
16:45
Vero terjaga dari tidurnya setelah seharian ini dia mencari keberadaan Bastian namun tidak menemukannya. Bahkan pembantu Bastian yang bernama Mbok Darmo juga tidak tampak sejak Vero datang siang tadi.
Vero mengusap-usap perutnya yang terasa sangat lapar sejak tadi, dia mencoba memesan makanan namun mendadak semua makanan yang di pesannya kehabisan stok. Ponsel Bastian juga tidak pernah aktif, sehingga Vero merasa cukup di buatnya kesal hari ini.
"Apa aku harus keluar lagi? Ahh malas sekali." Vero beranjak dari tempat duduknya dan melihat keluar jendela kamar. Ada sebuah depot kecil yang terletak di sebelah barat rumah tersebut, sehingga Vero langsung mengambil dompetnya dan bergegas keluar untuk mencari makan.
Vero menyusuri trotoar jalan menuju ke arah depot tersebut, cukup melewati lima rumah Vero sudah sampai di depan depot yang terletak di perempatan jalan. Vero segera masuk dan memesan satu bungkus makanan untuknya.
"Orang baru ya Non."
"Hm iya." Jawab Vero dengan wajah masamnya.
"Pantesan baru lihat." Jawab sang pedagang yang berusaha ramah.
"Kompleks sini sepi banget ya Pak?"
"Bukan sepi Non, cuma orangnya jarang keluar rumah kalau nggak ada perlu. Maklum Non, kebanyakan pembisnis." Jawabnya serayap menyiapkan pesanan nasi Vero.
"Hmm iya saya tahu kok."
"Non tinggal di rumah nomer berapa? Biar kalau mau pesen enak nganterinnya, biasanya orang sini suka begitu Non." Tuturnya menjelaskan.
Vero mencatat nomer telfon yang tertera di depan depot tersebut." Rumah saya Nomer 666 Pak, rumah yang paling besar itu." Jawab Vero ketus.
"666?" Ekspresi pedagang tersebut hampir sama seperti ekspresi supir taksi kemarin.
Ahh mungkin rumah itu sudah terbeli, jadi memang Non ini yang menempati. Batin si pedagang serayap memperhatikan Vero dari atas sampai bawah. Masa ada kuntilanak keluar siang-siang sih?
"Kenapa Pak? Kok melihatnya seperti itu?" Tatap Vero sinis.
"Ehh! Tidak apa-apa Non, maaf sudah capek seharian jadi begini, ini Non pesanannya." Memberikan satu bungkus nasi.
"Berapa?"
"30 ribu saja sama minumannya."
"Nggak perlu kembalian Pak. permisi." Vero meletakkan satu lembar uang 50 ribuan dan pergi.
Si pedagang langsung keluar depot dan masih memperhatikan Vero yang di pikirnya Kuntilanak. Dia mendesah lembut sebab sudah menaruh curiga pada Vero yang memang seorang manusia biasa. Namun saat dia akan masuk kembali, dia melihat uang yang di pegangnya saat ini. Matanya melebar saat melihat uang tersebut berubah menjadi selembar daun. Dia buru-buru mengambil korek api dan membakar daun tersebut.
"Hiiii bener kan jadi daun, ya Tuhan, apa Nona tadi kuntilanak penghuni rumah itu. Astaga! Lebih baik aku tutup depot saja, takutnya di samperin lagi." Pedagang tersebut buru-buru masuk dan membereskan sisa dagangan yang terlihat masih sedikit, dia segera menutup warung dan pergi dari lapak jualannya karena takut dengan kuntilanak penunggu rumah tersebut yang terkenal jahil.
.
.
.
.
Bella dan Nathan di persilahkan masuk ke dalam oleh pembantu baru yang berkerja pada rumah Bella, sesaat setelah itu seorang wanita separuh baya turun dari tangga rumah. Dia berhenti sejenak, mencoba memastikan jika yang di lihatnya saat ini bukan hanya sebuah khayalan yang selama ini di rasakannya. Dia mencoba turun lagi agar bisa lebih dekat lagi pada Bella yang belum sadar jika sejak tadi sudah di perhatikan oleh Mama Sinta, Ibu kandungnya sendiri.
"Sayang.." Tutur Mama Sinta lirih, membuat Bella menoleh ke arah sumber suara yang cukup di kenalnya.
"Mama." Bella mematung melihat wanita yang mulai berjalan perlahan ke arahnya, wajah Mama Sinta terlihat sama bahkan tidak ada uban tumbuh meski umurnya sudah menginjak 55 tahun. Walaupun wajahnya tidak secantik Bella, namun Mama Sinta cukup cantik jika di bandingkan dengan wanita yang umurnya sebaya dengannya.
Bella yang merasa sangat merindukan Mama Sinta, langsung berjalan menuju ke arah Mama Sinta dan memeluknya erat. Keduanya menangis terisak sampai tidak ada satupun ucapan yang keluar karena keduanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sesuatu, meski sebuah kalimat sekalipun.
Nathan yang menyaksikan hal itu, hanya bisa terdiam sebab dia tahu perasaan keduanya yang mungkin saling merindukan setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Bagaimana kabarmu sayang?" Tanya Mama Sinta dengan masih berpelukan.
"Baik Ma, Mama sendiri?"
"Bagaimana Mama bisa baik jika kamu kabur dari rumah seperti itu." Tuturnya lirih.
"Apa Mama sakit?" Tanya Bella kaget.
"Tentu sayang, tapi sekarang sudah sembuh karena melihatmu." Jawab Mama Sinta serayap melirik ke arah Nathan yang duduk terdiam." Kita duduk, kenalkan Mama pada pria tampan itu." Imbuhnya berbisik serayap mengecup dahi Bella sejenak sebelum Mama Sinta melepaskan pelukannya.
Bella hanya tersenyum malu serayap mengengam erat tangan Mama Sinta dan berjalan menuju ke arah Nathan." Dia Nathan Ma, Pria yang cukup gila hingga bisa dekat denganku." Kata Bella mengenalkan Nathan dengan cara berbicaranya yang asal.
Nathan langsung berdiri dan meraih tangan kanan Mama Sinta, lalu mencium punggung tangannya penuh hormat." Maafkan anak Tante yang seperti ini Nak." Tutur Mama Sinta mengusap lembut puncak kepala Nathan saat sedang menunduk.
"Memang seperti itu kenyataannya Ma." Jawab Nathan serayap menampilkan sebuah senyuman di wajahnya.
Kenapa wajah Bella dan Mamanya tidak mirip? Batin Nathan.
"Emmm..Apa Ayah tidak ingin menemui ku Ma?" Tanya Bella lirih.
"Kenapa kau berfikir begitu sayang?"
"Lantas di mana Ayah? Kenapa tidak ikut turun."
"Dasar anak nakal!!." Suara tersebut tiba-tiba terdengar dari balik pintu ruang tamu, membuat Bella dan Nathan langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Terlihat Pria separuh baya berpenampilan rapi tengah berdiri di sana bersama Bara yang sedang menjinjing sebuah tas kerja. Dia adalah Pak Raffles, Ayah kandung Bella.
Bella menelan saliva-nya sebab nyalinya menciut saat ucapan itu terdengar di telinganya, dia mengira jika Ayahnya belum bisa memaafkan atas kesalahannya dulu. Nathan sendiri mendesah lembut sebab ingin menenangkan perasaannya, agar bisa mengatasi kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi nanti.
Pak Raffles berjalan menuju ke arah Bella yang saat ini hanya bisa terdiam serayap menahan perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya. Selain Nathan, kekuatannya juga bisa melemah saat melihat sang Ayah. Intinya, kekuatan Bella melemah saat dia berada di sekitar orang yang sangat di cintai dan di kasihi nya.
Beberapa saat Pak Raffles hanya memandangi wajah cantik milik Bella serayap berdiri mematung, raut wajahnya memang terlihat marah namun perlahan-lahan menjadi sedikit memudar setelah satu bulir air mata menetes di kedua sudut matanya.
"Dasar anak nakal, kenapa kau baru pulang! Kau sudah tidak membutuhkan Ayah mu yang tua ini." Tutur Pak Raffles terbata serayap langsung memeluk Bella yang ternyata sudah melupakan kesalahan Bella yang dulu.
"Maaf Ayah." Jawab Bella lirih dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi.
"Tidak sayang, Ayah yang minta maaf karena terlalu egois." Tutur Pak Raffles masih memeluk erat Bella.
"Aku memang bersalah Ayah."
"Sudah Ku bilang Ayah yang bersalah." Tuturnya lagi.
"Sudahlah Sayang, intinya tidak ada yang bersalah. Kalian sama-sama terbawa emosi saat itu." Imbuh Mama Sinta yang tahu jika sifat Bella cenderung sama seperti Ayahnya.
Bara sendiri hanya melirik malas ke arah Nathan yang saat ini hanya terdiam melihat ke arah Bella yang masih tengah mengobrol bersama Ayahnya.
"Siapa pria ini?" Tanya Pak Raffles.
"Dia Nathan." Jawab Bella.
"Posisinya apa di hatimu." Tutur Pak Raffles mengoda.
"Bukannya Bara sudah bercerita."
"Panggil dia Kak sayang, hmm tapi Ayah ingin tahu itu dari mulutnya sendiri." Jawab Pak Raffles tersenyum ke arah Nathan.
"Saya Nathan yah, emm saya ingin meminta restu untuk bisa menikahi Bella dalam waktu dekat ini." Tutur Nathan terlihat tidak merasa gugup sama sekali.
"Kau sudah tahu jika anak Ayah ini sedikit gila?"
"Aku sudah mengenalnya lama Yah." Sahut Bella.
"Diamlah sayang, aku bertanya padanya bukan padamu." Jawab Pak Raffles membuat Nathan tersenyum sebab terlihat jelas raut wajah Bella yang gugup.
"Saya sudah tahu Yah, mengingat saya sudah cukup lama mengenal Bella meski harus ada perjuangan yang sedikit rumit saat melakukan hal itu."
"Ayah rasa bukan hanya rumit, tapi harus ada ekstra kekuatan untuk bisa mendekatinya dari jarak satu meter." Mama Sinta mengelengkan kepalanya pelan serayap tersenyum karena baru pertama kali dia melihat senyum di wajah suaminya lagi, setelah lama senyuman itu menghilang begitu saja sejak dia melakukan kesalahannya mengusir Bella dari rumah." Ayah sudah tidak bisa mengambil keputusan lagi, sebab Ayah tidak ingin memaksanya seperti dulu. Jika Bella setuju maka Ayah juga setuju dengan hubungan kalian. Tapi ada satu pesan dari Ayah soal fobia Bella, fikirkan lagi karena itu bukan masalah kecil. Ayah tidak ingin Bella mengalami hal yang dulu pernah di alaminya, Ayah harap kau membawa kebahagiaan untuknya bukan malah menambah luka yang semakin membuatnya terpuruk." Imbuh Pak Raffles yang ternyata sangat memikirkan perasaan Bella juga.
"Sudah saya fikirkan matang-matang Yah, saya menikahi Bella dengan semua kelebihan juga kekurangan yang ada pada dirinya. Saya berjanji tidak akan berbuat demikian meski dalam keadaan terdesak sekalipun, jadi Ayah tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Saya hanya meminta restu, selebihnya sudah saya fikirkan kemungkinan terburuk yang nantinya mungkin akan menimpa kehidupan kami." Jawab Nathan membuat Pak Raffles tersenyum lega mendengarnya.
Sungguh jawaban yang cukup mendinginkan hati, semoga kau bisa membuktikan semua itu. Batin Bara tersenyum sinis.
"Berapa umurmu Nak?"
"20 tahun Ma." Jawab Nathan tersenyum.
"Sayang dia..?" Pak Raffles langsung menoleh ke arah Bella sebab dia cukup terkejut dengan umur Nathan yang masih terbilang muda.
"Hmm iya Ayah, anak kecil itu sudah coba ku usir dengan segala cara. Namun dia tetap seperti itu, aku rasa dia memang lebih dewasa daripada umurnya." Jawab Bella dengan rona merah di wajahnya membuat Pak Raffles paham jika Bella juga menyukai pria muda di hadapannya.
"Hmm begitu, sekarang Ayah tanya, apa kau mencintainya sayang?"
Pertanyaan tersebut sontak membuat jantung Bella berdetak tidak beraturan sebab selama ini dia selalu menyembunyikan perasaannya itu. Nathan yang menunggu pernyataan itu sejak dulu, melihat ke arah Bella yang masih memasang wajah gugup dan anehnya.-
Aduh maaf atas keterlambatannya ๐
Review nya lama banget๐ฉ
padahal sudah up date setiap hari ๐
tetep dukung cerita ini dengan cara like share dan Vote yah ๐ Terimakasih ๐