Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 60



Nathan lebih dahulu mengantarkan Lena untuk pulang ke rumahnya. Otomatis sekarang hanya ada dia dan Bella yang tengah berada di dalam mobil. Bella sendiri sejak tadi lebih banyak diam karena merasa sangat ingin tahu tentang makhluk apa saja yang jadi penghuni rumah milik Bastian itu. Fikirannya kembali gelisah, saat di benaknya mengingat nama Karin. Dia harus menyiapkan mental jika Karin benar-benar sudah menjadi tumbal untuk liontin Bastian itu.


Semua ucapan Karin, janjinya untuk selalu bersama bahkan untuk menikah bersama, cukup membuat hati Bella langsung terasa sesak. Sebab Karin bukan hanya di anggapnya sebagai teman atau sahabat, namun hubungan keduanya sudah seperti saudara yang tidak pernah terpisahkan. Apalagi Karin sudah masuk di kehidupan Bella sejak SMP sampai saat ini, dan semua itu di hancurkan karena ulah dari seorang Bastian. Benda yang berada di dahi Bella sekilas menyala saat tangannya mulai mengepal kuat, perasaan emosi langsung berkecamuk karena menyadari hal tersebut.


"Aku benar-benar akan membunuhnya jika kenyataannya seperti itu." Gumahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Bastian?" Sahut Nathan.


"Ya! Siapa lagi! Terserah jika kau membenciku setelah hal itu terjadi. Aku akan memusnahkan Kakakmu itu dari dunia ini jika dia benar-benar sudah menumbalkan satu-satunya saudara perempuannku." Teriak Bella kesal.


Tes....


Satu bulir air mata menetes di sudut pipi milik Bella, dan hal itu cukup membuat Nathan merasa ikut sesak melihatnya. Dia langsung meminggirkan mobilnya di bahu jalan untuk menenangkan perasaan Bella saat ini. Bella cepat-cepat mengusap pipinya yang basah sebab tidak ingin Nathan mengetahui hal ini.


"Kenapa berhenti?" Kata Bella mengalihkan pandangannya.


"Kapan kamu akan memikirkanku seperti yang kau lakukan untuk Karin." Tanya Nathan tanpa melihat ke arah Bella, karena dia tahu watak Bella yang sangat keras kepala.


"Apa maksudmu Nath?"


"Kapan kau akan takut kehilanganku hingga air matamu menetes seperti tadi." Bella hanya terdiam dan tidak menjawab."Hal itu sudah sangat terlihat jika Karin memang seseorang yang terpenting untukmu, namun jika itu sudah terjadi apa bisa kita memutar ulang waktu." Imbuh Nathan yang masih tidak melihat ke arah Bella.


"Apa itu berarti kau ingin aku memaafkan Bastian dan melupakan semuanya!!" Teriak Bella menatap ke arah Nathan tajam.


Nathan tersenyum tipis serayap membalas tatapan mata Bella yang hampir seperti pisau."Aku tidak pernah mengatakan hal itu sayang." Mengusap lembut puncak kepala Bella." Aku tidak pernah membela Bastian di hadapanmu bukan? jadi aku berucap seperti ini karena aku perduli padamu dan bukan berniat agar kau melupakan semua itu. Hmm semua ini hanya tentang kamu, bukan tentang Bastian. Jika kau ingin melakukan sesuatu padanya, lakukan saja sebab sejak lama Bastian sudah menjadi orang lain untukku. Jika bukan karena ayah, aku pasti sudah tidak mau berhubungan dengannya lagi." Imbuh Nathan membuat Bella merasa tidak enak sebab sudah meninggikan suaranya tadi.


"Hmm.. Maaf aku pikir itu..."


"Tidak masalah Bella, aku tahu fikiranmu sedang kalut sekarang. Apa kau ingin berjalan-jalan sebentar?" Tawar Nathan.


"Kita langsung pulang saja Nath." Jawabnya lirih.


"Hmm baik." Nathan mulai melajukan mobilnya lagi sedangkan Bella masih Memunggungi Nathan serayap menatap ke arah luar mobil.


Mau tidak mau aku harus menceritakan semua ini pada Ayah, jika Bastian memang dalang di balik itu semua. Astaga.. Aku hanya tidak ingin suatu saat Bella di salahkan jika terjadi apa-apa dengan Bastian. Batin Nathan fokus menyetir.


Setelah mengantarkan Bella ke rumah, Nathan langsung berpamitan pulang sebab dia ingin membicarakan hal ini pada Ayahnya. Meskipun nantinya Ayahnya akan percaya atau tidak, yang pasti ini semua Nathan lakukan agar sang Ayah tidak menyalahkan Bella suatu saat nanti.


.


.


"Tumben sudah pulang." Tanya Pak Salim yang sudah hafal dengan kesibukan Nathan.


"Jam enam aku kembali lagi untuk menjemputnya." Jawab Nathan tersenyum simpul.


"Apa Minggu ini kau jadi mengenalkan dia pada Ayah Nath?"


"Iya Ayah, aku akan membawanya ke sini meski mungkin hanya sebentar. Emm aku mau membicarakan sesuatu pada Ayah." Kata Nathan serayap menghembuskan nafas berat sebab dia takut jika Pak Salim tidak akan mempercayai ini semua.


Pak Salim memberikan kode sang perawat untuk pergi."Bicaralah." Jawab Pak Salim lembut seolah dia tahu apa yang akan Nathan bicarakan saat ini.


"Ini soal Kak Bastian Yah, dia semakin menjadi dan banyak membuat masalah. Bahkan dia sampai melibatkan banyak nyawa seseorang untuk di jadikan tumbal jimat pemikat yang pernah ku ceritakan pada ayah." Kata Nathan lirih.


Raut wajah Pak Salim terlihat biasa saja, dia hanya terdiam sesaat seolah sedang menyiapkan diri untuk berbicara sesuatu. Nathan sangat kaget saat tiba-tiba melihat air mata mengalir lembut di sudut mata Pak Salim.


"Maaf Ayah jika ucapanku tadi menyakitimu." Imbuh Nathan merasa menyesal.


"Tidak Nath, Ayah sudah tahu kelakuan dari Kakakmu itu." Jawab Pak Salim lirih dan jawaban itu membuat Nathan melebarkan matanya ke arah sang Ayah.


"Jadi Ayah!!"


Pak salim mengangguk sambil menatap ke arah Nathan sendu."Kinanti, kau masih ingat dia Nath." Katanya lirih.


"Masih Ayah, ada apa dengan dia?" Tanya Nathan ingin tahu.


"Ayah melihat sendiri Bastian sudah membunuh Kinanti malam itu Nath, Ayah melihat mereka berdua cekcok mulut dan Bastian dengan kejam menusuk perut Kinanti hingga dia meninggal di tempat." Kata Pak Salim menangis terisak.


"Apa!! Apa Ayah tidak salah lihat!!" Pekik Nathan kaget.


"Saat itu Ayah datang ke Vila kita yang sekarang sudah di jual oleh Bastian, Ayah berniat menemui Bastian untuk beberapa hal masalah perkerjaan tapi Ayah malah melihat hal seperti itu. Padahal Ayah tahu Kinanti itu wanita yang sangat baik, tapi kenapa Bastian begitu tega melakukannya. Awalnya Ayah hanya diam dan berpura-pura tidak tahu sebab kau tahu jika temperamen Bastian seperti apa. Tapi Ayah Kinanti datang ke sini dan menanyakan soal anaknya pada Ayah, Ayah Kinanti ke sini sebab teman-teman Kinanti melihat jika Kinanti terakhir kali bersama Bastian. Ayah hanya menjanjikan akan menyuruh Bastian untuk menemuinya, dan dia memutuskan untuk pulang. Setelah itu Ayah mencoba berbicara dengan Bastian namun dia malah mengancam Ayah hingga Ayah jatuh sakit seperti ini. Ayah bahkan tidak tahu nasip dari Ayah Kinanti seperti apa? Ayah Kinanti bahkan sudah tidak pernah terlihat sejak saat itu. Dan kau harus tahu Nath jika ternyata tukang kebun kita yang menghilang mendadak dulu adalah Paman dari Kinanti. Ayah baru tahu ketika Ayah Kinanti memperlihatkan foto Pamannya yang sudah lama tidak pulang itu. Astaga Nath, Ayah takut jika semua orang itu telah Bastian bunuh dan entah mayatnya berada di mana." Kata Pak Salim yang seolah tengah merasa menyesal sebab baru berani berbicara hal sebesar itu sekarang.


"Astaga Ayah." Nathan syok mendengar cerita dari Pak Salim, dia jadi yakin jika arwah wanita yang sering di lihat Bella benar-benar arwah dari Kinanti.-


Terimakasih reader terhormat yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Terus dukung Arabella Maheswari yah, dengan cara like ๐Ÿ‘, komentar ๐Ÿ’ฌ, Klikโ™ฅ๏ธ, Vote juga boleh๐Ÿ˜˜.


Terima kasih ๐Ÿ™


Salam Arabella Maheswari ๐Ÿ˜‰