
Ini semua ujian jadi bersabarlah
______________________________
PAGI tiba, dengan perlahan mata gadis itupun terbuka.
"Mimpi yang indah," Gumamnya menuju tolitet untuk wudhu. Setelah salat subuh selesai, tiba-tiba di luar kaca terdengar sebuah ketukan. Karena sudah pagi, ia tidak takut dan mendekati jendela. Di bukalah korden itu. Nihil, tidak ada apapun. Merasa takut, cepat-cepat ia tutup lagi. Belum sempat, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Tya!" Serasa dipanggil ia pun berbalik dan mendapati Arva yang sudah ada di depan rumahnya.
"Kok lo disini?'
"Turun! Cepat!"
"Kok lo disini?" Tanya Amazora lagi setelah sudah di depan Arva.
"Lo-gue, lo-gue? Udah ah ikut aku sekarang." Di Tarik Arva untuk duduk di depan sepedanya dengan duduk menyamping.
"Sayang, kamu suka kan?" benar, impian Amazora itu hanyalah sederhana. Bisa bersepeda berdua dengan orang yang dia sukai.
"Sayang, sayang apaan sih Va. Jangan bercanda ya!"
"Lah? Emang gak boleh sama pacar sendiri?" jawab Arva geram sambil mengusap kepala Amazora.
"Jadi itu bukan mimpi?" gumam Amazora pelan sambil tersenyum tak percaya, sedangkan Arva yang masih bisa mendengarnya hanya tersenyum melihat gadis itu malu-malu.
"E a.. anu.. itu.."
"Apa?" Tanya Arva yang masih serius mengayuh sepeda.
"Soal itu e.. pacaran itu e gimana sih? Apa yang dilakukan?" Tanya Amazora dengan pelan.
"Kita jalani aja, aku juga belum pernah pacaran kok. Jadi kita saling membimbing satu sama lain aja. Oke?!"
"Hmm."
"Pertama, aku akan membuatmu bahagia dulu. Kamu suka bersepeda berdua, dapat surat cinta, suka es cream, novel vampire, coklat. Lalu apa?" Tanya Arva yang sudah menggandeng Amazora di taman kota bersamaan es cream coklat di tangan.
"Apa ya? Sepertinya sudah."
"Gak ada lagi?"
"Anu.. cukup ada kamu, sepertinya sudah," Gumam Amazora dengan volume rendah yang masih bisa ditangkap peinderaan Arva.
"Apa? Aku gak denger."
"Ah tidak, lupakan!"
Mendengar jawaban seperti itu membuat Arva geram dan menarik Amazora dalam pelukannya. Melihat gadis itu terkejut membuat Arva gemas hingga mencium pipi Amazora. Begitu lembut penuh kasih sayang.
"Tidak semudah itu untuk melupakan kata yang baru saja kamu keluarkan sayang." Peluk Arva
"Arva ingat ini tempat umum."
"Biarlah, biar pada iri." Kekeh Arva merasa bangga.
"Coba ulangi sekali lagi," Kata Arva setelah melepaskan pelukannya.
"Tidak ada siaran ulang. Pulang yuk!" ajak Amazora yang langsung menuju sepeda. Melarikan diri!
"Ayolah Tya. Pelase, ini juga masih jam 07.00."
"Aku belum pamitan ibu."
"Tak perlu khawatir sayang, aku udah ngabarin mereka terlebih dahulu. Dan ibumu udah ngebolehin sayang. Pergi lagi yuk."
"Kemana?" Tanya Amazora yang sudah ditarik Arva untuk duduk di sepeda.
Dan ketika Arva serius bersepeda, tak masalah kan kalau Amazora curi-curi pandang pacarnya itu? Bolehlah, kan udah resmi. Hati Amazora seakan terdapat banyak kupu-kupu terbang disana. Ia berpikir ini adalah mimpi sempurna. Ia masih ingin dengan mimpi ini, dan tidak ingin bangun!
***
"ARVA!!!" teriak Amazora di sela tidurnya.
"Kamu sudah sadar nak?" Tanya Hana.
"Ini dimana ibu?"
"Rumah sakit sayang," Kata Deni.
"Arva? Mana Arva?" kata Amazora panik dan segera melepas semua infus yang berada di tubuhnya.
"Arva kecelakaan Ama," Kata Aoi.
"Kenapa bisa? Apa yang terjadi!!!" teriak Amazora tak percaya dengan mimpi yang baru saja.
"Tapi sekarang sudah ditangani dokter. Tenang saja," Kata Rey yang juga ada disana.
"Tidak! Sebenarnya apa yang terjadi disini? Kenapa aku bisa disini dan bagaimana Arva bisa kecelakaan?"
***
5 jam lalu
*Di tempat pembelanjaan, Amazora beserta Hana dan Deni berpergian disana. Salah satu mall terbesar. Tepat pukul 19.00 mereka selesai dan berniat pulang.
Ketika sedang berjalan menyabrang zebra cross. Tiba-tiba dari arah sebelah terdengar suara tlakson dan deritan rem dari salah satu truk disana. Amazora yang mengetahui itu segera ingin menyelamatkan ibunya yang seolah akan tertabrak.
Namun bersamaan itu dari arah seberang ada Arva yang juga berlari ingin menyelamatkan Amazora.
BRUKKK…
Arva terpental jauh oleh truk itu sedangkan Amazora, ia terjatuh dan tak sengaja kepalanya terbentur oleh tiang dan pingsan. Darah yang mengalir di luka Amazora tak sebanding dengan darah segar yang keluar dari tubuh Arva.
Di sekelilingnya seolah banjir darah. Apalagi kepalanya yang begitu parah. Tak lama kemudian ambulan datang dan membawa mereka berdua*.
***
Amazora yang sudah tahu apa yang terjadi seketika berlari keluar mencari ruangan Arva. Ia ingin melihat Arva, melihat pangeran yang baru saja tadi pagi bersama dengannya. Menggoda dirinya dan semua kenangan tentang dirinya pun terus terlintas di memori.
KREKK..
Suara pintu terbuka, sontak membuat sepasang orangtua itu berbalik.
"Tya kah?" tanya seorang perumpuan paruh baya disana.
"Tante Arva bagaimana?" Tanya Amazora bersamaan linangan air mata.
"Hey! Bangun! Arva jangan bercanda hiks... hiks.... Hey, katamu, kamu ingin membuatku bahagia, seperti ini kah?" tangis Amazora pecah sambil memegang tangan pacarnya itu dengan tubuh yang terdapat perban di sekitar wajah dan badannya yang sudah membiru, membengkak.
"Arva bangun sayang! Arva Arva.. Arva," teriak Amazora seperti orang gila yang depresi frustasi. Yang bersamaan itu Arva mengalami kejang-kejang. Dokterpun dengan sigap datang dan Amazora ditarik Rey untuk keluar dari ruangan.
"Arva bangun!" teriak Amazora disela tarikan Rey. Sesudah pemeriksaan dokter bersama ayah Rey keluar, mengisyaratkan kepada perempuan paruh baya disamping Amazora.
"Yaudah, tante sama om pamit dulu ya," Kata perempuan paruh baya itu.
"Tante, om." Genggam Amazora yang seketika berlutut di depan mereka.
"Maafkan saya om, tante karena membuat anak om dan tante menjadi seperti ini.. hiks.. hiks.. maafkan saya .. hiks.. hiks.." sambil berlutut didepannya.
"Tidak sayang, itu bukan salahmu. Mungkin Allah memang sudah menakdirkannya seperti itu. Kamu sabar ya." sambil mengangkat Amazora berdiri