berbeda dengan si penabrak. Steven malah menatap datar. "Amel". Gumamnya.


"Steven, ternyata lo ikut juga". Amel dengan gembira merangkul dilengan Steven. "Aaa ternyata mommy nggak bohong".


"Lepas".


"Stev,...". Amel kembali memegang lengan Steven yang sebelumnya dihempas. "Jangan gitu dong, tangan gue sakit...". Amel mengeluh manja walau ia melihat raut Steven yang tidak mengenakkan.


"Papa pasti sengaja bawa gue kesini". Batin Steven mendengus kesal. Otaknya langsung menyimpulkan bahwa kedatangannya ke negara ini bukan hanya untuk peresmian perusahaan pasti ada hal lain juga.


"Sayang, kamu kok bengong sih".


"Ck, lepas A.m.e.l".


Steven lagi menghempas tangan Amel dari lengannya dan langsung berjalan cepat menuju lift.


Amel tersenyum miring ternyata ucapan daddy dan mommy nya benar. Steven datang juga ke Singapura dan itu adalah hal yang ia mau, karena setelah acara peresmian ini akan dilanjutkan dengan pembicaraan perjodohannya. Lalu mereka akan berlibur. Ahh, Amel membayangkan berjalan-jalan romantis bersama Steven sambil memeluk lengan pria itu.


"Uhh nggak sabar gue". Sanking asyiknya mengkhayal Amel tidak sadar ia dilihat oleh beberapa orang yang berlalu lalang ditempat itu.


"Maaf nona, anda disuruh tuan untuk segera bergabung ke aula".


Amel tersentak dan langsung menatap tajam pada bodyguard yang mengacaukan khayalannya. "Ngacau aja lo". Jengkelnya lalu berhajalan meninggalkan bodyguard yang menatapnya keheranan.


---


"Neeeeekkkkk, Kara pulang". Suara Kara menggema seisi rumah. Wanita itu berjalan sambil melepas satu persatu kancing bajunya dan kini hanya menyisakkan tank top dan rok saja. Gerah. Itulah yang Kara rasakan. Seharian disekolah tanpa ada Steven, ia merasa kurang bersemangat apalagi tadi ia dibuat heran dengan sikap Panji yang berubah seratus delapan puluh derajat. Apa Panji telah di ruqiyah, sehingga setan-setan yang bersemayan di tubuh pria itu telah lari ntah kemana. Panji berubah, bahkan pria itu sedikit perhatian padanya, tutur katanya pun selembut sutra. Kara menggeleng tak mengerti. Tapi, hal itu membuat perasaan Kara aneh kayak... Ah tidak tidak.


Sementara itu didalam kamar, Lulu sedang membantu menyuapi nenek makan.


"Hey bocah, ternyata kau disini". Kara berseru ketika melihat Lulu berada dalam kamar.


"Hehehe iya kak, Lulu baru juga datang".


Kara mengangguk, ia ikut bergabung naik keatas tempat tidur. "Ku lihat nenek semakin membaik". Kara menompang dagu sambil menyengir. Ia melupakan segala masalah yang ada dalam pikirannya, sekarang ia tersenyum melihat neneknya 85 persen sembuh.


"Alhamdulillah,...". Nenek mengelus kepala Kara dan Lulu bergantian. "Kalau nenek sudah sangat sehat, kita harus merayakannya".


"Tentu, aku akan membawa nenek kemanapun nenek mau".


"Lulu ikut".


Kara menoleh pada Lulu. Anak itu menatap Kara berbinar. "Kau tak boleh ikut. Nanti menyusahkan".


"Nenek... Lulu ikut kan?". Lulu mengadu. Nenek terkekeh melihat Kara menjahili Lulu.


"Ihhh dasar tukang ngadu".


"Iya sayang, Lulu akan ikut kok". Nenek mengusap kepala Lulu lagi. Anak itu menjulurkan sedikit lidahnya pada Kara. Kara hanya memperlihatkan senyum smirk nya.


Beberapa menit berlalu, ketiga manusia berbeda umur itu saling berbincang sesekali tertawa.


"Oh iya. Kakak makan aja dulu, ibu menyimpan ayam goreng diatas meja makan tadi". Lulu memberitahu kalau ibunya menyimpan makanan untuk Kara.


Kara menatap Lulu berbinar. "Benarkah, uhhh kebetulan aku lapar sekali".


"Hati-hati nak...". Nenek menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya yang seperti tarzan, tiba-tiba melompat Kesana kemari.


"KAKAK...". Lulu berteriak, anak itu kaget hampir saja piring yang dipegangnya terjatuh.


"Ummmaaaahhhh. Adikku sayang". Kara memberikan kecupan panjang pada Lulu. Anak itu tak kalah kesal ketika bekas liur Kara melengket dipipinya. Kara sengaja menjilat pipi anak itu.


"Ihhhh nenek...". Lulu mengadu manja sambil mengusap pipin menggunakan bajunya.


"Kara, kasihan adikmu".


"HAHAHAHA".


Suara tawa keras Kara menggema didalam rumah. Ia sangat suka menjahili Lulu yang kini ia anggap sebagai adiknya.


.


Kara tengah asyik makan sambil mengscroll ponselnya, membaca chat yang dikirim oleh sahabat-sahabatnya, grup OSIS, grup kelas, grup angkatan.


Ukhh ukhh ukhh...


Wajah Kara memerah akibat tersedak, mata wanita itu sedikit mengeluarkan air.


"Ini bukannya foto Kayla dan... Panji".


❤❤❤


....


Love You