Because Of You

Because Of You
Truth or Dare? (21+)



Happy Reading


 


****


Scout POV


"Kau curang...." ucap Kenny terengah-engah dan menggantungkan badannya pada pinggiran kolam.


Aku terkekeh dan segera naik dari kolam, "Aku bermain jujur...."


"Kau berenang sebelum hitungan ketiga..." ujarnya jengkel dan bergerak naik.


"Aku berenang tepat pada hitungan ketiga...."


"Whatever..." dia berjalan melewatiku.


"Sepertinya ada yang tidak suka dengan kekalahan..."


Dia memutar tubuhnya, "Excuse me, sir?"


"Kau mendengarku dengan jelas, Mam.."


Dia berjalan ke arahku seraya membuka ikatan tali bra bikininya, "Mau bermain sesuatu yang lebih seru, Mr.Sharp?"


Aku menarik napas dan berusaha fokus pada wajah Kenny dan bukan ke dadanya yang manis, "Sure.. Aku suka bermain karena aku terbiasa menang..."


Dia sudah berdiri di depanku dan kulit kami bersentuhan. Daging kenyal itu menempel padaku dan membuat napasku tercekat. Dia memegang kedua bahuku dan berjinjit,"Aku menantangmu seberapa lama kau bisa menahan gairahmu?" bisiknya di telingaku.


"Oh my... Milikmu bahkan sudah menusukku sebelum game di mulai..." bisiknya lagi seraya menjilat telingaku.


"Ken... " aku menjauhkan tubuhnya, "Permainan selesai dan pakai kembali bra mu..."


"Kau kalah..." dia tersenyum dan memutik branya seraya berjalan kembali ke villa.


"Kita tidak memulai permainan apa pun..."


"Sepertinya ada yang tidak suka dengan kekalahan..." ucapnya meniru gaya bicaraku lalu membalikkan badannya padaku, "Dan yah Mr.Sharp, kau harus terbiasa kalah..."


Aku mendengus kesal dengan ucapannya yang mengolok-olokku.


"Whatever.." dengusku dan berjalan masuk mengikuti dia.


Aku masuk ke dalam vila dan melihatnya berbaring di sofa seraya menonton TV. Dan yah, dia telanjang dada. Bukannya aku tidak suka, hanya saja itu menggangguku. Aku bisa saja menerkamannya saat ini juga, tapi tidak setelah dia mempermainkanku.


Aku berjalan menuju lemari dan mengganti celanaku yang basah dengan celana kering lalu berjalan keluar kamar. Aku pergi ke dapur dan mengambil minuman keras serta gelas kecil. Aku kembali ke kamar dan menaruh bawaanku tadi ke meja di depan Kenny. Aku mencari remot TV dan segera mematikan TV


"What the hell?!" ucap Kenny setengah berteriak seraya mengambil posisi duduk. Aku segera duduk di sofa seberangnya lalu menuang minuman itu ke gelas tadi.


"Truth or dare..." ucapku.


"Aku tidak mau memainkannya..." dia segera berbaring di sofa, "kembalikan remotenya..."


"Takut kalah, Mam?"


"Aku tidak akan terpancing omonganmu."


"Jelas kau takut kalah... Baiklah.. Baiklah, aku paham akan sikapmu yang seperti itu..."


Dia kembali duduk, "Menyebalkan... Akan kuturuti keinginanmu hanya saja tidak ada kata menang dan kalah dalam permainan ini..."


"Tentu ada... Jika kau tidak bisa melakukan keinginan dari lawan, kau harus minum alkohol ini dan poin kalahmu bertambah satu..."


Dia menggigit bibirnya dan menunduk, berusaha menggodaku, "Dan yah, kuharap kau memakai sesuatu. Buah dadamu bisa masuk angin..."


"What?! yang benar saja... Di mana-mana, perutlah yang masuk angin dan bukan dada, Tuan sok tau.." gerutunya dan tetap bangkit berdiri, lalu kembali dengan kaos putih milikku di tubuhnya. Jujur, dia terlihat keren dalam pakaianku.


"Truth or dare?" tanyaku.


"Aku tidak mau yang pertama untuk ditanyai." dia melipat tangan di dadanya dan duduk bersandar pada sofa dengan gaya Bossy-nya.


"Okay... Ladies first.." aku bersandar dan Kenny senyum sumringah yang sangat manis.


"Truth or dare?"


"Truth.."


"Siapa wanita pertama yang kau tiduri?"


"Jenn... Jennifer." ucapku langsung, tanpa ragu-ragu. Wajahnya segera berubah kesal.


"Apa? Dia? Kapan?"


"Hanya satu pertanyaan Mrs.Sharp.. Kau menyuruhku jujur dan aku melakukannya untukmu. Giliranku. Truth or dare..."


"Dare..." ucapnya dan aku segera tersenyum miring.


"Cium kejantananku..." bisikku dan dia segera membelalakkan matanya.


"Aku... Um.. Itu diluar kemampuanku.." ucapnya dan segera meminum alkohol tadi dengan cepat lalu mengisinya kembali. Yeah, aku sudah menduganya akan menolak. Kenny terlampau polos dan penakut untuk hal baru.


"Satu poin untuuku dan kosong untukmu.." ucapku.


"Giliranku, truth or dare?"


"Dare..."


Dia terdiam sebentar dan menggaruk tekuknya dengan gugup. Wajahnya berubah merah, "Cium kewanitaanku..."


Aku tersenyum miring. Dia suka dimanjakan olehku, tapi tidak mau memanjakanku. Sangat serakah, Mrs.Sharp, "1-1" ucapku dan segera meminum alkohol tadi. Aku kembali mengisi gelas dan melihat wajah cemberutnya. Astaga, sejujurnya aku ingin mencium, menampar pantat, dan membuat dia berteriak keras hingga kehabisan napas, tapi aku harus pintar tarik ulur.


"Truth.." ucap Kenny sebelum kutanyai. Aku segera tersenyum karena seseorang sedang kesal dan itu Kenny.


"Gaya bercinta apa yang kau suka dariku?"


Dia menggigit bibirnya dan wajahnya memerah kembali. Dan warna semu merah itu semakin manis karena efek alkohol yang dia minum, "Saat mencium kewanitaanku.." bisiknya pelan dan malu-malu.


"Aku tidak mendengarmu. Bisa kau ulangi dengan suara keras nan lantang?" ucapku dengan nada menggoda. Aku jelas mendengarnya dan itu mengirim getaran gairah padaku bahkan hanya dalam ucapan. Melihat dia mengalihkan pandangan malu-malu membuatku ingin segera menidurinya.


"Lanjut..." dengusnya kesal dan aku terkekeh, "Truth or dare?"


"Truth..."


"Siapa cinta pertamamu?"


Jenis pertanyaan apa itu? Oh, Ken... Kenapa dia menyia-nyiakan kesempatan bertanyanya dengan pertanyaan konyol.


"2-1" aku kembali meminum alkohol.


"Kau tidak mau memberitahuku?" ucap Kenny penuh ketidakpercayaan.


"Truth or dare?" ucapku dan mengacuhkan pertanyaannya.


"Dare..." ujarnya kesal.


"Cium kejantananku..." ucapku santai dengan nada malas.


"Kau tidak bisa mengulang hal yang sama..."


"Cium atau alkohol.." pilih cium Ken. Kumohon demi apa pun. Aku ingin milikku memenuhi mulutnya yang cerewet. Ayolah, Ken...


"2-2." ucapnya kesal dan meminum alkohol. Aku mendengus kesal.


"Kenapa kau tidak mau? Itu tidak seburuk yang kau bayangkan..." ucapku kesal.


"Kau dilarang bertanya karena ini giliranku. Truth or dare?"


"Truth..."


"Ini pertanyaan yang mudah dan kuharap kau menjawabnya. Di usia berapa kau bercinta dengan Jenn?"


Lagi-lagi Jenn., "Aku 16 dan dia 15.." ucapku acuh.


"16 dan 15?!"


"Truth or dare..."


"Kita harus melakukan sekali lagi, agar mengetahui siapa pemenangnya..."


"Whatever." dia segera menutup pintu kamar mandi dengan keras. Aku memutar mataku dan meneguk alkohol. Dasar wanita pecemburu.


Aku segera bangkit dan mengikuti dia ke kamar mandi. Aku masuk ke dalam kamar mandi seraya melepas celanaku. Aku mendengar bunyi shower dan masuk semakin dalam ke kamar mandi. Aku melihat dia yang diguyur air shower. Aku memeluk perutnya dari belakang.


"Kau cemburu?"


"Tidak..." Jelas dia cemburu. Dari nada bicaranya yang kesal dan ketus sudah nampak jelas. Itu membuatku senang. Begini rasanya melihat dia cemburu.


"Jangan marah, itu hanya masa lalu..." bisikku dan mulai menggerakkan tanganku ke lekuk tubuhnya.


"Aku tidak marah...."


"Kalau begitu, kenapa kau tidak mau melanjutkan permainan tadi?" aku meremas dadanya dan mengindari menyentuh pucuk dadanya, menolak memberi dia kepuasan.


"Kalau begitu lanjutkan..."


Bagus....


"Truth or dare?" bisikku dengan tanganku tetap menyentuh tubuhnya.


"Dare..."bisiknya.


"Puaskan aku.."


Kenny segera memutar tubuhnya padaku, dia mengangkat kepalanya untuk menatapku, "Baiklah..."


Dia mencium bibirku dan aku membalasnya. Di bawah aliran alir, Kenny perlahan turun ke bawah seraya menciumi badanku bahkan menghisapnya, memberi tanda seperti yang aku lakukan. Lalu dia turun semkain badah dan menyadari bahw dia akan melakukannya.. Aku menatapnya yang tampak ragu saat di depan milikku yang tegang. Dia melihat ke arahku, takut. Aku bingung apa yang dia takutkan.


"Jangan takut dan lakukan, Ken..." ucapku setengah memaksa dan setangah memohon.


Perlahan, dia memasukkan itu ke dalam mulutnya dan aku segera melenguh tertahan. badanku bergetar saat mulut itu bergerak malu-malu. Sial. Aku segera mengarahkan kedua tanganku ke dinding, menahan tubuhku. Kenny menggulum itu dengan mulut dan sisanya dengan tangan.


"Ahk..Kenn.. Yah.. Yah.. Begitu sayang... Begitu..." desahku. Kakiku bergetar dan menahan tubuhku agar tidaak roboh.


Dia menghisap, menjilat, dan melakukan apa pun dengan mulut polosnya. Sial, mulutnya sangat manis. Tubuhku semakin bergetar dan bergetar, pertanda puncakku akan datang dan aku tidak mau keluar dalam mulutnya. Aku segera menarik kenny untuk bediri dan mendorongnya ke dinding. Dia mengalungkan kakinya ke pinggulku dan aku bergerak masuk, mengisi dirinya dengan paksa dan keras. Aku mendorong dengan keras dan cepat seraya menunduk mengisap dadanya.


"Scout!" pekik Kenny saat gerakanku semakin menggila, "Ahk! Ahk! Ahk!" Kenny semakin berteriak keras dan membuatku semakin semangat.


"Sebut namaku! Sebut namaku!" aku menghisap lehernya keras.


"Scout! Scout!...." Aku mendorong semakin gila dan pelepasan itu segera menghampiri kami. Napasku dan napasnya terengah-engah. Kenny menyandarkan kepalanya pada bahuku dan aku menahan bobot agar tidak ambruk ke lantai.


Saat tenagaku pulih, aku mengangkat dia ke bath-up. Mengisi air hangat dan segera bergabung dengannya. Dia duduk bersandar pada tubuhku di antara kakiku. Dan tentunya, tanganku bergerak nakal si sekujur tubuhnya yang licin karen sabun di bath-up.


"Aku tidak pernah mendengar kabar Jenn lagi. Di mana dia?"


"Penjara khusus orang sakit jiwa..."


"Apa hubungannya dengan Edward?"


Aku memutar mataku, rasa penasarannya lagi dan lagi. Akhirnya aku menarik napas, terakhir kali kami bertengkar karena rahasia dan membuat kami bercerai. Aku tidak mau hal itu terjadi karena aku sudah belajar dari pengalaman.


"Edward seorang guy dan ajaibnya Jenn memiliki video dia bersetubuh dengan pacar prianya. Dan ajaibnya lagi, Edward pemilik studio tempat kau dulu belajar. Singkatnya, Jenn mengancam Edward dengan video itu dan bla... bla..bla. Tamat."


Kuharap dia paham dengan cerita singkatku karena dia hanya diam saja.


"Jenn wanita yang tidak terduga..." ujarnya akhirnya.


"Bisakah kita berhenti membahas orang lain. Mari fokus ke diri kita sendiri..."


Ken terkekeh, "Aku ingin memiliki bayi, Scout. Bayi bersama dirimu."


"Tentu, kita bisa membuat bayi yang banyak untuk mu dan untukku."


Kenny tertawa lagi, "Kau pikir membuat bayi itu gampang seperti menepuk tangan..."


"Memang tidak segampang menepuk tnagan, tapi jauh lebih nikmat.." bisikku.


"Dasar nakal.. Berapa anak yang kau inginkan?"


"Tererah dirimu karena kau yang memiliki tubuhmu saat hamil anak kita."


"Kupikir dua sudah cukup.."


"Dua atau dua belas, terserah padamu. Aku dengan sennag hati membantumu membuatnya."


Kenny memukul pahaku yang di dalam air, "Dasar nakal..."


Lalu hening sejenak,


"Kau menolak menjawab pertanyaanku tadi..."


"Pertanyaan yang mana?"


"Cinta pertama..." bisiknya dan aku memutar mataku.


"Itu sangat menggelikan untuk di jawab. Bahas yang lain saja..."


Kenny mendengus kesal dan diam sejenak sebelum akhirnya berbicara kembali.


"Omong-omong, aku menang permainan tadi. Jadi apa hadiahnya untukku?"


"Aku..."


Dia memutar wajahnya ke arahku, "Apa?"


"Aku hadiahnya. Kau bisa melakukan apa pun yang kau suka dengan tubuhku."


"Apa pun?"


"Yah. Apa pun..."


"Aku ingin melakukannya di sini...'


"Melakukan apa?" Kenny segera menjawab pertanyaanku dengan membalikkan badannya dan duduk mengangkangiku.


"Aku ingin melakukannya di sini..." bisik Ken dan aku tersenyum gembira. Sial, sejak kapan dia berubah nakal dan seliar ini.


"Do it.." bisikku dan dia mulai bergerak di dalam air, menyesuaikan miliknya dengan milikku. Aku memegang pinggulnya, membantu dia memasukkan milikku.


"Oh my..." bisik Kenny saat itu memenuhi dirinya, "Terasa penuh..." bisiknya lagi.


"Bergeraklah. Kau yang memimpin..."


"Dan kau dilarang ikut bergerak..."


"Okay.." bisikku


Kenny memegang pinggiran bath-up dengan kedua tangannya dan mulai bergerak ke depan dan ke belakang. Aku menarik napas dan menahan diri tidak ikut bergerak. Dia memutar pinggulnya perlahan, berusaha memasukkan lebih dalam.


"Ken..." bisikku tertahan saat dia bergerak dengan lambat, "Percepat..."


Kenny mulai bergerak maju-mundur dengan cepat. Air dalam bath-up bergerak mengikuti getaran Kenny. Aku melihat dada Kenny yang bergerak mengikuti gerakannya yang menggoda dan aku segera meremas serta menghisapnya. Sial. Aku tidak akan pernah puas dengan Kenny. Aku selalu haus dan haus akan sentuhannya. Kenny memeluk kepalaku dan aku menghisap semakin dalam dengan dia bergerak semakin cepat dan cepat.


"Bagus,Ken.. Bagus.. Sayang..." bisikku.


"Ahk... Ahk. Ahk..." desahannya membuatku semakin gila. Gerakkannya melambat karena kelelahan dan aku segera mengarahkan tanganku ke pinggulnya, membantunya bergerak. Aku memutar pinggulku, berusaha mempercepat permainan ini seraya membantu Kenny bergerak.


"Yah... yah.. Oh my.. Kau begitu nikmat... Sial..." aku terus mendesah dan kami menggila dan terus menggila hingga kami menemukan pelepasan kami. Ini sangat luar biasa. Sangat hebat.


"Kau cinta pertamaku, Ken.." bisikku di tengah deru napas kami.


***


MrsFox


gimana"? Gila. Aku gemetaran waktu ngetik ini -,- Emang parah sih, tapi ini kan atas saran kalian juga yah wkwk. Keknya adegan uwunya cukup segini ajah yah, udah dimasukin juga beberapa adegan yang kalian mau. Beri vote, like, koment, dan love, dan apa pun untuk mendukut aku gais. Lop yuh gais..