Because Of You

Because Of You
41. Believe



dua hari Elsa mendiami yobi dan sungguh itu sangat tidak enak. ada rasa kangen tapi gengsi. menjauh dari yobi membuatnya sadar, mungkin kehilangan jauh lebih buruk dari dugaannya.


malam ini ia putuskan menemui yobi di r@mio caffe, outfitnya sudah sangat siap untuk di ajak nge date, pleated skirt, sneakers putih, crop top cream yang menutupi pusarnya dan Sling bag.


beberapa saat mereka terdiam. Elsa hanya mengusap pinggiran gelas cinnamons dark choco nya sedangkan yobi juga hanya diam menyangga sebelah pipinya sambil memperhatikan Elsa "masih belum udahan ngambeknya??" ucap yobi pada akhirnya mengusir kesunyian yang terjadi.


Elsa menarik nafasnya panjang lalu memperhatikan yobi "Lo..." Elsa terlihat ragu ragu mengucapkannya tapi dia juga harus bertanya lebih dulu kan


"kenapa??" tanya yobi sambil bersedekap di atas meja "katakan..."


"Lo sama neisha___" belum selesai ucapan Elsa, yobi sudah berdecak dan menyandarkan punggungnya ke kursi "jadi bener??"


yobi tidak menjawab, dia malah menatap Elsa serius "Lo mau gue jawab apa??? gue udah nyuruh Lo percaya sama gue"


"Lo tinggal jawab aja iya atau gak?"


"gak!"


"ihh basi"


"tuh kan!" yobi berdecak. lalu meraih kunci mobil di atas meja dan bangun. Elsa mengernyit. heh, dia mengajak ketemu karna butuh penjelasannya jangan seenaknya mau pergi gitu aja.


melihat Elsa tetap terdiam di kursinya yobi langsung menarik tangannya "mau kemana?" protes Elsa.


yobi diam tidak menjawab tapi ketika mereka sudah berada di mobilnya ia menoleh ke arah Elsa " butuh penjelasan dari jawaban 'nggak' gue kan?" Elsa hanya menatap yobi tanpa berniat menjawabnya "oke, sekarang ikut gue!"


mobil melaju ke arah yang tidak Elsa ketahui jalanannya. yobi menyetir cukup kencang, kebiasaannya memang. kemudian mobil berhenti di basement, sebuah apartment yang Elsa tidak ketahui milik siapa


lift menuju lantai 17 dan saat ini mereka tengah berada di depan sebuah pintu apartment, yobi menekan pin dengan mudah. saat ditanya apartment siapa yobi menjawab apartment bersama katanya.


mereka melepas sepatunya dan yobi mengambilkan sebuah sandal di rak dekat pintu masuk. Elsa terbengong disana ada jevier, Ardi dan rafil. mata Elsa menatap majalah dewasa yang bertebaran di atas sofa dan meja. sementara ketiganya tengah asyik menatap layar laptop.


"anj*r Lo gak bilang mau bawa Elsa kesini!" Ardi merapikan apa saja yang berserakan tidak sopan disana. sementara rafil mematikan laptopnya


Elsa duduk di samping yobi tapi sebelumnya yobi meletakkan bantal di pangkuan elsa "ulah Lo jev! sekarang jelasin sama dia" perintah yobi yang membuat Elsa bingung


"apa??" tanya jevier heran menatap yobi.


yobi berdecak "pake pura pura gak ingat lagi. itu Lo sama anak kelas 10 yang jadian seminggu putus!!"


"oohhh!!!" jevier ber oh ria di ikuti yang lain sementara yobi sudah memutar bola matanya malas mendapati seruan asyik dari teman temannya.


"mau gue mulai dari mana??" tanya jevier sambil menyimpangkan kakinya


"dari awal Lo, goblok"


"lagian Lo sih jev, yobi dua hari kacau gara gara di abaikan Elsa"


"udah gue duga sih mereka berantem pasti gara gara jevier. tanggung jawab!"


jevier tidak membalas Omelan rafil dan Ardi. jevier menatap Elsa "jadi gini El...."


flashback on


saat itu malam hari, jevier mendapat kabar mamanya drop di rumah sakit. tanpa membuang buang waktu ia langsung bergegas ke rumah sakit.


ia berlari di sepanjang koridor rumah sakit dengan pikiran gamang, kalau sampai sesuatu terjadi terhadap mamanya ia bersumpah tidak akan membiarkan seseorang yang di panggilnya 'papa' hidup dengan tenang. orang itu yang berulah dan mamanya yang harus menanggung semuanya.


sesampainya di depan ruang rawat mamanya, dokter mengatakan mamanya sudah melewati masa kritis beberapa waktu yang lalu. jevier meremas rambutnya sendiri sambil terduduk di kursi stainless depan rawat inap.


kepalanya ia sandarkan ke tembok di belakangnya. tiba tiba seseorang menyodorkan minuman ke hadapannya kemudian seorang cewek duduk di sampingnya tanpa permisi, jevier menatap minuman di hadapannya kemudian menoleh ke samping.


"gue sering liat kakak disini, di sekolah juga..." jevier menoleh. dia tidak pernah melihat gadis itu di sekolahnya. "cuman takut aja mau nyapa kakak. gue neisha! kakak yobi kan??" jevier mengernyit. dia sudah membuka mulutnya untuk menyanggah pernyataan cewek itu tapi cewek itu kembali berbicara "kakak anak basket yang populer. temen temen sering ngomongin kakak di kelas!"


jevier membiarkan anak itu terus berceloteh. entah siapa yang sebenarnya dia bicarakan. niatnya untuk meluruskan ke salah pahaman itu pun mengendur. tidak ada alasan untuk dia meladeni celotehan gadis di sampingnya yang seperti burung beo itu.


malam itu jevier hanya menjadi pendengar radio dadakan tanpa di biarkan mengucapkan sepatah katapun oleh anak itu.


8 hari kemudian jevier kembali bertemu di super market dengan cewek itu yang terlihat kebingungan di depan kasir.


seperti sudah bisa menebak, jevier dengan jiwa manusiawinya tanpa ada niatan apa apa membayarkan belanjaan cewek itu, karna dia pernah mengaku sebagai adik kelasnya di sekolah. hanya sebatas karna cewek itu pernah mengenalkan namanya.


ke salah pahaman soal nama masih berlanjut. cewek itu tampak ceria setiap kali bercerita. untuk beberapa waktu jevier memikirkan kebodohan cewek itu 'sikapnya gemes gitu gak sih?' pikir jevier waktu itu.


kemudian jevier mengingat perkataan Ardi untuk mencoba menjadikan salah seorang pacarnya. tanpa ada perasaan apapun jevier nembak neisha dan di luar dugaan neisha langsung menerimanya.


tapi seminggu kemudian cewek itu minta putus karna tau jevier berbohong soal nama. padahal faktanya setiap kali dia berusaha menjelaskan kesempatan itu selalu gagal.


teman sebangkunya yang menyebarkan neisha berpacaran dengan seorang yobi di sekolah tapi kemudian dia di ter tawakan oleh teman sebangkunya karna salah mengenali orang.


flashback off


"jadi El namanya doang yang yobi wajahnya gue, yang pacaran bukan yobi kok!" Elsa terdiam mendengar penjelasan jevier


"lagian Lo sih, hubungan yang di awali dengan salah paham akan berakhir jadi masalah!"


"gue gak serius sama anak itu!"


"kapan Lo seriusnya jev, insyaf ingat insyaf... hadeuh!"


Elsa tidak terlalu memperhatikan perdebatan ketiga Teman yobi, ia malah menatap yobi "mau minum?" tanya yobi lalu menarik tangan Elsa.


yobi membawa Elsa duduk di stool depan meja bar, menjauh dari teman temannya yang asyik berdebat. yobi mengambil 2 minuman lalu duduk disisi Elsa.


"Lo gak marah gitu?" tanya Elsa tanpa menyentuh minumannya. iya, kenapa yobi gak marah? kenapa Elsa yang begitu marah?


yobi mengedikkan bahunya "udah resiko jadi cowok keren. di kenal seantero sekolah!"


Elsa berdecih saat dia hendak membuka minumannya yobi mengambil alih untuk membukakannya.


"lain kali kalo marah gak usah lama lama..." ucap yobi sambil menyerahkan kembali minuman Elsa. Elsa bergumam terima kasih "sekarang udah kelar marahnya?"


"sorry for anything! and so sorry i'm not believe of you!"


yobi turun dari duduknya "no problam!" ucapnya sambil meraih tangan Elsa untuk turun kemudian yobi mengangkat tubuh Elsa untuk duduk di atas bar "you know... i Miss you so bad!" yobi menyentuhkan keningnya ke kening Elsa.


kemudian yobi menjauhkan satu siku Elsa dengan siku yang lainnya, memberi celah untuk tubuh yobi masuk. sekarang kedua paha Elsa sudah mengungkung tubuh yobi sementara tangan yobi memeluk pinggang Elsa dan mengelusnya.


yobi mencium Elsa sekali, dua kali, lalu ciuman itu berubah jadi ******* kecil. Elsa melingkarkan kedua lengannya di leher yobi, meremas rambut cowok itu.


ciuman itu terasa hangat, lembut, dan begitu halus. demi apapun Elsa tidak pernah terpaksa berciuman dengan yobi. aroma nafasnya selalu saja manis seperti bau kayu di hutan yang basah oleh air hujan.


"yobi ponsel Lo dari tadi___" suara rafil terdengar melirih di akhir kalimat kemudian langkah kakinya juga terdengar menjauh di ikuti sebuah umpatan nyaring dari bibirnya.


yobi tidak melepaskan tautan bibir mereka sekalipun. kemudian Elsa menjauhkan wajahnya dari wajah yobi. jelas Elsa akan gelisah. tadi sudah ketahuan rafil tidak menutup kemungkinan yang lainnya juga akan ke sana "mereka gak akan berani kemari, percaya!"


yobi kembali mencium bibir Elsa. detik pertama, detik kedua, ketiga, ciuman itu begitu lembut detik berikutnya ciuman itu menjadi lebih dalam, lebih tajam dan detik selanjutnya ******* kecil itu terasa lebih kuat dan ada gerakan bibir lembut yang mendesak.


"YOBI NYOKAP LO NELFON, BURUAN!!! UDAH GUE REJECT!!!" teriakan Ardi terdengar begitu nyaring