Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 46



Sepulangnya dari Kafe, Nathan menganjak Bella untuk makan malam agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Bella. Dia juga ingin membicarakan sesuatu yang selalu di takutinya sejak dia mengenal Bella. Perasaan itu selalu saja ada dalam hatinya dan sangat mengusik ketenangannya saat ini.


"Bicarakan apa yang ingin kau katakan Nath?" Tanya Bella sambil makan sajian di depannya.


"Aku sangat takut jika kau di rebut oleh kakakku Bella," Jawab Nathan yang sejak tadi tidak menyentuh makanannya sedikitpun.


"Haha segitunya, sejak awal jika aku mau, aku sudah dekat dengan kakakmu itu. Sayangnya aku sudah mencium energi negatif jadi aku selalu menghindarinya sebab tidak ingin menambah sebuah masalah lagi. Tapi ternyata dia yang mencari masalah denganku, apalagi setelah dia sampai terbukti menyelakai Karin sahabatku.!! Aku akan membuat dia membayar mahal untuk perbuatannya itu.." Jawab Bella tegas.


"Kenapa kau jadi seyakin ini Bella? Apa kau sudah mempunyai bukti untuk tuduhan itu?"


"Tadi sebelum kau menjemputku, Karin datang ke rumahku. Awalnya kupikir begitu, namun ternyata setelah ku perhatikan, itu bukanlah Karin. Baunya sangat aneh dan tingkah lakunya juga.." Jawab Bella menjelaskan.


"Kenapa bisa seperti itu?" Nathan mengerutkan keningnya.


"Kau tahu makhluk yang menghuni liontin Bastian mempunyai kemampuan untuk merubah diri menjadi seseorang meski tidak bisa sempurna. Aku masih belum menemukan bukti kuat Nath, mangkanya aku mohon, beri aku ruang untuk menyelidiki ini sendiri sebab aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu." Tutur Bella lirih.


"Aku tidak tahu masalah seperti itu Bella, aku hanya takut kehilanganmu saja."


"Kita itu masih teman, kenapa kau berlebihan seperti itu." Jawab Bella yang wajahnya mulai memerah.


"Tanpa kau berucap pun aku sudah tahu jika kau juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku." Bella terdiam dan tidak membalas ucapan Nathan saat ini, sebab dia membenarkan itu semua."Aku dan Kak Bas pernah sangat akrab Bell, tapi sejak dia tahu jika dia bukan anak kandung ayah dia jadi seperti itu. Semua yang ku sukai selalu berusaha di rebut oleh dia, awalnya kupikir ini hanya perasaanku saja, tapi sudah tiga kali dia menghancurkan hubunganku dengan seorang gadis. Dan yang paling parah emm saat aku masih kuliah di sini, aku mengenal seorang gadis pindahan dari sebuah pelosok yang entah apa nama desa tersebut sebab aku juga lupa nama asal desanya. Dia gadis yang sangat cerdas,emm cantik,Tutur katanya lembut dan aku sangat menyukainya. Namanya Kinanti, aku menjalin hubungan dengannya hampir tiga bulan, awalnya hubungan kami baik-baik saja sebab Kinanti memang wanita idaman yang tidak banyak menuntut. Tapi semua berubah saat Bastian mengetahui itu semua, hmm dia merebut perhatian Kinanti, sikap Kinanti jadi sedikit aneh padaku. Dia seperti bukan Kinanti yang ku kenal, dia berkata jika dia menyukai Bastian dan akan mengakhiri hubungan kita. Hmm ya sudah aku merelakan itu semua, sejak dia berucap seperti itu, aku sudah tidak pernah menemuinya lagi. Aku meminta ayah untuk mendaftarkan ku melanjutkan study ke Belanda agar aku bisa melupakan semuanya sebab hal itu cukup menyakiti perasaanku. Selain itu aku juga ingin menenangkan diri dan menerima kenyataan jika Bastian selamanya akan menjadi bayang-bayangku seperti itu. Hmm jadi aku sangat takut hal itu terjadi lagi, aku sangat menyukaimu Bella dan aku tidak ingin kau di rebut lagi oleh Bastian dari sisihku." Kata Nathan sedikit bercerita.


"Katamu tipemu seperti aku..!! Kau membohongiku heii Nathan..!!" Jawab Bella pura-pura marah." Aku bahkan sangat berbeda dengan Kinanti, aku kasar dan kau sudah rasakan sendiri aku wanita seperti apa!!" Imbuh Bella.


"Aku yakin jika itu bukan sifat mu yang sesungguhnya, sudahlah jangan kau tutupi lagi jika sedang di hadapanku seperti ini. Sekasar apapun ucapanmu, aku paham itu semua kau lakukan agar aku menghindar darimu kan..!! Itu tidak akan terjadi Bella, selama kau masih belum terikat hubungan dengan siapapun, aku tidak akan meninggalkanmu seburuk apapun kenyataannya nanti..!!" Tutur Nathan menjelaskan.


Deg...!!!


Aku akui Nath, semua yang kau ucapkan memang benar. Dan aku membenci dengan apa yang kurasakan saat ini padamu, aku berusaha menolak itu semua, tapi semakin aku menolak rasanya perasaanku semakin terhanyut dengan semua perhatian yang kau berikan.


"Mungkin kekasihmu dulu terpengaruh dengan jimat pemikat milik Bastian Nath.." Sebab aku melihat jika kau lebih tampan dari Bastian...


"Kakakku memang tampan Bella, dan dia sangat lembut, tidak seperti diriku yang terlihat kasar dan egois, pantas jika banyak wanita yang tertarik padanya daripada kepadaku." Jawab Nathan yang mulai memakan hidangan yang ada di meja.


Aku merasa kau lebih tampan Nath, pria paling tampan yang pernah ku temui..


"Aku yakin jimat itu penyebabnya.." Tutur Bella lagi.


"Hmm ya kau memang tidak mau di kalahkan meski hanya dugaan.." Jawab Nathan tersenyum tipis.


"Iya memang." Tersenyum." Tidak perlu takut seperti itu Nath, Bastian masih belum tahu siapa aku sebenarnya sebab aku juga belum tahu siapa aku sebenarnya." Imbuh Bella kembali tersenyum.


"Maksudmu Bella?"


"Kau lihat aku seperti apa Nath," Menatap manik milik Nathan.


"Kau sangat cantik, meski sedikit tidak wajar." Bella terkekeh mendengar jawaban Nathan, dan hal itu membuat Nathan meletakkan sendoknya pada piring." Kau tidak bisa jika tertawa sedikit pelan..!" Protes Nathan melipat kedua tangannya dan bertumpu pada meja di hadapannya.


"Hmm maaf, maksudku bukan yang itu Nath, aku memang sudah cantik dari kecil." Mengedipkan sebelah matanya ke arah Nathan." Maksudku soal kekuatanku itu Nath.." Imbuh Bella menjelaskan.


"Hmm itu malah terlihat tidak wajar, sebenarnya itu kekuatan apa?"


"Aku saja merasa binggung, apalagi dirimu hahaha." Bella kembali tertawa terkekeh membuat Nathan menarik nafas panjang."Awalnya aku binggung bagaimana cara mengunakan kekuatan ini, hanya saja terkadang aku mendengar bisik-bisik di telinga yang menyuruh aku melakukan sesuatu jika ada seseorang yang membutuhkan bantuanku seperti kemarin saat aku ada di warung itu. Emm itu salah satu pengalamanku, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku secara berlebihan Nath, aku bisa menjaga diriku sendiri." Tersenyum ke arah Nathan.


"Tetap saja aku merasa khawatir." Nathan mengeser tempat duduknya lalu meraih jemari kiri milik Bella.


Deg...!!


"Aku sedang makan Nath, jangan seperti ini." Tutur Bella lirih.


"Kau makan mengunakan tangan kanan bukan, jadi biar yang kiri aku genggam agar kau tidak terlepas." Tutur Nathan yang membuat perasaan Bella langsung menegang.


Dia mulai bersikap begitu, aku ingin pergi sekarang juga sebab aku selalu bertindak bodoh karena menutupi perasaan gugupku ini.


"Aku tidak berselera makan saat ini, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu malam ini." Mencium punggung tangan Bella sejenak dan menurunkannya lagi.


"Gombalanmu sangat murahan Nath."


"Murahan tapi sudah bisa membuat jantungmu berdegup kencang bukan? Aku merasakannya Bella, sudah ku bilang jangan berbohong soal masalah itu." Jawab Nathan dengan wajah yang masih tanpa ekspresi.


"Hmm oke... Aku juga tidak akan makan jika kau tidak makan." Kata Bella berusaha mengancam.


Tanpa berbicara satu katapun, Nathan mengeser piring milik Bella dan menyendok makanan lalu memberikannya pada Bella.


"Ehh apa ini..!!" Ucap Bella mengelengkan kepalanya.


"Aku ingin meyuapimu agar kau tidak malas makan sayang, cepatlah setelah ini kita berjalan-jalan sebentar." Jawab Nathan tersenyum tipis dan itu membuat perasaan Bella semakin menggila.


"A aku bisa makan sendiri, makanlah punyamu sendiri Nath.." Kata Bella akan merebut sendok namun di hindari oleh Nathan.


"Aku tidak ingin makan,"


"Aku juga.." Jawab Bella singkat.


"Kau harus makan, jangan menirukanku. Aku akan tetap seperti ini jika makanan ini tidak kau habiskan." Kata Nathan yang selalu memaksakan kehendaknya.


"Aku akan makan sendiri Nath.." Jawab Bella lirih sebab perasaannya semakin tidak kuat.


"Ayolah sayang..Kau tinggal membuka mulutmu saja dan semuanya akan selesai dengan cepat, apa kau perlu bantuan untuk membukanya?" Tutur Nathan yang perlahan mendekatkan wajahnya membuat Bella langsung melebarkan matanya.


"A A apa yang akan kau lakukan Nath, kau tahu ini tempat umum." Jawab Bella semakin gugup.


Astaga... Aku tidak percaya jika dia seorang janda, wajahnya jadi seperti itu karena terlalu gugup, imut sekali...


"Menciummu agar kau mau membuka mulutmu itu." Mengedipkan sebelah matanya.


"Ahh tidak..!!" Bella meraih tangan Nathan dan mengarahkan sendok yang di pegang Nathan ke arah mulutnya." Sudah..." Menguyah.


"Bagus begitu sayang, kau selalu suka jika di paksa yah." Kata Nathan dengan memperlihatkan senyuman manisnya.


Jangan melakukan itu Nath, kau semakin terlihat tampan dengan senyuman itu...


Bella kembali mematung serayap melihat ke arah Nathan yang wajahnya berada cukup dekat dengan wajahnya.


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi merah milik Bella.


"Maaf Bella, kau membuatku ingin melakukannya." Bisik Nathan sebelum kembali duduk tegak.


Dengan mulut setengah terbuka Bella menatap ke arah Nathan yang masih menatap ke arahnya.


Aku sudah sangat lemah jika harus berhadapan dengan manusia yang satu ini, aku bisa saja menghajar dia saat ini juga, namun nyatanya, untuk mengerakkan tanganku saja aku tidak mampu. Berikan aku jawaban Tuhan, apa manusia ini benar-benar seseorang yang kau kirim untukku atau dia hanya seseorang yang akan menambah luka di dalam hatiku suatu saat nanti..-


Silahkan like 👍


Komentar 💬


Klik♥️


Vote juga please 😘


salam Arabella Maheswari