Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 97



Warning🔞🔞


Vero yang tidak sengaja melihat Pak Ikhsan lari tunggang langgang, langsung mengerutkan keningnya serayap menatap keluar jendela. Dia sempat memanggil-manggil Pak Ikhsan namun suaranya tidak terdengar sebab dia berada di lantai dua rumah tersebut.


"Aneh sekali, kenapa dia lari seperti itu." Gumah Vero.


"Mungkin dia tidak mau kerja di sini Non, hihihihi." Mbok Darmo yang tiba-tiba berada di belakang Vero sontak membuat Vero kaget.


Lama-lama merinding juga mendengar suara tertawa dari Mbok Darmo!


"Mbok kok tiba-tiba di situ sih? Jangan begitu lah Mbok, muncul tiba-tiba bikin kaget saja!" Runtuk Vero kesal.


"Hihihi maaf Non."


"Ih tertawa kamu jangan gitu Mbok, serem tahu!"


"Maaf Non, itu masakannya sudah siap." Tuturnya tersenyum aneh.


"Saya mau mandi dulu Mbok, gerah! Mendingan Mbok tunggu di bawah saja."


"Baik Non, hihihi hihihi." Jawab Mbok Darmo berlalu pergi.


Vero yang tahu hal itu, kembali mengingat ucapan dari pemilik depot di perempatan jalan. Apalagi setelah dia melihat Pak Ikhsan kabur seperti tadi. Vero kembali menjelajah sekitar kamarnya, terlihat bersih dan sama sekali tidak seperti rumah angker pada umumnya. Dia mengucek-ngucek matanya berkali-kali namun rumah tersebut terlihat begitu bagus dalam pengelihatannya.


"Ahh lebih baik mandi, daripada berfikir macam-macam." Vero langsung bergegas mandi sebab sudah merasa tidak sabar ingin menyantap masakan Mbok Darmo.


Di kamar mandi, seusai membersihkan diri, Vero sempat bercermin. Wajahnya terlihat pucat dengan kantung mata yang melingkar di sekitar matanya, Vero meraba wajahnya sendiri dan dia merasa wajar sebab akhir-akhir ini dia sulit makan yang mungkin menjadikan wajahnya pucat seperti sekarang.


"Besok aku harus ke dokter. Mungkin saja aku hamil." Gumah Vero tersenyum pada dirinya sendiri.


Dia segera memakai handuk kimono dan berjalan keluar. Sambil memakai baju, Vero melihat ke arah bawah dari jendela kamarnya. Belum ada tanda-tanda keberadaan Bastian, terkadang Vero juga merasa aneh dengan Bastian yang hanya muncul pada malam hari. Namun dia masih berfikir positif soal kesibukan Bastian mengurus perusahaan besar yang entah berada dimana.


Vero mendesah lembut dan langsung berjalan keluar untuk makan. Saat Vero menuruni tangga, terlihat Mbok Darmo sedang tertawa cekikikan serayap melakukan gerakan aneh, seolah sedang menari namun tariannya terlihat begitu janggal. Vero yang memperhatikan itu, menelan saliva-nya pelan sebab gerakan Mbok Darmo memang mirip kuntilanak. Mbok Darmo hanya mengerakkan kedua bahunya secara bergantian dan sesekali tertawa cekikikan. Sesaat setelah itu, dia menatap ke arah Vero tajam dan mencoba bersikap biasa saja. Vero yang tahu itu, langsung merasa gugup dan bergegas turun.


"Kamu sedang apa Mbok?" Tutur Vero mencoba bertanya.


"Hihihi itu Non, habis lihat televisi jadi teringat sama gerakan di televisi tadi." Jawabnya tersenyum aneh." Silahkan makan Non." Imbuh Mbok Darmo yang ternyata memang sengaja melakukan itu untuk menjahili Vero.


"Baik Mbok." Kata Vero lirih dan bergegas menuju ke arah dapur dengan mata yang masih melirik ke arah Mbok Darmo.


Hihihi sudah lama tidak ada orang lewat di depan rumah jadi maaf ya Non, hihihihi hihihi....


.


.


.


.


🏠Kediaman Nathan🏠


05:30


Bella terjaga dari tidurnya, dengan mata setengah terbuka. Dia meraba samping tempat tidurnya, tidak ada Nathan bahkan samping tempat tidurnya terasa kosong. Matanya melebar dan langsung terduduk lalu bergegas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sebab Bella baru sadar jika dia tidak memakai sehelai benang pun.


Berarti semalam bukan mimpi! Lantas kemana Nathan? Apa aku menendangnya? Bella melihat ke bawah tempat tidur tapi tidak ada Nathan di sana.


"Apa aku menendang mu tadi?" Tanya Bella terbata.


"Tidak, entahlah sayang, ku fikir kau tidak bermimpi tadi." Jawab Nathan berjalan ke arah Bella dan duduk di tepian tempat tidur." Aku tadi bangun pukul tiga, hmm karena takut terjadi apa-apa. Tapi sejak tadi aku tidak melihat mu bermimpi." Imbuh Nathan menjelaskan.


Bella meraba tempat tidur yang terasa kering, dia menyikap selimut dan hanya ada sisa bercak-bercak darah sisa dari kegiatannya semalam bersama Nathan.


"Kenapa tidak bermimpi?" Gumah Bella merasa heran.


"Apa kau suka jika bermimpi buruk?"


"Bukan begitu Nath, emm apa aku sudah sembuh?" Jawab Bella lirih.


"Kita coba saja nanti malam, jika kau sudah tidak takut gelap berarti fobia mu sudah sembuh." Tutur Nathan mengusap lembut puncak kepala Bella.


Bella jadi mengingat saat pertemuan pertamanya dengan Nathan, dia sempat tertidur di mobil Nathan namun anehnya mimpi itu tidak datang. Padahal biasanya meski dia tidur dengan duduk tapi jika matanya terpejam maka mimpi itu selalu saja hadir.


Astaga aku tidak percaya ini, seumur hidup baru hari ini aku merasa sangat tenang saat bangun tidur. Batin Bella serayap melirik ke arah Nathan yang sejak tadi melihat ke arahnya. Bella sadar dengan arti tatapan Nathan saat ini, wajahnya kembali merona merah.


"Apa kau bisa keluar sebentar Nath." Pinta Bella lirih.


"Untuk apa?"


"Aku ingin mandi dan berganti baju."


"Hmm lakukan saja, kenapa menyuruhku keluar. Aku bahkan belum menghabiskan kopi panas ku." Jawab Nathan yang sebenarnya tahu maksud dari ucapan Bella.


Dia selalu berpura-pura seperti itu! Ya Tuhan! Aku tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi semalam, kenapa aku bisa terhanyut seperti itu. Batin Bella serayap melirik malas ke arah Nathan.


"Aku tidak memakai apapun, dan kemana baju yang ku letakkan di bawah tadi?" Dengus Bella dengan nada yang cukup lembut.


"Aku ambil dan menaruhnya pada cucian kotor, apa itu salah? Sudahlah sayang, aku sudah melihat semuanya semalam, untuk apa kau tutupi lagi seperti itu. Ahh.. Memikirkan kejadian semalam, aku jadi ingin mengulangnya lagi." Tutur Nathan tersenyum ke arah Bella.


Ya Tuhan! Dia memang sangat menawan saat tersenyum seperti itu. Batin Bella yang wajahnya terlihat semakin memerah.


"Statusmu sungguh tidak pantas untuk kamu sandang sayang, aku yakin kau bahkan belum tersentuh oleh siapapun." Imbuh Nathan bertanya.


"Hm."


"Aku senang mendengar hal itu, ya Tuhan ternyata pesonaku sangat kuat sehingga bisa membuat seorang Bella takhluk padaku." Tutur Nathan mengoda.


"Ya terserah padamu Nath, berhentilah meledekku seperti itu."


"Kau selalu saja salah faham, aku tidak sedang meledekmu tapi aku sedang merasa bangga karena bisa di cintai oleh kamu sayang." Nathan berdiri dan langsung mengangkat tubuh Bella dan secara otomatis selimutnya terjatuh kebawah sehingga membuat Bella terpekik kaget karena seluruh tubuhnya jadi terlihat oleh Nathan." Astaga indah sekali." Imbuh Nathan merasa kagum.


"Kau mau apa Nath?" Protes Bella berusaha turun.


"Terserah sayang, kau sudah jadi milikku bukan? Bukannya kau merasa jika semalam aku bisa membuatmu terbuai, jadi itu hal yang mudah untuk ku lakukan." Jawab Nathan mengoda.


"Ini bahkan masih terasa nyeri." Eluh Bella beralasan.


"Kau yakin jika terasa nyeri?" Tanya Nathan tidak percaya sebab Bella tidak pernah merasakan kesakitan sebelumnya. Bella hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut, dan hal itu membuat Nathan langsung mencium bibir Bella sejenak dan menurunkannya tepat di depan kamar mandi." Morning kiss baby, mandilah setelah ini kita sarapan." Imbuh Nathan tersenyum sejenak lalu mengusap lembut puncak kepala Bella dan duduk di sofa untuk melanjutkan minum kopi nya.


Nafas berat terdengar berhembus dari Bella, dia bergegas masuk kamar mandi sebab tidak ingin di pandang Nathan dengan tatapan yang bisa membuat nya kembali terbuai.-


TBC