Because Of You

Because Of You
Bab 22 : Paris



Takdir yang akan menentukannya sekarang


_________________________________________


1 minggu kemudian


Amazora pergi ke Paris untuk melakukan liburan dan memenuhi undangan Rey dan Aoi yang akan menikah. Ia ditemani Hana dan Deni. Tak lupa keluarga Rey yang juga datang kecuali Arva disana.


Tepat pukul 19.00 acara pernikahan dimulai dengan meriah. Amazora yang melihat mereka berdua tampak bahagia, ia pun juga turut merasa bahagia. Berfoto bersama, silahturahmi dengan keluarga Rey dan menanyakan keadaan Arva hingga ia memutuskan keluar untuk mencari udara segar.


***


"Tya?" tanya ibunda Arva-Ocha.


"Tante," jawab Amazora yang segera memeluk ibunya.


"Kenapa sayang?"


"Tante, bagaimana Arva?"


“Sabar ya sayang. Arva sedang mengalami pemulihan. Kata dokter dia akan sembuh kok tenang saja," Kata ayah Arva.


"Syukurlah, oh iya tante, om, anu ee," katanya menggantung... "apakah tante sama om masih meridhoi kalau Arva sembuh aku sama dia bersama?" lanjut Amazora takut kalau saja orangtua Arva sudah tidak menyukainya.


"Selalu anakku sayang. Ibu sama ayah selalu merestui kalian." peluk Ocha kepada Amazora.


***


Tepat pukul 20.00 Amazora keluar dari gedung dan berkeliling disekitar menara Effel. Angin yang menyeruak masuk ketulang-tulang membuat Amazora mengencangkan jaket kulit. Dengan rambut terurai membuat rambutnya berantakan sedikit.


"Huft.. aku juga ingin," Gumamnya ketika melihat sepasang kekasih sedang menaiki sepeda dengan si cewek duduk di depan, menyamping.


Di tengah taman, ia duduk disana. Mengamati setiap pasangan sambil menatap ponsel layarnya yang terdapat fotonya bersama Arva ketika SMA dulu. Di tengah kesibukan, tanpa sadar ada seorang pemuda dari arah sebelah mendatanginya bersamaan 2 sepeda yang dibawanya.


"Mau naik nona?" tawarnya. Mendengar tawaran itu, membuat Amazora mendongak melihat siapa itu.


Tidak langsung menjawab, ia malah menjauhi pemuda itu.


“Dont touch me!" teriaknya. Yang seketika itu dilepaslah tangan Amazora oleh pemuda itu.


"Sorry." Dan ditinggallah pemuda itu. Merasa takut, Amazora berlari menjauh hingga tanpa sadar ia terbawa hampir ke tengan jalan.


PIP.. PIP..


Suara tlakson mobil memenuhi keheningan malam itu. Tidak begitu menghiraukan Amazora malah mengingat kenangan dulu ketika Arva sedang menyelamatkannya. Sudah hampir dekat, tiba-tiba ada sebuah tarikan yang menarik Amazora ke dalam pelukan seseorang. Pemuda tadi, pikir Amazora.


"Lepas!" kata Amazora memberi jarak diantara mereka. Namun tanpa sadar air matanya menetes. Ia berjongkok disana sambil memeluk lututnya. Ia takut, ia rindu. Dan ia merasa bersalah atas kecelakaan tempo dulu.


Pemuda itu yang melihat Amazora menangis seketika menarik Amazora kedalam dekapannya. Sebelum memberontak lagi pemuda itu berkata.


"Tetaplah seperti ini Tya."


***


Amerika, 2 hari lalu…


Sebelum pernikahan Aoi dan Rey dilaksanakan. Arva sudah sadar. Sudah dikatakan sembuh dari penyakit di kepalanya. Dan secara khusus Rey mengundang adiknya itu melalui vidcall. Karena merindukan akan sosok gadis yang sudah tidak lama ia jumpai ia berniat datang kesana dengan syarat untuk tidak memberi tahu Amazora. Orang tua Arva dan Reypun juga menyetujui rencana anaknya ini yang ingin memberi kejutan kepada Amazora.


Tepat ditanggal pernikahan, ia datang disana. Tidak bersama-sama, ia hanya melihat dari kejauhan. Melihat gadis yang masih sama seperti dulu dan anehnya gadis itu malah pergi keluar. Ia pun mengikutinya. Arva begitu merasa sedih ketika gadis itu tersenyum kecut melihat pasangan yang sedang bersepeda malam-malam mengitari taman disana.


Melihat ada penyewaan sepeda, Arvapun menyewa 2 sepeda sekaligus dan berniat untuk mereka berdua. Namun, sepertinya Amazora tidak begitu mengenalnya. Ia maklum bahwa sudah lama mereka tidak bertemu dan pasti ada perubahan wajah diantara mereka. Sedangkan Arva, ia masih ingat Amazora. Karena Rey selalu memberi foto terbaru Amazora ketika ia sudah siuman.


Ketika Amazora menolaknya ia tidak patah semangat. Ia mengekori Amazora hingga ia melihat sebuah mobil akan menabraknya. Hatinya membeku, Kaki dan tangannya kaku. Ia mengingat kejadian dulu yang mengakibatkan trauma itu. Namun dengan tepat waktu ia menghapus ingatan itu untuk menyelamatkan gadis itu lagi. Ditariklah Amazora ke dalam dekapannya.


Melihat gadis itu berjongkok sambil menangis iapun memeluknya. Berusaha memberi kehangatan agar ia tenang.


"Aku tahu. Dan sekarang sudah tidak apa-apa." Sadar akan sesuatu Amazora memberontak. Ia berusaha melepaskan pelukan pemuda itu yang menurutnya tidak dikenal.


"Tetaplah seperti ini Tya." Hingga pemuda itu berkata yang seketika membuat Amazora terdiam. Direnggangkanlah pelukan itu hingga mereka saling menatap satu sama lain. "Terima kasih kamu masih menungguku." Lanjutnya. Yang seketika itu pecahlah tangisan Amazora. Ia memeluk begitu erat pemuda itu. Ia berulang kali meminta maaf kepadanya. Hatinya bercampur aduk. Antara merasa bersalah dan bahagia. Allah masih berbaik hati dengannya. Mempertemukan mereka dimalam ini.


Ke esokan harinya, di hotel berbintang 5 kota Paris. Arva pagi-pagi mendatangi kamar Amazora. Ia berniat mengajak pergi Amazora untuk seharian penuh. Sudah lama tidak merasa bahagia seperti ini, Amazora bersiap-siap dengan perfect. Dan seperti biasa, Arva sudah meminta izin orang tua Amazora.


Berawal dari mengulang kenangan dulu, menaiki sepeda berdua dengan Amazora duduk di depan. Mengelilingi kota dan taman. Mengajak ke toko buku vampire. Makan bersama di restoran dengan dekorasi surat cinta yang bergelantung. Dan terakhir, menyewa sepeda untuk mengintari menara Effel.


Tepat tengah malam, mereka naik gondola. Di puncak ketinggian tiba-tiba Arva melamar Amazora.


"Apakah kamu bersedia menjadi ibu dari anak-anakku?" kata Arva sambil berlutut.


"Apa kamu mau menemani di sisa hidupku?" sambil memberikan sebuah surat berisi puisi.


"Apa kamu mau menikah denganku?" sambil membuka sebuah kotak cincin disana. Amazora terharu. Ia tidak dapat berkata apapun. Ia terlalu terbawa suasana, hingga tanpa sadar air matapun mengalir lembut. Diusaplah air mata itu oleh Arva.


"Apa jawabanmu? Will you marry me Tyandra Mazora?" yang seketika itu dipeluklah Arva begitu erat.


"Yes.. I do. Sangat bersedia. Aku mau," Jawabnya disela tangis dipelukan Arva. Dipakaikanlah cincin itu di jari manis Amazora.


***


*Menunggumu.


.


Pertemuan adalah kebersamaan.


Kebersamaan adalah kebahagiaan.


Kebahagiaan adalah keajaiban.


Dan keajaiban adalah takdir tuhan.


Sebuah anugerah yang mempertemukan kau dan aku menjadi kita.


Melewati hari bersama.


Menemani setiap harinya.


Menghiburku ketika tangis tiba.


Ku ukir rindu dalam sendu.


Ketika waktu merenggutmu.


Ku kan slalu mengingatmu.


Dan aku hanya bisa menunggumu.


Mungkinkah kau kan kembali lagi?


Disini, ketika dewasa nanti


Dan keberuntungan ini, tak kan ku elakkan serta lepas lagi.


Seperti dulu, suatu saat nanti*.


Sebuah puisi Amazora yang dibuat 4 tahun lalu ketika kecelakaan itu yang mengakibatkan Arva pergi ke Amerika.


***


"Aku pulang sayang," kata Arva ketika sudah sampai rumah. Mendengar suara lelaki yang dicintainya sudah datang, ia pun berlari dan segera memeluk suaminya itu. Yang seketika digendonglah istrinya ala bridal style serta kecupan manis di wajah Amazora.