
Mobil Nathan terparkir di pekarangan rumahnya, Nathan turun dari mobil lalu berjalan beriringan dengan Bella serayap membawa dua kantung belanjaan. Pak Salim yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka, menyambut hangat Bella yang sudah di anggap sebagai anak perempuannya.
"Kenapa malam sekali?" Tanya Pak Salim.
"Kita mampir ke Swalayan untuk membeli ini." Menunjukkan belanjaan.
"Untuk apa? Bukannya di kulkas banyak bahan makanan."
"Aku takut jika tidak ada bahan makanan Yah, jadi aku membelinya daripada harus bolak-balik." Jawab Nathan tersenyum.
"Lantas siapa yang akan memasak."
"Aku dan dia." Merangkul kedua bahu Bella erat sehingga keduanya menempel. Bella tersenyum aneh dengan perlakuan Nathan yang tidak merasa malu meskipun di depan Pak Salim.
"Maaf Nak Bella, begitulah jika Nathan pikirannya sudah mencair. Dia sedikit berlebihan dan seenaknya sendiri." Tutur Pak Salim menjelaskan.
"Tidak masalah Ayah, wanita di sampingku ini memang hobi di paksa jadi itu bukan masalah besar untuknya, benar begitu sayang." Mengusap lembut puncak kepala Bella.
Bella hanya mendengus kesal meski bibirnya harus tetap tersenyum di hadapan Pak Salim. Dia bahkan tidak tahu lagi bagaimana warna wajahnya saat ini, pastinya terlihat merah padam mengingat kulit Bella yang sangat putih dan bersih.
Astaga anakku... Dia sampai membuat Bella se malu itu.
"Ya sudah, ajak dia ke dapur jika memang inginnya seperti itu, Ayah juga ingin merasakan bagaimana masakan Bella." Tutur Pak Salim yang tidak ingin Bella merasa lebih malu lagi.
"Baik Pak saya permisi."
"Panggil Ayah saja." Jawab Pak Salim mengusap lembut puncak kepala Bella.
"Hmm baik Ayah." Tutur Bella tersenyum.
Nathan langsung mengiring Bella menuju ke arah dapur. " jika dengan Ayah suaramu jadi selembut itu sayang." Tutur Nathan serayap meletakkan semua belanjaan di meja dapur.
"Dia orang tua Nath, bukankah seharusnya seperti itu." Jawab Bella mulai membongkar belanjaannya.
"Aku malah calon suamimu bukannya seharusnya kau juga bersikap seperti itu padaku."
"Masih calon, belum tentu terjadi." Jawab Bella ketus.
"Harus terjadi. Tidak boleh jika tidak terjadi." Tutur Nathan lirih.
"Jika takdir berkata lain, kita bisa apa?"
"Ini sudah takdir sayang, dan takdir kita itu untuk bersama. Yakin saja akan itu, jangan pernah meragukan ku. Apa kau ingin mematahkan keyakinan ku ini?" Kata Nathan bertanya.
"Tidak bukan begitu."
"Itulah jawabannya, sudah tidak perlu membahasnya. Aku benci membahas hal-hal yang berkaitan dengan itu. Aku mencintaimu Bella, dan kau juga mencintaiku itu saja sudah cukup untuk mewujudkan semuanya." Jawab Nathan tersenyum ke arah Bella yang saat ini tengah sibuk dengan belanjaannya.
"Kau memang sok tahu."
"Aku memang tahu."
"Kau mau di masakkan apa Tuan?" Tutur Bella mengganti topik pembicaraan.
"Apapun itu jika masakanmu akan aku makan."
Di tengah acara memasak mereka, tiba-tiba saja Bella merasakan perasaan yang tidak enak. Dia teringat Lena padahal sejak tadi dia tidak membahas soal Lena sama sekali. Bella mencuci tangan dan meraih ponsel yang di letakkannya pada meja makan. Bella menulis pesan singkat untuk Lena.
🗨️Kau di mana Lena?
🗨️Di rumah, memangnya ada apa?
🗨️Syukurlah.
🗨️Ada apa Bella? Kau membuatku takut.
🗨️Tidak ada. Ingat untuk menghindari keluar rumah saat malam hari ya.
🗨️Hmm oke.
Bella meletakkan ponselnya lagi serayap bernafas lega, dia kembali berjalan ke arah Nathan yang sedang sibuk mengiris sayur.
"Ada apa?" Tanya Nathan.
"Mungkin hanya perasaanku saja." Jawab Bella tersenyum." Kau duduklah, biar aku yang menyelesaikan." Pinta Bella.
"Sudahlah, aku ingin membantumu. Kau urus meja, biar aku yang menyelesaikan ini."
"Hmm baiklah."
Bella membawa makanan yang sudah matang dan meletakkannya di atas meja, keduanya tidak mengetahui jika sejak tadi Pak Salim memperhatikan keduanya dengan wajah bahagia.
🏠Kediaman Vero🏠
Sepulangnya dari tempat kerja, Vero tertidur di kamar miliknya. Perutnya terasa lapar sehingga dia memutuskan untuk bangun dan menuju ke arah dapur. Terlihat di dapur tidak ada perubahan sama sekali sejak tadi pagi, cucian baju masih menumpuk bahkan piring kotor pun masih berserakan di mana-mana. Vero mendecak kesal serayap berjalan ke arah kamar Ibunya.
Dasar pemalas!! Runtuknya saat terlihat sang Ibu yang masih tertidur berbalut selimut. Vero mengoyang-goyangkan tubuh Ibunya dengan sangat kasar.
"Ibu bangun! Kau tidak memasak sesuatu untukku hah! Seharian kau hanya tertidur seperti ini! Lihatlah dapur! Sangat berantakan! Cepat bangun! Aku lapar! Belikan aku makanan di warung depan." Pinta Vero kasar namun tidak ada respon apapun dari sang Ibu.
Vero menyikap selimut dan mendapati Ibunya sudah terbujur kaku dan tidak bernafas. Dia memegang pergelangan tangan Ibunya untuk memastikan, tidak ada denyut bahkan tubuh Ibunya di perkirakan sudah meninggal sejak tadi pagi.
"Tidak..!!" Teriaknya mencoba mengoyang-goyangkan tubuh Ibunya." Ibu..! Bicara padaku!! Dasar!!! Sialan!! Jika kau meninggal tidak akan ada yang mengurusku! Tapi tunggu...." Niat busuk seketika merasuk dalam fikiran Vero.
Dia berjalan mengambil obat sakit mata dan meneteskannya pada kedua matanya, dia keluar serayap berpura-pura menangis dan memanggil para tetangga untuk mengambil simpati para tetangga di sekitarnya. Para tetangga pun langsung berdatangan dan segera mengurus jenazah Ibu Vero dengan membawa uang yang tentu saja hal itu membuat Vero sangat bahagia.
🏠Kediaman Nathan🏠
Semua sajian makanan sudah Bella letakkan pada meja makan besar rumah Nathan, kini ketiga nya tengah menikmati hidangan makan malam. Bella sendiri tidak banyak bicara sebab ada perasaan yang mengganjal saat ini, entah apa itu, namun cukup bisa menyita perhatiannya. Nathan yang memperhatikan Bella yang sedang tidak fokus, beberapa kali harus menepuk pundak Bella jika Pak Salim melontarkan sebuah pertanyaan.
"Mungkin kau kelelahan jadi tidak fokus seperti itu." Tutur Pak Salim tersenyum.
"Hmm mungkin saja Ayah, maaf." Jawab Bella yang sebenarnya tidak pernah merasa lelah.
"Tidak masalah, setelah ini beristirahatlah agar besok pagi fikiranmu kembali baik." Kata Pak Salim menyarankan.
"Baik Ayah." Tutur Bella berusaha fokus.
Seusai makan malam, Pak Salim pergi ke kamarnya sedangkan Bella dan Nathan membereskan piring kotor mengingat pembantu mereka sudah pulang sejak tadi sore.
"Letakkan saja di situ sayang, besok biar pembantuku yang mencucinya." Pinta Nathan melihat ke arah Bella yang mulai mencuci.
"Tidak baik seperti itu Nath, rumah harus bersih ketika kita berangkat untuk tidur. Sebab sisa makanan seperti ini sangat di sukai makhluk seperti itu." Jawab Bella menuturkan.
"Apa seperti itu?"
"Hmm yah, selain memakan darah, mereka juga sangat menyukai hal seperti ini." Jawab Bella tersenyum.
"Aku sering melakukannya."
"Mulai saat ini jangan lakukan, itu bisa memicu hal-hal negatif untuk datang kesini." Kata Bella menjelaskan.
"Hm baiklah.." Jawab Nathan tersenyum ke arah Bella yang tengah berada di sampingnya." Kau kelihatannya sudah terbiasa mengurus pekerjaan rumah ya sayang?" Imbuh Nathan.
"Yah karena aku sudah terbiasa hidup sendiri jadi jika tidak bisa mau mengandalkan siapa?"
"Sebenarnya, apa yang menganggu pikiranmu tadi?" Tanya Nathan masih merasa penasaran sebab memperhatikan ekspresi wajah Bella yang seolah memikirkan sesuatu.
"Lena. Entah kenapa aku memikirkan dia, tadi aku sudah sempat mengechat nya tapi dia sedang ada di rumah. Bukannya aneh Nath? Aku biasanya merasa peka dengan keadaan seperti ini tapi ternyata itu perasaanku saja."
"Apa kau tahu letak rumahnya?"
"Hm tahu, memangnya kenapa?" Tutur Bella serayap mengusap kedua tangannya dengan celemek yang tergantung di dinding.
"Kita kesana. Yuk." Nathan meraih jemari Bella dan langsung berjalan menuju keluar.
"Tidak perlu Nath." Tutur Bella menolak.
"Masih jam segini sayang, jadi tidak masalah kita kesana daripada kau seperti itu terus." Jawab Nathan terus mengandeng tangan Bella menuju ke arah luar rumah.
Pak Salim yang tahu hal itu hanya mengelengkan kepalanya sebab dia sangat tahu sifat Nathan yang cenderung memaksakan kehendaknya.
🚗Mobil Nathan🚗
Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Bella sendiri masih merasakan perasaan yang sama saat ini sehingga membuat dia terdiam di sepanjang perjalanan. Hanya memakan waktu lima belas menit, keduanya pun tiba di kediaman Lena. Nathan memarkir mobil di bahu jalan dan keduanya langsung keluar. Bella memperhatikan sekitar dan sangat jelas dia melihat jika di atas pohon besar yang terletak di samping rumah Lena terdapat makhluk hitam dengan mata merahnya. Sayangnya saat melihat Bella datang makhluk tersebut langsung menghilang menjadi sebuah asap hitam.
Aku tidak akan membiarkanmu menjadi korban untuk kesekian kalinya Lena. Aku berjanji.
"Kau sedang apa Bella?"
"Tidak ada, mari masuk."
Bella langsung di persilahkan masuk oleh satpam penjaga rumah sebab Bella pernah beberapa kali berkunjung kerumah Lena. Lena yang mengetahui kedatangan Bella dari jendela kamarnya, langsung saja menuruni tangga dan membukakan pintu untuk Bella yang sudah di sambut oleh pembantu Lena.
" Bella..." Teriak Lena memeluk Bella.
"Uhhh kau sungguh sangat berlebihan Len? Bukannya kau tadi bertemu denganku di tempat kerja." Jawab Bella tersenyum.
"Perasaan tidak nyaman langsung menghilang saat kau datang, jadi aku sangat senang." Tutur Lena melepaskan pelukannya." Silahkan duduk Nath." Imbuh Lena mempersilahkan.
Ketiganya pun duduk di ruang tamu, tidak lupa Lena menyuruh pembantunya menyiapkan suguhan untuk menjamu Bella dan Nathan.
"Aku melihatnya tadi." Tutur Bella membuat Lena mengeser tubuhnya untuk mendekat ke arah Bella.
"Melihat makhluk itu?"
"Hmm iya Lena, auranya sangat jahat dan emm aura membunuhnya juga sangat kuat. Maaf, aku tidak bermaksud menakuti mu Lena, tapi aku minta kau selalu mengingat semua pesanku. Aku hanya tidak ingin ada yang jadi korban lagi." Jawab Bella menjelaskan.
"Astaga Bella, lantas sampai kapan aku seperti ini? Rasanya sangat tidak nyaman Bella, ada perasaan was-was, terkadang aku merasa ada yang memperhatikanku di luar jendela meski jendela itu sudah ku tutup dengan tirai."
"Kau merasa begitu karena dia memang sedang memperhatikanmu Lena, dia selalu mengintai mu di atas pohon besar yang berada di samping rumahmu."
"Apa aku harus menyuruh orang menebang pohon itu?" Tanya Lena yang wajahnya terlihat pucat pasi.
"Tidak ada pengaruhnya, sebab yang di Icar adalah darahmu."
Lena terdiam sejenak, menarik nafas sepanjang-panjangnya, dia tidak ingin berlarut-larut merasakan hal yang membuatnya sangat tidak nyaman dan sulit tidur. Hingga dia membisikkan sesuatu ke telinga Bella yang membuat Bella langsung mengelengkan kepalanya kasar.-
TBC😘
Terimakasih yang masih setia
Silahkan like 👍
Komentar 💬
Klik ♥️
Di share juga boleh 😁
Salam sayang Arabella Maheswari 😉