
Malam itu Bastian kembali menyatroni rumah Lena namun dia dan mahluknya tetap tidak bisa menembus pertahanan yang di buat Bella. Emosinya langsung naik ke ubun-ubun saat keinginan tersebut tidak terpenuhi, dia masuk kedalam mobil lagi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Ki Joko seger.
Sementara Ki Joko seger sendiri terlihat berkemas dan akan meninggalkan tempat untuk sementara waktu. Dia sangat pusing dengan permintaan Bastian yang tidak pernah mengerti jika hal ini terlalu sulit untuk di raih. Beberapa kali serangan telah Ki Joko seger kirim untuk Bella agar Bella bisa tunduk, namun Bella seolah tidak merasakan apa-apa. Bahkan Bastian juga menyuruh Ki Joko seger untuk menyerang Ayah dan Ibu Bella agar Bella bisa tunduk tetap tidak ada yang terjadi, bahkan rumah milik Bella seolah sudah di lindungi oleh sebuah lingkaran yang sulit untuk Ki Joko seger tembus.
"Gara-gara pelanggan itu aku jadi kemalaman seperti ini." Ki Joko seger menarik reseleting tas dan segera membawanya berjalan keluar. Tidak lupa dia mengembok pintu gubuknya sebelum berjalan pergi ke arah barat agar tidak berpapasan dengan Bastian nantinya.
Sreeekkk...srekkk....sreeekkkk....
Ki Joko seger menoleh saat ada sesuatu yang tengah mengikutinya.
Astaga Bastian.. Batin Ki Joko seger serayap komat-kamit agar Bastian tidak dapat menyerangnya.
Srekkk...sreeek...sreeekkk...
Mantra tersebut seolah tidak berlaku sebab Ki Joko seger masih merasakan jika Bastian tengah berada di sekelilingnya.
Aku benar-benar sudah berurusan dengan seorang iblis yang berwujut manusia.
Alangkah terkejutnya Ki Joko seger saat melihat Bastian sudah berdiri di hadapannya dengan membawa belati di tangan kanannya.
"Kau mau kemana Ki. Mau lari dariku. Dan lepas dari tanggung jawab ini?" Tutur Bastian lirih namun bisa membuat lawan bicaranya bergidik ngeri mendengar intonasi ucapan yang terdengar tenang namun penuh penekanan.
"Tidak Bas, emm murid aki ada yang membutuhkan aki jadi aki akan ke pergi tempatnya." Jawab Ki Joko seger beralasan.
"Aku bahkan bisa mendengarkan isi hatimu tadi Ki! Apa kau ingin membodohi ku!!" Teriak Bastian geram.
"Maaf Bas, aki sudah berbicara jujur padamu karena targetmu kali ini bukan wanita biasa, namun kau sendiri terus mendesak aki seperti itu. Jadi lebih baik aki pergi sebab aki merasa pusing dengan semua ini." Tutur Ki Joko seger lirih.
"Ohh jadi seperti itu." Bastian berjalan mendekati Ki Joko seger." Kenapa tidak bilang dari awal saja Ki, jika kau bilang dari awal aku akan memikirkan itu semua. Maaf sudah membebankanmu." Tutur Bastian yang terdengar seperti sebuah ancaman. Bastian mengusap lembut pundak belakang Ki Joko seger dan merangkulnya erat." Kau mau aku membantu meringankan bebanmu itu." Imbuh Bastian berbisik.
"Ti tidak perlu Bastian, aku hanya ingin kau melupakan ambisimu untuk wanita itu." Jawab Ki Joko seger ketakutan.
"Hmm begitu." Mengangguk-angguk." Jadi kau ingin aku melupakan kesayanganku itu?" Ki Joko seger mengangguk pelan." Ohh baik, jika kau inginnya seperti itu, aku akan memberimu kesempatan untuk melupakan masalah ini hingga kau bisa terbebas dari semua urusan yang berhubungan dengan masalah ini."
Jleeeepppp....
Rasa perih langsung menjalar di sekujur tubuh Ki Joko seger sebab Bastian sudah menusukkan belati miliknya di dada Ki Joko seger. Mata Ki Joko seger melebar, dia tidak menyangka jika Bastian akan berbuat setega itu setelah sekian lama dia selalu menolongnya dalam berbagai masalah.
"Dasar manusia tidak tahu terima kasih..!!" Teriak Ki Joko seger serayap menahan perih yang mulai membuat pengelihatannya menjadi gelap.
Bastian menusukkan belatinya lebih dalam lagi hingga menembus tulang iga dan jantung Ki Joko seger, sesaat setelah itu, Ki Joko seger menarik nafas berat dan menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata yang terbelalak lebar.
"Kau sudah terbebas bukan hahahaha." Bastian menarik kembali belatinya dan menjilati sisa darah di belatinya dengan tatapan yang mengerikan. Tidak lupa dia mengusap liontin miliknya dan sesaat setelah itu makhluk tersebut muncul dengan mata merahnya." Ini makananmu! Darahnya di sungguh manis, makan dia hingga tidak tersisa." Pinta Bastian tersenyum tipis lalu meninggalkan tempat itu begitu saja.
Makhluk itu langsung mengendus tubuh Ki Joko seger dan langsung mencabik-cabik tubuh Ki Joko seger lalu melahap tubuhnya hingga tidak tersisa.
.
.
.
.
๐Kediaman Nathan๐
๐00:35๐
Nathan sengaja tidak memejamkan mata malam ini, dia duduk sambil menikmati kopi hangatnya menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap masuk ke kamar Bella. Nathan tidak punya niat yang buruk, hanya saja dia merasa penasaran bagaimana keadaan Bella saat mimpi itu datang.
๐01:00 Dini hari๐
Nathan menarik nafas panjang dan beranjak keluar dari kamar yang tepat berada di samping kamar Bella. Dia berdiri mematung dan perlahan mendekatkan telinganya ke arah pintu kamarnya sendiri, Nathan merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah kunci dan memasukkannya.
Cklek...
Dia menggerakkan gagang pintu secara perlahan dan mengintip di sela pintu yang masih terbuka sedikit. Terlihat jelas jika Bella tengah tertidur lelap di atas tempat tidurnya, Nathan tersenyum sejenak dan berjalan masuk ke dalam kamar dengan perlahan. Wajah Nathan memerah saat melihat Bella tidur dengan wajah polosnya, dia membetulkan posisi selimut agar Bella bisa tidur dengan nyaman. Setelah itu, Nathan berjalan menuju sofa dan duduk menatap lurus ke arah Bella yang tidak sadar dengan keberadaan Nathan di sana.
Dua jam...
Tiga jam berlalu hingga Nathan terlihat beberapa kali menguap karena sudah sangat mengantuk. Kelopak matanya tertutup sebentar dengan posisi samping kepala yang di tumpukan pada telapak tangan kanannya. Mata Nathan melebar saat mendengar suara yang berasal dari Bella, dia beranjak dari tempat duduknya dan melihat Bella yang mulai memasang wajah gelisah. Tangannya seolah terikat padahal Nathan sendiri melihat jika tidak ada apapun yang berada di tubuh Bella.
"Lepas..! Ku mohon lepaskan aku!" Beberapa kali ucapan itu di ulang-ulang oleh Bella seolah berusaha terlepas dari ikatan yang ada di tubuhnya.
Nathan mencoba untuk membangunkan Bella namun dia malah mendapatkan tendangan dari kaki Bella hingga jatuh tersungkur di bawah tempat tidurnya.
Ahhh sakit sekali.. Eluhnya dalam hati serayap berusaha bangun.
"Tidak.. Ku mohon.. Jangan mendekat...!!" Teriakan Bella semakin kencang dengan melakukan gerakan yang semakin tidak terkendali.
Nathan berdiri lalu berjalan keluar sebab dia tidak ingin ketahuan Bella dan membuat Bella menjadi marah padanya karena menyelinap masuk. Nathan kembali mengunci pintu kamarnya dan bersandar pada daun pintu sambil memikirkan bagaimana bisa Bella bermimpi sampai seperti itu.
Apa yang di lihatnya dalam mimpi hingga dia gelisah seperti itu? Nathan bergegas masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya pelan sebab tidak ingin Bella sampai melihat keberadaannya.
Sementara Bella sendiri kembali bangun dengan selimut dan sprei yang basah akibat keringatnya sendiri, dia buru-buru berdiri dan membereskan selimut dan sprei tersebut. Bella berjalan ke arah lemari milik Nathan dan mencari sprei baru untuk mengantikannya. Bella tersenyum saat melihat sebuah sprei terlipat rapi di lemari milik Nathan lalu memasangnya langsung pada tempat tidur Nathan.
"Lantas aku harus mencuci ini semua di mana?" Bella mengambil sprei dan selimut yang basah keluar dari kamar lalu menuruni tangga dan menuju belakang rumah.
Bella terpekik kaget saat berpapasan dengan perawat Pak Salim yang terlihat sudah bangun.
"Astaga Nona." Tutur perawat yang juga merasa kaget.
"Apa Ibu tahu tempat mencuci ada di mana?" Tanya Bella.
"Taruh di situ saja Non, sebentar lagi pembantunya datang kok jadi biar di cuci sama dia." Perawat tersebut menatap heran ke arah Bella yang pagi-pagi sudah mandi keringat seperti habis melakukan aktivitas panas.
Ahhh ternyata Tuan Nathan menyukai hal yang seperti itu, aku pikir dia pria yang kaku, tapi pantas saja, pacarnya cantik sih jadi wajar kalau..Ahhh itu hanya dugaan saja, kenapa aku jadi berfikir macam-macam.
Perawat tersebut tidak sadar jika tatapannya saat ini membuat Bella merasa tidak nyaman." Emm apa ada yang aneh dari saya Ibu?" Tanya Bella lirih.
"Tidak Non." Jawab perawat itu terdengar gugup.
"Hmm baik, di mana tempat mencucinya?" Tanya Bella lagi.
"Di sana Non." Menunjuk ke arah samping.
"Oke terima kasih." Bella berjalan menuju ruangan yang tepat berada di samping dapur. Dia langsung memasukkan sprei dan selimut ke dalam mesin cuci, sambil menunggu mesin cuci beroperasi, Bella bersandar pada dinding ruangan tersebut serayap menatap ke arah luar. Bella teringat dengan peti kecil itu dan bergegas keluar ruangan untuk mengambil peti tersebut karena hendak memusnahkannya. Saat Bella menaiki tangga, Nathan terlihat akan turun dan keduanya berpapasan dengan posisi keadaan Bella yang berkeringat seolah habis berolahraga.
"Pagi." Sapa Nathan membuat Bella menghentikan langkahnya.
Nathan memperhatikan keadaan Bella saat ini dari atas sampai bawah." Hmm pagi juga, apa yang sedang kau lihat Nath?" Tutur Bella merasa tersinggung dengan cara Nathan melihatnya saat ini.
"Tidak ada." Nathan mengalihkan pandangannya sebab pikirannya langsung terasa keruh saat dia melihat Bella jika berkeringat seperti sekarang." Bagaimana tidurmu?" Imbuhnya bertanya serayap menarik nafas panjang.
"Tidak ada yang berubah, seperti biasanya." Jawab Bella lirih." Apa kau mempunyai korek api Nath?" Imbuh Bella bertanya.
"Untuk apa?"
"Membakar peti kemarin."
"Aku ada, sebentar ku Carikan."
"Oke, aku akan mengambil petinya." Bella tersenyum sejenak dan kembali berjalan menaiki tangga. Bola mata Nathan kembali mengikuti kemana Bella melangkah pergi, dia kembali menarik nafas panjang sebab hasrat untuk memiliki Bella kembali mengitari otaknya. Dan hal itu membuatnya muak sebab Bella belum bisa membalas perasaannya saat ini.
"Tidak ada yang berubah meski aku sudah melihat Bella dengan keadaan sedang bermimpi seperti tadi." Nathan mengusap lembut perutnya yang masih terasa nyeri akibat tendangan dari Bella." Perasaanku masih tetap sama Bella, sekarang aku paham jika mantan suamimu lah yang pengecut! Aku bahkan tidak perduli jika kau adalah wanita gila, astaga apa yang sedang ku ucapkan! Sebaiknya aku cepat mengambil korek api tersebut." Nathan menuruni tangga dan berjalan ke arah dapur, dia tidak menyadari jika sedari tadi Bella tengah berdiri di belakangnya dan mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Nathan.
Kau membuktikan ucapanmu itu Nath, kau bahkan tidak pergi setelah melihat semua hal yang selalu menjadi sumber masalah di hidupku. Apa benar jika mantan suamiku yang terlalu pengecut? Atau kaulah yang terlalu bodoh sebab mata hatimu sudah tertutupi oleh rasa cinta itu? Bella mengusap lembut matanya yang berair dan menuruni tangga dengan mengengam erat peti kecil di kedua tangannya.-
Udah di panjangi part nya yah meski nggak bisa dobel up๐
Terimakasih yang masih setia ๐
Silahkan like ๐ komentar ๐ฌ klik โฅ๏ธ Vote juga please ๐ Terimakasih ๐