
Bella membantu Ayah dan Mamanya berkemas sore ini, sebenarnya Bella ingin lebih lama lagi bersama Mama Sinta namun banyaknya perkerjaan yang menuntut Pak Raffles agar segera kembali pulang.
"Apa tidak sebaiknya Mama di sini sebentar lagi, biar Ayah pulang sendiri." Tutur Bella serayap melipat baju dan memasukkannya pada koper.
"Tidak baik jika seperti itu sayang, kau harus tahu jika kita sudah menikah. Kita harus mengikuti kemana suami kita pergi, begitupun kamu. Mama harap kamu menurut dengan Nathan dan jadi menantu yang baik di keluarga ini. Jika ada waktu mainlah ke sana, tapi jangan terlalu memaksa Nathan juga untuk menuruti itu semua. Apa kau paham ucapan dari Mama?" Mama Sinta memeluk erat tubuh Bella serayap mencium puncak kepala Bella cukup lama.
"Hmm Bella mengerti." Jawab Bella lirih.
Setelah kepergian Mama Sinta dan Ayah Raffles di depan rumah, Nathan mengiring Bella untuk masuk ke rumah. Di ruang tamu keduanya di sambut oleh Pak Salim yang tengah duduk bersantai serayap membaca surat kabar sebab tadi pagi Pak Salim tidak sempat membacanya.
"Kalian ke sinilah." Pinta Pak Salim.
Nathan dan Bella langsung berjalan menuju Pak Salim dan duduk di sofa ruang tamu." Hmm Yah ada apa?" Tanya Nathan dengan wajah berseri-seri.
"Sudah memutuskan untuk Honeymoon ke mana?" Pak Salim tersenyum menatap ke arah Bella.
"Kita belum memutuskannya." Jawab Nathan yang tahu jika Bella tengah kebingungan mencari jawaban.
"Kenapa belum?"
"Sudahlah Ayah, itu semua tidak penting. Yang penting saat ini Bella sudah menjadi milikku." Nathan merangkul kedua pundak Bella dengan erat.
"Hmm baiklah jika begitu, Ayah mau beristirahat. Sejak tadi punggung Ayah terasa sangat sakit, jika kalian mau makan malam, jangan bangunkan Ayah. Anggap rumah ini adalah rumahmu nak." Pak Salim menatap ke arah Bella yang masih terlihat kaku.
"Baik Yah."
Pak Salim tersenyum sejenak dan berjalan menuju ke arah kamarnya, bola mata Bella memperhatikan Pak Salim hingga Pak Salim hilang dari pengelihatannya.
"Apa kau ingin hal itu Nath? Aku tahu jika tadi kau hanya tidak ingin memperpanjang pertanyaan Ayah." Tanya Bella lirih.
"Jika kau ingin, aku juga ingin. Tapi melihat keadaanmu sekarang rasanya itu tidak perlu untuk di lakukan sayang. Aku tidak masalah sebab hal itu bisa di lakukan kapan saja, mungkin setelah fobia mu sembuh atau perasaanmu sedikit lebih tenang." Jawab Nathan santai.
"Jika tidak sembuh?"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, kau mau makan malam apa? Biar ku pesankan." Tutur Nathan mengalihkan pembicaraan.
Entahlah Nath, rasanya aku takut kau bosan padaku.
"Memikirkan apalagi?" Imbuh Nathan bertanya.
"Tidak ada."
"Kau mau makan apa sayang?"
"Bakso pedas mungkin enak." Jawab Bella mencoba tersenyum dan menyembunyikan perasaannya.
"Jika Bakso, mungkin sebaiknya kita langsung ke tempatnya sayang. Aku takut jika memesan akan dingin jika sampai di sini."
"Hmm ya sudah."
"Tunggu. Aku akan mengambil kunci mobil dan dompet." Nathan tersenyum dan segera menaiki tangga rumahnya dengan setengah berlari.
Aku akan berusaha bersikap baik padanya.
Wuuuusssss....
Tiba-tiba angin berhembus masuk padahal pintu tertutup rapat, tercium bau minyak serimpi menusuk kedalam hidung Bella. Lirih terdengar suara rintihan seseorang yang terasa sangat menyayat hati, Bella segera beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu rumah Nathan. Tidak ada apapun di halaman rumah Nathan namun suara itu sangat menganggu pendengaran Bella hingga Bella harus menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Siapa?" Teriak Bella pelan, sebab dia yakin jika sosok Ibu-ibu itu yang menghampirinya." Apa kau mau meminta bantuanku? Katakan, jangan seperti ini." Imbuh Bella yang tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Kau sedang berbicara dengan siapa?" Suara Nathan cukup mengagetkan Bella dan suara itupun tiba-tiba menghilang.
"Kau berbicara dengan siapa?"
"Entahlah Nath, akhir-akhir ini ada Ibu-ibu yang terus mengikuti ku tapi dia hanya menangis dan merintih, saat aku bertanya dia selalu bungkam dan tidak menjawab apa keinginannya." Jawab Bella menjelaskan.
"Ibu-ibu? Apa Bik Ima?"
"Emm.. Dia bukan manusia Nath, dia berkebaya warna coklat, aku tidak tahu wajahnya karena dia selalu menunduk. Mungkin kau mengenalnya Nath? Pembantu lamamu atau siapa?"
"Bik Ima sudah berkerja sejak dia muda sayang dan setahuku Ayah tidak pernah memperkejakan orang selain dia. Jika berkebaya? Bukannya itu baju orang terdahulu?"
"Sebagian orang masih mengunakannya Nath, ya sudahlah mari berangkat, agar tidak kemalaman." Jawab Bella tersenyum.
Nathan membalas senyuman Bella dan berjalan ke arah mobil dengan jemari tangan yang saling bergenggaman erat.
.
.
.
.
.
Vero kembali ke rumah Bastian dengan mobil baru miliknya, seharian penuh dia berada di rumahnya sendiri serayap menunggu seorang pembeli rumah yang baru. Para tetangga pun di buat heboh oleh Vero yang semakin terlihat angkuh dengan semua kemewahan yang di dapatkannya saat ini.
Seorang lelaki setengah baya turun dan membukakan pintu mobil untuk Vero, dia adalah Pak Iksan, tetangga Vero yang ingin menjadi supir pribadi.
Pak Iksan memperhatikan bangunan rumah Vero yang terlihat mengerikan, bulu kuduknya langsung meremang saat dia melihat sekelebat bayangan melintas di jendela kamar lantai dua.
"Nak Vero tinggal di sini?" Tanya Pak Ikhsan.
"Panggil saya Non."
"Ehh iya maaf, Non Vero tinggal di sini?" Tutur Pak Ikhsan mengulang pertanyaan.
"Hmm ya, ini rumah suami saya, bagus kan?" Jawab Vero tersenyum penuh hinaan.
Astaga rumah ini terlihat angker.
"Iya Non bagus." Kata Pak Ikhsan berbohong.
"Ya sudah, kamar Bapak ada di sebelah sana." Menunjuk bangunan kecil yang terletak di samping rumah.
"Hmm baik Non."
Vero pergi begitu saja dari hadapan Pak Ikhsan, sementara Pak Ikhsan melihat sekitar sambil mengusap tengkuknya sendiri sebab merasa ada yang memperhatikannya saat ini.
"Demi keluarga, aku pasti bisa." Gumahnya mengambil tas miliknya yang di letakkan pada bagasi mobil.
Pak Ikhsan berjalan ke arah bangunan kecil yang terpisah dengan rumah utama, dia melihat sebuah kunci sudah menancap di gagang pintu bangunan tersebut. Pak Ikhsan segera memutar kunci dan masuk ke dalamnya yang ternyata semakin terasa mengerikan. Tangannya meraba-raba mencari saklar lampu, setelah lampu menyala terlihat jelas sebuah ruangan yang hanya terdapat sebuah tempat tidur dan lemari kecil di sampingnya. Sambil menarik nafas panjang, Pak Ikhsan duduk di pinggiran tempat tidur serayap menenangkan perasaannya.
Bluuuppppp
Tiba-tiba lampu mati dengan sendirinya bersamaan dengan terdengarnya suara cekikikan yang berasal dari lemari yang terletak di samping tempat tidur. Keringat dingin membanjiri tubuh Pak Ikhsan, perlahan tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya di sana. Dengan tangan gemetaran, Pak Ikhsan menghidupkan lampu ponselnya dan menyorot lemari yang berada tepat di hadapannya. Terlihat sebuah kain putih menjuntai di bagian tengah lemari, dengan mengerahkan semua keberaniannya Pak Ikhsan menyorot perlahan bagian atas lemari. Dan terlihat jelas sosok kuntilanak dengan gumpalan daging yang melekat pada wajahnya. Suara cekikikan nya semakin terdengar jelas saat dia melihat Pak Ikhsan ketakutan, dia segera meraih tasnya dan berlari pergi dari tempat tersebut tanpa memperdulikan perkerjaan barunya.-
Jangan lupa Like, Share dan Vote yah.
Terimakasih ☺️🙏