
🌅🌅🌅
🏠Kediaman Vero🏠
Vero menjerit kencang saat melihat wajahnya di depan cermin kamarnya, wajahnya menjadi sangat buruk dan penuh luka. Vero mencubit pipinya karena berharap jika ini semua hanya mimpi namun luka di wajahnya malah meletus sehingga mengeluarkan darah dan nanah yang mengotori tangannya.
"Aaaaahhhh Sakit!!" Teriaknya kesakitan." Aku harus ke Nyai, bagaimana sih? Kenapa wajahku jadi seperti ini!!"
Vero langsung bergegas membersihkan diri dan langsung berangkat untuk menemui Dukun tanpa berpamitan pada sang Ibu. Dia bahkan tidak perduli jika sang Ibu sakit atau mati sekalipun, yang ada di otakk nya hanya Bastian dan Bastian.
.
.
Setibanya di sana, Vero menggedor-ngedor pintu rumah Dukun tersebut, beberapa kali dia melirik kanan kiri serayap membetulkan maskernya agar wajah buruknya tidak terlihat.
Krriiiiieetttt
Pintu terbuka dan menampilkan wajah tua yang kemarin di datanginya, matanya menatap ke arah Vero penuh hinaan sebab dia sudah sempat memperingatkan Vero atas hal ini.
"Masuk." Pintanya dengan suara serak lalu di balas Vero dengan tatapan kesal serayap mengikutinya masuk.
"Kenapa wajahku jadi seperti ini Nyai!!" Tutur Vero sebelum Wanita itu mempersilahkannya duduk.
Wanita itu hanya tersenyum miring dan duduk dengan tenangnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Duduk dulu." Pintanya singkat.
Dengan terpaksa Vero pun duduk meski saat ini perasaannya sangatlah kesal." Jelaskan padaku! Bagaimana bisa seperti ini!!" Tanya Vero dengan suara tinggi.
"Bukannya kemarin Nyai sudah memperingatikan mu akan hal ini." Jawab wanita itu tersenyum ke arah Vero namun Vero tidak mau di salahkan atas itu.
"Dasar!! Kan sudah ku bilang akan ku berikan uang lebih untukmu!"
"Jaga bicaramu Nak, aku tidak menyukai nada bicaramu yang seperti itu!" Jawabnya mulai tersulut amarah.
"Lihatlah wajahku Nyai." Vero membuka maskernya dan terlihat wajah Vero yang rusak dengan sisa nanah dan darah yang masih basah di sekitar pipinya.
Sebenarnya aku bisa mengambil itu, tapi aku tidak menyukai nada bicara wanita ini. Dia wanita yang tidak tahu terima kasih, akan ku beri sedikit pelajaran.
"Itu hasil dari keinginanmu yang terlalu berlebihan, Nyai tidak bisa membantumu, tunggulah beberapa hari mungkin Nyai bisa menemukan cara bagaimana bisa memulihkan wajahmu itu." Jawabnya dengan santai.
"Apa aku harus pergi berkerja dengan keadaan seperti ini!!"
"Sudah Nyai bilang! Bastian juga tidak akan mudah untuk kau takhlukkan. Jadi meski wajahmu buruk atau tidak, dia tidak akan terpengaruh." Jawabnya menjelaskan." Lebih baik kau lihat keadaan Ibumu daripada mengurusi hal tidak penting seperti ini." Imbuhnya memperingatkan.
"Aku tidak perduli! Kabari aku jika kau sudah menemukan caranya!" Jawab Vero langsung berjalan keluar.
Dasar anak bodoh! Ibunya bahkan sekarat karena memikirkan dia, hihihi....
.
.
.
.
🌁Mall🌁
Vero pergi ke Mall dan mengendap-endap mengintip ke arah ruangan Bastian yang terlihat masih kosong. Dia tersenyum tipis di balik masker dan langsung menuju ke depan untuk menemui Bella karena berniat ingin mengumpatnya habis-habisan.
Bella yang tengah asyik menata baju-baju langsung saja di tarik rambutnya dari belakang oleh Vero. Bella yang refleks dan langsung saja menarik tangan Vero lalu membantingnya ke lantai hingga Vero membentur keranjang baju dan membuat baju yang di tata Bella kembali berantakan.
"Aaaaggghhhh!! Sakit." Pekik Vero membuat semua karyawan malah menertawakannya sebab maskernya jadi terbuka dan memperlihatkan wajah buruknya.
"Astaga! Menjijikan sekali." Kata Lena menutup mulutnya sebab merasa jijik melihat luka yang ada di wajah Vero.
Vero yang menyadari maskernya terlepas, langsung cepat-cepat menutupnya lagi dan segera berdiri meski punggungnya terasa sakit.
"Ohh astaga Nona, aku tidak tahu jika itu tadi kamu." Tutur Bella yang memang tidak sengaja.
"Tidak perlu berpura-pura!" Jawabnya dengan penuh kemarahan." Kau sudah membuat wajahku seperti ini! Kalian harus tahu jika wanita ini adalah Dukun santet." Imbuhnya berteriak membuat Lena malah tertawa cekikikan.
"Mana buktinya Nona? Jangan asal bicara dan menyamakan ku denganmu yang hobi pergi ke Dukun agar bisa terlihat cantik." Jawab Bella dengan santainya.
"Jangan sembarangan menuduh kamu!" Tutur Vero yang wajahnya merah padam karena merasa malu.
"Aku tidak menuduh Nona."
"Cantikmu lah yang tidak alami, dan kau takut tersaingi dan menyebabkan wajahku jadi seperti ini bukan !!" Teriak Vero lagi.
"Itu mungkin azab." Sahut teman yang lain.
"Kau dengar sendiri Nona, di sini aku yang lebih lama berkerja, jadi teman-teman di sini sudah mengenalku cukup baik." Jawab Bella santai.
"Cepat ambil penyakit ini!"
"Aku bukan Dukun Nona, jika aku bisa melakukan itu, akan ku santet semua orang-orang yang mengangguku hahaha lucu sekali, bukannya itu perbuatanmu sendiri."
"Ya benar sekali." Jawab Bella singkat." Itu panggilan lamaku Nona, jadi aku sudah terbiasa di panggil seperti itu." Imbuh Bella.
"Dasar p#lacur!!!"
Raut wajah Bella seketika berubah, dia sangat tidak menyukai panggilan tersebut, dia berjalan ke arah Vero dan berbisik.
"Katakan lagi, ucapkan lagi, kau mau aku menghabisimu sekarang juga berserta Dukun sakti mu itu! Jaga bicaramu Nona, aku tidak pernah menganggu hidupmu bukan? Jadi jangan menganggu hidupku dengan ucapan busukmu." Bella meraih pundak kanan Vero dan mencengkeramnya erat.
"Ahhh.. Sakit." Eluh Vero merasakan pundaknya berkedut nyeri.
Wanita apa dia sebenarnya, kenapa kuat sekali.
"Sayang kau wanita. Jika kau pria, sudah ku babat habis mulut busukmu itu!!" Imbuh Bella mendorong sedikit pundak Vero hingga dia terjatuh ke lantai dan pergi membereskan baju-baju yang berceceran.
Karena merasa malu Vero pun berdiri dan pergi dari tempat tersebut.
"Apa kau benar-benar bisa melakukan itu Bella?" Tanya Lena.
"Mana mungkin Len, kau pikir aku seorang Dukun. Itu akibat dari perbuatannya sendiri! Menyebalkan! Aku sangat membenci kata-kata itu!" Runtuk Bella yang langsung berubah suasana hatinya.
"Yang terpenting kau tidak melakukannya bukan, jangan di ambil pusing oke."
"Hmm ya." Tersenyum ke arah Lena." Kau mirip Karin Len, aku jadi ingin dia datang meskipun hanya dalam mimpi." Imbuh Bella lirih.
"Aku harap nanti malam bisa terjadi." Jawab Lena tersenyum.
"Tidak Len, jika memang Karin di jadikan tumbal, arwahnya tidak akan bisa menemuiku karena dia terkurung dan di belenggu oleh makhluk itu."
"Aku juga belum menemukan Ide Bella padahal aku juga sebenarnya tidak tahan dengan teror yang membuatku tidak nyaman setiap malam." Eluh Lena yang masih merasakan kehadiran makhluk meski Lena tidak mengetahui bentuk makhluk tersebut seperti apa.
"Minggu ini aku akan pergi ke rumah penjaga rumah Bastian, dia sudah memberikan kami alamat. Kau mau ikut?"
"Tidak Bell, aku sudah ada janji dengan Radit sebab jika malam aku tidak bisa memenuhi ajakannya." Jawab Lena tersenyum.
"Hmm baik jika seperti itu, ingat untuk tidak sendirian atau berada di tempat sepi." Tutur Bella mengingatkan.
"Oke, aku mengingat hal itu." Tersenyum ke arah Bella.
Tuhan sangat tidak adil, kenapa wanita sebaik Bella harus mengalami hal yang memusingkan seperti ini? Rasa perduli nya sungguh besar meski terkadang dia sering lepas kendali. Aku tahu sekarang, kenapa Karin begitu membelanya? Dia memang sangat baik, aku akan mengantikan Karin untuk mengisi kekosongan hatimu Bella, aku berjanji akan menjadi sahabatmu untuk selamanya.
.
.
.
Seperti biasa, Bella tengah menunggu kedatangan Nathan di tempat yang sudah di janjikan. Sebuah mobil hitam berhenti, Bella mengerutkan keningnya sebab dia tidak mengenal itu mobil siapa.
Cklek
Pintu mobil terbuka dan menampilkan wajah Kevin yang sangat memuakkan untuk Bella.
Apalagi sekarang!!
Kevin berjalan ke arah Bella dengan tatapan menjijikan, dia belum juga merasa menyerah setelah Bella menghajarnya tempo hari. Bahkan tangannya pun sudah terlihat baik-baik saja, dia duduk di samping Bella dengan bola mata yang tidak terlepas dari wajah cantik Bella.
"Ada perlu Tuan?" Tanya Bella tanpa melihat ke arah Kevin.
"Hmm ya, aku merindukanmu." Jawabnya santai.
"Cih !! Menjijikan ! Mau mu apa hah ! Kenapa kau masih berkeliaran di sekitarku?"
"Terserahlah, bukannya ini tempat umum? Aku berhenti kemarin karena pengobatan, dan sekarang pengobatan ku sudah selesai jadi aku kembali menganggu hidupmu lagi." Jawab Kevin tersenyum tipis.
"Apa tujuanmu mengangguku? Apa itu suruhan dari teman busukmu itu!!" Tanya Bella menatap Kevin tajam.
"Astaga, kau semakin terlihat cantik jika marah seperti itu." Jawab Kevin terkekeh membuat Bella semakin mendengus kesal.
"Sudahlah, aku tidak ada urusan apapun denganmu." Bella berdiri namun tangan Kevin mencegahnya dengan akan menyentuh lengan Bella. Sebuah tangan muncul dan langsung mendorong tubuh besar itu untuk menjauh dari Bella.
"Menjauh darinya!" Sahut Nathan yang sudah berdiri di hadapan Bella.
"Ahhh sial!! Siapa lagi!! Kenapa banyak sekali yang melindungi siluman itu! Padahal tanpa perlindungan pun dia bisa menghajar ku dengan sekali pukul." Jawab Kevin meledek serayap berdiri dan mengebas-gebas jaket yang tersentuh oleh Nathan tadi.
"Kau benar! Biar aku yang menghabisi mulut sialan itu!" Jawab Bella akan maju namun di cegah oleh Nathan.
"Tidak ada gunanya meladeni pria seperti dia, kita pulang." Kata Nathan meraih jemari Bella.
"Hahahaha, ku fikir dia pria yang kuat sebab wajahnya terlihat seram, ternyata dia hanya pria yang bisanya mengajak wanita melarikan diri dari masalah." Tutur Kevin mulai berceloteh dengan mulut busuknya." Apa kau takut dengan pria yang lebih pendek darimu Tuan!! Hahaha." Imbuh Kevin membuat Nathan membalikkan badannya dan menghadiahkan satu pukulan ke wajah Kevin sehingga membuat Kevin terpental lalu terduduk di bawah.
"Aku bukan takut padamu, aku hanya malas mengotori tanganku dengan menyentuhmu seperti ini!" Nathan mengambil sapu tangan dan mengusap tangannya lalu membuang sapu tangan tersebut ke wajah Kevin yang mengeluarkan darah di sekitar bibir dan hidung.
Aku selalu senang melihat adegan seperti ini! Pikir Bella merasa kagum dengan Nathan yang terlihat sangat menawan di matanya ketika sedang menghajar seperti sekarang. Nathan kembali meraih jemari Bella yang masih fokus melihat ke arahnya.-
TBC🙏