
Gazebo belakang rumah Yobi nampak sunyi meski telah diisi oleh 4 pemuda yang tengah sibuk dengan pola pikir masing masing.
Ardi bertengkurap di samping Yobi sambil tersenyum manis menatap ponselnya, Yobi menyanyikan lagu absurd dengan gitar di tangannya, jevier menatap rafil yang hanya diam berdiri memainkan kakinya membentuk beberapa kata
"kenapa sih?" yobi menunjuk rafil dengan dagunya sambil menatap jevier, ia menaruh gitar di samping kaki Ardi.
rafil mengedikkan bahunya "kejepit friendzone" katanya sambil mengambil potatos di depan Ardi "btw kita libur beneran gak ada plan apa apa nih??"
"gue udah ada mission sih!"
"misi???" jevier menatap yobi sambil mengernyit, yang di lihat hanya memperlihatkan gigi gingsulnya sambil menaik turunkan alisnya
"misi lupain Elsa! gila aja gue masih mau suka sama cewek orang!" rafil menatap yobi sedang jevier berdecih tanda tak percaya
"bukannya hubungan Lo sama Elsa udah jauh berkembang ??" ucap Ardi tanpa menoleh ke yobi, tetap fokus dengan hp nya "kemaren kan yang ngambil raport Elsa nyokap Lo?" akhirnya Ardi menoleh ke yobi
"itu beda jalur. CK.. udahlah gue males jelasinnya"
"apanya yang beda? meski sama sama evaluasi akhirnya kan eksekusi di jadiin cewek Lo juga!"
"gue lihat Elsa pelukan sama bryan depan apartementnya di jam jam midnight!. ngapain coba?"
rafil menggeser kaki Ardi lalu duduk "positif aja yob!!!"
"gue mau gak percaya mereka gak ngapa ngapain tapi logika gue sebagai cowok lebih berjalan mulus" yobi menunjuk nunjuk pelipisnya
"Lo menduga mereka ngapa ngapain gitu??" Ardi bangun dari tengkurapnya dan melotot menatap yobi "waahhh parah Lo.... harusnya Lo percaya sama cewek yang Lo suka. jangan banyakin nonton film rekomennya jevier otak Lo bisa geser entar___auw... sakit any*Ng!!!" jevier dan yobi menendang pantat Ardi
"gak gitu sinting!!!" protes yobi lagi lagi sambil melakukan kdrt terhadap Ardi dengan kakinya "gue gak mau lagi menyukai seseorang yang udah jadi hak milik orang lain. karena ujung ujungnya pasti gue bakalan sakit"
"gue juga...." ucap rafil tiba tiba yang membuat ketiganya menoleh "zevanya udah punya cowok" rafil menunduk lalu tertawa hambar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan "etlet renang di sekolahnya"
jevier menggeser duduknya ke samping rafil lalu memeluknya "udahlah broo.... dunia belum mau kiamat besok meski seluruh cewek di semesta ini udah habis"
"lah Lo sendiri tau dari siapa besok belom mau kiamat?" protes Ardi lagi
"insyAllah gitu..." jevier senyum "yakin aja... toa di masjid masih aktif di telinga gue"
Ardi menarik topi jevier hingga menutupi wajah jevier, begitupun yobi yang juga ikut membully jevier. rafil akhirnya tersenyum melihat tingkah sahabat sahabatnya
"eh tapi kalo kalian gak ada rencana liburan mending ke sekolah bantuin anak anak OSIS!" ketiganya langsung memandang rafil, butuh penjelasan "akan ada acara pensi pas kita udah selesai liburan nanti. sekolah kita berkolaborasi sama 3 SMA lainnya, sekaligus pesta buat kemenangan tim basket kemaren. semacam ucapan terima kasih dari sekolah gitu..."
"wuih wuih bakal keren nih...."
"hayuk gass lah... bakal banyak cewek cewek sekolah lain berkeliaran nih!"
"tobat jev.... kapan sadarnya Lo? playboy hanya punya 2 jalan buat insyaf. pertama, terkena kanker ganas stadium akhir. kedua, punya seseorang yang beneran Lo suka tapi dianya gak bisa Lo milikin..."
"dan Lo berharapnya kemungkinan pertama buat jevier Ar..."
"sembarangan!"spontan Ardi menoleh ke yobi yang tengah ngemil sambil tersenyum" eh terlalu dini ya jevier meninggal sebelum tobat, kasihan gue. mending kemungkinan kedua aja biar dia tau rasanya kehilangan dan berjuang"
"gue bukan playboy Ar... udah berapa kali gue tegasin! gak ada cewek yang beneran gue pacarin"
"nah itu masalahnya.... gebetan Lo lusinan. coba deh take satu dan lepasin yang lain"
"CK... oke gue coba..." kata jevier pasrah. padahal sebenarnya dia hanya tidak ingin memperpanjang bahasan tentang dirinya.
mendengar jawaban jevier Ardi berdecak,tau jevier tidak serius melakukannya. rafil hanya geleng geleng kepala.
"sebenarnya gue males sih... masa libur masih mau ke sekolah? giliran sekolah maunya libur, giliran libur mau ke sekolah. gak kooperatif banget jadi siswa mana nelcy liburan sama keluarganya lagi..."
"kalo gak mau gak apa apa Ar..."
"gak bisa gitu dong fil.... masa yang lain pergi gue kagak. hidup gue tuh separuhnya kalian...."
"Halah...." yobi dan jevier lagi lagi menimpuk Ardi berbarengan. sore itu mereka menghabiskan waktu di gazebo rumah yobi. gazebo penuh rekam jejak mereka sejak masih kecil. menikmati kebersamaan yang mengalir dengan rasa nyaman.
beberapa kali ter dengar teriakan Ardi "woiy... gue laporin KPAI nih, kasus bullying terhadap anak di bawah umur!" teriakan teriakan semacam itu yang semakin mengundang yang lain untuk mengoloknya.
******
"oh gitu Bu de.... ya udah.... gak apa apa kok. assalamualaikum!!!!" Elsa menutup telfonnya dengan wajah kecewa menatap kedua sahabatnya yang tengah berada di ranjangnya, yang dilihat terlihat pasrah dengan keadaan.
"gak apa apa El...." Levita mengelus pundak Elsa, Debby mengangguk.
"iya gak apa apa kok. tapi lain kali gue harap sih bakalan terealisasi rencana keren Lo ini..."
Elsa tersenyum. "pasti tapi gue gak bisa janji takut kejadian kek gini lagi...."
malam ini mereka sudah mau tidur bersama dengan koper yang udah di siapin buat liburan mereka ke Situbondo supaya subuhnya langsung berangkat selama perjalanan 14 jam dari Jakarta ke Situbondo.
tapi keteledoran terjadi karena Elsa kali ini, ia lupa mengabari Bu denya dan akibatnya saat ini bude, pa denya tengah mengantar kafi dan kasyfa, sepupunya mondok ke Yaman sedangkan sang nenek di tinggal di Madinah untuk melaksanakan ibadah umroh bersama beberapa ustad dan ustadhah pesantren.
"tapi sebenarnya kita bisa kok tetap ke Situbondo. tetap rame di sana kan banyak santri, ada Kaffa dan juga Kayla..." Elsa menatap keduanya dengan mata sedikit berbinar.
"tapi kan percuma El Lo gak bakal ketemu nenek yang Lo kangenin.... udah lain kali aja kita kesananya, biar Debby ngerasain perjalanan yang menurutnya paling keren itu!" Elsa mengangguk tersenyum menatap keduanya, seolah ingin mengatakan 'terima kasih sahabat sudah mau mengerti...'
"Kaffa dan Kayla siapa lagi El?? sepupu Lo juga? sebenarnya sepupu Lo ada berapa sih?"
"empat! mas kaffi, mbak kasyfa, dek Kaffa dan yang masih SD Kayla..."
"kaffi sama kasyfa mondok ke Yaman??"
"iya.... sebenarnya mas kaffi udah 3 tahun disana dan mbak kasyfa rencananya emang mau nyusul mas kaffi makanya sekeluarga ikut nganterin soalnya ini pertama kalinya mbak kasyfa____"
"kaffi ganteng gak El??" cerocos debby
"banget deb, tampangnya Maroko punya, suaranya deep banget. iiihhh pokoknya mendekati perfect lah...."
"sa!!!" Debby memegang lengan Elsa, membuat Elsa heran dan menaikkan sebelah alisnya pasalnya Debby mode serius "comblangin gue, please!!!"
Levita berdecih, sudah hafal dia dengan kemampuan terpesonanya debby sedangkan Elsa sudah tertawa "padahal Lo masih dengan depkripsi mas kaffi doang.... belom liat wujud nyatanya. liatin akhi akhi setipe mas kaffi adem bet deb, berasa bernafas di lingkup surga!"
"iiiihhhh makin penasaran deh!" Debby merenggut dengan mata berbinar secara bersamaan "serius Elsa, comblangin dong!!!"
"gak semudah itu deb...." kali ini Levita ikut menimpali tidak tahan dengan sikap childish sahabatnya "emangnya Lo mampu jadi ibu nyai yang mendewani ratusan santri.... argh, beneran kelar deh itu pesantren di bawah Lo!"
"ya kan ada mas kaffi lev yang bimbing gue entar..."
elsa kembali terkekeh melihat antusias Debby "kenalin El... eh tapi liat fotonya dong biar rasa penasaran gue sedikit berkurang. nama Ig nya apaan El...."
"mas kaffi gak suka di foto dan akun Ig nya hanya berisi syiar syiar Islam"
"iiihhh kok gitu?! mana ada cowok kece gak suka di foto..."
"katanya orang yang suka selfie ataupun di foto kelak wajahnya akan muncul dalam keadaan terbakar...."
"oh my God .... ternyata yang kayak gitu beneran ada, bukan cuman fiksi belaka tapi akhi Sholeh sepupu Lo El... fixs gue jatuh cinta!"
"Lo jatuh cinta udah kaya beli kuota, habis... ganti beli lagi!"
"please lev... siapapun bakal jatuh cinta sama cowok modelan kek gitu..."
"ekhem! jangan kecewa deb.... jodoh mas kaffi udah di siapin sejak beberapa tahun silam...."
Debby melongo "seklasik itu kisahnya?" Elsa mengangguk seolah olah juga menyayangkan apa yang baru saja ia katakan "kenapa sih tiap cowok perfect yang gue temuin pasti udah sold out! Hmmm...." bahu Debby melorot lesuh, Elsa meringis. Debby.... semudah apa baginya jatuh cinta??? dengan segala kehidupannya yang seperti planet Barbie.
Levita menghindari percakapan Debby dan Elsa yang tetap membahas sepupu sepupu Elsa. Levita beralih ke nakas dan memainkan ponselnya, dilihatnya sudah jam 9 malam. tapi notif pesan group angkatan sekolah masih tiada hentinya berbunyi.
Levita membuka pesan group itu yang hanya dilihatnya ketika sudah tidak ada hal penting lainnya di ponselnya. menganggap dirinya hanya member group tanpa kontribusi harus merunding di group. argh... benar benar siswa yang tidak memiliki gairah dalam suatu organisasi.
"deb..." Levita menoleh ke arah Debby "Lo kan yang paling update, bakal ada acara apaan sih? Sampek OSIS sukarela gak ngambil jatah libur semester?"
"ini nih tipe siswa mager .... "
"gak usah ngatain Napa???"
Debby mesem ia pun juga mengambil i phone nya "akan ada acara pensi! collab sama 3 SMA lain. project OSIS yang paling serius sepertinya, iihh gila ya Ruby keren banget sayangnya anak organisasi gak cocok di jadiin pacar, sibuk terus berasa di madu sama kegiatan organisasinya"
Levita memutar bola matanya. nanyanya aapa??? dan berakhir muji siapa???? "kayak Ruby mau aja di jadiin pacar Lo deb!"
"kali aja gue menang jackpot! serius deh Ruby berkharisma banget jadi pemimpin, auranya makin lama makin melted! rasanya pengen gue pamerin sama OSIS sekolah lainnya..."
Elsa menimpuk Debby dengan bantal sambil tertawa hambar dan berdecih "Ruby gak suka publikasi deb..." Levita dan Debby menatap Elsa, Elsa mengangkat sebelah alisnya menatap keduanya bergantian. "ada yang salah??? itu faktanya kan?!"