Because Of You

Because Of You
Rujuk?



Happy Reading for my beloved readers


****


Kenny POV


"Scout..." bisikku dan angin musim panas terembus menerbangkan rambutku kebelakang, diikuti wangi tubuh Scout yang khas dan sangat kukenal jelas. Apa aku perlu berlari dan memeluknya secara dramatis? Apa? Seseorang beri aku saran!!


Scout melangkah kaki ke arahku dan jantungku berdegup kencang. Sial. Apa dia akan menciumku? Dia akan menciumku!! Scoutku yang nakal.....


"Scout!!" teriak seorang wanita dan suara itu bukan suaraku, tapi seorang wanita yang datang ke arah Scout. Jarakku dengan Scout hanya sekitar lima langkah lagi, sangat dekat. Hingga aku bisa melihat wajah wanita itu dan Scout.


Wanita itu menggandeng tangan Scout bagaikan seorang kekasih. Dia bergelayut dengan manja.


"Oh my dear.. Aku mencarimu sedari tadi..."


"Megan..."


Aku menairk napas dengan tidak percaya. Sial. Kupikir... Kupikir... Ahk!! Persetan. Sialan. Aku segera melangkah menjauhi mereka dan setengah berlari. Sialan. Aku berpikir dia akan menciumku! Betapa memalukannya.


Aku semakin jauh dari mereka dan memasuki ruangan yang penuh dengan lampu. Aku mencari lift dan segera masuk setelah terbuka. Aku masuk dan bersyukur bahwa aku sendirian. Aku melihat pantulan diriku di lift dan merasa malu.. Aku... Entah kenapa aku ingin menangis. Tubuhku meluncur ke lantai lift dan duduk di sana. Menyesali sesuatu yang tidak kumengerti.


Kenapa begini?! Kupikir aku sudah bisa mengatasi semua ini?! Kupikir aku sudah melupakannya dengan sangat bagus?! Ternyata.. Ternyata aku hanya pura-pura melupakannya. Aku masih mencintainya. Masih mencintainya setelah dua tahunku yang menyedihkan. Dan dia, Scout, sudah bisa mengatasi dirinya sendiri dan menemukan wanita lain.


Dan aku?! Aku masih tetap hidup dalam lingkaran masa laluku dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Bahwa aku sudah bisa mengatasi masa laluku dan perasaanku padanya. Hatiku sakit. Megan... Aku ingat nama wanita itu. Megan... Nama itu berputar terus di kepalaku dan membayangkan apa yang di miliki wanita itu sehingga Scout jatuh hati padanya.


Bunyi 'TING' terdengar. Aku berusaha bangun, tapi gaun sialan ini tidak mau bekerja sama denganku sehingga aku kesulitan berdiri. Ouh!!! Tanggal berapa sekarang? Kenapa hari ini penuh kesialan!


"Butuh bantuan, young Lady?"


Aku mengangkat kepalaku dan menatap Scout di depanku. Napasnya memburu dengan cepat, keringat membasahi dahi dan pelipisnya, lalu wajahnya memerah. Dia berlari? Untuk apa? Lalu, tiba-tiba pintu lift tertutup dan membuatku panik saat melihat tangan Scout terjepit di sana. Lalu pintu terbuka lagi, dia segera masuk bersamaku.


"Nyaris saja... Kemairlah.." Lalu Scout menarik tanganku untuk bisa berdiri lagi. Saat berdiri, aku terhuyung karena mataku berkunang-kunang dan pusing.


"Whoa.. Kau okay?"


Aku mengangguk seraya mengarahkan jemariku pertanda aku 'OK'. Aku memijit pelipisku dan berusaha menyesuaikan penglihatanku.


"Hai..." ucap Scout lagi setelah merasa bahwa aku baikan. Mata kami tidak sengaja bertemu di dinding lift dan aku segera mengalihkan pandanganku


"Hallo.." ucapku malu-malu.


Kenny Cullens malu-malu di usia 30 tahun?! Bagus.. Bagus..


"Darah rendah yah?"


"Begitulah... Kau berkeringat sekali..." ucapku canggung. Kami berdua canggung!!


"Ken..." Oh My, demi apa pun, aku sangat menyukai dia memanggilku dengan penggalan namaku.


"Yah?"


"Aku ingin bicara denganmu..." itu perintah dan bukan ajakan. Ohhh.. Si gila control segala hal datang lagi. Aku memutar mataku memikirkannya.


"Bicara?"


"Yah..." aku mengangkat kepalaku dan mataku bertemu lagi dengannya di dinding lift. Tatapannya tajam dan sangat panas.. Aku sempat terlena dan segera mengatasinya.


"Kau memiliki pesta..."


Dia memutar matanya, "Pesta? Yang benar saja. kau pikir aku menikmatinya?" dengusnya. Ahk! Kenapa kami berdebat?


"Terlepas dari kau menikmatinya atau tidak, kau adalah tuan rumah, Mr.Sharp."


"Aku berhak dan bebas untuk pergi ke mana saja. Persetan dengan pesta itu."


Aku memutuskan tatapan kami, "Teman kencanmu pasti menunggu mu..." ucapku dan berusaha menjaga nadaku agar terdengar biasa saja.


Suara kekehan Scout terdengar dan membuatku mengarahkan pandangan ke arahnya,"Excuse me, Sir. Ada yang lucu?" ucapku dengan nada kesal.


Dia memutar tubuhnya ke arahku, "Sir? Sejak kapan kau berubah lebih sopan?" Scout membuka jas miliknya dan menatapku dengan senyum miringnya. Dia mejatuhkan jas itu ke lantai


"Di sini sangat panas. Musim panas sangat menyebalkan bukan?" dia berjalan mendekat dan menggulung lengan kemeja putihnya, "Kau tidak kepanasan, Ken?"


"Jaga jarak. Tolong." ucapku tegas dan mengarahkan jari telunjukku padanya.


Dia berhenti dan memiringkan kepalanya, "Aku selalu kepanasan saat bersamamu, bahkan saat musim dingin yang sangat dingin.." dia tersenyum miring dan membuat wajahku memerah. Kemana percakapan ini di bawa?


Dia sangat.. Nakal.


TING


"Selamat tinggal, Mr.Scout." ucapku segera dan berjalan ke luar dari lift. Aku berjalan di lobi dan merasa senang mengetahui bahwa Scout mengikutiku.


Aku segera di cegat Scout dengan dia berdiri di depanku, "Mau makan malam? Aku tau restoran enak di sini.."


Aku tersenyum kecil dan kupu-kupu menggelitik perutku. Uh, kenapa aku sebahagia ini?


"Kumohon, Ken..." ucapnya lagi.


"Baiklah.. Ucapan terima kasihku atas bantuanmu tadi..."


Dia tersenyum senang dan aku pikir aku bisa pingsan!


***


"Jadi, bagaimana dengan London?" tanya Scout padaku saat kami menyelesaikan makan kami


Aku menelan suapan terakhir makanan penutupku, "London? Tidak buruk.."


"Tidak buruk, yah?" Scout meminum wine miliknya.


"Bagaimana dengan New York?"


"Membosankan.."


"Bahkan dengan adanya Megan?" ucapku spontan dan aku menyesalinya. Ouh!!


"Megan?"


"Yeah... Kau tau, wanita yang tadi... Kau mengucapkan namanya. Jadi.. Jadi... Kau tau maksudku, bukan?" ucapku salah tingkah dan wajahku memanas.


"Dia bukan pacarku, kekasih, atau apa pun. Dia hanya teman."


"Teman? Kau ternyatsa bisa berteman..."


"Teman bisnis..."


Tentu saja Scout hanya memiliki definisi 'teman' seperti, tapi itu sangat melegakan untukku. Syukurlah hanya teman. Kupikir aku akan tidur dengan tenang malam ini.


"Bagaimana denganmu, Ken?"


"Tentang?" aku menyesap anggur milikku saat Scout tidak henti-hentinya mengisi gelasku. Jujur, ini anggur yang enak dan membuatku ketagihan. Bisa kupastikan harganya lebih mahal dari uang sewa rumahku tiga bulan.


Scout berpose sangat tegas saat ini. Dia bersandar di kursi dan tatapannya snagat tajam. Si bossy sialan.


"Kau penasaran?" aku berucap dengan nada menggoda saat merasakan efek alkohol mulai menguasai diriku. Aku menggeleng kepala, berusaha membuatku tetap sadar.


"Yah.." dia mengisi gelasku lagi.


Aku menggeleng, "Aku sudah mabuk..." Dan, seperti biasa si bossy sialan itu tidak mendengarku.


"Katakan.."


"Katakan." ucapku meniru-niru gaya bahasa Scout, "Jangan memerintahku, Sharp." aku mengambil gelasku dan langsung menegaknnya rakus.


"Kau mabuk."


"Aku punya Jacob..."


****


Scout POV


Aku menatap wajah Kenny yang sudah memerah. Dia mabuk dan itu memang tujuanku. Aku... Sial. Aku tau yang kulakukan ini licik dan hina, hanya saja aku tidak tahan. Kau tau rasanya menginginkan sesuatu dan akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya? Kau tau, bukan? Begitulah denganku saat ini. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, terutama saat dia berusaha menentangku dan mendebatku. Dia sangat sulit di atur sejak dulu dan itu membuatku semakin bergairah akannya. Oh astaga... Sial! Aku menjebaknya. Aku b*jingan kurang ajar.


"Aku punya Jacob.." ucapnya dengan santai dan mata kami bertemu. Pemilihan katanya sangat menggangguku, itu sangat posesif. 'Punya'. Yah, kata itu sangat posesif.


"Kau punya Jacob?" aku menahan gemuruh amarah dan cemburu dalam hatiku. Dan aku juga menahan diriku agar tidak menggendong Kenny saat ini juga dan menghabiskan malam yang keras,panas, penuh keringat, dan penuh teriakan bersamanya di kamarku.


"Cemburu, Mr.Sharp?" dia tersenyum menantang padaku dan dia menopang dagunya,  menampakkan belahan dadanya yang mengintip dengan manis. Shit! Bahkan itu hanya belahan dada kecil. Kecil, tapi pas dalam genggamanku. Aku menggerak-gerakkan jemariku, memyangkan miliknya di genggamanku. SIla, halusiasilah yang membuatku mabuk dan bukan alkohol.


"Yah.." bisikku dan menyesap anggur milikku.


Lalu dia menepuk tangannya sekali seraya tertawa kecil, "Scout Sharp cemburu... Aku mantan isterimu. Kau belum bisa melupakanku, Scout?"


Aku menggeleng dan tetap memandangnya dengan tatapan datar. Namun, walaupun begitu, aku mengepalkan tanganku keras. Menahan gejolak dalam diriku. Karena, jika aku tidak bisa menahannya, aku akan bercinta dengannya di private rooom ini dengan keras.


"Sudah kuduga..." dia bersandar di kursi dan menghilangkan kesempatanku menatap belahan dadanya. Hah?! Sialan Scout?! Apa aku sekarang berubah menajadi pengintip?


"Apa hubunganmu dengan Jacob?"


"Uhm.. Dia menyukaiku dan aku melarangnya karena usia kami berbeda sangat jauh.."


"Jika usia kalian tidak berbeda jauh?"


Dia terdiam sejenak dan menggigit bibir bawahnya. Badanku bergetar. Aku ingin mengigit itu.


"Mungkin."


Lalu perkataannya membuat hatiku hancur. Kenny memiliki perasaan padanya. Sial, sudah kuduga.


"Kau menyukainya?" bisikku dan nada hancur dalam suaraku tidak bisa kusembunyikan.


"Yah, Scout..."


Aku memejamkan mata. Yah, ini tiketku mundur saat ini juga.


"Tapi tidak mencintainya..." ucap Kenny dengan nada sendu, 'Aku mencintai pria lain."


Ada pria lain lagi?! Siapa pria br*sek itu?!


"Kau mau memberi tahuku?"


Dia menggeleng,"Mungkin, dia tidak menyukaiku..."


"Siapa pria kurang ajar itu? Akan kuberi pelajaran..." ucapku berusaha menghiburnya walau aku juga perlu dihibur. Oh.. Aku tidak tahan mendengar nada sedihnya. Aku ingin melindungi dan membuat dia bahagia.


Kenny terkekeh, "Kau tidak bisa menghajarnya, Scout.."


"Apa yang tidak bisa kulakukan untukmu, Ken?"


"Yah.. Yah.. Tuan yang serba bisa..."


Dan hening melingkupi kami.


Lalu secara mengejutkan, Kenny turun dari tempat duduknya dan berlutut di depanku, "Apa yang kau lakukan?"


"Tetap di kursimu, Scout. Kumohon..." Sial, apa yang dia lakukan?


"Maafkan aku."


"Apa?" sautku.


"Maafkan aku, Scout. Maafkan semua kesalahanku. Maaf karena menghianatimu dahulu. Maaf menuduhmu. Aku juga meminta maaf atas kematian orangtuamu, Scout. Maaf. Maaf. Maaf...." dia terus berucap maaf seraya menangis dan membuatku panik.


Aku segera berlutut di depanya dan segera memeluk tubuhnya. Aku memeluknya sangat keras dan membuat dia menangis lagi dan lagi. Aku mengelus rambut dan menepuk punggungnya, berusaha menenangkannya. Oh, Kenny-ku yang cengeng.


"Maafkan aku, Scout.. Maafkan aku..." dia terus berucap seperti itu dan aku tidak berusaha menghentikannya. Aku hanya tetap memeluk dan mengelus kepalanya, menenangkannya hingga dia puas dengan segela emosinya.


"It's okay.. It's okay.."


Aku terus melakukan hal yang sama padanya. Tidak kusangka dia menyimpan luka itu sendiri. Kupikri dia melupakan semuanya. Aku bisa merasakan secara jelas emosi dan rasa bersalah kenny. Dia memendamnya sendiri selama ini. Astaga, Ken.. Inilah alasanku dulu tidak memberitahu rahasia di balik kematian orangtuaku. Aku tidak ingin Kenny merasakan beban rasa bersalah padahal bukan dia pelakunya. Aku selalu ingin memberikan dia yang terbaik, tapi aku gagal dan membawa dia dalam masalah yang hampir mencabut nyawanya.


Aku pun menyimpan rasa bersalah yang tidak berujung padanya. Aku dulu sangat jahat padanya, menyiksanya hanya untuk memuaskan amarahku atas kematian orangtuaku, dan banyak hal lagi. Kupikir kami tidak cocok karena kami saling menyakiti satu sama lain, tapi entah kenapa saat memeluknya seperti ini... Aku seolah bisa menenangkannya dan aku merasa tenang saat memeluknya seolah kami sumber dari penyakit dan sumber obatnya juga.


Apakah kami bisa memulai lagi?


"Scout..." bisik Kenny dan dia sudah berhenti menangis. Dia sesegukan, wajah memerah, dan dia benar-benar hancur.


"yah, sayang..." bisikku..


"Maafkan aku."


"Yah, aku memaafkanmu."


"Terima kasih, Scout..."


"Maafkan aku juga...."


Dia menatapku lekat dan dengan perlahan aku mengarahkan bibirku ke bibirnya. Menciumnya dengan lembut. Aku menumpahkan segala emosiku di ciuman itu dan begitu juga dengan Kenny. Ciuman itu awalnya lembut, lalu semakin lama, ciuman itu semakin dalam. Aku mengelus lekuk badannya dan Kenny meremas rambutku


Bibirnya yang berpadu dengan anggur terasa sangat manis. Aku semakin candu dan menggigit bibir bawahnya yang membuat Kenny melenguh keras. Sial, ini bukan tempat yang pas. Aku segera melepas ciuman kami dan Kenny menatap bingung dengan napas memburu


"Menginap..." ucapku terengah-engah, "Menginaplah di tempatku malam ini, Ken... Kumohon.."


Ken segera menarik kepalaku dan menciumku lagi sebagai jawabannya.


***


MrsFox


SPOILER. Ini bakal gk sampe episode 75. Mungkin kurang dari situ. Kebanyakan konflik emang salah. Tunggu ajah yah, lalu tunggu karya aku selanjutnya. Mungkin kisah cinta Haary ato Lolita ato Jacob. Antara itu dah... Jadi tunggu ajah yah. Berikan like, koment, love, bintang, dan apa pun yang bisa mendukung saya. Lopyuh so badly gaiss..