
Seusai Bella membersihkan diri, Nathan baru saja terjaga dari tidurnya dan sempat kaget saat melihat sinar matahari yang sudah masuk di celah-celah jendela kamarnya. Nathan duduk dan segera meluruskan kakinya yang terasa kaku, Bella yang tahu hal itu hanya tersenyum melihatnya dari arah pantulan cermin lemari baju.
"Sakit sekali." Eluh Nathan memijat sebentar kakinya.
"Siapa yang menyuruh tidur di situ?" Nathan baru sadar jika dia sedang berada di kamar Bella.
Astaga aku lupa, semalam aku ketiduran.
"Aku ketiduran, maaf." Jawab Nathan lirih.
"Tujuannya apa menyelinap masuk seperti itu Nath?"
"Jika aku tidak menyelinap, apa kau memperbolehkan ku untuk tidur di sini?" Tanya Nathan balik.
"Tidak." Jawab Bella singkat.
"Itu alasan kenapa aku menyelinap, kau tidak akan memperbolehkan ku bukan."
"Ucapanmu itu sungguh tidak bermutu Nath." Runtuk Bella melirik malas.
"Aku hanya ingin terbiasa saja dengan keadaanmu saat mimpi itu mendatangimu jadi aku memutuskan untuk menyelinap seperti itu." Kata Nathan menjelaskan alasannya.
"Oh! Begitu. Bagaimana dengan kakimu." Bella beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah Nathan.
"Tidak masalah, tadi hanya kaku sedikit saja." Jawab Nathan menyembunyikan rasa sakitnya.
"Benar begitu?" Tanya Bella memastikan.
Ketika Bella tepat berada di hadapan Nathan, terlihat jelas raut wajah Bella yang polos tanpa makeup. Ada beberapa bulir air masih berada di sekitar wajahnya membuat Nathan menelan saliva-nya saat ini, karena hal itu cukup memacu detak jantungnya.
"Hmm ya aku tidak apa-apa." Jawab Nathan segera berdiri." Baik. Aku akan membersihkan diri lantas kita sarapan dan langsung berangkat agar tidak terlalu malam sampai di sana." Imbuh Nathan tersenyum aneh dan pergi.
"Kenapa dia?" Bella tersenyum dan meraih ponsel yang di letakkannya di meja, dia mengechat Ronald dan meminta maaf karena tidak bisa bernyanyi dalam satu Minggu ini. Bella tersenyum saat mendapat respon yang baik dari Ronald dan segera meletakkan kembali ponselnya. Dia kembali ke kaca lemari untuk memoles wajahnya dengan kosmetik murah miliknya.
Ada perasaan gelisah hari ini sebab dia sangat tidak yakin jika Ayahnya sudah tidak marah lagi padanya, namun saat terlintas wajah Mamanya, membuat Bella tersenyum dengan bulir air mata yang mengalir sedikit di sudut matanya. Tidak dapat di pungkiri jika Bella sangat merindukan Mamanya termasuk sang Ayah meski dia sudah mengusir Bella seperti itu.
"Huuft! Rasanya sangat tegang padahal hanya pulang pada kedua orang tuaku sendiri." Gumah Bella menatap lekat ke arah kaca." Jika Ayah masih marah bagaimana? Jika dia mengusirku lagi dan tidak merestui hal ini bagaimana? Ahh! Entahlah. Aku selalu takut akan hal itu hingga sudah bertahun-tahun lamanya aku memutuskan untuk tidak pulang." Suara ketukan pintu membuat Bella menghentikan aktivitasnya
yang tengah berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin. Hal itu sering Bella lakukan saat dia merasa gelisah akan sesuatu atau merasa ragu untuk mengambil sebuah keputusan.
Bella segera membuka pintu kamarnya dan terlihatlah sang pembantu berdiri di balik pintu tersebut.
"Sarapan dulu Non, Tuan sudah menunggu di bawah." Tuturnya ramah.
"Iya Bik aku akan segera turun."
"Baik Non permisi."
"Baik Bik."
Ya Tuhan, aku tidak percaya jika akan mempunyai keluarga baru. Batin Bella serayap menutup pintu kamarnya untuk menyelesaikan makeup nya.
.
.
.
.
๐Mobil Nathan๐
Nathan membelokkan mobilnya ke pusat perbelanjaan sehingga membuat Bella mengerutkan keningnya menatap ke arah Nathan.
"Kenapa belok Nath?" Tanya Bella.
"Membeli beberapa oleh-oleh untuk Mama dan Ayahmu sayang. Aku tidak ingin kesana dengan tangan kosong, sebentar kubuka kan pintu untukmu." Nathan turun dan berjalan mengitari bagian depan mobil nya untuk membukakan pintu.
Bella segera turun dan berjalan beriringan dengan jemari tangan yang di genggam erat oleh Nathan.
"Apa makanan kesukaan Ayah dan Mama sayang?" Tanya Nathan.
"Ikan asin." Jawaban tersebut membuat Nathan berhenti dan menatap heran ke arah Bella.
"Aku serius sayang."
"Aku juga serius, Mama dan Ayah menyukai semua olahan ikan asin, terkadang jika Mama memasak menu ikan asin, Ayah selalu menghabiskan sisa nasi yang ada di meja." Jawab Bella tersenyum.
"Aku tidak tahu tempat yang menjual itu." Eluh Nathan.
"Di kotaku ada Nath, jadi sebaiknya kita tidak perlu masuk." Jawab Bella menyarankan.
"Hmm kita masuk supermarket saja untuk membeli beberapa makanan sebagai bekal di jalan."
"Oke."
Nathan dan Bella masuk ke supermarket yang berada tepat di depannya, mereka mengambil beberapa cemilan dan minuman dan segera membayarnya pada kasir. Setelah selesai, mereka memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan namun di tengah perjalanan menuju mobil mereka berpapasan dengan Vero.
Vero langsung berhenti menatap lekat ke arah Nathan yang terlihat lebih tampan dan muda daripada Bastian. Langsung timbul perasaan iri yang menjalar di seluruh otak Vero.
Nathan sendiri tidak terpengaruh dengan susuk dan pelet yang ada pada tubuh Vero karena dia memakai liontin yang berisi gumpalan rambut milik Bella.
"Kenapa kau menatapnya seperti itu Nath! Apa dia terlihat cantik di matamu hah!" Tutur Bella berbisik, membuat Nathan tersenyum senang karena harus melihat Bella yang sedang cemburu kepadanya.
"Apa ada wanita yang lebih cantik darimu sayang? Aku hanya melihat ada yang aneh dari wanita itu, apa dia temanmu?" Jawab Nathan lirih.
"Bukan! Kita pergi saja, nanti ku ceritakan di mobil." Bella menarik tangan Nathan agar menjauh dari Vero namun Vero meneriakkan nama Bella.
"Heiii Bella." Sapa Vero tersenyum manis serayap melirik ke arah Nathan dan hal itu membuat Bella sangat tidak suka.
"Ya ada apa Nona!" Jawab Bella ketus.
"Kau membolos? Kenapa berada di sini dan tidak berkerja?"
"Saya rasa itu bukan urusan anda bukan? Anda sendiri kenapa berada di sini?" Tanya Bella balik.
"Hahaha, saya itu sudah menjadi Nyonya Bastian sebentar lagi."
Nathan dan Bella saling melihat satu sama lain sebab mereka tahu jika Bastian sudah tidak ada di dunia ini.
Ada yang salah di sini. Bella menghirup aroma tubuh Vero yang terasa aneh, ada bau yang bercampur aduk seperti aroma wewangian dan bau yang entah apa namun cukup membuat Bella merasa mual. Bella menyuruh Nathan untuk tetap diam sebab dia ingin melontarkan pertanyaan pada Vero.
"Kapan anda berjumpa dengan Pak Bastian Nona?"
"Seharian kemarin dia bersamaku! Sebentar lagi aku akan menyuruh Bastian untuk memecatmu dari sana!!" Jawab Vero yang semakin terlihat tidak masuk akal.
"Apa Nona yakin jika itu Bastian?" Tanya Bella.
"Kau bilang apa hah! Kita bahkan akan segera menikah jadi jangan kau gangu hubungan kami lagi! Karena Bastian sudah jadi milikku sebentar lagi! Dasar!!" Jawab Vero langsung pergi dari hadapan Bella meski bola matanya masih saja melihat ke arah Nathan.
"Dasar gila." Tutur Bella lirih.
"Kenapa bisa begitu sayang? Apa Bastian menjadi hantu atau semacamnya?" Tanya Nathan yang juga merasa binggung.
"Tidak mungkin Nath. Karena jiwa, jasad serta arwah Bastian sudah menjadi penghuni kekal di dunia makhluk itu. Semua itu karena untuk mengantikan para tumbal yang sudah terbebas, jadi sangat mustahil jika dia bisa melihat arwah Bastian. Jika pun Bastian menjadi arwah penasaran, bukannya dia akan menghampiri kita? Biar saja Nath, dia juga wanita jahat jadi aku tidak ingin melibatkan diriku dalam masalahnya." Jawab Bella menjelaskan.
"Apa dia pacar Bastian?" Tanya Nathan lagi serayap kembali berjalan.
"Dia pengemar berat Bastian hingga menjadikan nya tidak waras seperti itu. Dia juga supervisor di Mall dan sikapnya sangat tidak baik di sana, aku bahkan sampai terbawa emosi jika berhadapan dengannya."
"Sebentar lagi kau akan bisa menyingkirkan dia sayang, sebab Mall itu rencananya akan Ayah serahkan padamu untuk kau kelola. Ayah berkata padaku jika tidak ada yang lebih pantas lagi kecuali dirimu, sebab kau yang sudah membuat Mall itu berkembang pesat saat dulu sempat akan mengalami kebangkrutan." Nathan merangkul kedua bahu Bella saat bella menatap ke arahnya heran.
"Apa Ayah berkata begitu? Astaga.. Aku merasa tidak pantas untuk itu."
"Hmm yah, Ayah sendiri yang bercerita sejak dia mendengar kenyataan jika Bastian menjadi semakin tidak waras." Jawab Nathan tersenyum.
"Itu terlalu berlebihan Nath."
"Tidak sayang, mengingat kau tidak ingin berhenti berkerja di situ, jadi itu semua ide yang sangat bagus. Kau tidak akan terikat waktu sebab kau bisa seenaknya pulang jika aku membutuhkanmu nanti."
Bella langsung melepaskan diri dari cengkeraman tangan Nathan namun Nathan semakin mengeratkannya.
"Membutuhkan apa maksudmu Nath!" Tanya Bella mulai menegang.
"Apa yang di butuhkan seorang Pria pada istrinya."
Ucapan itu langsung membuat wajah Bella merona merah, hingga Nathan ingin segera melakukan keinginannya untuk mencium bibir mungil Bella saat ini juga. Nathan kembali mendesah lembut, menahan perasaan tersebut karena janjinya pada dirinya sendiri untuk bisa menahan hasratnya itu.
"Wajahmu membuatmu tidak pantas menyandang nama janda itu sayang, kau lebih mirip anak SMA yang gugup karena di paksa menikah oleh orang dewasa yang umurnya jauh di atas mu." Imbuh Nathan tersenyum.
"Hmm yah terserah!"
"Apa kau tidak terima ku bilang begitu sayang?"
"Sudah ku bilang terserah!" Jawab Bella kembali menutupi perasaan tegangnya.
"Jika terserah, aku akan melakukannya di dalam mobil." Jawab Nathan mengoda.
"Melakukan apa heii Nath!" Bella kembali ingin melepaskan diri namun tetep tidak bisa.
"Kau bilang terserah, jadi itu terserah aku ingin melakukan apa padamu." Jawab Nathan semakin membuat wajah Bella memerah.
"Aku akan menghajarmu Nath!"
"Coba saja sayang, aku pasti merasa senang bisa di hajar oleh wanita yang ku cintai." Tutur Nathan santai sebab dia tahu Bella tidak bisa melakukan itu.
"Akan ku lakukan jika kau menyentuhku sebelum hari pernikahan kita." Jawab Bella asal.
"Oh astaga, padahal aku hanya ingin makan cemilan ini berdua denganmu di mobil. Kenapa kau jadi berfikir seperti itu sayang? Apa kau ingin aku menyentuhmu di mobil nanti?" Tutur Nathan tersenyum tipis serayap membuka pintu mobil untuk Bella.
Bella kembali mematung, sebab dia lagi-lagi terlihat bodoh jika sedang bersama dengan Nathan seperti saat ini. Dia mendesah lembut, mencoba menahan rasa malunya agar wajahnya tidak semakin terlihat aneh.
"Sudahlah masuk, perjalanan kita masih tiga jam lagi." Nathan mencium puncak kepala Bella sebentar lalu mendorong lembut tubuh Bella untuk segera masuk kedalam mobil.-
Dukung terus cerita ini dengan cara like, share dan Vote sebanyak-banyaknya ๐ Terimakasih ๐๐ค
Salam sayang Arabella Maheswari ๐๐