
Para tamu undangan sudah berdatangan dan memenuhi halaman rumah Nathan yang begitu luas. Dengan Jas serba putih yang Nathan kenakan, membuatnya terlihat begitu tampan dan dewasa. Nathan tengah berdiri menunggu Bella yang masih bersiap-siap bersama Pak Salim serta beberapa saudara dari Ayahnya, bahkan Farel juga sudah berada di sana dan turut merasa bahagia dengan pernikahan Nathan dengan Bella.
Nathan dan Pak Salim memang sengaja tidak banyak bercerita soal Bella, karena mereka tidak ingin ada gosip tidak sedap sehingga membuat Bella merasa tidak nyaman. Mereka berniat menyimpan rahasia itu untuk mereka sendiri sebab menurut mereka itu hal yang sangat tidak penting untuk di khawatirkan.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Bella keluar dengan di dampingi oleh Mama Sinta dan juga Lena. Kini semua pandangan terfokus pada Bella, pesonanya begitu kuat hingga membuat seluru tamu undangan melihat kearahnya dengan raut wajah kagum. Dengan berbalut gaun putih yang setara dengan Jas yang di kenakan Nathan, Bella melangkah perlahan menuju ke arah Nathan yang sudah menunggunya sejak tadi.
Wajahnya merona merah begitupun Nathan saat keduanya berdiri saling berhadapan. Manik keduanya saling memandang, saling mengagumi satu sama lain. Bella merasa jika Nathan terlihat begitu tampan pagi ini, Nathan juga merasa jika Bella terlihat sangat teramat cantik pagi ini, Nathan bahkan tidak bisa berucap untuk bisa melambangkan perasaannya. Bahagia, haru dan ada rasa tidak percaya jika dia benar-benar bisa menjadikan Bella miliknya seutuhnya.
Ahh yah! Aku sedang bermimpi menikahi seorang bidadari, astaga sayangku kenapa kau begitu cantik sehingga membuat jantungku langsung berdetak aneh seperti sekarang. Batin Nathan serayap memandangi wajah Bella.
Meski kau hanya manusia awam tapi kau memang sangat tampan Nath. Kau membuatku semakin gugup saja, astaga Tuhan, rasanya ketakutan itu musnah begitu saja saat aku melihat wajahnya. Batin Bella yang juga tengah memperhatikan wajah Nathan tanpa memperdulikan tamu undangan yang saat ini tengah melihat ke arah keduanya.
"Astaga mereka sudah tidak sabar." Suara comel dari Farel membuat Bella dan Nathan langsung tersadar jika saat ini mereka tidak sedang berdua saja.
Dasar bodoh! Batin Bella yang langsung menundukkan wajahnya ketika dia sadar jika seluru tamu undangan tengah berbisik-bisik membicarakannya.
Nathan sendiri tidak memperdulikan hal itu dan masih fokus melihat ke arah Bella yang sudah tertunduk malu. Nathan meraih jemari Bella, menuntutnya menuju ke arah tempat di mana janji suci keduanya akan di ikat. Acara berlangsung hikmat, tanpa merasa ragu, Nathan mengucapkan janji suci tersebut dengan lantang dan jelas.
Detik ini juga, semua sudah berbeda. Status Bella kini sudah berubah menjadi istri seorang Nathan. Para tamu yang merupakan saudara dekat, satu persatu berjalan maju untuk memberi selamat pada Nathan dan Bella. Mereka terkadang berbisik-bisik dan terkagum-kagum dengan kepintaran Nathan dalam memilih seorang istri. Meski dalam kenyataan, Bella hanyalah seorang wanita yang sering gagal dalam menjalin sebuah pernikahan.
"Kau masih saja malu padaku sayang, ingat. Sekarang aku suamimu." Bisik Nathan saat Bella akan melepaskan jemari tangannya yang sejak tadi di genggam erat oleh Nathan.
"Tanganku rasanya berkeringat." Jawab Bella lirih padahal dia hanya sedang beralasan.
"Tidak ada keringat di sini." Nathan memperlihatkan telapak tangan Bella yang kering membuat Bella mengerutkan keningnya sebab Nathan selalu saja tidak pengertian padanya. Pengertian untuk jantungnya yang semakin lama semakin terasa tidak terkendali.
"Aku haus." Pinta Bella beralasan lagi.
Tangan kiri Nathan melambai ke arah Farel, dan Farel segera berjalan ke arah Nathan.
"Ambilkan minum." Tutur Nathan.
"Oke baik, sebentar." Jawab Farel tersenyum ke arah Bella yang terlihat begitu cantik dengan gaun putih tersebut.
"Akan ku congkel bola matamu itu jika kau melihat istriku seperti itu!!" Kata Nathan menatap tajam ke arah Farel membuat Farel langsung mengalihkan pandangannya.
"Haha maaf, terbawa suasana. Sebentar ku ambilkan." Farel tersenyum sejenak dan pergi dari hadapan Nathan.
Para tamu satu persatu pulang meninggalkan kediaman Pak Salim, hanya tersisa satu atau dua orang yang sedang mengobrol dengan Pak Salim. Bella dan Nathan sendiri tengah duduk di salah satu kursi sebab kaki keduanya cukup lelah sudah berdiri selama tiga jam.
"Apa kau lelah sayang?" Tanya Mama Sinta yang juga berada di sana.
"Tidak Ma."
Aku hanya merasa tegang. Batin Bella yang masih tidak jujur dengan perasaannya.
"Kita kembali malam ini sayang, kasian Bara, dia juga ingin pergi ke sini namun banyak sekali perkerjaan yang harus di selesaikan di sana." Sahut Pak Raffles tersenyum ke arah Bella.
Untuk apa ke sini jika hanya akan meledekku?
"Hmm iya, Ayah dan Mama bisa menginap satu atau dua Minggu di sini." Imbuh Nathan.
"Mama juga ingin seperti itu, tapi perkerjaan Ayahmu terlalu padat. Bagaimana jika seminggu lagi kalian main ke sana dan menginap satu Minggu atau dua Minggu." Bella langsung melihat ke arah Nathan seolah sedang meminta izin untuk itu.
"Tentu saja Ma, saya usahakan datang ke sana dan menginap beberapa Minggu." Jawab Nathan membuat Bella tersenyum tipis ke arah Nathan.
Asal kau bahagia saja sayang, apapun akan ku lakukan. Kau sekarang sudah Syah menjadi milikku. Tidak akan ada alasan lagi untuk meninggalkanmu, apapun yang terjadi nanti aku berjanji akan selalu berada di sampingmu.
"Astaga, Mama senang sekali. Semoga kalian selalu bahagia." Tutur Mama Sinta mencium pipi Nathan dan Bella secara bergantian." Sebaiknya kalian istirahat, kami baru kembali sore ini." Imbuh Mama Sinta.
"Aku tidak lelah." Kata Bella menyela dengan nada bicara cepat.
"Mama tahu kau tidak akan merasa lelah sayang, tapi suamimu bagaimana? Persiapan pernikahan itu sangat melelahkan." Jawab Mama Sinta lembut.
Ahh yah! Ini seperti mimpi, aku dan Nathan sudah menjadi pasangan suami istri. Ya Tuhan, semoga aku bisa bersikap lebih baik pada Nathan, aku hanya perlu menghilangkan perasaan gugupku saat ini. Tapi semua itu rasanya begitu sulit.
"Aku tunggu di kamar milikku sayang." Kata Nathan mengusap puncak kepala Bella." Ma Yah aku permisi, punggungku sedikit sakit setelah tadi." Imbuh Nathan berdiri.
"Baik Nak silahkan."
Nathan tersenyum sejenak ke arah Bella yang masih berperang batin." Tidak baik seperti itu sayang." Tutur Mama Sinta menatap sendu Bella.
"Hmm yah, Ayah minta bersikap lembut lah pada suamimu sayang. Jangan kecewakan dia terlebih lagi kami." Pinta Pak Raffles membuat Bella langsung menelan saliva-nya pelan.
"Jangan seperti itu Yah." Jawab Mama Sinta mengusap lembut lengan suaminya.
"Ayah hanya tidak ingin Bella merasakan kekecewaan lagi Ma, itu saja. Maaf jika kata-kata Ayah seperti itu, Ayah tidak bermaksud begitu." Kata Pak Raffles menjelaskan.
"Bella tahu maksud dari Ayah." Jawab Bella mencoba tersenyum.
"Jangan merasa tersinggung sayang."
"Tidak Ma, emm aku akan menyusul Nathan." Kata Bella tersenyum aneh dan segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
"Ayah masih saja seperti itu?" Protes Mama Sinta.
"Ayah hanya tidak ingin mengecewakan Nathan."
"Iya, tapi semua butuh proses Yah. Ayah tahu Bella sekeras apa pemikirannya, biar semua berjalan secara alami jangan di paksa seperti itu. Aku tidak ingin jika dia tertekan lagi dan harus pergi bertahun-tahun seperti kemarin." Jawab Mama Sinta kesal.
"Hmm maaf, Ayah selalu lepas kendali seperti itu."
Mama Sinta mendesah lembut, sebab sebenarnya dia juga merasa takut jika kegagalan kembali menghampiri kehidupan bella.-
TBC♥️