Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 61



Mobil milik Bastian terlihat terparkir di depan rumah Bella sore itu, Bastian ingin memastikan keadaan Bella bagaimana. Sebenarnya bukan sepenuhnya memastikan, dia juga sedang mencari cara bagaimana bisa merebut simpati Bella terhadap Nathan.


Bella yang tengah memanjakan kucingnya bergegas berdiri saat mendengar suara ketukan dari pintu. Bella menebak jika di balik pintu itu adalah Nathan namun saat pintu terbuka, emosi langsung berkecamuk di dalam hati Bella. Dia menarik nafas panjang sebab Bella tidak ingin terbawa emosi dan menghancurkan penyelidikannya sendiri. Bastian sendiri melihat kilatan cahaya yang ada di dahi milik Bella tadi, benda itu memudar saat Bella tersenyum menyambut kedatangan Bastian.


"Ohh hay Bas, silahkan masuk." Sapa Bella ramah.


"Bagaimana kalau kita mengobrol di luar saja." Jawab Bastian menawarkan sebab dia sendiri menahan hawa panas saat berada di dalam rumah Bella.


"Boleh, kau mau minum apa?"


"Tidak perlu Bella, aku hanya sebentar." Jawab Bastian ramah.


"Hmm ya sudah."


Bella mendahului Bastian duduk di teras rumah di ikuti oleh Bastian yang duduk tepat di samping Bella.


"Bagaimana keadaan Lena? Apa dia baik-baik saja, aku ingin ke sana tapi tidak tahu letak rumahnya." Tanya Bastian yang juga sedang berakting.


Ternyata akting mu bagus juga Bas...


"Dia sangat baik." Tersenyum."Tadi aku sudah membawanya ke dokter jadi tidak masalah, hanya luka kecil." Jawab Bella sok ramah.


"Apa kau akan pergi berkerja besok?"


"Hmm ya, tadi aku kasihan pada Lena jadi aku tidak bisa pergi berkerja." Jawab Bella tersenyum.


"Apa kau menyukai Nathan?"


Pertanyaan itu sontak membuat Bella langsung melebarkan matanya melihat ke arah Bastian, sesuai dugaan Bella jika Bastian sudah tahu tentang hubungannya dengan Nathan. Dan rasanya ini semua semakin menambah masalah lagi, sebab bisa jadi kemungkinan jika nyawa Nathan juga akan terancam.


"Kenapa kau bertanya seperti itu Bas?" Tanya Bella lirih.


"Aku hanya bertanya saja," Jawabnya santai.


"Kita hanya berteman."


"Ohh syukurlah, sebab aku pastikan kau tidak akan bahagia jika hidup dengan manusia egois seperti Nathan. Dia sangat bodoh jika di suruh menjaga cintanya haha, semua wanita hampir tidak betah jika berlama-lama berada di sampingnya hingga mereka sering pergi dengan sendirinya." Kata Bastian memperlihatkan sifat aslinya, raut wajah Bastian juga berubah saat dia berucap masalah Nathan. Ada kebencian yang mendalam di sana, dan Bella bisa merasakan itu semua dari nada suara Bastian yang terdengar meninggi.


"Bukannya dia saudaramu Bas? Kenapa kau berkata demikian?"


"Meski saudara jika dia orang yang buruk, apa aku harus bercerita yang baik-baik Bell? Kau akan merasakan bagaimana egoisnya dia!" Tutur Bastian dengan nada bicara yang semakin meninggi.


Aku nyaman bersama Nathan Bas, suatu saat kau harus tahu itu. Dia memang sangat posesif tapi dari situlah perbedaanya, sebab tanpa di paksa aku tidak akan mau mengenal seorang pria.


"Hmm ya dia memang egois." Jawab Bella singkat.


Jika aku tidak bisa merebut mu secara instan, aku harus bisa mengambil simpatimu dengan cara seperti ini Bella. Aku akan menghasut Nathan agar kau perlahan-lahan membencinya.


"Oke baik, aku permisi Bella, aku mau mengecek Mall sebentar sebab sejak tadi aku tidak berada di tempat." Kata Bastian serayap berdiri.


"Hmm baik hati-hati." Jawab Bella ramah.


"Apa maksud dari Tuhan sehingga memberiku masalah hidup yang serumit ini, Nathan, Bastian awalnya aku tidak tahu jika mereka bersaudara dan aku di pertemukan dengan mereka di tempat yang berbeda. Astaga...Aku sangat mencintai Nathan, dan Bastian juga menyukaiku. Sudah ku bilang ini akan berakhir seperti ini!!" Bella mulai berbicara sendiri seperti orang gila." Aku takut ini akan jadi ancaman untukmu Nath, kenapa sih kau tidak percaya dengan ucapan ku! Anak kecil itu benar-benar sangat egois, dia tidak pernah mendengarkan ucapan ku!! Padahal itu ku lakukan karena aku takut jika terjadi sesuatu dengannya. Ahhh yah! Aku benar-benar semakin gila saja, lebih baik aku mandi agar fikiranku jadi sedikit dingin." Bella beranjak dari tempat duduknya dan segera masuk rumah lalu menguncinya.


.


.


.


🌁Mall🌁


Saat Bastian akan menuju ruangannya, langkahnya di hentikan oleh Veronica. Padahal seharusnya di jam segitu Vero sudah pulang ke rumahnya.


"Kenapa kau belum pulang Ver?" Tutur Bastian ramah.


"Emm saya mau menyerahkan beberapa laporan hari ini." Memperlihatkan map.


"Bukannya bisa besok pagi?"


"Hmm daripada menjadi fikiran jadi lebih baik saya menunggu sebentar."


"Ya sudah mari masuk." Bastian masuk ruangannya di ikuti oleh Vero serayap mengusap tengkuknya sebab tiba-tiba hawa terasa dingin.


Di dalam ruangan Veronica duduk di hadapan Bastian dengan bola mata yang terfokus pada raut wajah Bastian yang memang sangat rupawan. Karena kegilaannya pada Bastian, Veronica bahkan tidak pernah berpacaran dengan pria manapun yang menurutnya kurang menarik. Di tambah lagi dengan kekayaan Bastian yang cukup membuatnya semakin sempurna, hal tersebut membuat ambisi Veronica untuk mendapatkan Bastian semakin parah. Dia bahkan sering meninggalkan ibunya yang tengah sakit demi melakukan hal-hal yang menjadi syarat agar susuk yang di pasangnya semakin sempurna.


"Hmm aku akan memeriksa sisanya di rumah." Tutur Bastian membereskan map.


"Em.. Bas, maaf karena ini sudah bukan jam kerja, apa aku boleh memanggilmu seperti itu?" Kata Veronica lirih.


"Tentu, dulu kita sahabat kan." Tersenyum ramah.


"Emm jika mau, aku ingin mengajakmu makan malam nanti." Tutur Vero mengutarakan keinginannya.


"Em.. Bukannya ibumu sedang sakit? Apa kau tidak ingin pulang cepat?"


"Sudah ada saudaraku di sana, jadi aku bisa sedikit bersantai. Kau mau kan? Anggap sebagai ucapan terimakasih karena sudah memberiku perkerjaan ini." Rayu Veronica tersenyum manis.


"Baiklah, satu jam saja ya, sebab aku ada perlu malam ini." Kata Bastian ramah.


"Wahh terimakasih Bas, akan ku tunggu urusanmu selesai jadi kita bisa langsung berangkat." Jawab Veronica bersemangat.


"Hmm oke."


"Baik aku akan mengambil tasku."


Veronica tersenyum sejenak dan berjalan ke luar ruangan, Bastian sendiri menatap ke arah Veronica dengan sebuah senyuman tipis. Bastian tahu niat dari Veronica saat ini, dia berpura-pura tidak tahu sebab menganggap masalah itu tidaklah penting. Seluruh otak Bastian sudah di penuhi dengan Bella, Bella dan Bella. Veronica bahkan tidak tahu hal tersebut sebab dia belum pernah melihat Bella yang akan menjadi halangan terbesar untuk bisa mendapatkan hati bastian.-


TBC😘