
Happy Reading
***
Aku terbangun saat mendengar bel apartemenku. Aku melihat sekitar dan menyadari bahwa aku tertidur di sofa. Aku mengambil ponselku dan memeriksa jam. Pukul delapan malam. Bunyi bel semakin brutal dan membuatku
kesal. Jacob, hanya jacob yang melakukan itu di malam hari. Aku berjalan dan segera membuka pintu tanpa memeriksanya. Dan.. Tebakanku tepat. Ada Jacob di sana.
"Hei..." ucapnya malu-malu. Lalu aku melirik tangan kirinya yang di sembunyikan di belakang punggungnya.
"Apa itu?"
"Sial..." Jacob mengumpat keras dan menunjukkan buket bunga yang sangat besar, "Ambillah..." ucapnya malu-malu. Jacob Anderson malu-malu?!
Aku membuka mulutku lebar dan menatapnya heran.
"Tutup mulutmu, Ken dan ambil tumpukan sialan ini..."
Aku segera mengambil buket bunga yang sangat besar dan menggerutu pelan.
"Tumpukan sialanmu sangat keren... Masuklah, jangan lupa buka sepatumu.."
"Aku..."
"Jangan membantah.." potongku.
Aku berjalan ke dapur diikuti Jacob. Menaruh bunga itu di atas meja, aku mencari vas bunga untuk bunga itu. Aku mengisi air dan menata bunga itu di vas bunga.
"Kau memberiku pasta dan sekarang bunga... Ku pikir hari ini bukanlah ulang tahunku.."
"Aku harus melakukannya sekali saja sebelum kau pergi..."
"Kau bicara seolah aku akan pergi berperang..." aku segera duduk di hadapan Jacob.
Dia menatapku lekat seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Terima kasih atas bunganya..."
"Yah.. Tentu... Bukan masalah besar.."
"Kau juga harus memberikan bunga untuk wanita lain..."
Dia tetap menatapku lekat.
"Aku memberi bunga pada wanita yang membuatku terkesan.."
Aku mengangguk kecil, "Kau salah wanita..."
"Aku tidak merasa begitu..."
"Jadi, apa yang kau lakukan ke sini? Untuk membuatku terkesan?"
"Aku belum pernah memboncengmu..." bisiknya pelan dan aku tau arah pembicaraan ini.
"Aku lebih suka naik mobil..."
"Sekali saja..."
Aku menatap bergantian antara dia dan bunga itu.
"Untuk pertama dan terakhir kalinya..." suaranya setengah memohon sekarang.
Aku menarik napas, "Okay, aku akan mengambil jaketku dan kita pergi. Hanya mengendarai motormu dan tidak lebih... Tidak lebih."
Jacob tersenyum dan memamerkan lesung pipinya, "Okay... Hanya itu dan tidak lebih.."
*****
Kami menuju basement apartemen ini dan melihat sepeda motor milik Jacob. Aku tidak terlalu mengerti soal jenisnya, hanya saja aku yakin yang satu ini adalah tipe Harley Davidson. Jacob memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeansnya dan menatapku.
"Aku baru membelinya.."
"Kau sangat berusaha keras membuatku terkesan.."
"Aku selalu begitu sejak dulu..." Jacob memakai helm miliknya dan naik ke Harley-nya "Ayo naik..."
"Aku tidak memakai helm?" tanyaku
"Aku hanya punya satu, kau bisa memakai punyaku.."
"Tidak perlu.. Omong-omong, kursinya sempit.."
"It's the point.." aku memutar bola mataku jengkel.
"Jika kau bertingkah kurang ajar, kupastikan aku melompat dari Harley-mu."
"Tenanglah.." dengusnya. Aku segera naik seraya memegang bahu Jacob.
Suara deru mesin terdengar, "Kau tidak mau memelukku?"
"Hanya di mimpimu, brother..."
"Brother?! Kau berciuman dengan brother-mu sendiri. Betapa hinanya..."
Aku tertawa dan memegang bahu Jacob, "Ayo berangkat bocah besar..." lalu motor tersebut bergerak menembus malam. Jalanan London tidak ramai membuat perjalanan ini berlangsung dengan baik. Aku belum pernah dibonceng siapa pun di hidupku termasuk Sco.. Scout?! Kenapa aku mengingatnya? hentikan Ken?!
"Kau suka anginnya?" teriak Jacob.
"Yah!!"
Aku tidak mendengar apa yang dikatakan Jacob karena suaranya teredam oleh angin.
"Apa yang kau katakan?!"
Secara tiba-tiba, Jacob mengubah kecepatannya dan membuatku terkejut. Badanku terdorong ke belakang dan dengan panik aku mengalungkan tanganku pada perut Jacob. Lalu, suara tawanya terdengar.
"SIAL!!" aku ikut tertawa dan menikmati angin malam yang sejuk. Kecepatan Jacob membuat lampu bagaikan garis terang. Aku menyandarkan kepalaku pada punggung Jacob dan merasakan ketenangan. Ketenangan yang aneh dan berbeda setelah dua tahun. Membuatku hanyut dalam suara deru mesin motor, tawa Jacob, dan hangatnya punggung Jacob.
****
The day, XX Juni 20XX
"Okay... Aku akan berjalan sendiri dari sini..." ucapku saat kami sampai di eskalator.
"Haruskah Mommy pergi?" tanya Maldives. Aku menurunkan badanku dan mensejajarkan tinggiku padanya.
"Jangan menangis, okay? Kita bisa bicara lewat ponsel.. Mommy janji akan datang lagi..."
Lalu Maldives memeluk leherku dan membuatku ingin menangis. Aku menguatkan diriku dan membalas pelukannya. Mengelus rambut pirangnya dan mencium wangi khas bayi dari tubuhnya. Aku akan merindukannya. Astaga..
"Aku mencintaimu, Maldives. Selalu."
"Love you, Mom..." Aku melepaskan pelukan dan melap wajah Maldives yang berair oleh air mata. Ouh.. Maldives, gadis kecilku.
"Jaga baik Daddy dan Mags.." ucapku dan mencium bibir Maldives.
"Okay, Mom.." dia mencium pipiku.
Lalu aku bangkit berdiri menghadap Jacob. Wajahnya keras.
"Jaga dirimu baik-baik, Maldives, dan Mags."
"Aku akan melakukannya tanpa kau suruh..."
Aku memutar mataku lalu membuka lebar kedua tanganku.
"Pelukan perpisahan..." aku segera memeluk tubuh Jacob dan dia membalas pelukanku dengan sangat erat.
"London akan sangat menyebalkan tanpamu, Ken.."
"Aku tau... Terima kasih sudah membantuku selama dua tahun ini."
"Jangan malu-malu untuk pulang ke sini.."
"Yah..."
Kami terus begitu untuk beberapa detik dan membuat lenganku pegal.
"Kurasa aku harus pergi, Jacob.."
"Baiklah..." lalu Jacob melepasku. Aku tersenyum padanya.
"Bye..." bisikku
"Bye..."
Aku menarik koperku mendekat dan hendak naik ke eskalator, sebelum Jacob menghentikanku dengan menahan koperku. Aku memutar badanku dan Jacob segera mencium bibirku dan aku tidak menolak. Aku meresap kehangatan bibir Jacob dan wangi khasnya.
"The last..." bisiknya setelah melepas ciuman kami.
"The last..." lalu aku naik eskalator seraya melambai ke arah mereka. Dan... Good bye London..
***
New York
Aku turun dari pesawat dan merasakan gugup dalam diriku. Aku berjalan meninggalkan bandara dan menunggu taxi pesananku datang. Aku melihat orang yang berlalu lalang. New York. Itu membuatku gugup untuk alasan yang tidak kumengerti.
Beberapa menit kemudian, taxi ku datang dan aku segera masuk dnegan supirnya menolongku memasukkan koperku. Taxi kuning itu segera melaju. Macet segera menyambutku. Tentu saja macet, ini New York. Sepanjang jalan aku melihat dan kembali mengingat jalanan ini. Jalanan yang penuh oleh mobil dan amnusia kapitalis. Apakah ini yang membuatku gugup? Atau apa?
Aku menyandarkan tubuhku dan menolak melihat jalanan yang membuatku gelisah. Aku berucap dalam diriku bahwa semua akan baik-baik saja dan aku pasti bisa beradaptasi dengan cepat. Saat aku memejamkan mata, mengingat indahnya malam kota London saat berkendara dengan Jacob. Hanya saja, bayngan itu segera diganti oleh wajah datar Scout. Wajah datarnya yang tampan. Aku membuka mataku dan jantungku berdebar kencang. Entah mengapa perasaanku tiba-tiba tidak nyaman. Oh my.. Kumohon New York, bersahaatlah denganku untuk kali ini
*****
Author POV
Scout menaikkan barbel itu dengan kedua tangannya dan menaruhnya di tempat. Dia bangkit berdiri dan melap wajahnya dengan kaos miliknya. Dia menatap Vin yang ada di ruang gym.
"Selamat siang, Mr.Sharp."
"Ada apa?" Scout meneguk air dari botol minumnya.
"Ms.Cullen sudah sampai.."
"Ms.Cullen?" Scout berjalan ke arah jendela kaca yang menunjukkan senja di kota New York.
"Yes, Sir.. Ms Kenny Cullen"
Scout menutup botol minumnya seraya menatap kota tersebut. Selama dua tahun, dia tidak merasakan ada kehidupan di sana. Membosankan dan kosong. Namun, setelah mendengar nama itu, dadanya bergemuruh oleh detak jantung. Bukan detak jantung karena dia berolahraga, tapi ini berbeda. Detak yang membuat dia bergairah dan lebih hidup. Dia menghirup udara. Udaranya pun seolah berbubah. Jauh lebih segar, seolah kehadirannya membuat dan membentuk kehidupan yang baru.
"Welcome Kenny Cullen..." bisiknya.
****
MrsFox
Semoga Kenny sama Scout yekan? But, tidak semudah itu ferguso :') Sorry pendek bgt, aku ada tugas soalnya :')