
Bella dan Nathan pun mengikuti penjaga rumah menuju ke arah pekarangan samping rumah Bastian. Aroma tidak sedap langsung menusuk hidung Bella saat ini, bau yang bercampur aduk membuat Bella sendiri sulit untuk memastikan bau dari makhluk apakan ini?.
Astaga baunya sangat menjijikan. Batin Bella serayap menutup hidungnya.
"Hanya pohon ini yang berbuah Aden." Tutur sang penjaga menunjuk sebuah pohon yang lumayan kecil namun memiliki banyak buah.
"Hmm sebentar Bapak. Maaf." Nathan mengedipkan mata ke arah Bella untuk memberikan isyarat padanya sebelum Nathan memanjat pohon tersebut.
Bella mengangguk dan memperhatikan sekitar serayap berkeliling di sekitar sana." Tempat ini sangat sejuk Bapak." Kata Bella berpura-pura padahal dia sangat ingin keluar dari tempat itu.
"Iya Nona, di sini banyak pohon jadi terasa sangat sejuk." Jawabnya ramah.
"Bapak sudah lama berkerja di sini?"
"Hmm iya Nona." Jawabnya lirih.
"Bentah sekali Bapak yah." Tutur Bella yang sangat salut dengan penjaga itu sebab aura rumah Bastian terasa begitu panas dan tidak nyaman.
"Sebenarnya tidak betah Nona." Jawabnya tiba-tiba, membuat Bella langsung memutar bola mata ke arah penjaga rumah tersebut.
"Kenapa begitu Bapak?" Tutur Bella tersenyum. Penjaga itu hanya membalas tatapan manik Bella saat ini." Apa Bapak juga merasa jika tempat ini sangatlah panas, ada hal yang tidak baik di sini. Emm itu menurut saya." Imbuh Bella lagi.
"Hm iya Nona, terkadang jika saat malam banyak bayangan-bayangan yang sulit Bapak jelaskan."
"Bayangan apa Bapak?" Penjaga itu hanya terdiam.
"Ceritakan saja Bapak, istri saya tahu soal dunia seperti itu." Sahut Nathan yang baru saja turun dari pohon dengan menbawa dua buah mangga muda.
"Bapak takut Aden, sebab itu peraturan dari Tuan rumah. Sebenarnya Bapak juga takut melakukan hal yang sekarang sedang Bapak lakukan saat ini, karena Tuan Bastian tidak memperbolehkan siapapun masuk rumahnya meskipun hanya pekarangannya. Hanya saja, Bapak merasa kasihan pada istri Aden sebab sedang hamil muda." Jawab sang penjaga yang mulai berkata jujur.
"Tenang saja Bapak, Tuan Bastian tidak akan tahu. Bapak percaya sama saya oke. Tapi bolehkan saya bertanya? Bayangan apa saja yang Bapak lihat di sini?" Kata Bella ingin tahu.
"Emm kadang hanya berbentuk asap hitam, tapi yang paling sering itu, emm itu Non, bentuknya mirip seorang wanita." Tuturnya lirih serayap melihat sekitar." Bapak kadang sampai mengikuti sosok itu ke belakang rumah tapi menghilang dengan sendirinya. Awalnya Bapak takut tapi lama-lama Bapak terbiasa dengan kehadiran mereka." Imbuh sang penjaga menjelaskan.
"Apa hanya satu wajah saja Bapak?" Tanya Bella lagi.
"Banyak Non. Ada yang rambut keriting,lurus,pendek, panjang pokoknya banyak. Bapak juga nggak tahu kenapa Tuan Bastian betah berada di sini."
Bella mengangguk-angguk serayap melihat ke sekeliling dan bola matanya berhenti pada ruangan yang terletak pada lantai dua. Mata Bella melebar dengan jantung yang berdegup tidak beraturan, tanpa sadar dia memegang lengan milik Nathan sebab dia melihat seraut wajah wanita sedang menatap ke arahnya sekarang. Sosok itu yang seringkali menampakkan wajahnya di dekat Bastian, Bella langsung mengalihkan pandangannya sebab dia sangat takut dengan sosok yang seperti itu. Wajahnya pucat dengan rambut panjang sebahu, matanya menatap lekat ke arah Bella sebab dia sadar jika Bella bisa melihatnya saat ini.
Keringat Bella mulai bercucuran dan Nathan merasa khawatir dengan keadaan Bella saat ini."Kau kenapa?" Tanya Nathan.
"Emm tidak apa-apa." Jawabnya gugup." Emm Bapak, bolehkan saya datang ke rumah Bapak kapan-kapan." Imbuh Bella yang ingin segera meninggalkan tempat tersebut.
"Boleh Nona, memangnya ada apa?"
"Saya perlu mendapatkan info lebih banyak lagi. Maaf Bapak jika membuat Bapak binggung namun di sini saya sedang mencari info soal menghilangnya beberapa teman saya. Dan saya mencurigai Tuan Bastian adalah pelakunya, meski ini hanya dugaan saja tapi saya sangat membutuhkan bantuan dari Bapak." Bapak itu kembali terdiam sebab dia jadi mengetahui maksud dari kedatangan Bella sebenarnya. Penjaga itu sangat takut jika Bastian mengetahui hal itu sehingga membuat dia kehilangan perkerjaanya.
"Maaf Nona jika niat Nona seperti itu saya tidak bisa membantu, sebab meskipun tempat ini terasa begitu aneh tapi Bapak sangat membutuhkan perkerjaan ini. Bapak takut ketahuan terus nanti Bapak di pecat, sedangkan di umur Bapak yang sudah tua sangat sulit untuk mencari pekerjaan." Tutur penjaga itu menjelaskan.
"Saya jamin keamanan Bapak. Saya mohon Bapak, saya tidak tahu harus mencari info tentang Bastian dari siapa lagi." Kata Bella memohon.
"Apa seperti itu Aden."
"Iya Bapak." Nathan mengambil dompet dan sebuah kartu nama." Ini kartu nama saya, Bapak bisa hubungi saya jika hal itu sampai terjadi." Imbuh Nathan ramah.
"Baiklah saya mau." Jawabnya tersenyum serayap melihat kartu nama milik Nathan.
"Tolong tulis nomer Bapak di sini." Memberikan ponselnya." Jika Bapak sedang off segera hubungi saya agar saya bisa menemui Bapak di rumah." Imbuh Bella ramah.
"Bapak libur hari Minggu Non." Sambil mengetikkan nomer dan memberikannya pada Bella.
"Hmm oke kita ke rumah Bapak hari Minggu." Jawab Nathan yang langsung membuat janji tanpa persetujuan dari Bella.
Bella kembali memperhatikan sekitar, dia bernafas lega saat sosok itu sudah menghilang dari jendela itu. Tangannya perlahan akan melepaskan cengkeramannya dari lengan Nathan, namun Nathan malah mencegahnya dengan cara mengengam lembut jemari kecil Bella agar tetep berada di sana. Bella mendongak menatap ke arah Nathan dari samping, Nathan tidak sedang melihat ke arahnya namun Bella tersenyum dan menuruti semua isyarat dari Nathan itu.
"Baik Bapak kita permisi dulu, terimakasih mangga mudanya. Doakan ya Bapak semoga akting kita tadi menjadi kenyataan." Kata Nathan yang membuat Bella langsung melihat ke arah Nathan.
Dasar!! Dia selalu bisa membuat jantungku ini meronta seperti sekarang. Batin Bella.
"Amin Aden." Jawab penjaga tersebut ramah.
"Tidak penting membahas hal itu!" Protes Bella melirik malas.
"Satu doa dari orang tua itu sangat berkhasiat sayang. Bukan begitu Bapak?" Mengedipkan mata pada penjaga rumah.
"Benar begitu Nona, Bapak pikir kalian pasangan suami istri tadi, sebab kalian terlihat sangat serasi."
Wajah Bella langsung berubah merah, sehingga Nathan tersenyum dan memperhatikan itu dari samping." Syukurlah jika seperti itu, terimakasih atas doanya Bapak." Nathan mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang." Ini untuk Bapak sebab sudah membukakan pintu pagar untuk kami hari ini." Kata Nathan menyodorkan uang tersebut.
"Tidak perlu Aden, Bapak ikhlas hanya membantu."
"Sudahlah, ini rezeki untuk anak dan istri Bapak di rumah, terimalah.." Tutur Nathan tersenyum.
"Terima kasih Aden." Penjaga itu menerimanya dengan senang hati.
"Sama-sama Bapak, baik saya permisi dulu. Hari Minggu saya akan datang ke rumah Bapak."
"Hmm iya Aden Bapak tunggu, nanti biar Bapak kirim alamat lengkap rumah Bapak."
"Bersikap biasa saja Bapak, agar Bastian tidak curiga." Imbuh Bella.
"Baik Nona."
"Saya permisi Bapak."
Bella dan Nathan pun keluar dari pekarangan rumah Bastian dengan masih memperhatikan sekitar. Sudah lebih dari lima wajah yang berbeda muncul di balik perpohonan dan hal tersebut cukup membuat Bella merasa sangat ketakutan. Namun tetap saja, wajah sang gelandangan adalah wajah yang paling menakutkan untuknya. Sebab Bella orang yang mengetahui dengan jelas bagaimana gelandangan itu sekarat hingga menghembuskan nafas terakhirnya.-
TBC♥️