Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 64



Mobil Nathan terparkir di depan halaman rumahnya, sejak tadi dia senyum-senyum sebab merasa senang karena Bella sudah mau menginap di rumahnya. Bella sendiri tidak memperdulikan hal itu dan masih melihat-lihat isi dalam peti kecil tersebut.


Seperti biasanya, Nathan membukakan pintu mobil untuk Bella. Saat Nathan akan mengiring Bella masuk, Bella meraih lengan Nathan dan berhenti serayap menatap ke arah Nathan lekat.


"Ada apa lagi? Apa di rumah ku ada sesuatu juga?" Tanya Nathan.


"Emm.. Itu Nath, kau masih ingat soal mimpi buruk ku itu kan?"


"Hmm yah kenapa memang?" Jawab Nathan seolah tidak mempermasalahkan hal itu.


"Apa kau mempunyai kamar yang berjarak jauh dari kamar Ayahmu?" Bella sangat takut Pak Salim merasa terganggu dengan teriakannya.


"Hmm kau bisa tidur di kamarku, di sana kedap udara jadi sekencang apa teriakan mu, tidak akan terdengar oleh Ayahku, bagaimana?"


"Hmm baik tapi.."


"Astaga, apalagi?"


"Berikan aku kunci agar kau tidak bisa masuk sembarangan!" Tutur Bella ketus namun Nathan membalasnya dengan sebuah senyuman.


"Yah oke sayang, apapun itu akan ku berikan. Ayo masuk, aku takut Ayah keburu tidur."


Nathan kembali meraih jemari Bella lalu mengiringnya masuk ke dalam rumah, kedatangan mereka langsung di sambut hangat oleh Pak Salim yang terlihat masih belum tidur. Dia tersenyum ke arah Bella, sebab dia cukup kenal dengan Bella mengingat dulunya Bella juga sempat merasakan kepemimpinan dari Pak Salim.


"Astaga ternyata artis dari Mall datang ke sini." Goda Pak Salim serayap menyuruh perawatnya masuk.


"Selamat malam Pak." Sapa Bella mencium punggung tangan Pak Salim serayap tersenyum manis.


"Untung Ayah belum tidur." Sahut Nathan ikut mencium tangan Pak Salim kemudian duduk." Duduklah Bella." Imbuh Nathan.


"Apa dia gadis yang kau bicarakan Nath?" Tanya Pak Salim tidak merespon ucapan dari Nathan.


"Hmm Yah, apa Ayah sudah tahu dia?"


"Cukup tahu, sebab dia karyawan Ayah bukan. Apalagi dia cukup teladan sebab Mall Ayah jadi berkembang pesat karena keuletannya dalam melayani pelanggan. Hanya saja Ayah lupa, siapa namamu?"


"Arabella Pak, Arabella Maheswari." Jawab Bella lirih.


"Hmm Bella, pantas saja Nathan jadi gila setelah mengenalmu, dan Ayah akui jika pilihanmu lebih cantik dari mendiang Mama kamu." Goda Pak Salim membuat ada perasaan haru yang bergejolak di dalam perasaan Bella.


"Sebenarnya tujuan Bella ku ajak ke sini karena ingin memperlihatkan sesuatu."


"Apa itu."


"Ini Pak." Bella meletakkan sebuah peti di meja." Saya menemukan ini di ruang pribadi milik Bastian yang terletak di gudang milik perusahaan Bapak." Imbuh Bella menjelaskan.


"Apa kau masuk ke dalam sana?" Tanya Pak Salim kaget.


"Hmm iya tadi, sebab ada sesuatu yang menyuruh saya untuk ke sana." Jawab Bella lirih.


"Semua aman kan Bella, sebab Bastian pernah mengancam jika ruangan itu sampai di buka, maka makhluk yang di dalam akan keluar dan mengoyak habis para karyawan." Kata Pak Salim menjelaskan.


"Sudah saya bereskan Pak, tidak ada yang terluka di sana."


"Bahkan aku tadi ikut masuk ke dalam Yah." Sahut Nathan menjelaskan.


"Syukurlah, Ayah hanya takut terjadi sesuatu dengan para perkerja di sana sebab mereka tidak tahu apa-apa. Apa isi peti ini nak?" Tanya Pak Salim menatap ke arah Bella.


Bella membuka peti tersebut sebab dia tidak memperbolehkan siapapun menyentuhnya, mata Pak Salim langsung berkaca-kaca melihat kenyataan bahwa Bastian lah yang membuat dia lumpuh seperti saat ini. Suasana saat ini cukup membuat perasaan Bella semakin bergejolak, sebab meskipun bukan Ayah kandung, namun Bella tahu betul jika Pak Salim adalah orang yang sangat baik. Mata Bella mulai berair, menahan perasaan sesak sebab dia jadi mengingat Ayah dan Ibunya yang sudah lama di tinggalkannya.


"Astaga kenapa kamu ikut menangis." Pak Salim mengusap lembut punggung Bella.


"Emm saya hanya tidak menyangkan jika seorang anak sangat tega terhadap orang yang sudah merawatnya. Saya bahkan tidak pernah membentak Ayah saya satu kalipun meski terkadang beliau cukup membuat emosi saya terkuras." Tutur Bella mencoba tersenyum di hadapan Pak Salim.


"Dia hanya anak angkat nak, meski Bapak sendiri tidak pernah membedakan hal itu. Bastian atau Nathan, mereka tetaplah anak Ayah." Pak Salim kembali terisak sebab tidak menyangka jika semua ini adalah perbuatan Bastian.


"Di mata Tuhan, seseorang yang merawat itu lebih tinggi derajatnya daripada yang melahirkan Bapak, jadi ini tetap saja terasa sangat kejam." Jawab Bella sangat merasa kesal.


"Iya Nak Bapak tahu, tapi di mata Bastian ini tidaklah berarti padahal Bapak juga sangat menyanyanginya."


"Sudahlah Yah, aku tidak ingin kesehatan Ayah terganggu gara-gara manusia tidak tahu diri itu!" Sahut Nathan kesal.


"Dia tetaplah Kakakmu Nath"


"Bukan! Kakak macam apa seperti itu!! Aku tidak akan memaafkan Bastian atas apa yang sudah di perbuatannya pada Ayah." Tutur Nathan mengimbuhkan.


Pak Salim hanya menarik nafas panjang serayap memandangi isi dalam peti yang sudah membuat perasaannya hancur.


"Apa ada yang bisa kau lakukan dengan semua ini Bella?" Imbuh Nathan menatap ke arah Bella.


"Bisa Nath." Bella melihat ke arah kaki Pak Salim yang terdapat sebuah ikatan hitam yang mengelilinginya." Maaf Bapak permisi." Bella duduk berjongkok memandangi ikatan hitam tersebut, tangan nya meraih ikatan tersebut dan terus memeganginya sebab tidak ingin membuat Pak Salim kaget jika Bella langsung menariknya. Pelahan ikatan tersebut memudar, seolah besi yang melebur karena terkena benda panas. Bella mengengam sisa ikatan dengan kedua tangannya bertujuan agar benda tersebut hancur. Dia membersihkan tangannya dan menyentuh kedua kaki Pak Salim seolah sedang membersihkan sesuatu dari sana.


"Sudah Bapak, silahkan berdiri." Imbuh Bella berdiri di samping kursi roda.


"Apa ini benar?" Tanya Pak Salim tidak percaya.


"Tentu Bapak, mari saya bantu berdiri." Nathan pun ikut berdiri dan membantu Pak Salim.


"Syukurlah aku bisa berjalan lagi." Kata Pak Salim.


"Terimakasih Bella."


"Sama-sama Nath." Tersenyum." Emm apa Pak Salim masih sangat menyayangi Bastian?" Imbuh Bella bertanya.


"Masih nak, kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Pak Salim balik.


"Ini hanya kemungkinan terburuk saja Pak, teman-teman saya banyak yang menghilang sejak Mall berada di bawah naungan Bastian. Emm saya menebak jika Bastian adalah dalang di balik semuanya, dan masalah ini akan terus bergulir jika saya tidak melumpuhkan Bastian. Sebab makhluk itu akan berhenti jika Tuannya sudah musnah dan ikut di dunianya. Pak Salim tahu kan maksud saya?" Kata Bella menatap ke arah Pak Salim yang tengah menunduk." Jika Bapak tidak mengizinkan saya, emm mungkin saya akan mencari cara lain untuk ini." Imbuh Bella merasa jika Pak Salim masih ingin melihat Bastian hidup.


"Lakukan apa yang terbaik saja nak bella." Mengusap lembut pundak Bella." Bapak juga tidak menyangka jika Bastian menjadi manusia yang sekejam ini tapi Bapak hanya minta sesuatu. Jika bisa, sadarkan saja Bastian, sebab dia juga pernah menjadi baik dulu. Dia berubah sejak mendengarkan hal itu, tapi jika memang itu jalan satu-satunya Bapak tidak akan menyalahkan mu atas itu." Imbuh Pak Salim yang sudah pasrah dengan ini.


"Hmm jika begitu saya akan berusaha berbicara dengan Bastian jika sudah menemukan cara bagaimana bisa memancing Bastian untuk berkata jujur pada saya." Jawab Bella yang sangat mengerti soal ke khawatiran Pak Salim.


"Sebaiknya kau istirahat di sini, ini sudah terlalu malam."


"Saya memang berniat begitu." Jawab Bella menatap ke arah Nathan serayap meraih peti kecil itu dan berniat menghancurkannya besok pagi.


"Antar Bella ke kamarnya Nath, Ayah ingin di sini sebentar sambil berjalan-jalan sedikit, Ayah sangat merindukan bisa berjalan seperti ini." Pinta Pak Salim tersenyum.


"Baik Ayah."


"Saya permisi Pak." Kata Bella menunduk sebentar dan berjalan mengikuti Nathan untuk naik ke atas.


"Terimakasih." Nathan kembali tersenyum ke arah Bella.


"Aku hanya bisa membantu semampuku."


"Itu sangat berharga Bella." Jawab Nathan." Ayah tipe seseorang yang tidak bisa diam di rumah, dia sangat tersiksa dengan penyakitnya tersebut meskipun dia selalu menutupi itu semua jika di hadapanku." Imbuh Nathan menjelaskan.


"Pak Salim sehat-sehat saja Nath, itu bukan penyakit, hanya saja mungkin gejalanya mirip stroke jadi dokter bilang jika terkena penyakit itu." Jawab Bella tersenyum.


"Jadi apa kau ingin berbicara jika dokternya berbohong?" Goda Nathan.


"Bukan berbohong, mereka hanya tidak paham itu penyakit seperti apa." Jawab Bella kembali tersenyum.


"Masuklah," Nathan membuka pintu kamarnya yang sangat luas.


Bella memperhatikan sekitar kamar yang terlihat sangat rapi meskipun Nathan adalah seorang pria." Ini kamar milikmu Nath?" Tanya Bella.


"Hmm milik kita." Jawab Nathan tersenyum.


"Mana kunci yang kau janjikan." Kata Bella mengulurkan tangannya ke arah Nathan.


"Aku letakkan di laci." Nathan berjalan ke arah tempat tidurnya dan membuka sebuah laci yang terletak tepat di samping tempat tidur. Dia mengambil sebuah kunci dan memberikannya pada Bella." Sebentar." Nathan meraih jemari Bella dan mengiringnya ke arah lemari miliknya, Nathan membuka lemari tersebut dan isi di dalamnya membuat Bella sedikit kaget.


"Apa ini baju Kinanti!!" Tanya Bella ketus.


"Astaga kau belum mendengar penjelasan ku tapi selalu menilai ku negativ seperti itu." Ucap Nathan tersenyum.


"Lantas baju siapa?"


"Baju mu." Jawab Nathan singkat.


"Aku bahkan baru saja ke sini! Bagaimana mungkin ini bajuku!." Tutur Bella melirik malas.


"Hmm aku sengaja membeli itu semua untukmu, ini sudah malam, jangan cemburu seperti itu. Istirahatlah, besok kita fikirkan lagi bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini." Nathan mengangkat tangannya sedikit dan mengusap puncak kepala Bella.


"Ya cepatlah keluar." Bella langsung meraih lengan Nathan dan mengiringnya untuk keluar kamar.


"Apa kau tidak bisa sedikit manis padaku Bella?"


"Tidak! Selamat malam Nath."


Braaaakkkkk....


Bella kembali mengusir Nathan dan hal itu membuat Nathan tersenyum sambil menatap ke arah pintu yang sudah tertutup rapat." Ahh! Yah apalagi yang bisa di lakukan wanita itu selain mengusirku seperti itu." Nathan mendesah lembut serayap mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celananya.


Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu jika sedang bermimpi Bella, apa kau benar-benar mengerikan atau gosip itu saja yang terlalu kejam!-


Haiii readers ๐Ÿ˜˜


maaf belum bisa dobel update ๐Ÿ˜


silahkan like


komentar


Klikโ™ฅ๏ธ


Vote juga please ๐Ÿ˜˜


Terimakasih ๐Ÿ˜˜