Because Of You

Because Of You
Bab 6 : Sebenarnya



"Sedewasa apapun, bila ia belum pernah mengalaminya-tidak berpengalaman. Sama saja ia masih pemula, labil. Jadi, jangan pernah salahkan perasaan ini."


_________________________________________


DI kamar dominan biru tua, Arva duduk disana. Di meja belajar Rey dekat jendela. Mendengus kesal ia hanya bisa memejamkan mata sambil menyandarkan pundaknya. Selang beberapa lama, ia mulai mengotak-atik buku-buku Rey. Penasaran, mungkin ada sesuatu yang menarik.


Hingga ia tertuju dengan secarik kertas yang tak sengaja terlihat dari selipan buku berlabel perpustakaan kota. Dengan ragu ia mengambil buku itu, membuka lembaran sampai menampakkan secarik kertas itu. Ketika dibaca baris pertamanya ia mengerutkan dahi


"Ini bukan tulisan Rey," gumamnya.


Hingga semua terbaca, sebuah puisi berjudul Sebatas wanita yang dibuat oleh Amazora. Heran lagi, ia mulai membalikkan kertas itu. Mengingat tempo lalu Rey meminta puisi itu untuk diberikan kepadanya. Dan Amazora memperbolehkannya. Diberikanlah puisi itu kepada Rey.


"Ini baru tulisan Rey," gumamnya lagi.


Dilanjutkan membaca sesuatu dibelakang puisi Amazora.


Kau tahu Ama? Entah mengapa bagiku kau itu berbeda dari yang lain. Aku nyaman ketika kita bersama, apalagi ketika kita membahas buku kesukaan kita yang sama. Aku menyukainya. Awalnya aku juga heran, saat kita bertemu di mini market sampai di perpustakaan kota keesokan harinya. Mungkinkah kita bisa bersama? Aku tahu kok, kamu dari awal juga menyukaiku kan? Dari puisi dulu yang pernah kutemukan di lapangan basket dulu yang berisi tentang diriku sampai tingkah gugupmu ketika bertemu denganku. Sangat lucu, hehehe. Tapi maaf, walaupun kita saling menyukai aku tidak bisa mengatakannya. Aku akan mengalah dari adikku, si Arva. Aku tahu dia saat ini belum menyukaimu, tapi pasti suatu saat dia akan menyadari perasaanya. Jadi, maafkan aku ya Ama.


I Love you. Rey.


Perpustakaan kota, 24 Juni 2018.


"Jadi, selama ini mereka sering bertemu? Tanpa sepengetahuanku? Apaan coba? Dan kau Rey, ternyata!!!!" kesalnya sampai-sampai memukul meja belajar Rey hingga bingkai foto mereka berdua waktu kecil terjatuh.


Disisi lain, setelah Rey mengantar Aoi pulang. Iapun juga langsung pulang, walaupun sebelum itu ia membeli beberapa buah untuk Aoi yang ia titipkan kepada Rini-ibu Aoi.


Clek.


Suara pintu rumah mewah itu terbuka.


"Dari mana aja?" tanya Arva dengan datar di tengah ruang keluarga itu sambil melihat televisi.


"Nganterin pulang Aoi."


"Hah? Maksud lo?" tanya Arva dengan terkejut dan berbalik melihat Kakaknya itu yang terlihat letih.


"Iya, tadi gue kesekolah lo. Terus jagain Aoi, karena demamnya gak turun akhirnya gue bawa dia pulang deh."


"Kan ada Ama-... Oh iya? Lo ketemu Amazora?"


"Iya, kenapa?"


"Dan lo saat ke UKS langsung tertuju ke Aoi?"


"Iyalah, kan dia yang sakit," jawab Rey dengan jengkel.


"Bego lo!"


"Hah?"


"Katanya lo suka Tya? Dan lo juga tahu Tya suka lo, kenapa lo kek gini, hah?" teriak Arva di depan wajah Kakaknya itu sambil mencengkeram kerahnya.


"Tadi sempat gue mau ngerelain Tya buat lo. Tapi ternyata lo gak bener!" lanjutnya.


"Ama tahu gak kalau lo nganterin Aoi pulang?" tanyanya lagi sambil berusaha merendam marah.


"Gila lo! Bisa-bisanya ninggalin Tya pulang sendiri." melayangkan sebuah pukulan dan pergi dari rumah dengan sepeda motor handalannya itu.


Ditengah perjalanan ia memaki-maki dirinya sendiri yang berpikir untuk merelakan Amzora kepada Kakak yang ia anggap laki bener. Tapi faktanya malah gak bener banget. Se sampai di depan komplek perumahan anggrek ia menekan bel pintu. Tak lama, seorang ibu-ibu membukanya.


"Ada apa ya nak? Cari siapa?" tanya Hana.


"Ah tante, ama ada tante?" tanya Arva kepada ibu Amazora.


"Ama? Belum pulang. Kenapa ya? Biasanya kalau jam segini dia sama Aoi masih ada di mini market tuh. Deket taman." tunjuk ibunya.


"Yaudah kalau gitu saya pamit dulu ya tante." pamitnya sambil menyalami tangan ibu Amazora.


Melanjutkan perjalanan, ia tidak menemukan batang hidung Amazora di mini market itu. Tapi ketika melewati taman dekat situ, ia melihat seorang gadis yang sedang duduk di sebuah ayunan sambil merunduk. Itu pasti Amazora, pikirnya. Dan langsung ia turun dari motornya. Benar saja, ketika ia menepuk dan membalikkan badannya ia melihat Amazora dengan air mata yang tertampak di wajah manisnya itu. Melihat Arva disini, sesegera Amazora berbalik, menutup wajahnya dengan tangan. Walaupun sudah ketahuan.


Melihat kondisi Amazora yang seperti ini, dia memaki dirinya sendiri dan merasa Kakaknya itu begitu buruk.


"Ayo pulang." tarik Arva yang segera ditepis oleh Amazora.


Mendapat penolakan Amazora ia berdecak kesal. Dan memilih untuk duduk diayunan sampingnya. Menunggu gadis itu untuk pulang serta berniat menemani gadis itu sampai puas. Amazora yang sangat membutuhkan kesendirian kini terganggu oleh Arva. Selang beberapa menit sebenarnya ia masih ingin ditaman. Tapi, karena ada Arva ia mulai berajak pergi dari tempat itu. Arva yang melihat tingkah Amazora segera menariknya untuk naik motor. Suasana hati yang kacau ini dengan paksaan Arva membuat dia marah besar.


"Lepasin gue! Pergi sana, gue ingin sendiri. Jangan pernah temui gue lagi!!!" bentak Amazora. "Ups, maaf," lirihnya merasa bersalah karena kenapa ia malah melampiaskannya kpada Arva yang tidak bersalah sambil berjongkong memeluk lututnya.


Melihat gadis yang mulai ia sukai sedih, ia juga tidak tega. Tapi sesegera ia memakaikan helm dan mengangkat tubuh kecil itu untuk naik motor.


Perasaan yang awalnya sedih, berubah menjadi tegang, terkejut ketika tiba-tiba Arva mengangkat tubuhnya menaiki motor itu. Tidak pulang, Amazora tidak dibawa pulang oleh Arva. Melain kan diajaklah ke mall. Bukan untuk belanja, melainkan pergi ke wahana permainan. Sesampailah di tempat parkiran.


"Mana ponsel lo?" tanya Arva.


"Buat apa?" tanya balik Amazora yang sepertinya sudah lebih membaik.


"Berikan saja." Amazora yang sedang tidak ingin berlama-lama berdebat akhirnya memberikannya.


Segeralah dibuka kontak ponsel itu. Mencari kontak seseorang dan segera dihubunginya. Hingga terdengar jawaban dari seberang sana.


"Ada apa ama?" kata suara seberang sana.


"Ah tante, sebelumnya minta maaf karena tidak meminta ijin secara langsung. Karena begitu mendadak. Dan saya sekarang meminta ijin untuk mengajak Amazora jalan-jalan mungkin sampai jam 8. Boleh tidak tante?"


"Ini siapa ya?"


"Ah ini tadi tante. Yang tadi baru saja ke tempat tante." mendengar perkataan Arva, seketika Amazora mengerutkan dahi. Buat apa Arva ketempatnya? Mencarinya?


"Oh iya, tante ijinin. Tolong dijaga ya. Jangan dinakali," pinta Hana. Dan berakhir.


"Nih," kata Arva mengngembalikan ponsel itu.


***


"Aw...aw..weee..wee," gumam gadis yang sedang bermain di timezone-balap mobil.


Anehnya, dia ikutan bergerak kekanan bila mobil itu kekanan, begitupun sebaliknya. Melihat gadis itu ceria, seolah lupa akan kejadian lalu membuat Arva hanya bisa mengangkat bibir itu keatas. Bahagia bisa membuat Amazora kembali lagi bahkan lebih semangat.