
Vero masuk ke sebuah rumah yang jauh dari pemukiman warga, rumah itu terlihat tidak terawat namun dia menerobos masuk seolah sudah mengenal tempat itu. Dia membawa amplop coklat yang berisi uang hasilnya mencuri dari lemari Sang Mama.
Krieeet...
Pintu terbuka dan menampilkan wajah tua seorang perempuan dengan berbagai kalung yang berada di lehernya.
"Masuk." Jawabnya lirih dan Vero langsung mengikutinya masuk.
"Ada wanita yang menganggu saya Nyai." Tutur Vero duduk di hadapannya.
"Nyai tidak bisa, jauhi dia. Fokuskan tujuanmu saja, tidak perlu kau menganggu dia sebab dia tidak akan menjadi ancaman jika kau diam saja." Jawab wanita itu karena sudah tahu maksud dan tujuan Vero datang ke sini.
"Aku ingin kecantikanku sama seperti dia."
Dasar manusia!!
"Kau sudah cantik Nak, susuk yang kau pakai sudah terlalu banyak." Tuturnya menjelaskan.
"Jika seperti itu, buat wajah wanita itu rusak. Aku membawakan mu ini." Meletakkan amplop coklat pada meja milik wanita yang di panggilnya nyai.
"Dampaknya terlalu besar, nyai tidak bisa. Jika itu gagal, kau mau jika wajah mu akan hancur nantinya."
"Itu uang lima juta nyai, masak nggak bisa sih? Pokoknya aku nggak mau ada wanita yang lebih cantik dari aku." Jawab Vero yang masih teguh dengan keinginannya.
"Ambil uangmu, malam ini nyai usahakan. Jika berhasil, kau boleh membayar nyai. Jika tidak berhasil, kau harus menanggung resikonya sendiri." Jawab wanita itu dengan wajah serius.
"Hmm baik." Vero mengambil lagi amplop coklatnya lalu memasukkanya pada tas." Aku tunggu kabar baiknya besok." Vero menenteng tasnya dan segera keluar dari tempat itu.
Kau akan tanggung sendiri akibatnya. Batin wanita itu tersenyum kecut.
.
.
.
.
Nathan memutuskan untuk tidak pulang karena waktu yang terlalu pendek, dia mengabari sang Ayah lewat sebuah telfon singkat tadi. Nathan memakai baju yang sudah di siapkannya di mobil setelah mandi di kamar mandi milik Bella yang sangat kecil dan sempit untuk orang setinggi Nathan.
Bella yang tengah menonton televisi, melirik ke arah Nathan yang baru saja keluar dari dapur. Rambutnya terlihat basah meski Nathan sudah mencoba mengeringkannya tadi. Bella langsung memalingkan wajah saat di rasa Nathan melihat ke arahnya.
Ketampanannya bertambah jika dia dalam keadaan seperti itu. Kumohon Tuhan kuatkan hatiku..
"Kau selalu melirikku seperti itu." Tutur Nathan duduk di samping Bella.
"Cih siapa yang melirikmu!" Jawab Bella tidak mengaku.
"Selalu saja tidak mengaku." Nathan merebut remote dari tangan Bella.
"Jangan di pindah chanelnya."
Nathan mematikan televisi, lalu memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Bella.
Yah! Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Eluh Bella dalam hati sebab merasa gugup.
Astaga..Semakin mudah saja untuk membuatnya gugup. Batin Nathan yang sedang memandangi raut wajah Bella yang mulai merona karena ulahnya.
"Aku akan mengambil cemilan." Kata Bella beralasan dan akan berdiri namun lagi-lagi Nathan mencegahnya.
"Duduk, aku sedang tidak ingin menyemil." Tutur Nathan memegang lengan Bella lembut.
"Lantas! Kau mau menanyakan soal perasaan lagi? Jawabannya akan tetap sama Nath." Jawab Bella mencoba menghindari tatapan mata Bella.
"Aku tidak perlu jawabanmu, sebab bibirmu tidak akan mau berkata jujur." Menyentuh bibir Bella dengan ujung tangannya." Aku sudah tahu jawabannya jadi hmm biar aku sendiri saja yang tahu." Imbuh Nathan semakin membuat jantung Bella berdenyut karena tatap matanya.
"Hmm terserah!"
Nathan mendesah lembut dan duduk tegap menatap ke arah televisi yang mati." Boleh aku bertanya Bella?"
"Ya."
"Jika masalah ini selesai, menikahlah denganku. Tidak perlu kau menunggu fobia mu sembuh, itu sangat terlalu lama untukku." Bella terkekeh mendengar ucapan Nathan." Yah selalu, apalagi yang bisa kau perbuat selain menertawakan ku!." Runtuk Nathan namun ada senyuman yang menghiasi sudut bibirnya.
"Kau sangat lucu Nath, jika kau sudah ingin menikah, ya sudah menikahlah."
"Aku ingin kamu! Aku sudah tidak mau berpisah denganmu Bella! Setelah masalah Bastian selesai kita harus menikah!" Tutur Nathan terdengar serius.
"Kau mau jadi korban suami ke tujuhku Nath?" Tanya Bella tersenyum.
"Bukan ke tujuh tapi yang terakhir."
"Kau yakin sekali?"
"Sangat yakin Bella, meski nantinya kita tidak bisa seperti pasangan lain, yang pasti aku sudah bersamamu dengan ikatan yang jelas." Nathan memutar tubuhnya lagi menghadap ke arah Bella.
"Aku takut untuk pulang."
"Beritahu alamat rumahmu, aku akan ke sana sendiri untuk meminta restu." Jawab Nathan yang lagi-lagi bisa meruntuhkan pertahanan hati Bella.
"Kau yakin jika itu bukan hanya nafsumu saja?" Tanya Bella membalas tatapan manik Nathan.
Aku juga semakin gila merasakan sikapmu padaku Nath.
"Jika Bastian sudah sadar aku akan memikirkan hal itu." Tutur Bella lirih.
"Harus ya. Janji." Mengeluarkan jari kelingkingnya.
"Uhh dasar." Bella meraih jari kelingking Nathan serayap tersenyum dengan rona wajah memerah.
"Terimakasih."
"Hmm ya sama-sama." Tutur Bella menurunkan tangannya." Aku akan bersiap-siap." Bella tersenyum kemudian pergi meninggalkan Nathan yang masih menatap lekat ke arah Bella.
"Astaga .." Nathan memalingkan wajah dan menyandarkan punggungnya pada sofa." Bagaimana rasanya bisa memiliki istri secantik dia." Angan Nathan mulai memikirkan hal-hal yang membuat otaknya keruh, hanya dengan membayangkan saja raut wajah Nathan sudah terasa panas dengan detak jantung yang memacu hebat." Ahhh apa yang ku fikirkan!" Gumahnya duduk tegak." Tapi aku benar-benar merasa seperti orang yang paling bahagia sedunia, huuft sayangnya masih lama. Aku sangat tidak sabar untuk itu." Nathan beranjak dari tempat duduknya dan membereskan beberapa barangnya untuk menaruhnya pada mobil.
.
.
.
.
🌁Kafe🌁
Tiga lagu berhasil Bella bawakan, tinggal satu lagu penutup untuk penampilannya malam ini. Seseorang hadir di penampilan terakhir Bella dan wajahnya pun tidak asing bagi Bella. Dia terlihat baik-baik saja meski tempo hari dia sempat di hajar oleh Bella hingga berakhir babak belur. Dia adalah Kevin, teman baik dari David mantan terburuk Bella sepanjang sejarah. Kevin memang sengaja di utus David yang kini masih berada di luar negeri untuk menganggu kehidupan Bella, tujuannya sangat tidak baik, David tidak ingin Bella bahagia ketika tidak bersamanya.
Nathan sudah memperhatikan Kevin sejak awal dia masuk, dia masih mengingat jika Kevin adalah orang yang di hajar Bella saat pertama pertemuannya dengan Bella dulu.
Kenapa pria ini ada di sini lagi. Batin Nathan.
Ronald yang juga mengingat hal itu, langsung berjalan menuju ke arah meja Kevin sebab tidak ingin ada perkelahian yang terjadi di kafenya lagi.
"Ada perlu apa Tuan?" Tanya Ronald sopan.
"Tidak ada, aku hanya ingin makan." Berpura-pura mengambil buku menu padahal sangat jelas jika Kevin memperhatikan Bella sejak tadi.
"Saya mengingat anda siapa? Jadi jangan mencari masalah dengan Bella, sebab saya sendiri yang akan menyeret anda keluar jika sampai itu terjadi." Jawab Ronald tegas.
Kevin tersenyum kecut." Ternyata masih banyak yang melindungi wanita siluman itu." Gumah Kevin.
"Keluarlah sebelum aku panggilkan penjaga Kafe." Ujar Ronald berusaha sopan.
Kevin tidak bergeming dengan ucapan Ronald, dengan terpaksa Ronald memanggil Baron untuk menyeret Kevin keluar dari Kafe. Bella yang baru saja turun mengucapkan terimakasih pada Ronald dan langsung berjalan menuju tempat duduk yang biasa Bella tempati.
"Ini dari Mama." Farel mengeser sebuah kotak makan ke depan Bella.
"Hhhmmm terimakasih nanti ku makan." Jawab Bella meneguk minuman di hadapannya.
"Siapa pria tadi? Kenapa dia masih saja menghampirimu?" Tanya Nathan penuh curiga.
"Sangat tidak penting membahas hal itu Nath." Jawab Bella santai.
"Apa salahnya untuk menjawab jika memang tidak penting. Apa dia salah satu mantanmu." Tanya Nathan dengan wajah serius namun Bella malah terkekeh mendengar ucapan Nathan." Huuffft!!! Selalu..." Imbuh Nathan kesal.
Bella berhenti tertawa saat melihat Nathan menatapnya tajam." Emm dia hanya teman seorang mantan suamiku, aku juga tidak tahu kenapa dia masih berkeliaran seperti itu. Sudah puas kan." Mengedipkan sebelah matanya pada Nathan.
"Mungkin dia ingin masuk rumah sakit lagi Bell." Sahut Farel mengoda.
"Hmmmzzz mungkin juga." Tersenyum ke arah Farel." Sudahlah itu semua tidak penting." Imbuh Bella bersandar pada sofa kafe.
Matanya tertuju pada sebuah bola api yang terbang dan hendak menuju ke wajahnya, namun Bella menangkapnya lalu menggenggamnya erat hingga tangan Bella mengeluarkan asap.
"Apa itu?" Tanya Farel mengerutkan keningnya.
"Entahlah, akhir-akhir ini aku sering mendapat masalah dan mencari-cari masalah jadi pasti ada saja yang berbuat hal seperti ini." Jawab Bella santai dan mengambil selembar tisu lalu meletakkan sesuatu yang di genggamnya saat ini. Terlihat beberapa paku dan potongan kawat berkarat, Nathan langsung saling memandang bersama Farel.
"Apa itu serangan dari Tania?" Farel langsung berucap demikian sebab dia cukup tahu tentang santet atau semacamnya meski dia tidak pernah menyaksikannya langsung.
"Bukan. Nyai itu sudah ku lumpuhkan jadi bukan dia." Jawab Bella tersenyum.
"Kenapa kau malah tersenyum? Kau tidak merasa takut? Jika benda itu sampai masuk ke tubuh mu bagaimana?" Sahut Nathan merasa khawatir.
"Hanya Tuhan yang bisa menembus tubuhku Nath. Aku rasa aku tahu ini perkerjaan siapa." Jawab Bella tersenyum." Aku akan mengembalikannya." Bella mengengam kembali benda tersebut dengan sebuah keyakinan di hatinya, dan benda itu menghilang saat Bella membuka telapak tangannya.
"Astaga! Aku ingin belajar ilmu seperti itu Bell?" Sahut Farel melongo.
"Jika bisa memilih, kau ambil saja ilmu ku ini, agar aku bisa hidup normal seperti yang lain. Seseorang yang di anugerah kan hal seperti ini harus punya tanggung jawab Farel, kau tidak bisa sembarangan mengunakannya semau mu." Mengedipkan mata pada Farel dan mengambil kotak makan yang di berikan Farel.
"Hahahaha kau benar Bella? Bahkan aku tidak bisa membayangkan jika harus berhadapan dengan makhluk tidak kasat mata." Jawab Farel.
"Itu kau tahu. Kau mau Nath? Ini sangat enak." Ucap Bella menawarkan.
"Tidak terima kasih, setelah ini antar aku untuk makan malam."
"Hmm boleh." Jawab Bella mengangguk sambil merasakan sedapnya masakan Mama Farel.
Astaga..Aku semakin merindukan untuk pulang..-
TBC♥️