Because Of You

Because Of You
My Man, My Love, My Husband



Happy Reading


***


Kenny POV


Aku bangun dari tidurku dan segera melihat sekitar saat menemukan Scout tidak di mana pun. Aku memakai piyama kimonoku dan segera keluar dari kamar, mencari keberadaan Scout. Aku menuruni tangga dan berjalan ke arah sayap kiri rumah saat mendengar suara tawa dari sana dan itu membawaku ke dapur. Aku memeluk diriku sendiri dan mempererat piyamaku saat merasakan dinginnya pagi ini. Semakin dekat dengan sumber suara, aku menyadari bahwa itu tawa Scout dan tawa seorang wanita. Siapa?


Aku masuk ke dalam dapur dan jantungku segera berdetak kencang. Aku melihat Scout berdiri membelakangiku dengan seorang wanita mungil yang berambut coklat di pantry, tampak memasak sesuatu. Mereka tertawa dan tawa Scout sangat lepas. Aku meremas piyamaku saat berjalan mendekat secara perlahan.


"Scout?" ucapku dan mereka berdua segera membalikkan tubuhnya ke arahku.


Natalie?


"Natalie?" bisikku. Dia memakasi celemek coklat yang biasa kugunakan saat memasak, Scout segera meletakkan pisau yang dia pegang dan menarik Natalie mendekat ke arahnya dengan melingkarkan tangannya di pinggul Natalie. Lalu, Natalie menyandarkan kepalanya pada lengan Scout.


Sial!!Apa-apaan ini?


"Hai, Ken..." ucap Scout datar dan tatapannya sangat aneh, seperti bukan Scout yang kukenal yang selalu mentapku dengan tatapan hangat dan penuh cinta.


"Apa-apaan ini?" aku hendak berteriak dan marah, tapi hanya suara pelan nan rapuh yang keluar dari mulutku.


Scout mengangkat bahunya acuh.


"Kau melihatnya dengan jelas...."


Aku berjalan mendekat dan tubuhku bergetar. Aku takut. Sial. Aku takut demi apa pun yang ada di dunia ini.


"Jelaskan.. Kenapa ada Natalie di sini?"


"Jaga jarak, Ken..." ucap Scout dengan nada dingin yang menusuk dan membuatku menghentikan langkahku.


"Scout..." bisikku.


"Jelaskan, Scout..." ucap Natalie dengan senyum miringnya.


"Tentu, sweetheart.." ucap Scout seraya mengecup pucuk kepala Natalie. Sweetheart?! Itu panggilan sayang Scout untukku. Kenapa....?!! Apa yang sedang terjadi di sini?


"Ken, maafkan aku. Kita tidak bisa bersama lagi...."


"Apa?! Apa maksudmu?!!" teriakku histeris dan tubuhku bergetar hebat, siap untuk menangis lagi.


"Kau tau jelas maksudku, Ken... Kita selesai. Aku sudah mengurus perceraian kita...."


Aku menangis dan menutup mulutku dengan tangan, terkejut dengan apa yang dikatakan Scout. Aku berpegangan pada meja makan, menjaga tubuhku agar tidak tumbang. Satu malam?! Tidak mungkin pertengkaran kami semalam membuat kami bercerai? Aku tidak memikirkan bahwa Scout akan melakukan ini, melangkah sejauh ini.


"Apa ini karena soal semalam, Scout? Kumohon... Bisakah kita bicara? Kau tidak tau apa yang kau lakukan...." ucapku dengan suara bergetar dan air mataku menetes tanpa kuundang.


Scout menggeleng dan menatapku dengan tatapan dingin, "Tidak ada yang perlu dibicarakan dan aku tau apa yang aku lakukan..."


"Tapi dia Natalie... Kau bahkan tidak tau tentang dia..." ucapku putus asa.


"Tidak kenal?" ucap Natalie dan tatapanku tertuju padanya. Sial. Seharusnya aku sadar ada yang tidak beres saat Scout tersenyum padanya di pesta karena Scout hanya tersenyum pada orang khusus saja. Sial!! Seharusnya aku menyadari itu....


"Apa yang kau lakukan di rumah kami?!" teriakku histeris.


"Ini rumah kami, Kenny. Rumahku bersama Scout dan calon bayi kami..."


Napasku semakin berderu cepat saat dia menyebut kata 'bayi'.


"Tunjukkan pada dia, sayang..." ucap Scout. Lalu Natalie mengambil tempat di depan Scout dengan Scout membantu membuka celemek Natalie. Apa?! Apa yang akan mereka tunjukkan padaku? Lalu, aku segera tahu, saat Scout membantu mengangkat kaos Natalie, memamerkan perutnya yang sedikit buncit.


"Apa?" bisikku nyaris tidak percaya. Tubuhku ambruk ke lantai saat Scout mencium wajah Natalie seraya melingkarkan tangannya ke perut Natalie. Scout menaruh kepalanya di pucuk kepala Natalie.


"Natalie hamil tiga bulan. Hamil anak kami berdua..." ucap Scout dan dia tersenyum sinis serta jijik padaku.


Aku menatap wajah mereka bergantian, tersenyum sinis padaku. Lalu aku menatap dan memegang perutku sendiri. Aku juga hamil, tapi masih berusia dua minggu dan Natalie... Natalie sudah tiga bulan. Sejak kapan?! Sejak kapan Scout selingkuh dariku? Kenapa dia melakukan ini? Kupikir hanya aku seorang dalam hidupnya.


"Pergilan, Kenny Cullens... Aku tidak butuh wanita mandul dalam keluarga Sharp."


Lalu mereka berdua tertawa dengan lepas dan membuatku marah. Aku menutup kedua telingaku dan berteriak kencang. Terus berteriak, berusaha menghilangkan suara tawa bahagia mereka dari pikiran dan pendengaranku. Aku memejamkan mataku, berusaha menghilangkan bayangan wajah mereka berdua. Wajah bahagai mereka, Scout dan Natalie..


"Ahk!!!!!!!!!!" aku berteriak kencang dan kencang hingga membawaku ke alam nyata.


Aku membuka mataku dan segera bangkit dari tidurku. Aku menangis histeris dan masih berteriak. Aku melihat sekitarku dengan kalut. Mimpi.. Itu hanya mimpi.. Namun, itu sangat nyata dan membuatku takut. Membuat jantungku berdetak kencang. membuat tubuhku bergetar hebat.


Aku segera bangkit dan memakai piyamaku dengan terburu-buru. Aku setengah berlari menuju dapur, membuktikan bahwa mimpiku tidak nyata. Lalu aku sampai di sana dengan napas terengah-engah. Aku melihat Lindsey di sana, sedang memasak. Menyadari deru napasku yang cepat, Lindsey memutar tubuhnya ke arahku.


"Mrs.Sharp?" ucapnya dengan nada terkejut, "Apakah anda baik-baik saja?"


Aku menggangguk seraya menarik napas lega, "Aku okay... Lanjutkan saja aktivitasmu..."


Lindsey menatapku ragu sebelum akhirnya dia kembali memasak. Aku berjalan ke arah meja makan dan segera duduk.


"Lindsey, tolong buatkan aku teh papermint..."


"Yes, Mrs..."


Teh papermint, Dr. Adele berkata bahwa teh itu harus sering kuminum karena bagus mencegah mual (morningsick). Aku belum mengalami morningsic-ku, tapi tidak akan lama lagi akan terjadi. Lindsey menaruh cangkir di depanku dan wangi mint menyegarkan pengciumanku, membuat badanku sedikit rileks.


"Trims..."


"Yes, Mrs..." dia kembali melanjutkan aktivitasnya.


Aku mengangkat cangkir itu dan menciumnya aromanya. Nikmat. Aku menghembus permukaanya dan segera menyeruputnya. Lega.. Aku cukup lega. Aku tidak mau terlalu stress soal mimpiku karena itu hanya mimpi. Dr.Adele mengatakan agar aku menghincari memikirkan sesuatu yang membuatku stress.


"Apa kau melihat Scout pagi ini, Lindsey?" Lindsey memutar tubuhku dan aku segera merasa bersalah, membuat dia harus berulang kali melihat ke arahku, "Lanjutkan saja pekerjaanmu dengan tetap menjawabku.." ucapku hangat dan dia segera memutar tubuhnya.


"Jadi?"


"Saya melihatnya pagi ini, tampak terburu-buru. Lalu dia datang ke dapur untuk munim kopi sudah dengan setelan jas, siap berangkat untuk ke kantor..."


Aku menarik napas, dia pasti melihatku tidur.


"Jam berapa sekarang?" Lindsie memutar tubuhnya dan menyajikan padaku bubur ayam.


"Jam sepuluh, Mrs..."


"Scout datang ke rumah?"


"Pukul setengah tujuh, Mrs..."


Aku menarik napas. Di mana dia tidur semalam? Apa yang dia lakukan semalaman?


"Begitu..." aku mengangguk paham, "Aku tidak selera makan.." lanjutku lagi saat bubur dan sup sayur disajikan untukku.


"Mrs, ini pesan Tuan Scout, beliau menyuruh saya untuk memasak ini untuk anda..."


"Scout?" bisikku penuh haru. Sial... Pria besarku. Aku merindukannya


Aku menarik buburku, "Dia menyuruhmu memasak bubur ayam?"


"Yes, Mrs..."


Aku menekan bibirku menjadi garis, menahan tangis haruku. Aku tersenyum, membayangkan wajahnya.


"Anda baik-baik saja, Mrs?"


Aku menangguk, "Aku baik-baik saja. Terimakasih, Lindsey..." aku menyendokkan bubur itu ke dalam mulutku. Padahal Ibu hamil tidak harus memakan bubur dan mungkin Scout tidak banyak tau soal kehamilan. Namun, siapa yang peduli soal itu, mengetahui perhatiannya ini membuat dadaku lega karena mengetahui bahwa dia tetap Scout.


"Lindsey, apa Scout sudah sarapan tadi?"


"No, Mrs.. Dia hanya minum kopi..."


"Okay.."


****


Aku turun dari mobil setelah memarkirkannya di depan perusahaan Scout. Aku melihat gedung yang tinggi itu. Aku sangat jarang ke sini karena bangunannya sangat mendominasi dan megah, membuatku terintimidasi untuk alasan yang tidak kuketahui. Aku memantapkan langkah seraya membawa tas berisi bekal untuk Scout.


Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai tertinggi gedung ini. Aku bersandar  dan melihat pantulan diriku di dinding lift. Kuharap kemarahan Scout sudah reda dan kami bisa berbicara hati ke hati. Memperbaiki hubungan kami yang sedikit retak. Bunyi 'TING' terdengar dan aku segera keluar dari lift. Aku segera di sambut pemandangan dua sekretaris Scout yang bekerja di balik meja mereka yang tampak elite. Warna biru gelap, abu-abu, dan putih gading mendominasi lobi.


"Mrs. Sharp?" ucap sekretaris satu.


Aku tersenyum dengan canggung saat mereka berdiri dari balik meja mereka, "Apa Scout di dalam?"


"Beliau sedang pergi rapat dan seharusnnya sudah kembali sekarang..." ucap sekretaris yang lain.


"Oh, baiklah...Aku akan masuk ke ruangannya..." Aku tidak yakin perkataanku adalah pertanyaan atau pernyataan.


"Sure, Mrs..." ucap sekretaris satu seraya berjalan keluar dari mejanya dan sekretaris yang satu kembali duduk.


Kami hendak berbelok dari tempat kami menuju ruangan Scout, sebelum bunyi 'TING' yang lain terdengar. Aku memutar badanku dan menatap Scout di sana bersama sekretarisnya yang lain. Yah, memimpin perusahaan sebesar ini membutuhkan setidaknya tiga sekretaris.


"Selamat siang, Mr.Sharp.." sapa para sekretaris.


Aku hanya diam dengan napas tercekat. Aku benar-benar canggung dan jantung berdetak kencang saat Scout hanya menatapku sebelum akhirnya berjalan ke arahku.


"Apa jadwalku setelah ini?" tanyanya pada sekretaris


"Tidak ada, Sir. Hanya menandatangani beberapa dokumen..."


"Baiklah..."


Lalu dia berjalan melewatiku untuk pergi ke ruangannya. Kemudian dia berhenti dan memutar kepalanya ke arahku.


"Kau tidak ikut, Ken?"


Aku terkejut, "Yah.. Yah.. Aku ikut..."


Aku segera mengekor di belakang Scout dan bertanya-tanya apa yang sedang dia pikirkan.


"Silakan masuk..." ucap Scout dan menahan pintu untukku. Aku tidak ingat kami pernah secanggung ini.


Kami berdua masuk ke ruangan kerja Scout yang luas, elagan, mewah, bersih, dan sangat rapi. Aku berdiri di tengah ruangan, menunggu selanjutnya apa yang akan kami lakukan. Scout menutup pintu dan menatap ke arahku. tatapan yang sedikit bingung, di juga canggung.


"Hai.." bisikku.


"Hai.. Apa yang kau bawa itu?"


"Uhm.. Makan siang dan Lindsy berkata kau tidak sarapan saat di rumah tadi pagi..."


Scout menggangguk, "Bagus, pas sekali karena aku sangat lapar..."


Scout segera berjalan ke arah sofa dan aku mengikutinya untuk duduk. Aku duduk di depan Scout dan segera membuka bekal yang kumasak. Ada kentang tumbuk, ayam panggang, sayur, kacang polong, dan buah potong.


"Empat sehat lima sempurna..." ucap Scout


"Tidak ada susunya..." ucapku karena makanan 'empat sehat lima sempurna' harus ada susu sebagai sumber kalsium.


"Aku sudah mendapatkannya darimu setiap malam..." ucap Scout dengan nada nakalnya yang santai dan membuatku tersenyum malu. Astaga. Bisa-bisanya. Aku yakin wajahku sudah memerah, ucapan nakal Scout tidka pernah habis-habisnya.


"Kau benar.." aku tidak menahan senyumku.


"Terlihat enak, kau yang memasaknya?"


"Yah... Terimakasih untuk bubur tadi pagi.."


"Bukan aku yang memasaknya..."


"Tetap saja. Terimakasih..."


"Whatever, Ken..."


Lalu, "Ada yang ingin aku katakan.." ucap kami bersamaan dan membuat kami tertawa kecil.


"Ladies first..." sambung Scout dan aku mengangguk paham. Aku berdehem.


Aku menarik napas dan menatap mata Scout, "Maafkan aku..." ucapku tulus dan kuharap dia tau bahwa aku tulus.


Scout menggangguk, "Kemarilah..." Scout menepuk pahanya, "Aku merindukanmu..." bisiknya dan aku segera bangkit berdiri dan duduk di pangkuannya dengan posisi mengangkanginya. Aku bahagia, sangat bahagia saat dia menyambutku dan memelukku di pangkuannya. Dia sangat wangi dan sangat lembut.


"Scout.." bisikku terharu.


"Aku marah padamu, Ken..." bisiknya seraya mengelus punggungku, "Dan masih marah..."


Aku segera mempererat lenganku pada lehernya, "Maaf... I'm so sorry..."


"Tapi, aku tidak bisa menjauh darimu. Aku tidak tahan berjauhan denganmu..."


Oh my.. Pria besarku. My man, my love, my husband, my everything.


"Saat melihatmu tadi, aku hendak bersikap dingin dan marah padamu. Namun, aku tidak bsia... Aku tidak bisa.. Hanya melihat senyum malu-malu dan waajahmu yang memerah tadi, membuat pertahananku runtuh.."


Aku mencium pipinya, "Jangan marah...."


"Aku memaafkanmu, Ken. Tapi aku belum bisa menerima kenyataan bahwa kau hamil..."


Yah.. Aku tau itu. Dia belum menerimanya dan dia butuh waktu menerima kehadiran bayi ini. Aku mengerti soal itu dan akan sabar akan itu.


"Aku akan baik-baik saja. Aku akan berjuang. Aku akan mengikuti semua saran Dr.Adele dengan mengikuti kelas yoga, makan sehat, tidak begadang, dan lainnya. Aku berjanji akan baik-baik saja..."


"Jangan berjanji jika kau tidak bisa menepatinya..." bisik Scout dengan nada hancur.


Aku membelai rambut Scout lembut, "Aku akan berusaha... Kumohon, percayalah padaku."


Aku menatap mata Scout, "Aku percaya padamu dan jangan lakukan lagi hal seperti itu. Melakukan sesuatu tanpa memberitahuku. Aku merasa tidak dianggap."


"Oh.. Scout.. Jangan berpikir seperti itu. Aku tidak mungkin tidak menanggapmu, pria besar-ku.. Aku mencintaimu melebihi apa pun yang ada di dunia..."


"Tapi kau tidak memberitahuku..." ulangnya lagi dengan nada hancur.


"Aku.. Aku tau kau tidak akan menyetujuinya, Scout... Aku hanya memberi kesempatan kepada diriku sendiri bahwa aku sanggup..."


"Okay... Okay..." ucapnya pelan


Aku mengangkat kepala dan kami saling bertatapan. Scout menempelkan dahinya ke dahiku dan napas kami saling bertemu.


"Sekeras apa pun aku berusaha menghindarimu, aku tidak pernah bisa, ken..."


"Aku tau dan aku juga begitu. I love you so much, my boy..."


"I love you to.." bisik Scout, "Aku merindukanmu.."


"Aku juga. Sangat merindukanmu


Lalu kami berciuman, menumpah segala perasaan kami. Itu sangat lama dan panas, seolah ini adalah ciuman terakhir kami. Tapi aku takut memikirkan segala sesuatu yang bersangkutan dengan kata 'terakhir'. Aku yakin aku bisa melalui kehamilanku ini dan tetap hidup. Aku yakin aku bisa meyakinkan dan membuat Scout menerima calon bayi kami. Aku akan berjuang keras untuk itu. Dan untukmu, calon bayiku yang seukuran titik kecil, berjuanglah untuk kami, orantuamu...


****


MrsFox


Aku pen nanya dong, kalian dapat gak sih ada sense humor di cerita ini? Atau sesuatu yg buat kalian senyum" gituh saat Scout ngucapin kata" nakal gitu? wkwk. Kalo sense humor aku memang kek kata" nakal Scout dan pikiran" dia gitu, sama beberapa hal yang lainnya yang agak sarkastik menurutku. Waktu kalian koment nyuruh aku buat scene lucu" gitu, jujur aku gak bisa. Emang gak tau buat sense humor itu gimana karna emang gak bakat. Tapi buat sesuatu yang jahat, baru bakat. tapi kuharap kalian menemukan sense humor di sini wkwkw. Terus, gaya cerita ini agak sesuai gk dengan gaya orang barat? Mulai dari gaya bicara, gaya penulisan pikiran meraka dan lainnya.... Okay deh, aku cuma pen nanaya itu. Jangan lupa vote, like, komen, love dan apa pun yang dukung aku gais. Plis banget. Okay? Lop yuh gaisssssssssss