Because Of You

Because Of You
Bab 19 : Ketemu Camer



SUDAH masuk hari bebas bagi anak kelas 12. Agenda terakhir adalah menunggu pengumuman dan melepas putih abu-abu yang begitu berwarna. Setelah kejadian hari itu, selama 1 minggu Arva tidak ada kabar sama sekali yang membuat sedikit cemas Amazora. Sedikit? Intinya itulah, tapi itu membuatnya tidak nyaman. Bukannya ada masalah atau apa, hanya saja Arva ingin memberi sebuah kejutan kepada Amazora.


"Va bangun oi!" teriak Rey tepat di telinga Arva.


"Apaan sih? Gangguin orang tidur aja," Jawab Arva sambil menutup telingannya dengan bantal.


"Lo gak mau ngucapin selamat?"


"Ah nanti aja, kan masih nanti acaranya."


"Yaelah nih anak. Enak ya udah bisa santai-santai?" kata Rey seraya mengambil ponsel di meja. "Yaudah yang penting nanti jangan lupa kita janjian di taman lampion." lanjutnya


"Hmm.. dah dah sana cepat pergi! Gangguin orang tidur aja!" usir Arva


Tepat pukul 10.33 Arva bangun tidur. Ia merenggangkan badan yang terlalu capek istirahat. Tidak langsung mandi ia malah mencari makanan dulu di dapur, sebab cacing perutnya sudah minta jatah dari tadi. Setelah selesai, ia kembali lagi ke kamar. Berniat bermain ponsel di kasur hingga tanpa sadar ia malah tertidur kembali.


"Eh bocah," gerutu Rey sambil menepuk jidat. "Katanya janjian jam 15.00 tapi dia sendiri masih aja molor. Kebo banget nih orang." Lanjutnya sambil mengguyur Arva .


"Panas! Ee.. panas!" teriak Arva seketika berdiri di atas Kasur.


“Hachuu.. Ah lo Kak, ada apa sih sampai guyur segalak," protes Arva sambil turun dari kasur.


"Ada apa lo bilang?" sambil menaruh kedua tanganya di dada. "Lihat jam! Sekarang jam berapa?" lanjutnya.


"Sekarang? Sekarang jam 16.45"


"Lalu?"


"Lalu lalu.. la.. Astagfirullah! Gue lupa Kak. Acaranya, aduh! Mana gue belum mandi lagi," Kata Arva panik mondar mandir mengambil pakaian dan menghilang di toilet.


"Kakak! Udah jam berapa? Gue belum siapin," teriaknya yang masih mandi.


"Kakak udah selesaiin."


"Bernarkah?" teriak Arva di balik kamar mandi "Kamu yang terbaik Kak." lanjutnya


Setelah selesai, iapun bersiap-siap dengan memakai kemeja berwarna biru, tak lupa di tekuk seperempat. Rambut yang ia basahin sedikit dan celana jeans sama sepatu dongkernya.


"Tampannya gue," Gumam Arva ketika sedang bercermin.


"Pede banget. Yaudahlah gue mau pergi dulu," Kata Rey.


"Kemana Kak?"


"Kencanlah, gue juga mau nembak Aoi. Emang yang boleh nembak orang cuman lo aja?"


Setelah semua selesai. Ia segera mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Amazora.


Disamping itu, Amazora yang sedang membantu Hana memasak untuk makan malam tidak mengetahui kalau di ponselnya ada pesan dari seseorang yang selalu membuatnya bergadang karena kepikiran. Tanpa menunggu jawaban, Arvapun melajukan mobil untuk datang ke rumah Amazora.


"Hey jomblo, gue kerumah lo sekarang." Begitulah pesan dari Arva yang tertampak dilayar ponsel Amazora.


15 menit pun sampai di depan rumah Amazora. Bel ditekan dan seseorang pun membuka.


"Ka.. ka.. kamu," kata Amazora tak percaya.


"Ibu, ayah ada?" Tanya Arva to the point.


"E.. iya.a.. ada.." tanpa basa basi Arva pun langsung masuk ke dalam dengan di ekori Amazora yang masih banyak pikiran di kepalanya hingga ia tidak sadar seseorang yang di ikutinya sedang berhenti.


BRUKK.


"Aduh.." rintih Amazora.


"Sakit?" Tanya seseorang itu diikuti berbalik dengan penuh perhatian.


"Lupakan! Apa yang kamu lakuin disini hah? Kamu tahu? Setelah hari itu kamu gak ngehubungi, berangkat sekolah aja enggak. Menemuiku saja tidak. Dan terus tiba-tiba dengan pakaian rapi kamu datang tanpa bilang-bilang. Maumu apa sih? Hah? Kamu tahu, aku sampai gak bisa tid-" dan sadar ia pun langsung menutup mulutnya. Melihat kekhawatiran Amazora, seketika membuat Arva sangat bahagia dan juga tertawa melihat cerewetnya gadis itu.


"Gini gini, ponselmu mana?"


"Apa hubungannya?" Tanya Amazora yang mulai dingin lagi.


"Jawab dulu sayangku cintaku."


"Di kamar."


"Oke, itu salahmu. Salah karena tidak memeriksa ponselmu."


“Memangnya ada ap-" belum sempat ingin ke kamar, Amazora sudah ditarik kembali oleh Arva.


"Gak usah ke kamar, sekarang aku udah disini. Ayo masuk!" perintah Arva.


***


"Assalamualaikum.."


"Waalaikum salam," Jawab Hana dan Deni serempak.


"Eh Arva datang ya, sini nak. Ayo makan bersama."


Disela acara makan malam itu, Arva secara langsung menembak Amazora dengan meminta restu orangtua Amazora terlebih dahulu. Seketika itu Amazora terbatuk dan syok tidak menyangka.


"Karena saya tahu kalau saya menembak Tya terlebih dahulu dia pasti akan menjawab tanya orangtuaku saja. Kalau dia merestui. Aku tidak masalah. Seperti itu"


"Ya kalau Amazora suka, ibu mah oke oke aja." Kata Hana.


"Kalau ayah sih selama kamu bisa jagain dan gak buat anak om sedih sih oke!" kata Deni


"Gimana?" Tanya Arva langsung ke Amazora


"Ap..apa..apanya?" Tanya Amazora merunduk tidak berani menatap Arva. Salah tingkah.


"Jawabannya. Mau?"


***


"Selamat ulang tahun sayang," Kata Arva sambil membuka bungkusan kue yang ada di depannya.


"Kamu menyiapkan semua ini?"


“Ya begitulah. Sekarang berdoalah. Buat sebuah permohonan." Selesai ritual ulang tahun. Akhirnya mereka memotong kue. Ketika kue sudah terpotong seketika Arva duduk disamping Amazora.


"Aaaa." buka mulut Arva lebar-lebar berharap Amazora menyuapinya.


"Apaan sih, makan sendiri. Malu-maluin. Udah besar masak masih disuapin."


"Emang salah ya? Minta disuapin sama pacar sendiri," kata Arva sambil mengerucutkan bibirnya yang begitu menggemaskan. Bertingkah sok jengkel iapun berdiri dan mencoba untuk kembali ke posisi awal, namun sebelum itu ia sudah disuruh Amazora untuk duduk kembali. Dan Amazorapun menyuapinya.


"Ekhenm, sudah resmi nih?" kata Rey yang tiba-tiba sudah ada disana.


"Ah ganggu susasana aja lo mah. Pergi sana, gak ada tempat lain apa?" kata Arva jengkel.


"Hellow, disini gue tuh cuman mau ngerayain ulta Ama doank kok," Kata Aoi ikut-ikutan


"Lah kami juga. Jadi cukup kita berdu- aduh." rintih Arva ketika diinjak oleh Amazora.


"Iya sini gabung aja," Kata Amazora.


"Tuh dengar," Kata Rey sambil menjulurkan lidah ke Arva.


Pukul 21.00 Arva mengantar pulang Amazora dan berpamitan untuk langsung pulang ke rumah. Sesampainya di kamar, ia mulai mengingat lagi kenangan-kenangan bersama Arva tadi.


"Ikut aku." Tarik Arva meninggalkan Rey dan Aoi.


“Kemana?" tanpa ada balasan.


Sesampainya disana, Amazora begitu terkagum dengan sebuah tempat yang dihias dengan berbagai balon dan beberapa surat yang tergantung disana. Jelaslah isinya surat cinta. Amazora membaca setiap kata-kata yang tergores disana. Tersipu malu, senyum-senyum sendiri hingga rasanya ingin meledak. Begitu romantis dengan suasana malam dan lampu-lampu hias berbentuk hati yang menerangi mereka.


KRING.. KRING..


Suara bel sepeda yang dibawa Arva.


"Naik tuan putri? Ini adalah kesukaanmu kan?" dan mengisyaratkan Amazora untuk naik dibelakang-sepeda 2 dalam 1- dan Amazora pun naik. Mengelilingi taman dengan bergurau canda bersama. Hingga tanpa sadar rerintik hujan pun tiba-tiba turun. Dengan sigap, Arva langsung memayungi Amazora dengan jaketnya yang sedarin tadi ada di pinggang.


Begitu dekat jarak antara mereka. Degupan jantung serasa terdengar satu sama lain. Canggung. Dan hujan deraspun menyadarkan mereka untuk berteduh menerobos hujan bersama dengan berlarian.


Suara ponsel terdengar membuyarkan pemikiran Amazora. My love. Tertera disana dan sudah buka si bermasalah. Di bukalah pesan itu.


My Love


Tya, kamu mau gak?


yang seketika membuat gadis itu mengeryitkan dahi.


Mine


Maksudnya?


My Love


Mau gak?


Mine


Emang kamu mau ngasih apa?


My Love


Sisa hidupku.


Eaksss


Gombal ya.. tapi lumayalah


udah keren banget.


Spam Arva yang seketika membuat gadis itu tersenyum-senyum gak jelas.


My Love


Hey balas donk!


Jangan cuman di read.


Mau gak?


Mine


Emang sisa umurmu tinggal berapa?


My Love


Astaga, baru kusadari..


Mine


Apa?


My Love


Kalau kamu itu bodoh.


Mine


Kalau tahu aku bodoh, kenapa kamu mau pacaran dengan orang bodoh?


My Love


Karena aku lebih bodoh :*