
Setelah membereskan rumah sebentar dan memberi makan kucingnya, Bella dan Nathan tidak langsung kembali pulang dan malah duduk-duduk di teras rumah. Mereka berniat beristirahat sejenak serayap mengobrol soal kejadian tadi pagi.
"Oh iya Nath, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" Jawab Nathan singkat.
"Kenapa kau baik-baik saja saat makhluk itu menyerang mu? Aku bahkan melihat sendiri kau terkena pukulan hingga terpental jauh." Tanya Bella penasaran.
"Mungkin ini penyebabnya." Nathan memperlihatkan sebuah liontin yang melingkar di lehernya.
"Apa ini?"
Nathan membuka liontin tersebut dan terdapat kertas kecil terlipat yang berisi sebuah gumpalan rambut kecil." Aku hanya memakai ini setiap hari, daripada hilang jadi aku mempunyai ide untuk menaruhnya di sini. Rambutmu sungguh ajaib sayang, aku tidak merasakan sakit meski aku terpental sejauh itu." Jawab Nathan menjelaskan.
"Lantas kenapa kau tiduran waktu itu?"
"Aku sengaja agar kau menghampiriku dan berucap, Nathan jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu." Tutur Nathan tersenyum.
"Uhh! Menyebalkan, aku setengah mati khawatir kau malah seperti itu!!" Dengus Bella kesal.
"Yah maaf sayang, tapi aku sangat ingin kau mengucapkan itu suatu saat nanti." Jawab Nathan lirih.
Dari awal aku juga menyukaimu Nath, bahkan semakin hari perasaan itu semakin tidak bisa terkendali. Tapi aku sangat sulit untuk mengungkapkan semuanya, ahh! Aku memang selalu merasa lemah jika di hadapannya.
"Apa Lena juga melihat wujud lain ku Nath?" Tanya Bella mengalihkan pembicaraan sehingga Nathan kembali mendesah lembut.
"Hmm dia melihatnya."
"Aku yakin jika saat itu aku sangat menyeramkan, tapi kenapa Lena tadi tidak takut padaku?"
"Takut kenapa? Aku bahkan tidak takut sama sekali sebab aku tahu bagaimana dirimu sesungguhnya, mungkin hal itu yang di rasakan oleh Lena." Jawab Nathan menjelaskan.
"Aku dulu tidak seberapa dekat dengannya meski sesekali dia ikut ke kafe saat aku bernyanyi, aku tidak tahu jika dia bisa menerimaku sebaik Karin. Karin, aku bahkan tidak sanggup untuk bertemu keluarga dan kekasihnya untuk menyampaikan hal ini. Lebih baik mereka tidak tahu daripada aku harus menghadapi masalah baru lagi." Tutur Bella tersenyum karena mengingat pertemuannya dengan arwah Karin tadi pagi, dia cukup senang melihat Karin yang sudah merasa tenang di alamnya meski mereka tidak lagi bisa berjumpa.
"Keputusan bagus sayang, jangan terlalu ambil pusing soal itu." Jawab Nathan mengusap lembut puncak kepala Bella." Besok kita ke kota tempat tinggal mu, aku ingin meminta restu sendiri." Imbuh Nathan kembali bersikap dewasa.
"Secepat itu Nath?"
"Hmm satu bulan adalah waktu yang terlalu singkat sayang, aku memperkirakan akan menempuh waktu tiga atau empat hari untuk mengurus semuanya di sana. Sisanya kita harus mempersiapkan semuanya di sini, karena aku tidak ingin kau mengingat masa lalu mu di sana." Jawab Nathan tersenyum." Lantas, pernikahan yang seperti apa yang kau inginkan? Ku lihat mobil Bara kemarin cukup mewah sayang, dan aku yakin jika sebenarnya kau adalah anak dari keluarga yang kaya." Imbuh Nathan kembali bertanya.
"Hm mungkin, aku sudah melupakan kehidupanku dulu sejak aku pergi dari rumah. Jika kau bertanya soal pernikahan seperti apa, aku hanya ingin sesuatu yang sederhana namun bisa membuat pernikahan tersebut bertahan untuk selamanya. Namun jika kau ingin melakukannya secara mewah dan besar-besaran, mengingat kau anak tunggal dari Pak Salim, aku tidak keberatan melakukan hal itu." Jawab Bella menoleh sebentar ke arah Nathan.
"Apa kau tidak keberatan jika aku melakukan hal itu?"
"Melakukan apa?" Tanya Bella binggung atas pertanyaan Nathan.
"Mewah dan besar-besaran."
"Terserah, tapi aku ingin kau memikirkan satu hal Nath. Ini bukanlah pernikahan pertamaku, aku takut akan ada hal yang bisa membuat telinga keluargamu tidak nyaman jika kau terlalu banyak mendatangkan tamu." Nathan tersenyum saat mendengar jawaban tersebut.
"Maka dari itu, katakan bagaimana keinginanmu? Aku tidak masalah jika harus melakukan pernikahan yang sederhana, asal kau jadi milikku selebihnya itu semua tidaklah penting. Jadi sudah di putuskan jika orang-orang terdekat saja yang di undang di acara tersebut." Jawab Nathan cukup membuat Bella kembali terhanyut atas semua kelembutan Nathan meski terkadang ucapannya masih terdengar kasar.
"Ini pernikahan pertama mu Nath." Imbuh Bella mengingatkan.
"Hmm ya, aku sudah membicarakan hal ini pada Ayah untuk melaksanakannya semua secara sederhana sebelum aku bertanya hal ini padamu."
" Lantas! Kenapa kau bertanya padaku?" Eluh Bella mendesah lembut.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu saja."
"Jika kita pergi ke kotaku, kucingku bagaimana?" Tanya Bella masih mengingat nasip kucingnya.
"Bawa dia bersama kita, agar pembantuku yang mengurus makanannya." Jawab Nathan memberi saran.
"Apa tidak apa-apa?"
"Tidak sayang, rumah itu juga akan menjadi rumahmu nanti jadi apa bedanya?" Nathan kembali Mengusap lembut puncak kepala Bella.
"Astaga.. Bagaimana jika besok kau jadi istriku Bella, apa kau juga akan selalu menghindari ku seperti itu?" Eluh Nathan mengikuti Bella berjalan masuk.
.
.
.
.
Malam ini Nathan kembali menyelinap masuk, namun dia tidur di sofa kamar tersebut serayap menunggu Bella kembali menggila saat mimpi itu datang. Mata Nathan menatap ke arah Bella lurus, sebelum akhirnya Nathan ikut terlelap dengan kaki di tekuk sebab sofa itu tidak cukup panjang untuknya.
Tepat pukul 03:30 Bella kembali bermimpi, namun di dalam mimpinya cukup berbeda. Sebelum kedatangan sang gelandangan, Bella dengan jelas melihat arwah Ibu-ibu yang dilihatnya tadi sore, sosok itu hanya berdiri terpaku di luar gubuk dengan tatapan memilukan. Bella yang sedang terikat ikut menitikan air mata karena merasakan perasaan pilu Ibu tersebut. Namun tangisan itu bercampur dengan jeritan ketika gelandangan tersebut kembali masuk dengan terseok-seok, namun wajah gelandangan tersebut tidak seperti biasanya yang cenderung menyeramkan dengan mata melotot. Saat ini wajah yang di tampilkan gelandangan menjadi tatapan lebih sendu dan hampir mirip dengan Ibu-ibu tersebut. Dengan memberanikan diri, Bella pun bertanya.
"Apa maumu!" Tanya Bella lirih.
Tolong.... Tuturnya dengan suara serak, sebelum Bella melontarkan pertanyaan lagi, dia sudah lebih dahulu terbangun dengan seluruh tubuh basah penuh keringat. Tangan Bella langsung meraih minuman di sampingnya dan meneguknya dengan sekali nafas.
Apa mereka ada hubungannya? Astaga Tuhan semoga ini semua bisa menjadi titik terang untuk fobia ku.
Bella beranjak bangun dan cukup kaget saat melihat Nathan tengah tertidur pulas di sofa kamar. Rupanya Nathan terlalu lelah hingga dia tidak mendengar teriakan dari Bella tadi. Bella tersenyum sejenak, memperhatikan wajah polos dari Nathan saat tengah tertidur pulas, Namun Bella kembali fokus pada sprei basahnya dan segera membereskannya untuk di cuci. Dengan langkah perlahan, Bella keluar dari kamar serayap membawa sprei tersebut. Ternyata di bawah sudah ada pembantu Nathan yang datang lebih awal, dia melirik ke arah Bella yang mulai memasukkan cucian kedalam mesin cuci.
Astaga Tuan Nathan setiap hari mandi keringat bersama kekasihnya seperti itu, dasar anak muda, tidak sabar jika harus menunggu menikah karena ingin tahu rasanya. Pikir Sang pembantu yang setiap hari melipat sprei tersebut.
"Kok tumben pagi Bik." Sapa Bella ramah sehingga membuat si pembantu tersentak kaget.
"Ehh Non cakep. Iya Non soalnya nanti mau ada perlu jadi Bibik berangkat pagi biar bisa pulang cepat." Jawabnya melihat ke arah seluruh tubuh Bella yang penuh dengan keringat.
"Emm begitu, mau saya bantu Bik?"
"Nggak perlu Non, mending Non mandi biar semakin cantik, andai anak Bibik secantik Non, pasti bisa dapat jodoh tampan seperti Tuan Nathan."
"Ahh Bibik bisa saja, tolong cuciannya ya Bik saya mandi dulu jika seperti itu." Jawab Bella langsung meninggalkan si pembantu.
"Pantes saja Tuan Nathan tergila-gila, kekasihnya cantiknya sudah mirip boneka berjalan saja. Astaga... Aku mikir apa ya, mending cepetan buatin sarapan biar bisa bersih-bersih rumah terus pulang." Pembantu itu mulai mengerjakan pekerjaan seperti biasanya.
.
.
.
.
Vero terbangun dengan tubuh yang hampir remuk, namun bibirnya tersungging senang saat melihat tas yang masih ada di meja. Vero mengambil tas tersebut lalu tertawa lebar karena melihat uang yang kemarin di berikan oleh Bastian untuknya. Namun anehnya Bastian kembali menghilang, dan gawatnya Vero tidak memperdulikan hal itu lalu berjalan menaiki tangga dengan membawa tas yang penuh dengan uang tersebut.
.
.
Setelah membersihkan diri dan bersolek, Vero mengambil satu tumpuk uang dan menaruh sisa uangnya pada lemari yang terdapat pada kamar tersebut.
"Belanja besar deh." Tutur Vero senang.
Dia mengunci pintu lemarinya lalu memasukkan kuncinya pada tas, setelah itu dia keluar kamar dengan menenteng tasnya serayap berteriak memanggil-manggil nama Mbok Darmo. Tidak ada jawaban, bahkan rumah itu terlihat begitu sepi seolah tidak berpenghuni.
"Ini sudah siang? Kenapa belum datang sih Mbok Darmo! Apa dia nggak tidur sini? Tahulah aku makan di luar saja, ini juga Bastian nggak pamit dulu kalau mau pergi." Vero meraih ponselnya namun tidak ada sedikitpun sinyal terlihat di ponselnya." Ini lagi kenapa! Apa rusak? Padahal baru beli! Ahh tahulah! Nanti mungkin di jalan dapat sinyal." Imbuh Vero mengeluh serayap keluar dari rumah tersebut tanpa menguncinya.
Saat Vero sudah berjalan menjauh dari rumah, terlihat jelas rumah yang di tempatinya berubah menjadi sebuah rumah tua yang sepertinya lama tidak di huni. Dindingnya penuh lumut dan kotor, dengan beberapa kaca jendela yang terlihat usang juga ada beberapa yang pecah. Bangunan tersebut terletak di sebuah perumahan yang terletak cukup dekat dengan hutan tersebut. Dulunya pemiliknya juga menjadi pemuja setan, hingga akhirnya mereka harus menghilang tanpa jejak sebab makhluk yang di peliharanya membawa jiwa dan raga mereka untuk ikut serta ke dunia mereka. Dan saat ini rumah itu menjadi sarang dari makhluk tinggi besar tersebut bersama dengan semua sekutunya.-
Haii😁Maaf jika ada keterlambatan yah😩 Nggak tahu juga kenapa? Mungkin sistemnya atau apa? Ada yang bisa bantu jawab?
Tetep dukung terus cerita ini dengan cara, like, share dan Vote yah😁🙏
Terimakasih 😘