
"Katanya nggak jauh".
"Lah, emang nggak jauh. Ayo".
Panji meraih tangan Kara. Menariknya masuk kedalam restoran.
Kara melihat genggaman itu. Ia menelan ludahnya susah payah. Mengikut. Badannya berangsur kaku sekarang.
"Ih kok gue malah deg degan sih".
"Emmm. Lepas". Ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
Panji pura-pura tidak mendengar ia tetap berjalan sambil tersenyum tipis menuju salah satu meja yang berada dipojok dekat dengan jendela. Ia tau betul Kara menyukai tempat seperti ini. Makan sambil menatap keluar, jalan raya yang dipenuhi oleh mobil maupun motor yang berlalu lalang. Hahaha ia merasa tidak sia-sia memperhatikan Kara secara diam-diam selama ini.
"Duduk".
Hufff Kara bernapas lega ketika Panji melepas genggamannya, ia menatap sekitar. Beberapa pengunjung melihat kearah mereka. Bukan, pasti melihat Panji, apalagi pria itu masih mengenakan seragam sekolah. Ia akui Panji memang tampan sekaligus hmmm menyebalkan, itulah sebabnya ia tak suka dengan pria ini.
Astaga. Kara mengingat satu hal penting. "Jam 12 gue harus balik". Hampir saja ia melupakan Steven yang akan menjemputnya. Ia harus pulang lebih awal agar ada jeda saat dirumah. Ah ya, Dan juga agar Steven tidak melihat Panji yang sedang bersamanya.
Panji yang baru saja memilih makanan langsung mengalihkan pandangannya pada Kara.
"Baru 10:25, Masih ada waktu sejam lebih. Oke".
Beberapa menit lenggang sejenak.
"Seharusnya lo nggak ngelakuin itu". Panji memulai obrolan, ia menatap Kara dengan normal tanpa ekspresi.
Alis Kara berkerut. "Ngelakuin apa?". Bertanya tidak mengerti.
"Ngelakuin hal yang nggak seharusnya cewek bisa lakuin"... "Kenapa lo mukul Karin. Lo seharusnya bisa tahan, atau mungkin lo bisa lakuin itu diluar sekolah. Inget! Lo anggota OSIS yang tidak sepantasnya ngelakuin itu dan kalau kayak gini lo juga bisa-bisa dikeluarin dari sekolah".
Kara yang mendengar penuturan Panji sedikit tidak suka. "Maksud lo!?. Gue biarin tu kakel ngehina orang tua gue!!!, Nggak akan...". Wajah Kara memerah menahan kesal. Bisa-bisanya Panji menyuruhnya untuk diam saja saat ada yang menghina orang tuanya.
Panji terpaku. Ternyata itu masalahnya. Akkhhh lagi-lagi ia salah, pantas saja Kara marah. Ia merasa bodoh tidak menyelidiki hal itu terlebih dahulu ia hanya Mendengar inti dari masalah pertengkaran itu dari guru BK. Panji terlanjur kesal akibat melihat Steven yang merangkul Kara.
"Lo nggak usah ikut campur. Dan yah, kalau kelakuan gue bisa buat OSIS jelek. Gue siap keluar". Lanjutnya.
Mata Panji melebar. "Ck. Lu bisa keluar dari OSIS kecuali gue yang cabut jabatan lo...". Ucap Panji tegas. "Jangan pernah lakuin hal bod*h itu".
Kara membuang muka. Ia dan Panji akhirnya kembali berdebat lagi. Alis Kara tambah mengerut ketika matanya menangkap beberapa pengunjung yang selalu melihat kearah meja mereka.
"Tu leher nggak pegel apa nengok terus kesini". Haissshhh. Batin Kara sinis dan semakin kesal.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Makanan tersaji diatas meja. Panji makan tanpa mengajak Kara ngobrol lagi. Ia hanya sesekali melirik Kara yang makan dengan mimik kaku wanita itu seperti tidak nafsu makan terlihat dari cara Kara yang lambat kebanyakan menatap keluar jendela dan ya juga seperti sedang memikirkan sesuatu.
Panji berpikir sepertinya ucapannya tadi membuat mood Kara rusak.
"Ekhmm".
Kara melirik. Panji gelagapan. Tatapan Kara seperti pedang. Sangat tajam. Panji cepat-cepat mengambil minum yang berada didepannya. Wkwkwk ia terciduk sedang memperhatikan Kara.
"Gue minta maaf". Ucap Kara tiba-tiba yang membuat Panji hampir tersedak.
"Ukhh... Apa?, ukhh". Akhirnya tersedak. wkwkw.
Kara melepas sendoknya menatap Panji yang terbatuk-batuk. "Gue minta maaf". Suaranya sedikit kecil tapi mukanya masih tampak datar.
Sebenarnya Panji mendengar jelas ucapan Kara hanya saja ia sedikit kaget dengan ucapan itu. Bukankah seharusnya dia yang minta maaf.
"... Gue minta maaf karena gue selalu buat ulah. Yang seharusnya gue beri contoh baik sama teman-teman, eh malah gue yang selalu bermasalah". Jujur saja Kara juga tidak enak yang dimana posisinya sebagai anggota OSIS tapi malah dia yang selalu bermasalah. Sangat aneh kalau dipikirkan. Tapi kakak kelasnya Amel dan gengnya itu selalu membuat ulah padanya dan kemarin ia sudah tidak bisa menahannya karena Karin telah menghina keluarganya.
---
"Terima kasih"
Panji diam tegak didepan pintu, Kedua tangannya berada disaku celana. "Dari semua cewek yang ngucapin terima kasih ke gue, cuma lo yang ngucapinnya datar-datar gitu". Ia sudah gemas melihat raut Kara yang datar terus saat berbicara padanya sedari tadi.
Kara langsung memaksa senyum. "Terima kasih". Ulangnya.
"Dasar anak ini. Bisakah dia tersenyum ikhlas seperti saat bersama Stev". Batin Panji.
"Ulangi...". Tegas Panji
Kara memutar bola matanya sambil menghela napas kasar lalu dengan gerakan cepat menutup pintu.
"Gue nggak seakrab itu sama lo". Ucap Kara dibalik pintu. Ia mendengarkan Panji yang berteriak minta pintu dibuka.
Tok tok tok tok
"HEY... Kara buka pintunya. Lo harus terima kasih yang bener. HEY... Akkhhh juteknya". Panji frustasi diteras rumah Kara.
---
05:00
Apartemen Steven
"Hey, sampai kapan mau disitu?".
"Disini nyaman". Kara menjawab pendek. Padahal ia masih memikirkan tentang kedatangan Panji beberapa waktu lalu, pria itu bolos dan memilih datang kerumahnya.
Steven tersenyum kecil, sejak sampai diapartemen ia malah tertidur membiarkan Kara melakukan apa saja sendirian. Bahkan ia rasa saat ini tidurnya masih kurang.
Mungkin pacarnya ini sudah sangat bosan.
"Oh ya?". Steven berada disamping Kara.
Kara bergeser satu langkah kesamping, tersadar. Lalu menatap Steven yang juga menatapnya. Mengangguk iya.
"Maafkan aku sayang". Steven dengan cepat memeluk Kara dari samping. "Tadi aku sangat lelah. Disekolah banyak banget praktikum, hufftt".
"Stev... Nanti dilihat orang". Kara ingin melepas pelukannya.
Steven tertawa. "Orang-orang yang disana maksud kamu?". Steven menunjuk padatnya jalanan serta beberapa orang yang berada dilapangan golf yang terlihat seperti semut kecilnya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Kara.
Kara menepuk dahinya sambil ikut nyengir. Mereka ada dilantai 20. "Yaa kan bisa saja ada penghuni lain dari apartemen disamping yang lihat. Tuh, tuh, tuh... Mereka bisa saja keluar dibalkon juga kan".
"Nggak peduli, aku tetap mau peluk kamu".
Steven tambah mempererat pelukannya dengan manja. Ia tidak akan membiarkan Kara lepas. Walau pacarnya ini mengucapkan banyak alasan.
Kara tidak bisa berbuat apa-apa. Ia membiarkan Steven memeluknya hehehehe lagian pelukannya nyaman. Tanpa sadar ia ikut melingkarkan tangannya ke tubuh Steven.
Beberapa menit kemudian.
"Stevvvv itu geli...". Kara menahan tangan Steven yang meraba pinggangnya.
"Hm???".
Steven menatap Kara yang menjauhkan wajahnya tapi tetap tangan Steven tak lepas dari pinggang Kara.
"Mandi gih..." .
"Nanti...".
"Stev...".
Steven mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Kara tapi wanita itu selalu menghindar menoleh kesana kemari.
"Hahaha sayang...".
Steven tertawa pelan saat Kara mencoba menghindari wajahnya mungkin pacarnya ini berpikir kalau dia akan menci*mnya padahal Steven hanya ingin menjahili saja.
"Stevv kamu kenapa sih". Kara terlihat menekuk wajahnya, tangan berada di dagu Steven. Menahan agar pria itu tidak mendekatkan wajahnya.
"Hahahaha. Aku akan menci*m mu".
"Ha?!.".
"Sayang, jangan menahan wajahku".
"Gila ih".
"Hahahahahaha".
Tawa Steven pecah seketika, karena melihat wajah Kara yang memerah saat mendengar kata ci*man.
Kara melihat Steven yang menertawainya, heran.
"Yang, aku hanya becanda. Tenangkan dirimu hahaha".
"APA? ternyata Steven ngerjain gue. Ihhh malu banget". Batin Kara menahan malu padahal ia berpikir kalau Steven akan menci*mnya. Kara merutuki dirinya.
"Kau mengerjaiku?".
Steven masih tertawa, kini pria itu duduk dikursi yang ada disamping pintu balkon sambil memegangi perutnya.
"Steevvvvv...".
"Hahahahaha".
Terjadi aksi kejar-kejaran didalam apartmen. Kara begitu kesal karena Steven selalu menertawainya.
"Huh huh huh Stev, awas kau...".
.
.
.
👋👋👋👋👋
AUTHOR kembaliiiiiiiiiiiiii.... duh duh duh, maaf yaaaaaahhhh lama nggak up.. 😘😘. Salam manis dari author ❤🤭