
🚗Mobil Nathan🚗
Bella masih senyum-senyum mengingat betapa mempesonanya Nathan saat dia menghajar Kevin tadi. Nathan sendiri pun ikut tersenyum sebab melihat wajah bahagia dari Bella.
"Apa ada yang lucu sayang?" Tanya Nathan memecah lamunan Bella.
"Tidak ada." Jawab Bella kaget.
"Lantas kenapa kau senyum-senyum seperti itu?"
"Tidak, Kau salah lihat mungkin."
"Hmm ya sudahlah." Jawab Nathan yang menyadari jika Bella selalu tidak mengakui perbuatannya." Besok Minggu bukan? Karena kita ada janji dengan penjaga rumah itu Ayah mengundangmu untuk menginap di rumah malam ini." Imbuh Nathan serayap melihat ke arah Bella sejenak.
"Apa benar Pak Salim yang mengundang bukan kamu?"
"Kau bisa bertanya sendiri pada beliau nanti." Jawab Nathan tersenyum tipis.
"Emm baik, antar aku ke rumah, biar aku bisa memberi makan kucingku dahulu." Pinta Bella merasa sangat bahagia dengan undangan tersebut.
"Baik sayang."
Bella menarik nafas panjang sebab Nathan jadi semakin sering memanggilnya dengan sebutan sayang daripada biasanya. Setibanya di rumah, seperti biasa, sementara Bella di dalam, Nathan menunggunya di ruang televisi. Saat Bella sudah mengurus semuanya dan akan menuju ke arah Nathan, ponselnya berdering. Nathan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bella sebab sangat ingin tahu siapa yang sudah menelfon. Dia mematikan televisi karena berharap bisa mendengarkan obrolan Bella.
Bella sendiri melihat malas ke arah layar ponsel yang tertulis nama 'Bara'. Bara adalah saudara angkat Bella, dia merupakan anak dari orang kepercayaan ayahnya yang saat ini tengah membantu Ayah Bella mengurus perusahaan. Bara pernah menghampiri Bella satu kali, namun karena hal itu semakin membuat Bella marah, dia tidak pernah melakukannya lagi.
Via telfon📲
"Ya." Tutur Bella singkat.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik, sangat baik."
"Emm begitu, syukurlah. Kau tidak ingin pulang Bella?"
"Hmm entahlah." Jawab Bella lirih.
"Kasihan Mama, kau sudah meninggalkannya bertahun-tahun. Jika tidak ingin menemui Ayah, pulanglah untuk Mama."
Deg...!! Aku sangat ingin pulang Bar, tapi aku masih tidak bisa melupakan semuanya.
"Akan ku fikirkan dahulu. Hmm sudah ya, aku sibuk. Ingat untuk tidak sering menelfonku."
"Hmm baik adikku."
"Cih ! Selamat sore."
Tut...Tut...Tut...
Bella meletakan ponselnya ke dalam tas lagi, dan melihat ke arah Nathan yang sudah berdiri serayap menatapnya. Bella sangat tahu jika Nathan pasti curiga dengan telfon tadi jadi Bella pura-pura tidak merespon tatapan dari Nathan tersebut.
"Yuk Nath." Ajak Bella akan mendahului Nathan namun di tahan langsung oleh tangan Nathan yang mengengam lengannya.
"Telfon dari siapa tadi? Sepertinya bukan Lena?" Tanya Nathan.
"Bukan siapa-siapa Nath, jadi kau tidak perlu tahu."
"Aku harus tahu, apapun itu aku harus tahu!" Pinta Nathan membuat Bella menghembuskan nafas berat.
Bella mengambil ponselnya dan memperlihatkan nomer Bara pada Nathan, mata Nathan melebar sebab merasa kesal dengan nama yang tertera di sana. Dia akan meraih ponsel Bella namun dengan cepat Bella memasukkannya pada tas lagi.
"Dasar lancang. Sudah ku beritahu bukan." Tutur Bella sengaja mengoda Nathan.
"Bara siapa? Bukankah itu nama seorang pria! Kenapa kau bisa menelfon dia di hadapanku seperti itu Bella!!" Jawab Nathan mulai tersulut emosi, sebab dia sangat membenci wanita yang tidak setia dengan pasangannya. Bella malah tersenyum ke arah Nathan yang tengah mendengus kesal." Apa kau sedang mempermainkan aku Bella?" Imbuh Nathan dengan nada lirih, terlukis jelas di raut wajahnya jika dia merasa sangat kecewa.
"Apa kau menuduhku selingkuh Nath? Kau ingat kan jika kita memang tidak ada hubungan apapun."
"Apa itu alasan kenapa kamu tidak langsung menerima perasaanku?" Tanya Nathan dengan wajah serius.
"Jika aku berkata iya, apa kau akan meninggalkanku?" Tanya Bella balik.
Nathan terdiam sejenak, dia kembali duduk serayap melihat ke arah Bella dengan tatapan penuh kecewa. Bella sendiri tengah menunggu jawaban dari Nathan mengingat dia pernah terluka karena kekasihnya yang tidak setia dan beralih pada hati yang lain.
"Aku tidak mau meninggalkan mu meski kamu berbuat hal itu! " Jawab Nathan berdiri." Beri aku nomernya? Aku akan menemui pria itu dan melihat bagaimana bentuknya hingga kau lebih memilih dia daripada aku!" Imbuh Nathan menatap tajam ke arah Bella.
Anak kecil ini benar-benar selalu bisa mengambil simpati ku. Aku sangat menyukai sifat mu yang seperti itu Nath.
"Tidak ada yang melebihi kebodohanmu Nath." Jawab Bella tersenyum.
"Maksudmu?"
"Berarti bukan saudara kandung bukan? Beri aku nomernya jika memang dia bukan siapa-siapa." Pinta Nathan.
"Untuk apa? Kau mau bertanya padanya? Tidak Nath! Dia sungguh saudara angkat ku. Jika kau menghubunginya aku bisa mati Nath."
"Aku hanya ingin memilikinya, aku tidak akan menghubungi nya." Kata Nathan serayap menarik nafas panjang.
"Aku tidak mau!"
"Berarti dia memang bukan hanya sekedar Kakak untukmu!" Jawab Nathan memasang wajah kesal.
"Dia Kakakku."
"Aku baru percaya jika kau memberikan nomernya padaku." Mengulurkan tangan kanannya." Mana! Cepat! Masalah ini tidak akan selesai jika kau terus seperti itu, aku akan mencari Bara sampai ke ujung dunia untuk memastikan semuanya jadi meskipun kau tidak memberikanku nomer itu, aku tetap akan mencarinya sampai dapat." Imbuh Nathan membuat Bella mengerutkan keningnya.
Yah! Dia selalu bisa membuatku terpojok seperti sekarang.
"Hmm nih..!! Dasar!! " Runtuk Bella memberikan ponselnya.
"Dari tadi seperti itu pasti menyenangkan sayang." Nathan mengirimkan nomer Bara ke kontak miliknya." Dengan begini aku percaya jika dia hanya Kakak angkat mu." Memberikan ponsel pada Bella.
"Berjanjilah untuk tidak menghubunginya." Pinta Bella.
"Hmm baik." Jawab Nathan tersenyum menang.
"Ya sudah mari berangkat, aku mengambil libur dua hari untuk tidak bernyanyi di kafe."
"Kita mampir ke Swalayan dulu yah, kita beli beberapa bahan masakan dan kau masakkan sesuatu untuk makan malam nanti." Pinta Nathan.
"Hmm baiklah Nath, apa ada pengaruhnya jika aku menolak itu." Eluh Bella yang sebenarnya sangat merasa senang.
"Kau sangat cocok di jadikan istri idaman, selain kau kuat, kau juga cantik dan sangat penurut di tambah lagi dengan masakanmu yang sedap. Astaga...Aku tidak sabar untuk meminang mu segera."
"Istri idaman." Jawab Bella terkekeh.
"Itu pendapatku, sebab aku tidak perduli dengan pendapat orang lain." Nathan tersenyum sejenak dan meraih jemari Bella.
Lena benar, aku memang tidak pernah menjumpai pria seperti Nathan di sepanjang sejarah hidupku. Apa dia hanya membual? Atau semua yang di ucapkannya serius? Hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan itu.
.
.
.
🏠Kediaman Bastian🏠
Sore itu dua orang lelaki berpakaian polisi mendatangi kediaman Bastian, mereka mencurigai Bastian sebagai penyebab maraknya kasus orang hilang yang sering terjadi akhir-akhir ini. Bahkan polisi sudah meminta keterangan dari pemilik Club' yang biasa di datangi Bastian, dan mereka menuturkan jika wanita yang di bawa Bastian selalu saja tidak pernah kembali.
Penjaga rumah berjalan dan membuka pintu pagarnya untuk kedua polisi atas izin Bastian yang seharian tidak keluar dari rumah. Dengan sopan dia mempersilahkan mereka masuk kedalam dan di sambut oleh Bastian yang tengah duduk santai di samping rumahnya.
"Sore Tuan."
"Hmm sore juga." Jawab Bastian santai.
"Kami membawa surat dari kepolisian yang meminta anda untuk menjadi saksi atas maraknya kejadian orang menghilang akhir-akhir ini. Beberapa CCTV melihat anda bersama orang-orang yang di kabarkan menghilang di hari terakhir mereka." Tutur polisi tersebut tegas.
"Itu masalah mudah Pak, bersantai lah dahulu, mari duduk." Bastian berdiri lalu berjalan ke arah kedua polisi tersebut.
"Kami tidak bisa Tuan, mari ikut kami agar semuanya bisa berjalan baik." Tutur salah satu polisi mengapit kedua tangan Bastian.
Bastian hanya tersenyum dengan bibir yang mengucapkan sebuah mantra, matanya menyala merah menatap ke arah polisi tersebut sehingga alam bawah sadarnya di kendalikan oleh Bastian. Salah satu polisi menembak polisi yang tengah memegangi tangan Bastian sehingga membuatnya jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir deras di dadanya. Mata polisi yang membawa tembak melebar, dia menjatuhkan pistolnya seketika serayap menatap ke arah rekannya yang sudah bersimbah darah.
"Ke kenapa aku." Tuturnya terbata serayap memandangi tangannya.
"Kenapa kau membelaku Pak? Seharusnya kau tembak aku saja tadi." Kata Bastian berjalan ke arah polisi yang merasa binggung dengan kejadian itu.
Dengan cepat Bastian mengambil belatinya dan menyayatkannya pada perut polisi tersebut hingga seluru isi perutnya tumpah ke bawah. Penjaga rumah yang daritadi terpaku melihat adegan tersebut langsung bergetar hebat dan berniat meninggalkan tempat itu saat ini juga. Namun naas, Bastian sudah mengetahui hal itu dan segera melemparkan belatinya dan tepat mengenai kepala sang penjaga rumah hingga dia langsung jatuh tersungkur.
Bastian tertawa renyah melihat tiga orang bersimbah darah berada di sekitarnya, dia jadi mempunyai persembahan untuk makhluk yang menghuni kalungnya sebagai ganti darah perawan yang semakin sulit di dapatkannya. Terlintas sejenak bayangan soal sosok Lena yang masih sulit di dapatkannya. Bastian masih memikirkan bagaimana caranya bisa segera mempersembahkan Lena pada makhluk yang saat ini menginginkan darah dari perawan.
Kau tidak bisa terus lari dariku Lena, aku akan segera menemukan cara untuk bisa mendapatkan mu hahahaha...
Bastian mengambil belatinya dari kepala sang penjaga rumah dan menjilati darahnya untuk membersihkan sisa darah yang menempel. Perlahan tangannya mengusap liontin miliknya dan keluarlah makhluk hitam tinggi besar dengan mata menyala merah. Makhluk tersebut mengeram lalu memakan habis satu persatu ketiga jasad tersebut. Bastian sendiri duduk santai serayap melihat pemandangan itu dengan raut wajah bahagia.
Aku tahu bagaimana caranya bisa mendapatkanmu Lena, aku akan menahan rasa panas itu sedikit agar bisa menangkap mu besok hahaha.. Bersiaplah, habiskan sisa waktumu hari ini, sebab besok kau sudah tidak bisa lagi bersama dengan orang terkasihmu. Anak yang malang.. Bastian memasukkan kembali belatinya dalam saku celana sambil terus menatap ke arah pemandangan yang tersugu di depannya.-
TBC😘