Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 77



Makhluk peliharaan Bastian marah dan menghajar Bastian dengan brutalnya, hingga membuat wajah Bastian lebam akibat benturan dari benda tumpul yang di lemparkan makhluk tersebut. Beberapa kali Bastian memohon pengampunan, namun makhluk tersebut tidak juga berhenti.


"Aku berjanji besok akan ku berikan darah itu." Tutur Bastian memohon.


Setelah Bastian berkata demikian, makhluk itu berubah menjadi asap dan masuk ke dalam liontin milik Bastian.


"Aaaaggghhhhh sial!!! Kenapa bisa gagal!! Apa pedagang itu membuang uangnya? Atau Ahhh tidak mungkin, aku tidak mencium keberadaan dari Bella tadi." Memegang wajahnya yang lebam." Ahh sakit sekali, aku harus segera mengompresnya." Imbuhnya lirih serayap berjalan keluar kamar.


Sekelebat bayangan nampak dan mengikuti Bastian dari belakang, itu merupakan arwah Kinanti yang terjebak di sana. Dia tidak bisa menuntut balas sebab penunggu di liontin Bastian yang terlalu kuat. Beberapa kali dia ingin meminta pertolongan pada Bella dengan menampakkan dirinya, namun mulutnya terbungkam, makhluk itu seolah sudah membuat arwah Kinanti tidak bisa bergerak dengan leluasa.


🚗Mobil Nathan🚗


Nathan masih terbayang dengan sosok makhluk yang di lihatnya tadi. Sedangkan Bella sendiri masih merasakan perasaan yang tidak nyaman meski di sudah mendatangi kediaman Lena.


"Apa kau tidak merasa takut melihat hal seperti tadi Bella?" Tanya Nathan.


"Hmm awalnya, tapi lama-lama aku lelah untuk takut sebab aku akan selalu melihatnya." Jawab Bella lirih.


"Bagaimana jika mata batin mu di tutup juga, mungkin saja fobia mu jadi hilang." Tutur Nathan menyarankan.


"Uhh dasar! Mana bisa? Kau pikir orang tuaku dulu tidak berbuat seperti itu, mereka sampai membawaku ke psikiater namun semuanya sia-sia. Aku masih saja jadi wanita gila." Eluh Bella.


"Kau bukan wanita gila sayang, tapi kau istimewa. Anggap itu sebagai anugerah dari Tuhan sebab aku sendiri tidak yakin akan bisa bertahan bila ada di posisimu." Jawab Nathan menyemangati.


"Hmm ya, terimakasih sudah berucap seperti itu."


"Lantas uang tadi mau kau apakan?"


"Uang?" Bella merogoh saku celananya dan memperlihatkan uang yang sudah menjadi daun.


"Daun?" Tanya Nathan terbata.


"Ini melambangkan kekuatan itu sendiri Nath, tidak ada yang abadi jika kita mengandalkan makhluk yang bahkan tidak sempurna seperti mereka. Mereka hanya memberi kebahagiaan semu yang tidak akan kekal." Jawab Bella menjelaskan.


"Hmm yah aku mengerti. Apa perasaanmu masih tetap sama sayang?"


"Iya masih. Entahlah, kenapa fikiran ku jadi seperti ini. Menurutmu apa Lena akan berbuat nekat Nath?" Tanya Bella menatap ke arah Nathan yang fokus menyetir.


"Aku rasa tidak. Karena Lena sepertinya sangat penakut, jika dia nekat bukannya itu malah membahayakannya karena tanpa perlindungan darimu."


"Hmm semoga saja seperti itu Nath." Jawab Bella lirih.


Sepertinya akan ada kejadian besar besok, aku berharap kau tidak nekat melakukan itu Lena. Tunggulah aku untuk mendapatkan informasi dari penjaga rumah itu.


Malam ini Nathan kembali menyelinap ke kamar Bella, dia ingin menyaksikan lagi bagaimana Bella saat bermimpi. Nathan hanya ingin merasa terbiasa dengan keadaan Bella yang seperti sekarang. Namun sebelum Nathan keluar dari kamar, Bella sudah lebih dulu bangun membuat Nathan memasang wajah aneh. Padahal Bella sendiri tidak merasa kaget saat melihat Nathan berdiri di samping ranjangnya. Nafasnya memburu sebab dia melihat mimpi yang sedikit berbeda, Bella melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul empat dini hari.


"Maaf Bella aku tidak bermaksud." Tutur Nathan terbata.


"Mungkin di hutan itu Nath." Jawab Bella yang tidak memperdulikan ucapan Nathan tadi.


"Maksudmu?" Tanya Nathan yang lagi-lagi merasa gagal fokus pada keadaan Bella saat ini.


"Aku melihat Karin, Dika dan yang lain masuk ke dalam hutan itu dengan wajah tertunduk, kita harus kesana Nath." Pinta Bella langsung berdiri dengan keadaan baju setengah basah karena keringat.


Nathan tidak menjawab dan hanya menelan saliva-nya serayap melihat ke arah Bella yang tengah membereskan sprei kotornya. Bella yang sadar akan itu langsung mendesah lembut sebab tahu jika fikiran Nathan sudah mulai tidak waras.


"Dasar cabul!!" Runtuk Bella kesal lalu Nathan tersadar dan tersenyum tipis." Kau lihat apa hah! Anak kecil sepertimu ternyata pikirannya sangat kotor!" Imbuh Bella.


"Sudah ku bilang jika aku semakin tidak bisa mengendalikan semuanya." Jawab Nathan lirih.


"Lupakan pikiran kotor mu dulu, cepat mandi lalu berangkat." Bella langsung meninggalkan Nathan keluar kamar dengan membawa sprei kotornya, sementara Nathan sendiri terlihat senyum-senyum serayap melihat ke arah Bella dari belakang.


Kau harus jadi milikku Bella. Harus! Aku tidak perduli dengan fobia mu itu. Ahhh... Melihat adegan tadi membuat rasa kantukku langsung menghilang.


Nathan berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam kamar samping, dia tidak ingin membuat Bella semakin marah karena pikiran keruhnya saat ini.


Pak Salim hanya menatap Bella dan Nathan yang pergi pagi buta dari jendela kamarnya. Nathan dan Bella langsung menuju ke arah rumah sang penjaga dari alamat yang di kirim lewat sebuah pesan singkat tempo hari.


"Sebaiknya kau telfon dulu Nath, aku takut menganggu jika tanpa pemberitahuan." Pinta Bella.


"Baik sayang." Nathan meraih ponsel dan langsung menghubungi kontak penjaga rumah itu namun nomernya tidak dapat di hubungi." Tidak bisa sayang, sepertinya ponselnya di matikan." Imbuh Nathan menjelaskan.


"Ya sudah kita langsung saja ke sana." Jawab Bella lirih.


Satu jam kemudian, Nathan dan Bella tiba di sebuah rumah sederhana milik si penjaga rumah. Tampak di halaman rumah seorang wanita separuh baya tengah menjemur pakaian. Bella langsung saja berjalan ke arah Ibu tersebut sebab merasa tidak sabar, namun ada yang aneh karena raut wajah Ibu tersebut terlihat tidak baik.


"Pagi Ibu maaf apa benar ini rumah Pak Mamat?"


Seketika Ibu tersebut menangis dan malah melontarkan pertanyaan yang membuat Bella binggung." Di mana suami saya Non, apa dia baik-baik saja? Cepat katakan pada saya, tidak biasanya dia sampai tidak pulang semalaman." Tutur istri sang penjaga dengan berderai air mata.


Deg...


"Maksud Ibu? Pak Mamat dari kemarin tidak pulang begitu?" Tanya Bella terbata.


"Iya Non, anak saya sampai nangis karena mencari Ayahnya. Ya Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa." Jawabnya terisak.


Bella langsung melebarkan matanya, dia sangat yakin jika penjaga itu menjadi korban Bastian. Bola matanya melirik ke arah Nathan dengan perasaan sangat kecewa, satu-satunya orang yang mungkin tahu sesuatu harus jadi korban kegilaan Bastian. Nathan yang tahu hal itu langsung mengusap lembut punggung Bella.


"Pasti ada jalan lain sayang, tenanglah." Tutur Nathan menghibur Bella.


"Semua jalan rasanya sudah di tutup dengan manusia sialan itu!!" Runtuk Bella kesal.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada suami saya?" Tanya sang istri ingin tahu.


"Kami juga tidak tahu Ibu, sebab kedatangan kami ke sini karena ada janji dengan Pak Mamat." Jawab Bella menjelaskan.


"Lantas suami saya bagaimana." Katanya kebingungan." Anak kami bahkan masih kecil-kecil, dan masih butuh figur seorang Ayah." Imbuhnya mulai terisak lagi.


"Hmm begini Ibu, kami akan berusaha mencari keberadaan suami Ibu, tapi kami tidak bisa berjanji akan bertemu atau tidak." Sahut Nathan menyela.


"Apa Ibu sudah datang ke tempat kerjanya?" Tanya Bella?


"Saya tidak tahu tempat kerjanya Non, karena saya di rumah terus ngurus anak-anak." Jawabnya mengusap sisa air mata.


"Hmm begitu, Ibu tunggu kabar dari kami saja. Ini kartu nama saya." Nathan mengeluarkan dompet dan memberi sebuah kartu nama.


"Baik Aden." Jawabnya menerima kartu nama tersebut.


"Baik Ibu saya permisi dulu."


Setelah meninggalkan kediaman Pak Mamat, Bella menyuruh Nathan untuk pergi ke rumah Bastian sebab merasa kasihan pada Ibu-ibu tersebut. Bella masih berharap jika nanti di sana dia akan berjumpa dengan Pak Mamat sehingga dia masih bisa kembali pada keluarganya.


"Katanya mau langsung ke jalan hutan itu?" Tanya Nathan.


"Kau tidak kasihan pada Ibu tadi? Anak mereka bahkan masih kecil-kecil, Astaga! Kakakmu benar-benar bukan manusia!!" Kata Bella dengan suara meninggi.


"Dia bukan Kakakku!"


"Entahlah! Nyatanya kau pernah menjadi Adiknya." Jawab Bella membuat Nathan melirik ke arah Bella sebentar.


"Kenapa kau jadi kesal kepadaku sayang, aku bahkan tidak tahu menahu soal hal ini."


"Aku memang sedang kesal, tapi bukan denganmu. Dari kemarin fikiran ku sangat terasa aneh, jika nanti sudah sampai ke pinggiran hutan, kau tidak perlu ikut Nath, biar aku yang masuk." Tutur Bella lirih.


"Aku harus ikut." Kata Nathan.


"Jangan keras kepala untuk masalah ini. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus ku hadapi di sana."


Nathan hanya terdiam dan tidak menjawab ucapan Bella, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sebab ingin segera sampai ke kediaman Bastian. Setibanya di sana keadaan rumah Bastian sudah kosong, tidak ada mobil milik Bastian yang terparkir. Bella turun di ikuti oleh Nathan, keduanya mendekati rumah yang tergembok rapat.


"Kita sudah terlambat Nath." Tutur Bella lirih serayap menitikan air mata, sebab dengan jelas dia melihat sosok Pak Mamat yang sudah menjadi salah satu makhluk penghuni rumah Bastian.


"Apa maksudmu sayang?"


Bella tidak menjawab pertanyaan Nathan, dia malah meraih gembok besar itu dan menariknya kasar hingga rantainya terputus begitu saja. Bella menerobos masuk dan menemui arwah Pak Somat yang sedang duduk di depan pos penjagaan rumah Bastian.


"Maafkan saya Bapak." Tutur Bella seolah sedang berbicara sendiri.


Arwah Pak Mamat hanya mengangguk pelan dengan wajah pucat nya.


"Apa Pak Mamat sudah meninggal?" Sahut Nathan.


"Hmm ya, dia masih tidak tega dengan keluarganya dan dia juga tidak bisa keluar dari tempat ini." Jawab Bella menjelaskan.


"Astaga..." Eluh Nathan yang merasa ikut menyesal karena dia pernah berniat membawa pergi Pak Mamat agar bisa berkerja dengannya." Bilang padanya sayang, jika aku akan mengurus semua keluarga setelah ini. Semua biaya kehidupan mereka akan aku tanggung." Imbuh Nathan dengan raut wajah sedih.


"Bapak dengar sendiri kan, tidak perlu merasa khawatir dengan itu sebentar lagi aku akan membersihkan tempat ini Bapak, agar arwah Bapak bisa bebas. Tapi bisakah Bapak beritahu rahasia apa yang ada di dalam rumah ini? Atau Bastian punya kamar rahasia atau semacamnya."


Arwah Pak Mamat hanya menatap Bella dan melayang menuju ke arah belakang rumah Bastian. Bella mengikutinya dan tibalah di sebuah tempat yang terlihat seperti gudang. Arwah tersebut hanya berhenti di depan pintu sambil menatap ke arah Bella, seolah dia ingin Bella membuka tempat itu dan mengetahui apa yang ada di dalam sana.-


Maaf untuk para teman-teman yang ingin aku Feedback, aku pasti mampir kok tapi nggak bisa setiap hari🙏soalnya kesehatan author benar-benar tidak bisa mendukung🙏 Tetep saling dukung yah☺️Pasti aku mampir kok😘


Terimakasih yang masih setia.


Silahkan like


Komentar


Klik♥️


Jangan lupa share dan Votenya ya😁


Salam manis ☺️🙏