
๐ Kediaman Bella ๐
Siang itu, Bella dan Nathan terlihat tengah menyaksikan acara televisi di ruang keluarga, di temani oleh Mama Sinta yang tengah memperhatikan gerak-gerik Bella yang terlihat kaku. Nathan sendiri sesekali melirik ke arah Bella serayap tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali memutar bola matanya ke arah acara televisi yang menurutnya membosankan.
"Bagaimana perkerjaan mu di sana sayang?" Tanya Mama Sinta mencairkan suasana.
"Baik Ma." Ucapan Bella terhenti karena mengingat Karin." Emm Ma, aku boleh bercerita sesuatu?" Imbuhnya lirih.
"Cerita saja, Mama akan mendengarnya." Jawab Mama Sinta lembut.
"Aku tadi bertemu orang tua Karin."
"Oh yah? Kenapa Karin tidak ikut pulang sayang? Mama hampir lupa menanyakannya." Ucap Mama Sinta menyela.
"Itu yang akan ku ceritakan Ma, emm Karin.."
"Menjadi korban tumbal Kakak angkat ku Ma." Sahut Nathan membuat Mama Sinta langsung menatap ke arah Nathan.
"Tapi itu semua salahku Ma, karena aku, Karin jadi terlibat masalah tersebut." Sahut Bella karena tidak ingin Mama Sinta menyalahkan Nathan.
"Jadi Karin sudah meninggal maksudmu?" Tanya Mama Sinta memastikan.
Akhirnya Bella menceritakan semuanya pada Mama Sinta, dan ada raut wajah sedih sebab Mama Sinta juga mengenal Karin dengan sangat baik. Bahkan Mama Sinta sudah menganggap Karin sebagai anaknya sendiri mengingat kedekatannya dengan Bella seperti dua orang saudara perempuan.
"Nathan benar sayang, ini semua bukan salahmu." Jawab Mama Sinta membelai lembut rambut panjang milik Bella." Jika niatmu ingin berkata jujur atas apa yang menimpa Karin, Mama yakin suatu saat akan ada kesempatan tersebut jadi untuk saat ini tidak masalah jika kau menutupi semuanya pada keluarganya." Imbuh Mama Sinta yang tahu jika Mama Karin sangat membenci Bella setelah kejadian beberapa tahun silam.
"Hm perasaanku jadi sedikit tenang setelah mendengar itu." Jawab Bella tersenyum.
"Lupakan semuanya dulu, fokus pada persiapan pernikahan kalian agar semuanya bisa berjalan dengan lancar." Tutur Mama Sinta tersenyum menatap Bella dan Nathan secara bergantian.
Skip
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hanya empat hari Bella dan Nathan menginap, mereka memutuskan untuk cepat pulang karena harus mempersiapkan segalanya di kota tempat tinggal Nathan. Meskipun hanya acara sederhana, namun tetap saja sebuah pernikahan membutuhkan beberapa persiapan untuk menjamu kedua keluarga besar yang akan hadir dalam pernikahan tersebut.
Hari ini Nathan dan Bella sedang berada dalam perjalanan menuju ke butik untuk fitting baju pengantin. Bella menyarankan untuk tidak melakukan itu dengan memakai baju pengantin sederhana yang bisa langsung di beli tanpa di pesan. Namun Nathan tidak mendengarkan ucapan Bella sebab meski di gelar secara sederhana, baju pengantin yang Bella kenakan harus di pesan dahulu agar model baju pengantinnya sesuai dengan selera Nathan.
"Sudahlah sayang, turuti saja apa mau ku. Meski sederhana aku ingin pernikahan ini terlihat berkesan." Jawab Nathan tersenyum tipis setelah mendengar beberapa protesan dari Bella.
"Hmm baiklah." Kata Bella menyerah.
"Belajarlah untuk bersikap lembut padaku, sebab semua itu bisa membahayakanmu jika kau selalu bersikap seperti itu saat kita sudah menikah nanti."
"Hmm bahaya, karena saat kau bersikap seperti itu rasanya aku ingin mencium mu sampai kau tidak bisa bernafas. Aku tidak akan berhenti melakukannya sebelum kau memperlihatkan sebuah senyuman untukku."
Deg! Mata Bella melebar saat mendengar ucapan konyol dari Nathan tersebut, wajah gugupnya mulai terlihat sebab angan Bella mulai berimajinasi saat Nathan melakukan hal itu. Wajah Bella berubah menjadi merah padam, dia cepat-cepat membuang muka dan berpura-pura mendengus kesal meski di dalam hatinya terasa begitu bahagia.
"Uhh! Gila!"
Nathan terkekeh serayap menatap sejenak pada Bella yang tengah memunggunginya dengan wajah merahnya. Sementara Bella langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Nathan yang tertawa lepas, karena Bella merasa aneh dengan hal tersebut. Sejak pertemuannya dengan Nathan, satu kalipun Bella tidak pernah melihatnya tertawa lepas seperti sekarang. Namun saat ini Bella melihat hal tersebut dan itu cukup terlihat aneh untuknya.
"Apa itu terdengar lucu untukmu Nath? Astaga kau sampai bisa tertawa seperti itu." Kata Bella menatap ke arah Nathan dengan raut wajah heran.
"Kau sangat lucu sayang, aku sungguh baru menjumpai wanita dewasa yang bersikap seperti dirimu." Jawab Nathan mulai menghentikan tertawanya.
"Meskipun statusku seperti itu, aku tidak banyak pengalaman dalam hal yang kau bicarakan tadi." Jawab Bella lirih.
"Hal apa?"
"Entahlah!" Dengus Bella kembali kesal.
"Astaga.." Tersenyum." Kita sudah sampai." Nathan memarkir mobilnya dan segera turun untuk membukakan pintu mobil untuk Bella.
.
.
.
.
.
Sudah sekitar dua hari Vero tidak menginjakkan kakinya ke rumah Bastian karena merasa kesal dengan menghilangnya Bastian secara tiba-tiba. Dia tinggal di rumahnya sendiri sambil menunggu seorang pembeli yang akan datang untuk melihat-lihat rumahnya.
Sore itu, Vero kembali di datangi sekelebat bayangan yang mirip dengan sosok Ibunya, namun Vero tidak menghiraukan hal itu karena menurutnya itu hanya perasaannya saja.
Menjelang malam, terdengar suara ketukan pintu. Vero bergegas membukakannya sebab dia berfikir jika itu seorang yang akan membeli rumahnya. Namun saat pintu di buka terlihatlah sosok Bastian berdiri di balik pintu tersebut. Senyumnya terlihat sangat aneh, dengan raut wajah datar menatap ke arah Vero yang juga terlihat pucat, karena tidak makan selama dua hari dan hanya mengkonsumsi suplemen makanan. Semua makanan yang Vero makan selalu saja di muntahkannya, dia merasa jika tidak ada yang menandingi kelezatan masakan dari Mbok Darmo.
"Untuk apa kau kesini?" Tanya Vero ketus.
"Untuk menjemputmu." Jawab Bastian dengan intonasi suara yang tenang.
"Aku tidak mau! Kau seenaknya meninggalkanku seperti itu! Kau berjanji akan menikahiku, tapi mana? Kau malah menghilang seperti itu." Tutur Vero kesal.
"Maaf sayang, aku ada urusan di luar kota jadi harus meninggalkan mu seperti itu." Mata Bastian menyala, dia mencoba memanipulasi otak Vero agar tidak marah padanya.
"Hmm begitu, jadi kapan kita menikah?" Tanya Vero mulai terpengaruh.
"Malam ini, mari pulang ke rumah. Aku sudah mempersiapkan semuanya di sana." Tangan Bastian terangkat dan perlahan mulai membelai pipi milik Vero.
Mata Vero terpejam dan mulai menikmati sentuhan hangat dari Bastian. Bahkan tidak dapat di pungkiri jika selama dua hari Bastian menghilang, ada perasaan rindu pada sentuhan Bastian yang selalu saja bisa membuatnya terbuai di buatnya.
"Kau tidak membohongi ku lagi kan?" Tanya Vero dengan nada manja.
"Tidak sayang, aku serius. Semua persiapan sudah ku lakukan, mari pulang."
"Sebentar, aku akan berkemas." Vero tersenyum sejenak lalu berjalan masuk untuk mengambil tasnya.
Bastian langsung duduk di teras dengan tatapan datarnya, bersamaan dengan datangnya sebuah motor yang terparkir didepan rumah Vero, namun raut wajah orang tersebut langsung berubah pucat saat melihat bentuk asli dari Bastian yang tengah duduk di depan rumah yang akan di belinya. Dengan terburu-buru, orang tersebut langsung menghidupkan lagi mesin motornya dan segera pergi dari rumah Vero. Orang tersebut adalah calon pembeli rumah milik Vero yang mengurungkan niatnya untuk membeli rumah Vero karena mengira jika rumah Vero ternyata angker.-
Silahkan like, vote dan share ya๐
Terimakasih ๐ค