Because Of You

Because Of You
Tiga atau satu?



Happy Reading


***


Kenny POV


Aku bangun saat merasakan mual hebat. Aku segera melepaskan lengan Scout dari perutku dan segera berlari, melintasi kamar yang temaram.


"Ken?" ucap Scout.Aku mengambil posisi di depan closet, dan berusaha mengeluarkan sesuatu yang tidak ingin keluar.


"Huekkk..."


"Ken!!" Scout bergabung denganku di kamar mandi. Dia memegangi rambutku di dalam genggamannya, berusaha agar tidak terkena cairan muntahanku.


"Yes, baby..." bisik Scout seraya mengelus punggungku dengan tangan yang lain.Rasa mual itu segera hilang saat cairan muntahan itu keluar dan aku segera memutar tubuhku untuk bersandar pada dinding closet. Aku memejamkan mataku, merasa pusing. Aku merasakan tubuhku di angkat Scout dan aku hanya pasrah. Rasa mual itu benar-benar membuatku lemas.


Scout membaringkan aku ke tempat tidur dan menyelimuti aku. Aku melihat bayangannya memakaikan piyama dan segera keluar dari kamar. Aku melihat cahaya biru lembut di luar jendela pertanda pagi sudah datang dan mendengar gemuruh hujan. Aku mempererat selimutku lalu mengelus perutku.


Empat bulan, usianya calon bayi kami sudah empat bulan. Perutku mulai membesar. Aku belum tahu jenis kelaminnya karena aku belum pernah melakukan USG , mungkin aku akan melakukannya nanti. Bukan untuk mengetahui jenis kelaminnya, hanya untuk mengetahui bahwa bayiku baik-baik saja. Aku berpikir, bahwa jenis kelamin calon bayiku nanti adalah suprise tersendiri untukku dan Scout.


Beberapa menit kemudian, lampu kamar menyala dan Scout muncul dengan nampan di tangannya. Aku tersenyum melihat dia, melihat perhatiannya. Scout menaruh nampan di meja kabinet lalu membantuku untuk duduk. Dia segera memberiku secangkir teh mint.


"Trims..." Aku menghirup teh mint dan merasakan kelegaan luar biasa. Scout menghelus rambutku saat aku menyesap tehku.


"Masih terjadi? Padahal usianya hampir empat bulan..."


"Nya?" bisikku dengan suara jenaka, "Bayi kita, Scout..."


"Yeah, terserah." ucap Scout acuh, "Kau juga harus makan roti asin ini..." tawar Scout dan aku mengangguk.Aku menaruh cangkir dan mataku menatap Scout. Dia membelai wajahku dan menyelipkan anak rambutku di balik telinga.


"Kau tau usia calon bayi kita..." bisikku. Kupikir dia tidak tahu.


"Jauh lebih baik?" tanyanya dan mengabaikan perkataanku.


"Aku okay..."


"Kau sudah seperti itu sebulan lebih..."


"Itu bukan penyakit, Scout. Semua ibu hamil di dunia ini merasakan hal apa yang aku rasakan."


Dia hanya menatapku,


"Tidurlah kembali..." dia mengecup dahiku dan hendak pergi, lalu aku menahan tangannya.Dia membalikkan kepalanya dengan tatapan penuh tanya.


"Kau butuh sesuatu?"


"Aku akan melakukan USG nanti..."Aku berharap dia mengatakan bahwa dia akan menemaniku.


"Mungkin lain kali, Ken. Aku memiliki rapat penting hari ini..." Bahkan aku belum bertanya untuk mengajaknya.


Aku mengangguk seraya tersenyum, "Okay.. Next time..." aku segera berbaring memunggungi Scout.


"Baiklah.. Aku akan mandi..."Aku mendengar pintu yang dibuka dan ditutup.


Aku menatap kosong ke depan, kecewa dengan Scout. Dia sadar bahwa dengan menolakku untuk kesekian kalinya akan membuatku kecewa berat. Ini bukan pertama kalinya aku mengajak Scout untuk menemaniku ke kelas yoga, bertemu Dr.Adele, pergi kelas khusus ibu hamil, dan lainnya yang berhubungan dengan bayi kami dan Scout menolak semua ajakanku. Itu membuatku sedih dan kecewa.


Dia bertingkah seolah bayi ini tidak ada, bahkan saat perutku sudah membesar. Dia benar-benar dingin soal bayi ini, selalu menghindari membicarakan tentang bayi kami. Ingin rasanya aku sesekali membicarakan dan mendiskusikan tentang bayi ini dengan Scout, menebak jenis kelaminnya, merencanakan nama mereka nanti, mempersiapkan kamar bayi kami, dan banyak hal lainnya yang pasti membuatku bahagia .


Aku menarik napas dan bergerak dari tempat tidurku. Aku mengambil ipods dan headset dari meja kabinet, lalu memasangnya. Dr.Adele selalu berkata bahwa aku harus menghindari pikiran berat yang membuatku stress, hal itu akan berdampak pada perkembangan janin. Dan caraku mengatasinya hanya dengan mendengar musik, memainkan pianoku, dan... Hanya itu. Aku tidak berharap mendapat penghiburan dari Scout. Tidak sedikit pun.


Aku mendegar musik dan membayangkan seperti apa nanti wajah calon bayi kami. Nama apa yang aku berikan padanya jika perempuan atau pria? Aku mengelus perutku dan terpejam, membayangkan itu semua.


"Berjuanglah bayi kecil. Buktikan pada ayahmu yang keras kepala itu bahwa kau pantas diperjuangkan..." bisikku bagai mantra...


****


Aku berjinjit mencium bibir Scout sekilas, "Bye..." bisikku.


"Maafkan aku..."


Aku mengangguk, "Aku paham ,Scout. tidak apa..."


Scout berjalan hendak pergi, sebelum Scout memutar kepalanya dan segera melihatku. Matanya menunjukkan sorot ketakutan.


"Dengar, Ken... Aku belum siap..."


"Aku paham, Scout..." ucapku lembut. Aku menempelkan tubuhku padanya dan memegang kedua lengannya, "Aku akan menunggu. Kami.." Aku dan bayiku, kami


Scout mencium keningku, "Kau tau bahwa aku mencintaimu lebih dari apa pun yang ada di dunia ini. Kau tahu itu bukan?"


Aku mengangguk kepala, "Aku tau jelas, Scout... Sekarang, pergilah bekerja..."


"Aku mencintaimu..."


"Aku mencintaimu..."


Dengan itu, Scout turun dari teras rumah dan berjalan menuju mobilnya. Aku menatap mobil itu hingga hilang dari pandanganku. Aku mempererat sweaterku saat angin musim gugur menyentuh kulitku. Aku segera kembali ke dalam rumah dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


***


"Terimakasih sudah datang..." ucapku senang saat melihat Lolita bersandar pada badan mobilnya. Aku berjalan menuruni tangga teras.


"Yes, Mam..." ucap Lolita dan segera membuka pintu mobilnya untukku dan terkekeh melihat tingkahnya seperti bodyguard. Aku masuk ke dalam mobil dan diikuti Lolita yang duduk di kursi kemudi.


Aku dan Lolita menjadi teman akrab dua tahun belakangan ini. Dan juga Sarah serta menantunya, Arang. Aku senang berteman dengannya, dia tidak seburuk yang kupikirkan saat pertama kali bertemunya. Dia wanita yang lucu dan tidak terduga.


"Jadi.. Suamimu tidak mau lagi menemanimu ke rumah sakit?" ucapnya seraya melajukan mobil.


"Begitulah..." aku menyalakan pemutar musik.


"Dia benar-benar seorang baj*ngan..."


Aku tersenyum menanggapi perkataannya, "Jadi, bagaimana dengan dirimu?"


"Apanya?"


"Kau dan kisah cintamu..."


"Tidak ada yang layak untukku..."


Aku tidak bertanya lagi karena kisah cintanya memang tidak berjalan mulus, baik dengan Harry maupun Jacob. Aku tidak pernah lagi mendengar kabar Harry. Sedangkan Jacob, dia sudah kembali ke London setelah pernikahanku. Dia melanjutkan terapinya di sana dan mempersiapkan dirinya untuk balapan. Aku tidak bisa melarangnya. Tidak satu pun karena balapan adalah bagian dirinya, seperti aku dengan musik.


"Here we are..." ucap Lolita saat memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Aku dan dia keluar menuju rumah sakit. Lalu duduk di ruang tunggu ruangan Dr.Adele, menunggu antrean kami.


Selama menunggu, aku membuka ponselku dan melihat foto-fotoku bersama Scout. Dia tetap tipe yang sulit untuk di ajak berfoto, maka aku sering mengambil gambarnya secara diam-diam dan hasilnya luar bisa. Dia sangat tampan, saat dia tersenyum, marah, berwajarh datar, tidur, dan semuanya.... Aku sangat mencintainya dan rasa cintai itu bertambah setiap saatnya.


"Mrs.Sharp?"


Aku mendengar namaku dan aku dengan Lolita segera berdiri. Kami masuk ke dalam ruangan dan melihat Dr.Adele duduk di depan kasur


"Selamat siang untuk kalian berdua. Kemarilah.." ucap Mr. adele, "Dan berbaring di sini..."


Aku berbaring dan Lolita duduk di sampingku, persis di depan Dr.Adele.


Dr.Adele mengangkat kaosku ke atas dan mengoleskan suatu carian putih di atas perutku, "Perutmu sudah membesar dan seharusnya kelaminnya sudah dapat ditebak..."


"Aku ingin itu menjadi kejutan..."


"Kau bsia memberitahunya kepadaku.." timpal Lolita.


Aku terkekeh, "Terserah, Lolita..."


"Yeah... Ini dia.." Dr. Adele menempel sebuah benda mirip stetoskop dan sangat dingin saat bersentuhan dengan kulitku. Kami menatap ke arah layar yang menampilkan gambar abu-abu seperti siaran TV rusak. Yah, aku tidak bisa melihat apa yang ada di sana, keculia jika Dr.Adele menjelaskan sesuatu.


Aku melihat wajah Dr. Adele saat dia hanya diam saja. Air mukanya yang tadinya sumringah berubah menjadi wajah... Aku tidak bisa menjelaskan ekspresi wajahnya dan itu mengirim getaran kekhawatiran padaku.


"Ada yang salah, dokter?" ucap Lolita.


"Ada yang salah dengan bayinya?"


Dia diam dan menggerekkan alat iut, seolah memastikan sesuatu. Sial, ini membuatku takut.


Dr.Adele kembali menatapku, "Ini bukan hanya bayi, Mrs.Sharp. Tapi bayi-bayi...."


"Bayi-bayi?" bisikku.


"Ada tiga bayi, Mrs.Sharp..." ucap Dr.Adele dengan nada serius yang membuatku takut.


"Tiga bayi?" aku bingung harus bereaksi  apa. Apa aku harus bahagia atau tidak karena Dr.Adele terdengar tidak senang. Tiga bayi maka risiko kelahiranku semakin tinggi dan Scout jelas tidak suka mendengar kabar ini. Lagi pula, bagaimana caraku memberitahu Scout tentang ini?


***


Aku duduk di dapur Sarah bersaman Lolita, Arang, dan Sarah.


"Kau harus makan, Ken..." bisik Arang.


"Bagaimana caraku memberitahu, Scout..." hisakku dan menanyakan hal yang sama sejak tadi. Setelah dari rumah sakit, Lolita tidak langsung mengantarku ke rumah. Kami singgah ke rumah Sarah dan menceritakan apa yang terjadi. Aku takut, benar-benar takut. Seharusnya aku bahagia karena aku mengandung tiga bayi sekaligus.


Tiba-tiba, Lolita memukul meja dengan kedua tangannya dan dia menatapku marah. Dia berdiri dan menunjuk wajahku.


"Berhenti mengkhawatirkan soal ba*jiangan itu..."


"Lolita..." bisik Sarah berusaha menenangkannya dengan menarik tangannya untuk duduk.


"Tidak, Sarah... Aku harus mengatakannya padamu, Ken. Berhenti menjadi wanita cengeng, berhenti menjadi wanita yang plin-plan. Sebentar kau berkata kau akan mengatakannya pada Scout, sebentar lagi kau tidak mau. Kau harus berhenti memikirkan Scout dan pikirkan tiga manusia yang berjuang hidup di dalam rahimmu. Tiga bayi, Ken... Tiga!!" Lolita mengangkat tiga jarinya dan dia terengah-engah. Marah, jelas dia marah.


"Lolita, kau tidak seharusnya memarahi dia.." timpal Arang.


"Jangan! Jangan menangis, Ken.. Hapus air matamu, habiskan makananmu, dan segera pulang. Katakan semuanya pada Scout, jangan menjadi wanita cengeng. Jika dia mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu. Bersikaplah sesuai dengan usiamu."


Aku segera menghapus air mataku dan memakan makan malamku. Kemarahan Lolita bagaikan tamparan keraas untukku. Aku dimarahi, seperti seorang ibu memarahi anaknya yang ketahuan mencuri permen dari laci ibunya. Dia benar, aku tidak boleh cengeng. Aku tidak boleh plin-plan lagi. Aku harus konsisten karena ada tiga nyawa yang harus aku perjuangkan. Aku tidak boleh egois dan menelantarkan para calon bayiku.


***


"Jangan menangis lagi. kau paham?" ucap Lolita tegas.


"Yeah...Terimakasih..."


Lolita tersenyum dan meremas tanganku, "Kau harus kuat. Aku ingin melihat tiga bayi mungil itu, Ken..." ucapnya lembut.


Aku mengangguk, "Yeah.. Yeah, aku janji bahwa kau akan melihatnya lima bulan lagi..."


Dia mengangguk, "Good night, Ken..."


"Good night." aku segera keluar dari mobil Lolita, naik ke teras. Aku memandang kepergian mobil Lolita sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.


Aku mempererat sweaterku saat melangkah kaki ke rumah yang sepi. Ini sudah pukul sembilan malam dan para pelayan sudah tidur atau pun sudah pulang. Scout sudah pulang dan aku sudah mengabarinya bahwa aku akan pulang terlambat. Aku tau dia belum tidur karena dia pasti menungguku.


Aku menaiki anak tangga yang berkelok menuju lantai dua. Lalu ponselku berdering. Aku merogoh sakuku dan mengambil ponsel. Scout. Aku membuka pesan dari Scout dengan tetap berjalan.


'Temui aku di ruang musik....'


Singkat dan menggetarkan. Aku memutar tubuhku untuk turun lagi, menuju ruang musikku yang berada di sayap kanan rumah ini. Aku melewati ballroom yang sepi dan menuju ujung sayap kanan. Aku menekan handel pintu kayu yang membawaku ke dalam ruang musik.


Suara lantunan piano segera terdengar. Aku menutup pintu dan melihat ruangan yang kosong dan cukup gelap, hanya lampu kuning yang dinyalakan. Aku berjalan ke arah piano dan melihat tidak ada yang memainkan piano tersebut. Aku menggigit bibir dan melihat ke arah pemutar musik. Jelas, itu yang terdengar.


"Hey..." bisik Scout dari balik tubuhku.


"Astaga..." ucapku terkejut dan aku hampir jatuh jika Scout tidak menopang tubuhku.


"Hati-hati, Mrs.Sharp. kau bisa menyakiti bayinya..." bisiknya.


Aku memutar tubuhku ke arah Scout dan melihat dia yang berdiri tepat did depanku. Bagaimana caranya dia melakukan itu? Aku tiadk mendengarnya. Dalam cahaya remang, aku melihat Scout masih memakai kemeja abu-abunya, yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, di tangan kirinya dia memegang gelas berisi cairan alkohol dan tanagn satunya memegang botol alkohol yang hanya terisi seperempat lagi. Dia bau alkohol.



"Hay, Ken. Mau minum?" tawarnya dengan suara jenaka. Napasnya bau alkohol dan membuatku tidak nyaman.


"Ups... Maafkan aku, Ken.. Ibu hamil tidak boleh minum seperti ini.." dia terkekeh dan menaruh gelas dan botol  di atas piano.


Lalu dia melihat ke arahku lagi. Dia tersenyum miring, menarik lengan kemejanya hingga ke sikunya. Dia segera menarik diriku mendekat dengan kedua tangannya di pinggulku. Dia mencium pucuk kepalaku.


"Aku merindukanmu, sweetheart..."


"Kau mabuk, Scout..." Aku hendak mendorong tubuhnya, tapi dia semakin mempererat pelukannya.


"Ayo berdansa, Ken..."


Scout bergerak ke kanan-kiri dan aku akhirnya mengikuti langkahnya. Aku mengalungkan kedua tanganku ke lehernya dan mengikuti irama musik piano. Aku mengabaikan bau tubuh Scout dengan fokus pada gerakan kami dan musik. Aku memejamkan mata, merasakan ketegangan dalam tubuhku perlahan hilang. Aku masih bertanya-tanya kenapa dia mabuk, seperti bukan Scout biasanya.


"Kau wangi, Ken..." bisik Scout lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Napas kami saling bertemu, napas Scout bau dan hangat, tapi aku mengabaikannya. Aku memiringkan leherku saat dia menelusuri leherku dengan mulutnya. Sangat menenangkan.


"Tiga anak..." bisik Scout dan membuat aku menghentikan gerakanku, "Kenapa berhenti?" bisiknya.


Aku segera mendorong tubuhnya, tapi dia tidak mau melepaskanku.


"Scout.. Bagaimana--"


"Aku menelpon Dr. Adele." potongnya dan tetap membawaku dalam gerakannya.


"Kau mabuk, Scout..." ucapku sedikit khawatir. Aku tidak tau apa yang aku khawatirkan. Apakah aku takut mengetahui fakta bahwa Scout sudah tau bahwa kami memiliki bayi kembar? Atau aku takut dengan dia yang mabuk?


"Aku tidak pernah mengabaikanu, Ken disaat kau berpikir aku melakukannya. Tidak sedetik pun aku pernah mengabaikanmu..."


Apa yang dia bicarakan?


"Aku memperhatikanmu, Ken. Selalu..."


Aku menggeleng, "Scout, aku kelelahan.." Aku tidak tau sudah berapa lama kami bergerak seperti ini, dan itu membuatku kelelahan. Ditambah dengan kemahilanku yang semakin membesar.


Scout segera berhenti dan menarik tanganku. Kami berjalan ke sudut ruangan, ada sofa dan kursi santai di sana dengan jendela kaca besar yang menampilan pekarangan rumah Scout. Dia mendudukkan aku di sofa dan dia bersimpu di depanku. Aku menarik napas saat dia mengelus wajahku dengan lembut.


"Aku selalu mengikutimu saat kau pergi ke kelas balet, melihatmu belanja, melihatmu bertemu Dr.Adele, dan lainnya. Aku memantaumu...."


Aku menggeleng kepala. Bingung harus berkata dan bereaksi seperti apa. Apakah aku harus senang mengetahui bahwa Scout tidak mengabaikanku seperti yang kupikirkan selama ini. Namun, bagiku itu sama saja. Dia bersikap dingin pada bayi kami. Bayi-bayi kami.


"Tapi aku kecewa saat Dr.Adele memberitahuku hasil USG-mu, sayang..."


"It's okay..." aku membelai rambutnya, menenangkannya.


"Aku sangat takut, Ken. Sebelumnya aku hanya takut. Sekarang aku benar-benar sangat ketakutan..." suaranya senduh, sedih, dan bergetar.


"Scout.. Aku akan baik-baik saja..."


Dia menggeleng, "Kau? Kau dengan badan kecilmu sanggup melawan mereka bertiga?" ucapnya penuh cemooh.


"Scout.. Berhenti memperlakukan mereka seperti mereka adalah benda mati. Mereka bayi. Calon bayimu...." ucapku dengan nada marah.


"Aku bahkan tidak menginginkan mereka...."


"Apa?!" aku mendorong tubuhnya dan dia tidak bergeming, "Sialan, Scout.. Kau di luar nalar..."


"Kau yang di luar nalar, Mrs.Sharp." suaranya tenang, malas, dan datar. Sangat berbeda denganku. Sikap tenangnya membuatku marah dan khawatir di waktu yang bersamaan.


"Lepaskan aku, Scout.. Aku tidak akan membicarakan ini lagi..."


"Kurang dari 35%.. Begitulah ucap Dr.Adele padaku. Hanya sebesar itu harapanmu dan mereka bertiga untuk selamat."


"Yah, memang hanya 35% dan kami akan mendapatkan harapan kami yang kecil itu dengan atau tanpa dukunganmu.." Aku tau itu sangat kasar, tapi aku tidak menyesal. Dia jauh lebih buruk.


Scout terkekeh dan segera bangkit berdiri. Dia menyisir rambutnya dengan jemarinya dan kemudian menatap ke arahku.


"Apa itu kata-kata perpisahan?"


Apa? Kenapa dia berpikir seperti itu? Aku segera berdiri.


"Apa kau jauh mencintai mereka dibanding aku, Mrs.Sharp?"


"Apa yang kau bicarakan? Aku mencintai kau dan juga bayi kita, Scout..."


Dia menggeleng, "Pilih. Aku atau mereka?" Scout menunjuk perutku dan naluri ibuku segera bertindak dengan kedua tanganku memeluk perutku.


Dia terkekeh lagi, "Kau melindungi mereka dengan baik, tapi kau tidak pernah melakukan hal yang sama denganku..."


Sial?! Apa dia cemburu pada calon bayi kami? Darah dagingnya sendiri?


"Scout! Aku mencintai kau dan juga bayi kita...."


"Pilih... Pilih, Ken..."


"Scout. kau mabuk dan aku sudah muak dengan pembicaraan ini..." aku mengangkat tanganku dengan dramatis dan hendak pergi, tapi dia mencegatku.



"Kita belum selesai." ucap Scout dingin.


"Aku selesai, okay?"


"Ken.." ancamnya dengan suara rendah dan berat.


Aku memutar tanganku dan melepaskan tanganku dari genggaman Scout, "Apa?! Apa, hah?! Kau mengancamku?!"


"Ken, hentikan teriakanmu..."


"Aku mencintaimu dan kau tau jelas itu. Aku juga mencintai mereka, Scout. Bayi kita, darah dagingmu sendiri!!" teriakku histeris. Hanya ada kemarahan dan tidak ada tanda-tanda diriku ingin menangis.


"Ken... Kau akan mati! Adele mengatakannya sendiri padaku!! Apa kau tidak paham?! Aku ingin melindungimu!"


Aku tersentak saat dia berteriak keras padaku dan aku mundur selangkah, "Aku dan bayiku masih memiliki 35% harapan..."


"Apa kau pikir mereka serius mengatakan itu?! Aku sudah membaca semua kasus yang sama sepertimu dan mereka semua mati, bahkan bayi juga. Mereka mati, Ken dan kau akan sama seperti mereka...."


Aku menggeleng kepala, "Aku manusia penuh pengharapan, Scout..." bisikku.


"Ken..." ucap Scout penuh nada memohon.


"Apa yang kau inginkan Scout? Apa?" ucapku putus asa seraya menyisir rambutku dengan jemariku.


"Gugurkan...."


Nadanya dingin, tidak ada ampun, dan tegas. Aku melihat matanya, mencari sesuatu bahwa dia tidak serius mengatakan itu. Namun, aku tidak menemukannya. Dingin. Datar. Tegas. Yah, inilah Scout yang sebenarnya. Pria berhati dingin nan kejam. Bagaimana mungkin dia bisa sanggup mengatakaan hal itu pada darah dagingnya sendiri? Pada isterinya sendiri?! Aku... Aku benar-benar tidak mengenal pria yang di depanku ini. Kupikir aku sudah mengenal dan memenangkan hatinya, tapi tidak.. Dia egois, dia hanya memikirkan keinginannya sendiri.


Lalu, aku tertawa dan tertawa keras hingga itu berubah menjadi tangis, hisakan histeris


"Jika bersamamu harus membuatku menggugurkan bayi ini, maka aku siap untuk tidak bersamamu lagi, Scout Sharp..."



****


MrsFox


Aku suka yang realistis gais, bayangin dungs suami kami bilang "Gugurkan..." Yah elah, emang luh gk pengen cabik" tuh cowok. Sifat Scout emang keras, tapi dia itu kek tergila" banget sama Kenny, takut kehilangan sampai mikir buat gugurin bayi Kenny demi kelangsungan hidup wanitanya dan Kenny itu orangnya labil, suka plin-plan, cengeng, tapi dia juga sama hal kek Scout, tergila-gila dan cinta banget sama suaminya. Sama-sama cinta, cuman gimana cara mereka menemukan jalan biar searah dan sepaham dengan masing" tokoh punya sifat nyebelin. Nah. It's the point. Gk usah galau, seharusnya udah tamat sih novel ini cuman kalian gak pengen pisah dari dua tokoh tercinta kita, terutama Scout-ku sayang. Karena semakin bahagia=tanda" tamat semakin dekat. Just enjoyed gais, jgn gegana toh. Dan ini gak bakalan ada pelakor, janji. Lop yuh