Because Of You

Because Of You
Bab 18 : Kencan



Bolos berdua itu ternyata menyenangkan juga…hehehe


_________________________________________


KEGABUTAN terjadi di setiap kelas. Ujian selesai tapi masih harus masuk sekolah. Begitulah yang juga di rasa Amazora.


"Aaaa mending gini dirumah aja atau keluar jalan-jalan," gerutu Amazora kepada Aoi yang masih memakan pop mie di kantin.


Mendengar perkataan gadis di seberang sana. Seketika mendekat lalu menarik gadis itu untuk pergi.


"Gue pinjem dulu Aoi," kata Arva tanpa melirik Aoi yang ditinggal sendirian.


Sesampai dikelas Arva mengambil tasnya serta tas Amazora. Sedangkan yang di tarik itu hanya diam pasrah hingga berada di belakang gedung.


"Naik," kata Arva jongkok.


"Hah? Maksud kamu apa?"


"Ayo bolos." cengirnya.


"Gak boleh. Nanti di hukum."


"Sekali-kalilah. Masak selama 3 tahun gak pernah ngerasain bolos."


"Kata siapa? Udah, kemarin"


"Tapi enakan berdua. Bolos buat kencan. Ok?! Ayo naik. Udah gue jamin guru gak bakal ngehukum," jelas Arva.


"Nanti kalau dimarahin ibu?"


"Makanya udah naik dulu. Panjatnya ati-ati."


Tubuh Amazora yang begitu ringan membuat Arva tidak terlalu membuang banyak tenaga. Sedangkan dia? Jelas loncat dari pagar tembok. Pas dengan postur tubuh tingginya itu.


"Jalan gak pa pa kan? Soalnya motorku di parkiran. Kita ambilnya nanti sore aja. Atau mau aku gendong?" goda Arva.


"Boleh?" tanya Amazora dengan pelan seolah ingin di manja.


"Boleh banget sayang. Depan apa belakang?" kata Arva antusias.


"Belakang aja."


Menelusuri jalan dengan suasana bahagia seperti ini membuat mereka merasa bahwa dunia ini hanya miliknya. Sedangkan yang lain? Ya jelas ngontraklah...


"Sayang aku tanya, kenapa kamu mau mbolos?"


"Kan kamu yang ngajak?"


"Berarti tak ajak nikah juga mau?" tanya Arva sambil memalingkan wajah melihat Amazora di punggungnya.


"Ih apaan aneh."


"Tapi juga cinta," kata Arva dengan pelan.


"Apa?"


"Enggak kok."


"Ih gak asik."


"Enggak kok. Kan katanya aku aneh. Yaudah gak pa pa." jelas Arva sambil senyum-senyum gak jelas.


Selang beberapa waktu hening. Arva mulai bertanya lagi.


"Mau kemana?"


"Aku ngikut kamu aja."


"Uh so sweet," kata Arva sambil senyum-senyum. "Tunggu aku ya.. Calon imammu dan anak-anak kita kelak." lanjutnya sambil mengeringkan matanya melirik Amazora.


"Apaan sih aneh. Udah ah." gereget Amazora sambil mencubit pipi Arva.


"Lha emang kita mau kemana sih?"


"Dalam labirin cintamu." goda Arva lagi yang tanpa sadar membuat Amazora dari tadi tersenyum dibalik punggung Arva.


"Udah-udah gak usah senyum-senyum sendiri. Nanti jadi gila lho."


"Terus ngapain mau sama orang gila?" tanya Amazora.


"Karena aku lebih gila," jawab Arva. "Gila akan cintamu." lanjutnya.


"Udah ih." cubit Amzora ke Arva lagi.


***


"Sampai. Turun beb," kata Arva kepada Amazora.


"Kok pulang?"


"Cie ngarep kencan ya?" goda Arva.


"Au ah."


"Udah-udah jangan ngambek donk. Katanya tadi takut dimarahin ibu. Jadi kita ijin dulu. Nanti kalau udah di ijinin kita kencan lagi. Ok?!" Mendengar penjelasan Arva yang begitu dewasa, sesegera Amazora memeluk Arva seolah tidak ingin dipisahkan.


Setelah di ijinin Hana, merekapun menaiki bis untuk menuju mall. Berniat berkencan di bioskop. Keinginan Amazora.


"Sayang ini siapa?" tanya Amazora ketika Arva mengatri tiket bioskop.


"Aaa jangan dilihat sayang, malu-maluin ih," kata Arva berlari merebut ponselnya yang berisi foto absurd dirinya.


Dengan rambut dikucir satu di depan bersamaan menggigit headset dengan wajah kusam belum mandi sehabis pulang sekolah. Yang dengan itu dapat membuat Amazora tertawa terbahak-bahak.


“Seneng?” tanya Arva ketika melihat gadisnya sampai berlinang air mata.


“Aduhh..iya..” cengir Amazora. "Btw, tadi udah aku kirim ke WAku. Mau aku kasih ke ibu." goda Amazora


"Noooo!!! Harga diriku di mata mertua." rengek Arva.


"Emang hargamu berapa?"


"Mahal."


"Yah, gak bisa dibeli donk."


"Hargaku itu Tyandra Mazora." goda Arva.


"Gombal teruzzzz."


"Yaudah jangan senyum-senyum sendiri."


"Udah gak bakal gila lagi."


"Pengakuan kalau pernah gila ya?"


"Biarin. Toh dia menerimaku." goda Amazora yang seketika membuat Arva greget.


"Dia siapa?" jawab Arva sambil menatap tajam Amazora.


"Dia yang lagi natap aku." goda Amazora yang seketika membuat Arva tersenyum


"Iss.. Gak liat, gak liat. Gombal," kata Arva sambil menutup matanya menggunakan tangan Amazora.


"Yang ngajarin siapa dulu?" sindir Amazora.


"Gak tau. Besok kenalin ke keluarga ya?"


"Insyaallah.