
Bella mendobrak masuk ke dalam gudang tanpa memperdulikan tempat itu akan rusak. Dia sudah tidak bisa menahan semuanya karena Bella sudah memastikan jika Bastian sudah banyak merenggut kebahagian sebuah keluarga, seperti yang di lakukannya pada Pak Mamat dan pedagang kemarin meski Bella bisa menggagalkannya. Nathan hanya terdiam dan mengikuti langkah Bella yang sudah memasuki gudang tersebut.
Dengan penerangan ponsel, Bella mencari saklar dan menyalakan lampu di sana. Alangkah terkejutnya Bella dan Nathan saat mendapati banyak tas wanita berada di dalam sana. Tas tersebut masih utuh dengan semua identitas dan uang yang terletak di masing-masing dompet. Tangan Bella meraih sebuah kardus besar dan membukanya, matanya kembali berkaca melihat koper pink milik Karin berada di dalam sana. Perlahan tangan Bella menyentuh koper tersebut, sehingga dia dapat melihat flash back saat Bastian membius Karin saat akan berangkat ke kampung halamannya.
"Ini milik Karin." Tutur Bella lirih serayap mengeluarkan koper dari kardus tersebut.
"Apa kau yakin?"
Bella tidak menjawab pertanyaan dari Nathan dan langsung membuka koper tersebut. Dompet, baju bahkan ponsel milik Karin masih berada di dalamnya. Nathan mengambil dompet dan melihat identitas yang memang milik Karin.
"Astaga..." Gumah Nathan.
Aku akan membunuhmu Bastian!!
"Kita ke rumahnya." Tutur Bella membawa dompet serta ponsel milik Karin dan segera berjalan keluar gudang tersebut.
Tanpa basa-basi Bella langsung mendobrak pintu belakang rumah Bastian dan Nathan hanya mengikuti Bella dari belakang serayap mengelengkan kepalanya.
Dia sangat mengerikan jika sedang marah, hmm tapi tetap saja kelihatan cantik. Batin Nathan yang ikut memeriksa setiap kamar yang ada di sana namun hasilnya nihil. Sebab semua kamar terlihat biasa saja, tidak ada sesajen atau semacamnya.
"Tidak ada apapun di sini sayang." Tutur Nathan yang masih memeriksa sebuah kamar dengan menutup hidung sebab rumah Bastian sangatlah berdebu." Astaga.. Ini mirip seperti rumah yang tidak berpenghuni." Imbuh Nathan memperhatikan sekitar.
"Sepertinya kita memang harus ke hutan itu Nath." Eluh Bella lirih karena tidak menemukan bukti apapun.
"Ya sudah kita kesana saja."
"Hmm sebentar Nath, aku akan menetralkan tempat ini." Jawab Bella kembali keluar dari rumah.
Bella menuju ke arah belakang dan mencari poros dari benda gelap yang menyelimuti rumah Bastian. Setibanya di pagar belakang rumah Bastian, Bella berhenti, matanya kembali terpejam sebab dia tidak pernah menghadapi hal semacam ini.
Aku harus bagaimana Tuhan... Batinnya. Bunyi ponselnya membuyarkan konsentrasi Bella, dia langsung meraih ponsel di tasnya dan terkejut melihat nomer yang menghubunginya saat ini.
Via Telfon📲
"Ya Lena." Kata Bella dengan mata melebar sebab dia mendengarkan suara isakan tangis dari Lena.
"Emm maaf Bella, aku sungguh tidak tahan dengan ini. Sekarang aku sudah berada di tempat ku bertemu dengan Bastian hari ini."
"Tidak! Jangan lakukan itu bodoh!" Teriak Bella membuat Nathan ikut panik.
"Sudahlah Bella, aku percaya jika kau tidak akan membiarkanku mati konyol bukan? GPSnya sudah ku nyalakan Bella, kau tinggal melacak di mana keberadaan ku. Setelah ini jangan menghubungiku sebab aku tidak ingin pengorbanan ku ini menjadi sia-sia. Aku tunggu kedatanganmu Bella."
"Tapi Lena.."
Tut..Tut..Tut..
"Sial!!!" Umpat Bella mengengam erat ponselnya.
"Ada apa?"
"Lena, dia melakukan rencana kemarin." Jawab Bella serayap menatap ke layar ponselnya yang terlihat jelas jika posisi Lena sudah bergerak." Kita pergi Nath." Imbuh Bella menarik tangan Nathan untuk pergi dari rumah tersebut.
.
.
.
.
Sementara Lena kini sudah berada di dalam mobil Bastian, sebisa mungkin dia bersikap tenang dan tidak berbicara lewat suara hati sebab Lena tahu jika Bastian bisa membaca fikiran seseorang.
"Apa kau sudah makan Lena." Tanya Bastian ramah.
"Sudah Pak."
"Jika belum, kita bisa sarapan dahulu." Tuturnya membesarkan AC yang ada di mobilnya sebab Bastian merasakan hawa panas dari tubuh Lena saat ini.
Apa yang dia pakai? pikirnya mencari ke seluruh tubuh Lena namun tidak ada yang mencurigakan di sana, sebab Lena sudah mengikat rambut Bella ke jari kakinya agar Bastian tidak mengetahuinya.
"Sayang sekali sudah." Jawab Lena tersenyum." Emm kenapa lewat sini Pak?" Imbuh Lena melihat ke sekeliling yang mulai memasuki area hutan.
"Kau mau ke beritahu tempat yang indah. Jarang ada orang yang tahu tempat itu." Jawab Bastian beralasan.
Astaga...Ternyata Pak Bastian sangat manis, berbeda sekali dengan apa yang di katakan Bella! Dasar dia pasti merasa cemburu sebab aku yang berani mengungkapkan isi hatiku nanti. Suruh siapa terlalu angkuh!! Batin Lena ingin mengelabuhi Bastian.
Hahahaha dasar bodoh! Wanita mana yang tidak terpikat denganku! Keputusan yang baik Lena, setelah ini kau akan tahu jika keputusanmu itu sangat benar. Batin Bastian berhasil di kelabuhi oleh Lena.
"Kenapa kau berniat begitu Pak." Tanya Lena seolah merasa sangat bahagia.
Lena terdiam, menarik nafas sepanjang-panjangnya sebab dia tidak ingin mengumpat dalam hatinya karena Bastian akan tahu dan bisa menggagalkan semuanya.
"Bukanya Bella yang kau sukai Pak." Tanya Lena seolah sedang cemburu.
"Emm iya dulu memang aku menyukainya, tapi setelah dia menolak ku beberapa kali, aku jadi berfikir untuk menyukainya."
"Hmm yah, kau benar Pak! Untuk apa menyukai wanita seperti Bella! Janda saja sok jual mahal, aku juga sebenarnya tidak menyukainya. Tapi aku takut menghindar dan membuat dia marah, kau tahu kan Pak jika dia marah seperti apa? Monster saja kalah seram!" Jawab Lena semakin menyakinkan Bastian bahwa sebenarnya Lena sangat membenci Bella.
Dasar manusia! Mereka selalu bersembunyi di balik topeng wajah malaikat nya.
"Oh jadi kau hanya berpura-pura saja?" Tanya Bastian.
"Hmm iya." Jawab Lena mulai merasakan hawa yang sangat tidak nyaman, tempat yang di lewatinya pun semakin terasa dingin dan aneh, Lena bahkan terkadang melihat sekelebat bayangan yang bersembunyi di balik perpohonan." Apa masih jauh Pak, tempatnya sangat aneh." Imbuh Lena mengusap tengkuknya sendiri.
"Kau tenanglah sayang, kan ada aku." Jawab Bastian yang akan meraih tangan Lena namun mengurungkan niatnya karena tubuh Lena terasa panas.
Kenapa seperti saat bersama Bella. Batin Bastian.
"Kau tidak akan membohongiku kan Pak?"
"Panggil aku Bas saja, emm tentu tidak. Aku sangat menyukaimu Lena, sebentar lagi kau akan terkesima melihat tempat yang ku tunjukkan." Jawab Bastian menyakinkan.
"Hmm aku percaya padamu Bas." Tutur Lena mencoba bersikap setenang mungkin meski saat ini perasaanya sangat tidak nyaman, sebab makhluk hitam tinggi besar memang sudah mengintainya di balik perpohonan di sana.
"Sebelum itu, kita mampir ke gubuk milik ku sayang." Bastian mulai mematikan mesin mobil saat sudah berada di jalan setapak.
"Untuk apa?"
"Mengambil peralatan camping, kita akan bermalam di tempat ini, tepatnya di danau yang terletak di balik bukit itu." Menunjuk ke arah Bukit kecil yang berada di sana.
"Pasti di sana sangat indah." Jawab Lena tersenyum.
"Tentu sayang, tunggu di sana aku akan membukakan mu pintu."
Bastian keluar dari mobil dan terlihat jelas raut wajah Lena yang tidak baik-baik saja, dia sempat mematung sebentar saat pintu mobil sudah terbuka untuknya. Dia berharap melihat Bella di ujung jalan sana sedang melihatnya saat ini, namun nyatanya hanya ada dia dan Bastian di tempat itu, dengan suara burung yang terdengar sangat mengerikan meski itu baru saja pukul setengah delapan pagi.
Suasana hutan yang gelap dengan pohon yang menjulang tinggi membuat Lena beberapa kali mengusap tengkuknya sendiri. Dia melihat banyak warna bayangan, ada putih, ada hitam sesekali dia mendengar tangisan dari seseorang bahkan jeritan lirih yang cukup membuat perasaannya semakin menegang. Beberapa kali nafas berat berhembus karena Lena mencoba menghindari umpatan yang terlontar di dalam hatinya. Lena juga selalu melihat kebelakang karena masih berharap Bella memergoki dirinya saat ini juga.
"Apa masih jauh Bas?" Tanya Lena.
"Hmm sedikit lagi, kau tenanglah ada aku di sini jadi ku pastikan kau akan baik-baik saja." Jawab Bastian kembali membohongi Lena sebab setelah ini dia akan menyetubuhi Lena sebelum dia akan menghabisinya seperti yang lain.
.
.
.
Sepuluh menit kemudian keduanya tiba di sebuah gubuk yang auranya semakin membuat Lena merasa tidak nyaman. Raut wajah Lena semakin tidak baik sebab tangisan dan teriakan semakin jelas terdengar di telinganya.
"Kau mendengar itu Bas?" Tanya Lena dengan wajah pucat.
"Mendengar apa?" Bastian bertanya balik serayap menghentikan langkahnya karena Lena tiba-tiba saja berhenti saat akan masuk ke dalam gubuk tersebut.
"Aku mendengar jeritan. Apa ada seseorang di gubuk ini?"
"Namanya juga hutan sayang, binatang di sini bersuara sangat aneh. Terkadang mirip seperti orang merintih, menjerit atau menangis, tapi percayalah itu hanya hewan penghuni hutan ini." Tutur Bastian menjelaskan.
"Aku menunggu di sini saja, kau masuklah untuk mengambil alat yang kau butuhkan."
"Masuklah dahulu, kita beristirahat sejenak." Bujuk Bastian namun Lena malah mematung dan melihat jalan setapak yang tadi di laluinya. Dia sangat berharap Bella sudah mengintainya di sana, namun rasanya tidak mungkin karena tidak ada tanda-tanda kemunculan dari Bella.
"Apa kau tidak percaya padaku Lena?" Pertanyaan itu sontak membuat Lena tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kau berucap seperti itu?"
"Kau terlihat ragu padaku." Jawab Bastian mulai curiga.
"Tidak! Bukan seperti itu! Aku hanya lelah." Tutur Lena terbata.
"Jika begitu, mari ikut." Bastian menarik paksa Lena meski tangannya terasa panas saat menyentuh kulit tubuh Lena.
Dengan terpaksa Lena pun mengikuti keinginan Bastian, di gubuk itu hanya terdapat sebuah meja besar memanjang memenuhi sebagian ruangan di ruang tamu gubuk tersebut. Hati Lena rasanya ingin menjerit dan berlari saat ini juga meninggalkan tempat terkutuk itu, namun dia tidak ingin melakukan ini semua setengah-setengah. Lena sangat yakin jika Bella akan datang di saat yang tepat nanti dan sebelum itu dia akan mencoba membela dirinya sendiri ketika Bastian akan menyerang nanti.-
TBC