Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 62



Seperti biasa, setelah Bella selesai bernyanyi, Nathan mengajaknya berjalan-jalan sebentar di taman yang biasa mereka datangi. Namun kali ini mereka hanya berada di dalam mobil sebab di luar terlihat mulai gerimis karena bulan ini sudah menginjak musim penghujan. Mereka memesan dua mangkuk bakso sesuai dengan permintaan Bella, Nathan sudah menawarkan untuk makan di tempat lain namun Bella ingin membeli bakso seorang penjual yang terlihat masih sangat banyak dagangannya.


"Kau memang wanita aneh Bella?" Tutur Nathan serayap menikmati bakso.


"Aku hanya merasa kasihan Nath, lihatlah, dagangan Bapak itu masih sangat banyak." Jawab Bella tersenyum." Lagian rasanya juga lumayan kan?" Imbuh Bella melihat ke arah Nathan sejenak.


"Hmm cukup enak." Nathan mengangguk lalu memutar sedikit tubuhnya agar menghadap ke arah Bella." Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu Bella." Imbuh Nathan.


"Ya aku juga. Kau duluan." Pinta Nathan tersenyum.


"Aku mencintaimu." Tersenyum tipis.


"Ahhhh.. Aku tidak sedang ingin bercanda Nath." Jawab Bella kesal.


"Aku juga tidak sedang bercanda tadi, tapi memang bukan itu yang ingin ku bicarakan, ucapan itu tadi hanya pembukaan saja." Ucap Nathan berusaha mengoda Bella, agar Bella semakin kesal.


"Pembukaan macam apa hah! Menjijikkan sekali!"


"Suatu saat kau akan memintaku mengucapkan itu setiap hari padamu saat kau jadi istriku nanti." Jawab Nathan yang mulai membuat wajah Bella berubah merah.


"Dasar!!" Runtuk Bella singkat.


"Aku tadi bicara pada Ayah soal kelakuan Bastian sebab aku takut Ayah menyalahkan mu jika suatu saat terjadi apa-apa pada Bastian. Tapi jawaban yang ku dengar dari Ayah cukup membuatku syok Bell." Kata Nathan mulai memasang wajah serius.


"Apa pendapat Ayahmu Nath?" Tanya Bella penasaran.


Nathan menceritakan semua pembicaraan antara dia dan ayahnya, Bella cukup kaget mendengar itu semua sebab ternyata Bastian sudah lama melakukan hal ini. Dan fakta itu semakin membuat Bella harus merelakan Karin yang mungkin sudah menjadi tumbal. Harapan Bella semakin menipis untuk bisa bersama Karin seperti dulu lagi.


Tuhan, jika kenyataannya sudah seperti ini, aku hanya ingin melihat arwah Karin ada di mana sekarang? Apa dia masih di tahan oleh makhluk itu atau Karin memang masih di sekap oleh Bastian. Tidak!! Tidak mungkin dia menyekap Karin! Untuk apa dia melakukan hal itu? Pasti Karin sudah di makan habis oleh makhluk itu. Astaga... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesakitan yang sudah Bastian beri untuk sahabatku itu!! Bagaimana aku harus memancing Bastian agar aku tahu sendiri kejadian tersebut, Bastian bahkan sangat misterius dan suka menghilang tanpa jejak. Batin Bella dengan ekspresi wajah kebingungan, hal ini cukup membuat dia pusing. Biasanya hanya dia yang tersandung masalah, namun kali ini, masalah itu sudah melibatkan teman-teman tersayangnya.


Tangan Nathan terangkat dan mengusap lembut ke arah punggung Bella dan hal itu sangat membuat Bella nyaman." Jika aku tahu seperti ini, aku tidak akan meninggalkan Kinanti untuk pergi ke Belanda. Aku juga sangat menyesal sebab tidak bisa melakukan apapun." Tutur Nathan membuat Bella memutar bola matanya ke arah Nathan tajam.


"Apa kau masih mencintai dia Nath!!" Tanya Bella ketus.


Hah? Apa? Apa Bella sedang cemburu? Batin Nathan.


"Hmm dia gadis yang sangat baik, sayang sekali jika harus meninggal dengan cara seperti itu." Imbuh Nathan semakin membuat Bella kesal.


"Kita pulang!" Bella membuka pintu mobil dan membawa dua mangkuk kosong.


"Astaga.. Aku sangat senang akhirnya ada tanda-tanda jika kau juga menyukaiku." Nathan tersenyum sejenak serayap ikut keluar mobil meski sedang gerimis.


Nathan berdiri di samping Bella yang tengah menunggu pesanannya di buatkan." Untuk apa kau memesan sebanyak itu?" Tanya Nathan.


"Terserah, bukan urusanmu!"


"Hmm begitu." Mengangguk-angguk." Bungkus semua Pak, biar saya beli." Imbuh Nathan membuat Bella langsung melihat kearah Nathan.


"Untuk apa kau beli sebanyak itu Nath?"


"Terserah, bukan urusanmu." Jawab Nathan dengan nada cukup lembut serayap mengedipkan sebelah matanya.


Bella memalingkan wajahnya, Nathan langsung merangkul kedua bahu Bella lalu merapatkan rangkulannya agar tubuh Bella berdekatan dengannya.


"Apa ini beneran Den?" Tanya penjual bakso memastikan.


"Iya Pak bungkus semua." Jawab Nathan tersenyum ke arah wajah Bella yang semakin terlihat kesal." Dia hanya masa lalu, aku bercerita karena ingin memberitahumu jika arwah itu memang arwah Kinanti. Dan aku berucap dia baik karena, dia memang gadis yang sangat baik Bella. Dulu aku memang mencintainya namun sejak dia berselingkuh dan tergoda dengan Bastian aku sudah mengikhlaskan itu semua. Dan kau harus tahu satu hal Bella, aku memang sudah berulangkali menjalin hubungan meski kandas. Tapi tidak sebesar perasaanku padamu, aku tipe pria yang tidak mau ribet, apalagi harus melakukan hal-hal bodoh yang sering kulakukan saat ini. Aku menyukai Kinanti karena dia tidak banyak menuntut dan selalu mengerti kesibukanku dulu, sebab aku tidak ada waktu setiap hari dengannya. Namun kau lihat kan, jika aku hampir setiap hari bersamamu, bahkan mencarimu, aku menyebut diriku sendiri sangat bodoh melakukan ini semua. Aku hanya mencintaimu Bella, jadi jangan cemburu seperti tadi." Kata Nathan tersenyum ke arah Bella.


"Aku tidak cemburu." Jawab Bella yang masih menyembunyikan perasaannya.


"Lantas tadi apa?"


"Tidak ada!" Bella kembali memalingkan wajahnya.


"Hmm begitu." Tersenyum." Biar saya bawa Pak." Nathan langsung melepaskan rangkulannya dan membawa puluhan bungkus bakso yang dijadikan satu dengan satu kantung plastik besar.


Setelah meletakan semua bakso di jok belakang, Nathan kembali untuk membayarnya." Berapa Pak?" Tanya Nathan mengeluarkan dompetnya.


"450 ribu Den." Tuturnya ramah.


"Hmm ini Bapak." Memberikan uang pas.


"Terimakasih Aden." Jawab penjual itu senang.


"Sama-sama Bapak, yuk." Nathan meraih jemari Bella dan mengiringnya menuju mobil.


"Mau kau apakan semua bakso itu Nath?"


"Ku berikan karyawanku yang sedang sif malam di bagian produksi, kau mau ikut ke sana atau ku antarkan pulang?" Tanya Nathan membukakan pintu mobil.


"Aku ikut." Jawab Bella bersemangat.


"Baik kita kesana." Nathan tersenyum sejenak sebelum menutup pintu mobil untuk Bella.


"Apa tempatnya jauh Nath?"


"Di belakang perusahaan Ayah, cukup dekat dari sini, jika kau lelah aku akan mengantarkanmu pulang dahulu." Jawab Nathan mulai menyetir.


"Aku tidak pernah lelah Nath, jika aku pernah lelah, mungkin aku sudah penyakitan sejak dulu."


"Kenapa seperti itu?" Tanya Nathan menoleh sejenak.


"Aku benci tidur, itulah masalahnya. Di saat orang lain bisa rileks saat tidur tapi tidak untukku, tidur malah membuat otakku menegang dan ketakutan." Jawab Bella yang membuat Nathan menghembuskan nafas berat.


Kasihan sekali dia, apa itu salah satu kegunaan kekuatannya. Aku yakin Tuhan menganugerahkan semua itu karena ada alasan sendiri. Aku berharap ini semua cepat berakhir Bella, agar aku bisa segera memilikimu seutuhnya.-


Terimakasih yang masih setia


maaf ya nggak bisa dobel like lagi😩Author lagi kurang sehat🙏


Silahkan like 👍


Komentar 💬


Klik♥️


Vote juga yah😁


Terimakasih 😘


salam Arabella Maheswari 😉