
πMobil Nathanπ
"Kau sangat pemberani Bella." Kata Nathan membuka pembicaraan.
"Pengalaman yang membuatku seperti itu." Jawab Bella serayap makan.
"Kenapa tidak membungkus dua saja? Kau terlihat masih sangat lapar." Nathan tersenyum serayap melihat ke arah Bella sejenak.
"Emosi tadi membuatku lapar Nath." Jawab Bella yang fokus pada makanannya.
"Kenapa kau tidak menerima uang dari Ibu tadi Bell?" Nathan merasa penasaran dengan Alasan Bella menolak uang terima kasih dari pemilik warung.
"Aku ikhlas menolong mereka, di berikan makanan gratis saja sudah cukup untuk bantuan kecil itu." Jawab Bella tersenyum.
Dia memang wanita yang berhati cantik seperti wajahnya. Aku baru percaya jika keajaiban itu benar-benar ada. Melihat Bella menyayat pergelangan tangannya seperti tadi, membuatku yakin jika Bella memang bukan wanita biasa. Yang jadi pertanyaan di sini adalah, kenapa harus Bella? Bukan wanita lain. Batin Nathan.
π π π
π π π
Rumah Lena...
Lena terlihat sedang berbaring serayap menelfon kekasihnya, dia mengakhiri panggilannya saat terdengar suara ketukan di jendela kamarnya. Lena beranjak dari tempat tidurnya dan mengecek ke luar jendela, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri saat dia merasa sebuah angin berhembus kencang dari arah pohon mangga samping kamarnya. Bau kentang bakar tercium begitu menyengat membuat Lena langsung menutup jendelanya berserta kordennya.
"Apa ini? Kenapa suasana di sini sangat aneh." Gumahnya.
Lena berusaha mengambil ponselnya dan menghubungi Bella, sebab dia merasa jika Bella tahu tentang semua ini.
Via telfon π²
"Be Bella.." Tuturnya gemetaran serayap menekuk kedua lututnya sambil memeluknya.
"Ada apa Lena?"
"Aku merasa ada perasaan aneh saat dia kamar, terus tadi aku mencium bau Kentang bakar. Aku harus bagaimana Bella?"
"Hmm mirip seperti saat Karin datang ke rumahku, kau tenanglah Lena, mereka tidak akan bisa menyentuhmu. Sebaiknya malam ini kau tidur dengan Ibumu saja, agar kau tidak seberapa takut. Apa rambut itu masih ada?" Tanya Bella memastikan.
"Masih ada Bella."
"Kau hanya bisa merasakan kehadirannya Lena, tapi mereka tidak akan menyentuhmu. Sebaiknya kau langsung ke kamar Ibumu agar perasaanmu lebih baik."
"Oke Bella, sampai bertemu besok."
"Hmm iya, tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa."
"Iya Bell."
Lena mengakhiri panggilan lalu mengengam ponselnya dan langsung keluar dari kamarnya menuju ke arah kamar orang tuanya yang berada di samping kamar miliknya.
Sementara di luar, sosok itu hanya mengeram sebab dia ingin masuk namun tidak bisa. Bastian yang juga sedang berada di sana, merasa aneh dan melihat dengan mata kepalanya sendiri jika makhluk itu tidak dapat masuk ke dalam rumah Lena.
"Kenapa seperti ini?" Gumahnya." Aku tidak ingin Bella merasa curiga lagi kepadaku! Aku harus menghabisi Lena bagaimana pun caranya." Imbuh Bastian serayap pergi dari tempat itu setelah makhluk miliknya masuk ke dalam kalung yang melingkar di lehernya.
πππ
Anak buah Ki Joko seger terlihat menopang tubuh ki Broto dan masuk ke dalam gubuk milik Ki Joko seger. Serangan Bella tadi rasanya sudah membuat tubuhnya terasa lemah, darah terus saja keluar sedikit demi sedikit di sudut bibirnya. Ki Joko seger langsung mengobati luka dalam Ki Broto serayap mengucapkan mantra-mantra sambil menyentuh punggung milik Ki Broto. Dia langsung batuk-batuk dengan mengeluarkan darah yang sangat banyak. Ki Joko seger sendiri tubuhnya langsung melemah setelah berusaha mengobati Ki Broto agar kembali pulih.
"Sudah ku bilang untuk tidak melanjutkan itu semua bukan!! " Bentak Ki Joko seger geram sebab Ki Broto tidak menuruti peringatan darinya.
"Maaf guru, aku hanya tidak ingin mengecewakan pelanggan ku saja." Jawab Ki Broto serayap menahan rasa sakit yang masih sangat terasa.
"Aku bahkan selalu mencari-cari alasan supaya pelangganku melupakan ambisinya untuk memiliki wanita itu. Tapi kamu malah tidak melakukan perintahku!!"
"Maaf Guru... Sebenarnya wanita itu siapa?" Tanya Ki Broto serayap memegang dadanya.
"Intinya ilmu yang dia miliki bertolak belakang dengan ilmu kita, jadi kau tidak perlu macam-macam lagi dengannya."
"Kalian bawa dia ke kamar agar dia bisa beristirahat." Pinta Ki Joko seger pada anak buahnya.
"Baik Ki."
Sudah aku duga jika seperti ini, aku masih mencari alasan pada Bastian agar dia mengerti jika wanita itu akan menghancurkan hidupnya sendiri. Astaga... Bastian sudah telalu banyak melakukan kesalahan fatal karena ambisinya, dan aku tidak bisa lari dari tanggung jawab ini. Jika aku lari makhluk itu akan mengoyak habis tubuhhku ini.. Apa yang harus aku lakukan... Batin Ki Joko seger yang merasa binggung dengan desakan Bastian untuk mencari cara agar Bella bisa gampang di takhlukkan.
.
.
π π π
Mobil Nathan baru saja terparkir di bahu jalan depan rumah Bella, lagi-lagi dia tidak langsung pergi dan menombol kunci otomatisnya. Bella yang sudah terbiasa dengan kebiasaan Nathan hanya melipat kedua tangannya sambil menunggu Nathan membukakan pintu untuknya.
"Sekarang apalagi Nath?" Protes Bella yang sudah 10 menit berlalu namun Nathan masih berdiam serayap melihat ke arah Bella yang tengah berada di sampingnya.
"Ikutlah ke rumahku Bella," Jawab Nathan lirih.
"Untuk apa aku melakukan itu? Cepat buka pintunya, atau aku akan mendobrak pintu mobil ini agar rusak!!" Ancam Bella yang tidak pernah di perdulikan oleh Nathan, sebab Nathan tahu jika Bella tidak akan melakukan hal itu. Nathan bahkan tahu jika ucapan kasar Bella hanya di jadikannya untuk menutupi perasaan gugupnya.
"Dobrak saja! Aku akan membelinya lagi!" Nathan mengedipkan sebelah matanya pada Bella yang saat ini tengah melihat ke arahnya dengan wajah kesal.
"Besok pagi aku harus berkerja Nath, ini sudah sangat larut." Tutur Bella merendahkan nada bicaranya sebab Nathan sudah mulai menatapnya lekat.
"Aku yakin Kak Bastian tidak akan pernah memecatmu meski kau terlambat sekalipun. Mari pulang ke rumahku, akan ku kenalkan kau pada Ayah, mungkin saja Ayah bisa membujukmu untuk menerima pinanganku." Lagi-lagi Nathan menampilkan sebuah senyuman yang mampu membuat hati Bella bergetar.
Ada perasaan sangat bahagia di dalam hati Bella saat ini, sekalipun dia tidak pernah berhadapan dengan pria seperti Nathan yang terlihat sangat kasar, namun di balik sikap kasarnya ada sikap lembut yang bisa membuat jantung milik Bella bergetar hebat.
"Menikahlah jika kau merasa tidak sabar." Jawab Bella lirih.
"Denganmu? Aku hanya mau menikah denganmu Bella. " Nathan menarik nafas panjang dan mencoba meredam perasaannya yang semakin tidak terkendali. Dia menyadarkan punggungnya serayap menatap ke arah Bella yang wajahnya mulai terlihat merah." Ahhh.. Ini sangat mengesalkan." Eluhnya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Kau sudah gila Nath?"
"Ya!! Lebih tepatnya tergila-gila. Aku ingin selalu bersamamu Bella, melindungi dirimu dan menjagamu. Tapi jika kau tidak mau ku nikahi bagaimana itu bisa terjadi, setiap kali aku mengantarkanmu pulang, rasanya sangat sulit. Aku ingin membawamu ikut serta ke rumah, di sana sangat banyak kamar kosong, kau bisa tinggal di sana bersamaku daripada perasaanku tidak tenang seperti sekarang." Tutur Nathan menjelaskan.
Bella malah terkekeh mendengar ucapan Nathan tadi dan hal itu membuat Nathan ikut tersenyum." Kau sangat berlebihan Nath, nyamuk bahkan tidak dapat menyentuhku sekalipun." Jawab Bella berusaha santai.
"Hmm kau benar, kau sangat kuat secara fisik. Tapi aku tahu jika hatimu sangat rapuh Bella." Bella langsung menatap sendu ke arah Nathan." Aku tidak ingin menjaga fisikmu itu, tapi aku ingin menjaga hatimu dan merawatnya dengan baik." Membalas tatapan Bella.
Manusia ini selalu saja membuatku berdebar-debar seperti sekarang. Aku sangat ingin berkata iya Tuhan tapi... Ahhh sudahlah..
"memangnya kau bisa merawat hatiku dengan baik Nath, ucapanmu itu seperti anak SMA yang sedang membual pada kekasihnya." Jawab Bella meledek.
"Sayangnya aku pria berumur 20 tahun, jadi aku tidak sedang membual Bella. Beri kesempatan untukku agar aku bisa buktikan semuanya."
Sudah kuberikan kesempatan itu Nath. Sebab satukalipun aku tidak pernah mengizinkan seorang pria berada di dekatku meski hanya berniat ingin mengenal saja.
"Sudahlah Nath, cepat buka. Jawabannya akan tetap sama. Oke!"
"Sebentar, ku bukakan pintu untukmu." Nathan terpaksa harus menerima kenyataan ini, meski rasanya perasaannya untuk Bella sudah semakin menusuk ke hatinya.
Nathan membuka pintu mobil lalu Bella pun keluar, terlihat raut wajah Nathan yang tidak ingin segera pulang. Dia menarik nafas lembut dan menutup pintu mobilnya serayap melihat ke arah Bella yang sudah berjalan ke arah rumahnya.
"Dia bahkan tidak mengucapkan apapun padaku." Gumah Nathan bersandar pada body mobil miliknya.
Bella melambai sejenak ke arah Nathan lalu langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Nathan masih memperhatikan rumah Bella yang sudah tertutup, dia merentangkan kelima jari tangan kirinya dan tersenyum saat melihat rambut Bella yang masih melilit di jari tengahnya.
"Aku tidak percaya jika aku mencintai wanita aneh itu, aku bahkan tidak tahu dia seorang manusia atau siluman." Tersenyum." Meski kau seorang siluman, aku akan tetap berada di sampingmu Bella." Nathan kembali mendesah lembut lalu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Bella.
Bella sendiri menarik nafas lembut saat melihat mobil Nathan sudah meninggalkan kediamannya. Saat dia akan masuk ke dalam kamar, Bella teringat sesuatu. Dia langsung melihat ke arah telapak tangannya yang sudah bersih.
"Ahh tidak! Aku melupakan Bapak-bapak itu." Bella melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 22.00." Sudah terlambat, harusnya aku bisa memantau Bapak ini. Dasar bodoh! Kenapa aku melupakannya. Yah sudahlah.. Buktinya Lena merasakan hal aneh tadi, bukankah itu berarti Bastian memang dalang di balik ini semua. Bagaimana caranya aku tahu rumah Bastian berada di mana? Jika aku bertanya pada Bastian, aku takut dia akan curiga denganku. Ahhh.. Harusnya Nathan menjauh dulu agar aku bisa fokus pada Kakaknya itu. Dasar keras kepala!" Runtuk Bella serayap tersenyum sebab teringat dengan manisnya sikap Nathan padanya meski beberapa kali dia sudah menolaknya dengan kata-kata kasar.-
TBCβ₯οΈ