Because Of You

Because Of You
Bab 12 : Toni



"Si wakil ketua kelas yang tidak kalah keren dengan Arva. Namun masih abstrak auranya."


_________________________________________


SELAMA masa perang dingin kemarin, Amazora menjalani hari-hari membosankan dengan mengerjakan begitu banyak tugas antara lain tugas sebagai ketua kelas, olimpiade, sebagai ketua osis dan tugas sebagai murid.


Namun ia tidak sendiri, ia selalu ditemani oleh Toni. Wakil ketua kelasnya. Keren! Pinter? Lumayanlah, tapi masih pintar Amazora. Maklum ringking satu dipararel.


Awalnya ketika Toni menawari bantuan atau ingin menemani, ia selalu menolak. Bahkan setiap hari. Tetapi, karena saat itu ia mendapat tugas dari wali kelas. Ia pun mengijinkan Toni membantunya. Untuk hari itu dan sebagai tugas wakil ketua. Namun, setelah itu, berlanjut Toni tanpa bertanya langsung menemani Amazora. Tak dihiraukan oleh gadis itu ia tetap berusaha mendekati.


Hingga akhirnya mereka menjadi akrab, tidak seperti ketika bersama Arva yang selalu dipenuhi perdebatan. Serasa hambar bersama Toni. Disamping tidak banyaknya komunikasi, Toni selalu menurut kata Amazora. Apa yang disukai Amazora ia juga suka. Yang karena itu membuat Amazora tidak begitu nyaman dengan pemuda itu.


Suatu hari, ketika mereka di perpustakaan dengan alasan Toni meminta Amazora untuk mengajari matematika karena besok ulangan dan dia masih belum paham. Disana ternyata mereka tidak hanya berdua melainkan berempat. Amazora, Toni, Arva dan Aoi. Mereka membuntuti Amazora dan Toni yang sedang berdua. Memang keadaannya biasa saja atau bahkan bisa dibilang hening, sunyi seolah tak berpenghuni. Tapi Arva tetap ngotot mau membuntuti, ia takut Amazora akan diperlakukan jahat oleh Toni. Cemburu, mungkin.


Dan kenapa ada Aoi? Awalnya Aoi menolak. Ia tidak enak dengan semuanya. Disamping semua itu dia juga tidak suka melihat Arva yang begitu mengkhawatirkan keadaan Amazora setiap detiknya. Iri, mungkin.


Tapi ia sadar, Arva hanya untuk Amazora. Dan ia mencoba untuk merelakan pemuda yang pernah ia sukai untuk sahabat terbaiknya. Selama untuk Amazora itu tidak masalah. Batinnya.


Disisi lain, ketika Amazora dan Toni akan kembali. Tiba-tiba tak sengaja Aoi kesandung Kaki meja yang ada disana.


"Aduh.." rintih Aoi.


"Gak pa pa lo?" Tanya Arva sambil membantu berdiri.


Mendengar suara itu, seketika Amazora berbalik,


Sakitkah? Cemburukah? Berhakkah? Ia melihat Arva yang begitu mengkhawatirkan Aoi. Dengan memapah, Arva mengambilkan hansaplas untuk Aoi.


"Makasih," Kata Aoi dan langsung memakainya.


"Gak masalah," Jawab Arva santai.


Dan ia baru sadar bahwa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Tatapan mereka pun bertemu setelah sekian lama, cukup lama. Hingga Toni menyadarkan Amazora.


"Ayo pergi?"


"Ah iya, gue lupa. Ayo!"


Belum sempat ingin mendekat, Amazora sudah menghilang dari balik pintu.


"Kejarlah," Kata Aoi yang melihat situasi disana tadi.


"Gak, ayo pulang," Kata Arva.


"Gue bisa sendiri."


"Gue juga tau. Gue gak akan ngoncengin lo. Sorry ya," Kata Arva bercanda sambil menjulurkan lidah.


"Sorry, tempat itu hanya untuk Tya," Jawab Arva tulus. Cemburu?


Hari selanjutnya. Waktu sekolah tiba, Toni datang ke bangku Amazora. Masih ada Arva dengan ia yang sedang menenggelamkan wajah di lengan. Tertidur, pikir Amazora ketika melirik Arva.


"Mau pulang bersama?" tawar Toni.


"Gak, makasih," Jawabnya sambil mengemasi buku.


"Ayolah ma, santai aja kali," Tawarnya lagi.


"Sudah ditolak masih aja ngotot." Komentar seseorang yang dikira tertidur tadi. Ia terbangun, mengucek mata sambil merenggangkan tangan.


"Gak usah ikut campur. Lo gak ada hak!" jelas Toni.


"Gak ada lo bilang? Adalah. Hak gue banyak. Dan juga gue lebih tahu tentang gadis ini daripada lo," Jawab Arva santai sambil memasukkan buku pelajaran di dalam tas.


"Dah yuk. Ayo pergi Ton," Kata Amazora yang tidak ingin berlamaan disana. Apalagi mengingat kejadiaan saat dia mengkhawatirkan Aoi


"Lihat ini," Kata Toni remeh samar-samar tapi begitu jelas dimata Arva.


Sesampai di parkiran, Amazora menolak untuk naik motor Toni.


"Kenapa gak mau? Jelek ya?"


"Bukan, bagus kok. Hanya saja gue ingin pulang jalan kaki."


"Tapi, di dalam kelas tadi lo bilang 'ayo' dan itu maksudnya lo mau."


"Bukan! Persepsi kita beda. Maksud gue ayo pulang. Tapi bukan bersama. Maaf." dan pergi meninggalkan Toni disana.


Disisi lain, Arva yang masih di lantai dua seolah berniat enggan pergi dari sana. Ia pikir Amazora akan pulang bersama si wakil itu yang begitu sok dimatanya. Namun ketika ia melihat jendela, ada gadis yang dicintainya sedang berjalan Kaki membelah senja sore. Sesegera ia turun dan menancapkan motor andalannya. Mengikuti gadis itu dengan begitu pelan. Tidak ingin mengganggu Amazora dengan headsetnya ia hanya membuntuti gadis itu selamat hingga masuk ke rumah.


“Jangan lupa dimakan biar tambah manis,” Kata Arva memberi sebuah coklat ketika sampai di depan gerbang rumah Amazora.


“Hah?” tanya Amazora bingung mendapati Arva yang sudah ada di depannya.


“Ininya di makan Tya.. Apa mau di suapin.”


“Ih apaan sih?”


“Gak pa pa.. cuman seneng aja ternyata kamu nolak Toni demi aku.” Kepedeannya.


“Idih siapa juga?”


“Yaudah kalau enggak. Dah ah gue cabut dulu. Rinduin gue ya.” Peluknya sebelum menghilang