
Happy Reading
****
Scout POV
Tahun berganti begitu cepat seolah angka berganti hanya dalam satu malam saja, tapi ternyata tidak. Tahun ini aku akan berusia 35 tahun dan Kenny akan berusia 33 tahun. Aku tidak menyangka bahwa waktu berlalu dengan cepat, aku masih ingat pertemuan pertamaku dengan Kenny saat aku berusia delapan tahun. Gadis kecil dengan gaun merah volkadot dan sepatu berwarna senada, rambut di kepang dua dengan pita merah, dan senyum manisnya. Cantik.
Dan aku melihat wanita yang sama berdiri tidak jauh dariku, sedang menikmati angin musim semi yang mulai menghangat. Bulan kedua dan bulan terakhir sebelum akhirnya dia akan melahirkan. Menurut Dr.Adele, sekitar dua minggu lagi maka persalinan bisa dilakukan. Aku duduk di tikar kecil di bawah pohon yang rindang, yah.. Melakukan piknik kecil di halaman rumah kami.
Kenny mengangkat kepalanya ke arah sinar matahari, memejamkan mata, dan merasakan hangatnya sinar matahari. Angin sejuk menerbangkan helaian rambut dan gaun putihnya. Cahaya lembut itu membuat gaun Kenny seperti transparan, menampilkan perutnya yang sangat besar. Kicaun burung membuat suasana semakin lengkap dan membuat Kenny seperti di negri dongeng. Sangat cantik dan berkilauan.
Seharusnya aku takut karena perut itu seperti akan meledak, tapi tidak. Aku tidak takut. Hanya membuat suatu perasaan yang tidak dapat kumengerti di lubuk hatiku. Membuatku bersyukur bisa hidup di kehidupan yang sama dengan Kenny. Jika manusia memiliki kehidupan yang setelah mati, aku harap aku memiliki itu bersama Kenny di kehidupan selanjutnya dan begitu seterusnya. Aku ingin hidup di dunia dan waktu yang sama bersama Kenny.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum manis. Dia benar-benar cantik hingga membuatku tidak percaya bahwa dia nyata. Betapa beruntungnya aku memiliki dia, betapa beruntungnya aku bahwa dia memilihku dari antara pria di dunia ini, dan betapa bahagianya aku memiliki dia di hidupku. Dia menggerakkan jemarinya, mengajakku bersamanya. Aku segera bangkit dan berjalan ke arahnya.
"Hai, sweetheart..." bisikku seraya memeluknya dari belakang, memeluk dari depan bukanlah ide bagus.
Kenny bersandar pada tubuhku dan kami menatap cahaya matahari sore yang mulai terbenam.
"Cantik bukan?"
"Yeah.. Sangat cantik..."
"Aku berharap kita bisa menikmati ini lagi dengan tiga bayi kita, Scout..."
Aku mencium wajahnya, "Kita akan melihatnya..."
"Aku membayangkan kau akan menggendong bayi kita nanti.."
"Kita akan menggendong mereka..." koreksiku lagi.
"Aku tidak menyangka waktu sudah berlalu sejauh ini dan kita sudah bersama hampir sepuluh tahun...."
"Yeah..."
"Kita akan punya bayi, Scout..." ucapnya dengan nada terharu, "Buah hati kita..."
"Dan kita akan membesarkan mereka bersama-sama..." Itu bukan janji, tapi lebih berupa harapan. Harapan kami di masa depan.
"Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu, Scout...."
"Aku juga, sweetheart. Berkatmu, hidupku terasa lengkap. Karenamu aku bisa merasakan betapa indahnya dicintai oleh seseorang. Karenamu, duniaku terasa lengkap dan lebih berwarna... Because of you, Kenny Sharp"
Kenny memutar tubuhnya ke arahku dan tersenyum manis. Sangat cantik dan aku tidak pernah bosan mengatakan betapa cantiknya dia. Dia membelai wajahku dengan lembut, "Aku juga. Kau segalanya untukku, Scout. Aku mencintaimu, Scout..."
"Terimakasih sudah hadir dalam hidupku. Aku mencintaimu untuk selamanya. Selamanya..."
Lalu kami saling mendekatkan wajah dan bibir kami bersentuhan. Saling berciuman dan menyalurkan cinta kami. Merasakan betapa manisnya bibirnya, betapa aku tidak akan pernah puas akan dia, aku mencintainya. Sangat mencintainya. She's everything for me.
***
Ada saat-saat yang begitu menyakitkan bagiku di dunia ini. Saat melihat Ibuku menangis di tengah malam karena direndahkan saudara-saudara Ayahku, saat aku dan orangtuaku pergi ke restoran seafood dan hanya aku yang menikmatinya karena orangtuaku tidak punya cukup uang, saat melihat orangtuaku tidak ada lagi di dunia ini, dan saat melihat Kenny kesakitan seperti yang kulihat saat ini.
Kami sedang berada di ruang persalinan bersama dokter dan perawat yang menangani Kenny. Dia berteriak kesakitan dan air mata tidak hentinya mengalir. Aku mengelus wajahnya dan mencimui wajahnya yang basah karena keringat. Aku tidak bisa mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, aku tidak sanggup mengatakannya. Aku tidak sanggup mengatakan sesuatu yang tidak bisa kuwujudkan pada Kenny. Andai saja aku bisa bertukar tempat dengannya, aku rela. Aku rela merasakan semua kesakitan itu.
"Ahk..." pekik Kenny, "Sakit, Scout... Sakit..."
"Yeah, sayang... Aku tahu. Bertahanlah untukku. Kumohon...." bisikku bagaikan mantra. Tubuhku bergetar, aku takut. Benar-benar ketakutan.
"Sir..."
Aku mengangkat kepalaku ke arah dokter, "Kita harus melakukan bedah sesar, Sir. Ada yang salah dengan salah satu posisi bayinya. Arah kepala tidak mengarah ke bawah .."
Aku tidak tau yang mereka bicarakan, "Lakukan.. Lakukan apa pun..." ucapku putus asa.
"Baik. Operasi sesar pada pasien Kenny Sharp."
"Sir, anda harus keluar dari ruangan persalinan...." ucap perawat satu.
"Okay... Kumohon berikan yang terbaik..." pintaku
Aku kembali ke arah Kenny dan mengecup keningnya. Dia menarik baju medis biru yang kupakai dan aku menatapnya.
"Katakan pada mereka bahwa mereka akan menyelamatkan bayi ini apa pun yang terjadi. Berjanjilah..." ucap Kenny dengan suara kesakitan yang tegas.
"Ken, kalian akan baik--"
dia menggeleng "Tidak... Katakan. Katakan pada dokter... Berjanjilah..." ucap Ken dengan nada memaksa.
Aku memejamkan mata dan setetes air mataku menetes ke wajah Kenny.
"Selamatkan bayinya, apa pun yang terjadi... Uta.." aku berdehem seklai karena suaraku serak, "Utamakan bayinya...." ucapku nanar tanpa melihat para dokter dan tatapanku hanya pada Kenny.
"Jangan menangis, Scout... Aku mencintaimu. Selamanya."
"Aku mencintaimu juga, Kenny... Selamanya.." aku berusaha tersenyum lalu mengecup keningnya.
"Jaga bayi kita, Scout...." bisiknya dan aku segera pergi dari ruang persalinan tanpa melihat Kenny. Aku tidak sanggup pergi dengan tetap melihatnya. Aku menutup mulutku, berusaha menahan hisakku. Air mataku semakin deras dan aku segera terjatuh ke lorong rumah sakit yang sepi.
"Scout..." suara Mr.Coin
Aku mengabaikan Mr.Coin dan aku bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin dan mulai menangis. Aku hancur. Dia akan pergi, dia tidak akan sanggup melewati kelahiran itu. Sore tadi aku menemukan dia mengalami pendarahan berat di kamar mandi. Darahnya mengalir deras. Itu mengerikan dan sangat mengerikan. Bayangan itu terus menghantuiku, membuat ingin mati saja. Aku mendekatkan wajahku dan membenamkan wajahku di sana, menekannya dengan keras dan berharap tangisku akan reda.
Lalu Mr.Coin memelukku, memberi penguatan, "Tenanglah, nak..."
"Dia tidak akan bertahan... Dia tidak akan bertahan, Coin.. Dia akan pergi.." hisakku histeris.
"Selalu ada harapan, Scout..."
Aku menggelengkan kepala. Sangat kecil bahkan hampir tidak ada. Hemoragik. Itulah kata Dr.Adele, pendarahan yang akan dirasakan Kenny karena plasentanya terpisah dari rahim. Aku merahasiakan itu dari Kenny dan menyembunyikan seolah tidak ada. Aku takut, jika Kenny mengetahuinya maka akan mempengaruhi kehamilannya dan membuat keadaannya semakin buruk. Aku berusaha membuang kengerian itu dari kepalaku. Membuang bayangan Kenny yang tidak bernapas lagi.
Aku kembali mengingat masa-masa kehamilan Kenny. Aku sangat mengacuhkannya, menganggap bayinya tidak ada, marah ke arahnya, dan hal lainnya yang membuatku menyesal. Seharusnya aku ikut bahagia dengan kehamilan Kenny, memanjakannya dengan baik, menemani dia di waktu sulit saat kehamilan, dan memberinya penghiburan. Namun, apa yang kulakukan.. Aku mengacaukannya bahkan sempat menyuruhnya untuk menggugurkan bayi itu, darah dagingku sendiri.
Hancur, tentu dia hancur saat mendengar itu. Aku membuat dia hancur. Namun, dia selalu ada di sana dan memaafkanku. Memberiku kasih sayang, memberiku kata-kata penguatan yang penuh pengharapan, memberi penghiburan padaku saat seharusnya dia yang menerima hal itu dariku, tersenyum manis dan selalu mengatakan bahwa semua akan indah pada waktunya dan semua akan baik-baik saja. Seharusnya aku mengatakan itu padanya saat dia berjuang, tapi egoku mengalahkan semuanya. Aku egois dan jahat.
"Aku menyesal... Aku menyesal, Ken... Aku menyesal..." hisakku lagi. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika hidupku tanpa dia. Namun, aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan merawat bayi itu dengan baik. Aku berjanji padanya, tapi aku tidak tahu bahwa aku sanggup melakukannya tanpa dia di sampingku.
***
Empat Tahun Kemudian
Peeta lahir lebih dahulu, diikuti Primrose, dan terakhir Katniss. Mereka anak yang sehat dan periang. Dan tentunya, sangat ribut. Cantik dan tampan. Aku tidak menyangka mereka akan tumbuh secepat ini. Mereka juag pintar dan bakat-bakat tersembunyi mulai tumbuh sejak usia tiga tahun. Mereka sangat suka musik, olahraga, ilmu pengetahuan, dan mereka sangat suka hal baru. Seperti diriku.
"Aku ingin digendong, Dad..." ucap Katniss yang menggantung dirinya di kaki kiriku, lalu Prim yang menggantung di kaki kananku, dan Peeta yang kugendong di punggungku.
"Tangan Daddy sibuk memegang ransel kalian..." Inilah drama yang kurasakan setiap menjemput mereka dari sekolah, lalu semua pandangan tertuju pada kami.
"Peeta curang.. Hanya dia yang selalu digendong..." rengek Katniss
"Siapa cepat, dia dapat... Ble.."
"Dad.. Lihat Peeta..." ucap Katniss dengan nada sebal.
"Ayolah, nak.. Bisaah kalian diam.."
"Aku ingin makan ice-cream." celoteh Prim.
"Bisakah kita pulang tanpa drama?" tanyaku lagi
"No.." ucap mereka bersamaan.
"Tentu saja...." ucapku jengkel.
"Di mana Mommy?" tanya Peeta
"Mommy tidak ada..." berapa kali harus kukatakan itu pada mereka.
"Kenapa tidak ada?"
Aku mendengus.
"Dad, Ms.Robinson meminta nomor ponselmu..." ucap Katniss.
"Yeah, dia juga meminta itu padaku." lanjut Peeta.
"Apa kalian memberikannya?" tanyaku.
"Tidak..." ucap mereka bersamaan.
"Bagus..."
Yeah, pesonaku tidak sedikit pun luntur. Semakin tua, semakin memesona. Mungkin itulah kalimat yang pas untukku. Bukan hanya Ms.Robinson, guru matematika mereka, yang meminta nomorku pada pasukanku, tapi kepala sekolah mereka, Ibu dari teman-teman mereka, dan banyak lagi. Namun, tidak ada yang cukup menarik perhatianku dan pasukanku tidak memberikan nomorku kepada siapa pun.
Aku berjalan menuju parkiran dengan kepayahan. Keringat membanjiri tubuhku karena musim panas sudah tiba. Aku menekan remot kunci mobil saat sudah dekat dan pasukanku segera berlari dengan riang.
"Yang berhasil masuk pertama ke mobil, juara satu..." teriak Peeta
"Kids.. Tas kalian!" teriakku dan tentu saja mereka mengabaikanku.
Dari kejauhan, aku bisa melihat merek sudah masuk ke dalam mobil, "Daddy... Cepat!!" teriak mereka.
Dasar anak-anak nakal dan aku segera berjalan cepat ke dalam mobil. Aku melemper tas mereka ke kursi penumpang dan segera menyalakan mesim mobil.
"Aku juara satu.." teriak Peeta.
"Yeah.. Kau bisa karena kau curang..." timpal Prim
Pertengkaran mereka lagi, "Hentikan, guys...."
"Dad?" Katniss duduk di kursi penumpang bersama Prim dan Peeta di sampingku
"Yah?" aku menutup jendela, menyalakan pendingin, dan melajukan mobil.
"Ada bunga. Untuk apa?" ucap Katniss kalem, mungkin dia yang lebih mirip denganku. Dia lebih pendiam dan penurut di banding saudaranya yang sellau ribut.
Hampir aku lupa tentang buket bunga yang kubeli tadi. Aku melirik ke arah kaca spion dan melihat Katniss dan Prim sedang memegang buket bunga, lalu kembali fokus ke jalan.
"Untuk Nenek, kakek, dan Mommy kalian..."
"Mommy?" saut Peeta
"Yeah.."
"Di mana kita menemui mereka?" tanya Prim
"Di pemakaman. Maka jaga bunga itu dengan bagus, kids... Itu bunga kesukaan mereka." ucapku.
***
MrsFox
Eh gais, sorry foto anak-anaknya gak pas. Susah cari yang pas gitu. Aku ngetiknya sambil dengar lagu 'A thousand years part 2' "Before You go' "Someone you loved' "nothing's gonna change my love' dan bikin gw mewek pas baca balik, tapi cuman mewek dan berharap semoga dapat cowok kek Scout. Berikan like, coment, love, vote, dan apapun yang mendukung aku. Lop yuh gais. Satu lagi, bagi penyuka novel fiksi pasti tau siapa Katniss,Primrose, sama Peeta. wkwkwk