
🏠 Kediaman Bella🏠
03:56
Mimpi masih saja berlanjut, Mama Sinta yang ingin tahu keadaan Bella memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Bella secara diam-diam. Dia sangat sedih setelah melihat kenyataan jika Bella masih saja bermimpi seperti yang di lihatnya saat ini.
Bella terbangun dengan penuh keringat dan wajah tegang, namun perasaannya kembali tenang saat Mama Sinta memeluknya serayap berbisik sesuatu yang dulu sering beliau ucapkan.
Apa ini sebuah kutukan atau semacamnya, padahal setahuku aku tidak pernah berbuat kesalahan pada siapapun? Tapi kenapa anakku di uji dengan keadaan seperti ini? Aku sangat bahagia sudah di anugerah kan anak yang secantik dia, tapi jika seperti ini lebih baik dia berwajah biasa saja daripada harus melihatnya menderita.
"Bagaimana dengan Nathan sayang? Apa dia tahu keadaanmu yang seperti ini?" Tanya Mama Sinta serayap membelai rambut panjang milik Bella.
"Hmm dia tahu Ma." Mama Sinta tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Kamu serius?" Tanya Mama Sinta mengulang.
"Iya Ma, serius. Aku juga tidak tahu kenapa dia masih mau denganku."
"Mungkin dia memang tulus padamu, astaga sayang. Mama senang sekali." Tuturnya kembali memeluk Bella.
"Semoga saja kali ini tidak salah." Jawab Bella lirih.
"Iya sayang, selalu yakin jika Tuhan sudah mempersiapkan sesuatu yang indah dari kegagalan mu dahulu." Kata Mama Sinta menyemangati.
Di balik pintu kamar Bella, terlihat Bara sedang menguping pembicaraan serayap mengepalkan tangannya. Dia cukup terkejut sebab ternyata Nathan sudah mengetahui semua kekurangan Bella.
Tidak! Ini tidak mungkin! Mana mungkin ada yang menerima kegilaan Bella yang seperti itu kecuali diriku? Batin Bara yang masih berdiri di depan kamar milik Bella.
"Kau sedang apa Kak?" Sapa Nathan membuat Bara kaget dan memasang ekspresi aneh.
"Tidak sedang apa-apa. Kau sendiri sedang apa?" Jawab Bara terbata.
"Aku ingin membangunkan Bella." Tutur Nathan tenang.
Kenapa ekspresi Bara jadi seperti itu? Aneh sekali.
"Dia sedang bersama Mama. Sebaiknya kau mengurungkan niatmu itu."
"Hmm begitu, baik aku akan menunggunya." Nathan tersenyum tipis dan duduk di sofa yang cukup dekat dengan kamar Bella.
Bara yang sudah terlanjur ketahuan, langsung saja meninggalkan Nathan dengan tatapan sinis nya. Nathan hanya menarik nafas panjang melihat ekspresi wajah Bara yang di rasa sangat mencurigakan.
.
.
Sepuluh menit kemudian, Mama Sinta terlihat keluar dengan membawa sprei kotor milik Bella, wajahnya tersenyum serayap menghampiri Nathan yang saat ini sudah berdiri menyambut Mama Sinta.
"Kenapa tidak mengetuk tadi." Tuturnya ramah.
"Saya menunggu saja Ma, apa Bella sudah bangun?"
"Dia sedang mandi, sebentar lagi mungkin keluar. Mama tinggal mengurus ini sebentar."
"Baik Ma."
Mama Sinta tidak langsung pergi, dia menatap Nathan dengan wajah yang tidak dapat di artikan. Perlahan wajahnya mendekat dan mencium pipi kanan Nathan serayap berbisik.
"Terimakasih sudah memutuskan untuk menjadikan Bella teman hidup."
Deg..!
Ucapan itu cukup membuat perasaan Nathan sedikit tersentuh, seharusnya dia yang merasa beruntung sebab sudah di beri restu dengan semudah itu.
"Sama-sama Mama, aku juga merasa senang sudah di terima dengan baik di sini." Jawab Nathan lirih.
"Kami selalu menerima seseorang yang mempunyai itikat baik Nak, tapi terkadang mereka mengecewakan kami dengan cara meninggalkan Bella begitu saja. Mama harap kamu bisa menjaga Bella dengan sebaik-baiknya, dia hanya korban. Korban dari sesuatu yang entah lebih pantas di sebut anugerah atau sebuah kutukan."
"Tidak ada hal seperti itu Ma." Sahut Nathan yang tidak membenarkan hal itu." Masalah ini hanya belum mendapatkan titik temu saja, saya yakin jika suatu saat fobia Bella akan bisa sembuh." Imbuh Nathan membuat perasaan Mama Sinta terasa sangat tenang.
"Pantas saja Bella menyukaimu, kau sangat dewasa dalam berucap meski umurmu masih sangat muda. Mama mendoakan yang terbaik untuk kalian, pesan Mama, jika kalian sudah terikat dengan sebuah janji suci, jangan terlalu gampang untuk memutuskan janji tersebut hanya karena hal yang mungkin masih bisa di bicarakan. Jika kau tidak bisa berbuat itu? Lebih baik Mama melihat Bella selalu sendiri daripada harus menikah kan dia dan kembali melihatnya terpuruk."
"Saya berjanji akan itu Ma, saya tidak akan meninggalkan Bella apapun yang terjadi nanti."
"Syukurlah." Tersenyum." Mama permisi, sebentar lagi Bella akan keluar." Imbuhnya meninggalkan Nathan dengan raut wajah bahagia.
Nathan kembali duduk dengan tatapan yang fokus melihat ke arah pintu kamar Bella, dia kembali mendesah lembut sebab waktu satu bulan adalah waktu yang cukup lama untuknya. Namun mengingat sebuah pernikahan harus perlu persiapan, dia kembali memendam perasaan tersebut sedikit lagi.
Cklek
Pintu kamar Bella terbuka dan menampilkan sebuah senyuman untuk Nathan yang langsung berjalan menghampiri Bella.
"Kenapa tidak mengetuk?" Tanya Bella mirip dengan pertanyaan Mama Sinta.
"Aku menunggu saja, jika kau berada di rumahku mungkin aku akan menyelinap dan tidak akan mengetuk pintu seperti yang biasa aku lakukan." Jawab Nathan sudah berdiri di hadapan Bella dengan senyuman yang cukup membuat jantung Bella berdebar di pagi hari.
"Hmm begitu. Lantas apa tujuanmu?" Tanya Bella dengan wajah gugup.
"Sangat cocok, ini masih pagi. Aku juga ingin mengunjungi beberapa tempat sebentar."
"Hmm baik ayo." Tanpa aba-aba Nathan meraih jemari Bella dan mengiringnya untuk menuruni tangga rumahnya. Mama Sinta yang melihat hal tersebut merasa bahagia dengan bulir air mata yang keluar pada kedua sudut matanya.
Ya Tuhan, semoga Nathan memang bisa membawa kebahagian pada keluarga kami. Amin.
.
.
.
.
.
.
🏠Kediaman Vero🏠
Vero kembali bangun dengan keadaan berantakan dan terlanjang bulat serta bajunya yang berserakan di lantai. Rumah terlihat kembali hening padahal ini masih pukul enam pagi. Dia menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang dengan mengerutkan keningnya sambil menahan rasa nyeri pada pangkal pahanya. Tangannya meraih air minum di meja samping tempat tidur dengan bola mata yang menatap sekeliling mencoba mencari keberadaan Bastian.
"Sayang.." Tutur Vero meletakkan gelas kosong dan mulai beranjak menuju kamar mandi, namun Bastian tidak ada di sana.
Dia kembali berjalan ke arah jendela kamar dan berharap Bastian tengah berolahraga di luar, namun nihil! Halaman rumah terlihat sepi dengan beberapa daun kering yang masih berserakan.
"Mungkin dia di bawah." Gumah Vero meraih handuk kimono dan memakainya sembarangan, dia menuruni tangga dengan menahan rasa nyeri akibat perlakuan kasar Bastian ketika dia melakukan persetubuhan dengannya. Namun anehnya Vero semakin ingin lagi dan lagi padahal dia harus merasakan nyeri yang hebat saat bangun tidur seperti sekarang.
Vero tidak menemukan Bastian di manapun, dia mendesah lembut dengan perasaan sedikit kesal karena merasa jika Bastian memperlakukannya semaunya. Vero melihat sekitar, dan tidak ada persiapan pernikahan seperti apa yang sudah di janjikan Bastian.
"Katanya hari ini akan menikah! Mana! Apa dia hanya membual! Kenapa dia meninggalkanku seenaknya seperti ini!" Dengus Vero kembali menaiki tangga menuju ke arah kamarnya. Vero memungut baju yang berceceran dan membereskan tempat tidurnya. Senyumnya merekah saat melihat tempat tidur yang di tidurinya penuh dengan uang ratusan.
"Uang? Ahh! Banyak sekali." Vero melepaskan baju kotornya begitu saja di lantai dan memunguti uang tersebut satu persatu." Astaga aku kaya hahahaha." Teriaknya merasa sangat senang dan melupakan kekesalannya.
Vero menata uang tersebut dan meletakkannya pada lemari yang biasa di pakainya untuk menyimpan uang. Dia kembali mengambil satu tumpuk untuk di pakainya belanja nanti. Vero kembali menutup pintu lemari dan menguncinya, dia bersenandung kecil serayap berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
.
.
.
Bella dan Nathan berjalan menyusuri jalan yang terlihat masih cukup sepi, Bella memperhatikan sekitar yang sudah mengalami banyak perubahan. Toko-toko kelontong yang dulu ada, sekarang di gantikan oleh bangunan-bangunan kokoh yang berdiri di sepanjang jalan.
"Kita tidak akan tersesat kan sayang?"
"Tidak. Aku masih ingat jalan meski aku sedikit asing melihat tempat ini." Jawab Bella tersenyum.
"Emm apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Apa itu?"
"Bara? Aku rasa ada yang aneh dengannya." Tanya Nathan menatap ke arah Bella sejenak.
"Dia berbicara apa padamu Nath?"
"Tidak ada. Aku hanya memergokinya sedang berdiri di depan kamarmu tadi pagi, emm terlihat seperti sedang menguping pembicaraan." Tutur Nathan menjelaskan.
"Dia memang begitu, tidak perlu menanggapi nya berlebihan." Jawab Bella santai.
"Hmm begitu, apa menurutmu itu biasa saja sayang?"
"Iya, aku sudah pernah berprotes padanya untuk tidak terlalu ikut campur, tapi dia tetap seperti itu. Jadi aku sudah tidak memperdulikan dengan apa yang di lakukannya, selama dia tidak menyakiti Ayah semua itu masih bisa aku terima sebab aku juga tidak bisa selalu bersama Ayah apalagi setelah menikah dengan mu nanti." Jawab Bella tersenyum.
"Apa kau ingin tinggal di sini sayang?"
"Hmm iya, tapi Mama menyuruhku untuk ikut denganmu karena dia tidak ingin aku mengingat masa laluku lagi."
"Jika kau ingin begitu, aku akan mengabulkan semua itu untukmu. Hmm Ayahku sudah sehat sayang, jadi dia cukup bisa mengurus perusahaan di sana. Dan untuk perkerjaanku, aku bisa menyuruh sekertaris ku untuk menghandle perkerjaan sehingga bisa meringankan perkerjaan Ayah." Bella tersenyum karena lagi-lagi Nathan bisa membuat perasaannya semakin terasa nyaman.
"Tidak Nath. Di sini terlalu banyak kenangan buruk, dan orang tuaku juga menyadari hal itu jadi aku akan tetap ikut bersamamu. Asal kau jangan keberatan jika aku ingin beberapa hari menginap di rumahku, bagaimana?"
"Tentu sayang, aku akan mengantarkanmu ke sini jika kau merindukan mereka." Tangan Nathan terangkat dan merangkul kedua bahu milik Bella erat.
Keduanya tersenyum dan berjalan beriringan dengan jantung yang sama-sama berdetak tidak beraturan. Namun sebuah suara memecahkan kebersamaan mereka, Bella langsung memberi isyarat untuk berhenti pada Nathan saat melihat seseorang yang tiba-tiba turun dari sebuah motor lalu menghampiri keduanya.-
Terimakasih yang masih setia 😘
Silahkan like, share dan Vote yah 😁
Salam sayang Arabella Maheswari 😘