
Bastian yang mengira jika Bella sudah di tundukan mulai berjalan mendekati Bella yang tubuhnya terkulai lemah. Bastian berniat memberikan pengampunan pada Bella sebab perasaannya memang sangat besar padanya. Makhluk-makhluk itupun berdiam serayap mengeram sebab dia bisa merasakan energi Bella yang mulai terasa panas dan semakin besar. Ketika Bastian akan menyentuh tubuh Bella, tiba-tiba Bella langsung berdiri dengan tampilan yang membuat nyali Bastian menciut.
Tanda di dahinya terlihat jelas, rambut Bella yang tadinya hitam mengkilap, kini berubah menjadi merah menyala seperti api yang siap menghanguskan apa saja yang ada di sekelilingnya. Tangannya berubah lebih panjang dengan ujung jari yang runcing dan juga mengeluarkan api, Bella tidak lagi mirip seperti manusia. Dia terlihat sangat mengerikan dengan mata merahnya menatap marah ke arah Bastian.
NB. Ilustrasi gambar 😁Sebenernya kurang greget, cuma nyari di google susah banget 🙏
Sesaat awan berubah gelap, tangan Bella meraih leher Bastian yang saat ini berada di bawahnya lalu menghempaskan nya ke sembarangan arah, sehingga membuat gubuk itu sebagian terbakar.
"Serang dia...!!" Teriak Bastian membuat makhluk itu menyerang Bella dengan membabi buta.
Bella yang sudah berada di alam bawah sadarnya menghempaskan makhluk tersebut satu persatu dan membakarnya sebagian. Arwah-arwah yang terperangkap satu persatu keluar dari hutan itu dengan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Lena yang sudah sadar, merangkak perlahan keluar dari gubuk tersebut karena hampir seluruh gubuk akan terbakar. Makhluk-makhluk itu mengerang kesakitan, menerima cambukan dari rambut milik Bella yang sudah menjadi api. Mereka mengalihkan serangan menuju ke arah Tuannya, yang tengah meringkuk ketakutan, kalung yang di pakainya retak dan perlahan hancur. Makhluk-makhluk hitam itu berjalan menuju Bastian, Bastian meronta meminta tolong pada Bella, namun saat ini Bella sudah di pengaruhi sesuatu yang ada di dalam tubuhnya. Jadi dia membiarkan Bastian di bawa pergi oleh makhluk-makhluk tersebut bersamaan dengan hilangnya awan gelap yang tadi menyelimuti.
Bastian sudah memetik hasil panennya sendiri, dia akan kekal berada di alam makhluk itu, bukan sebagai sekutu mereka, tapi sebagai budak mereka selamanya.
Di tengah kobaran api, Bella muncul dengan tubuh yang perlahan kembali normal. Bola matanya tertuju pada satu sosok yang tengah berdiri di sampingnya.
"Karin.." Tuturnya terbata.
Karin hanya tersenyum membalasnya, menatap ke arah Bella, seolah sedang berbicara dengan bahasa lain. Bella yang amat merindukan sahabatnya itu, hanya bisa terisak sebab sahabatnya sudah tidak lagi bisa bersamanya seperti dulu.
Apa kau akan berjanji padaku untuk bahagia Bella?
"Hmm ya aku berjanji." Jawab Bella menahan rasa sesak karena Karin sangat penting untuk dirinya.
Tidak boleh menangis seperti itu Bella, aku membenci hal itu! Aku sudah mengikhlaskan semua ini.
"Bagaimana dengan janjimu padaku untuk menikah bersama?"
Tetap lakukanlah, jika kau menikah, maka aku akan ikut bahagia. Jadi rasanya akan tetap sama.
"Ikutlah bersamaku, aku tahu kau belum mendapatkan tempat di sana karena belum waktunya kau meninggal."
Sudah waktunya Bella, sebab ini semua bukan kehendak ku jadi Tuhan sudah mempersiapkan tempat bagiku dengan yang lain. Jaga diri baik-baik, aku menyayangimu.
Perlahan tubuh Karin memudar, menghilang bersama sebuah cahaya kecil, Bella cukup senang sebab bisa mengucapkan salam perpisahan untuknya.
"Aku juga menyanyangimu Karin." Jawab Bella lirih serayap mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya. Pandangannya teralihkan saat mendengarkan teriakan Lena.
"Ohh tidak! Nathan! Kau kenapa?"
Bella yang menyadari hal tersebut langsung berjalan menuju Nathan yang terkapar sejak tadi. Bella sempat melirik ke arah Lena yang sudah memakai jaket milik Nathan tanpa bertanya bagaimana bisa dia mengambil jaket tersebut.
"Bella!! Nathan!! ... Dia tidak bernafas." Imbuh Lena memasang wajah sedih.
"Benarkah." Jawab Bella langsung memeriksa denyut nadi Nathan serta nafasnya.
"Sebaiknya kau beri dia nafas buatan, mungkin saja dia bisa kembali pulih."
"Bangun!!" Teriak Bella sebab Nathan ternyata masih hidup bahkan tidak ada luka sedikitpun.
"Dasar gila! Orang mati kau suruh bangun." Jawab Lena tersenyum.
"Kau yang gila." Menempeleng kepala Lena.
"Aduh sakit..!" Teriak Lena mengusap-usap kepalanya sendiri.
"Kau dan dia sama-sama gila! Kalian membuatku gila! Apa tidak bisa menuruti apa perkataan ku hah!."
Nathan yang sudah ketahuan berbohong, perlahan-lahan bangun dan duduk menatap ke arah Bella yang sudah menjadi manusia biasa.
"Jika aku tidak nekat, ini semua tidak akan berakhir! Uhhh!! Rasanya aku akan gila setiap malam harus merasakan perasaan yang tidak aku pahami." Eluh Lena.
"Berarti satu bulan lagi kita menikah." Sahut Nathan tersenyum tipis.
"Wahhh... Aku setuju..." Teriak Lena ikut bahagia.
"Gila!! Mari pulang, tempat ini sangat tidak baik untuk mengobrol." Tutur Bella sudah memerah wajahnya.
"Iya iya hihihi, aku ikut senang." Bisik Lena mencium pipi kanan Bella." Dan terima kasih sudah datang di saat yang tepat." Imbuh Lena mencium pipi kiri Bella.
"Aku juga terima kasih karena telah mengorbankan diri sehingga semua ini bisa terungkap meski tidak akan ada jejak dari korban." Jawab Bella tersenyum.
"Aku yang lebih berterimakasih padamu Len, karena jasamu, aku bisa cepat menikah dengannya." Sahut Nathan yang sejak tadi tidak di perdulikan.
"Ahh ya." Jawab Bella langsung mengandeng tangan Lena untuk berjalan mendahului Nathan.
Masih saja seperti itu, aku bahkan mendengar kau berkata jika kau menyukaiku daripada Bastian. Batin Nathan.
Bagaimana bisa Nathan baik-baik saja, aku jelas-jelas melihat serangan itu. Ahh lebih baik nanti saja ku tanyakan hal ini, untuk saat ini jangan dulu sebab aku tidak ingin di buat malu dengan ocehannya yang semakin membuat Lena terus meledekku. Hmm tapi. Menikah? Ahhh!! Apa ini akan berhasil? Fobia ku bahkan belum sembuh. Batin Bella serayap fokus melihat jalan.
.
.
.
Setibanya di jalan utama, ketiganya di sambut oleh Farel yang sepertinya sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Hampir saja aku pulang!" Runtuk Farel kesal." Kalian sedang apa berjanji di tempat seperti ini?" Imbuhnya lagi.
"Aku hanya takut terjadi apa-apa, jadi aku menghubungimu, kau kan tahu jika ini mobilku. Otomatis, jika aku tidak kembali, kau bisa menghubungi tim SAR atau semacamnya." Jawab Nathan menjelaskan.
"Lantas apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Farel yang sejak tadi melirik ke arah Lena yang hanya berbalut jaket Nathan tanpa celana luarnya sebab sudah di lalap oleh si jago merah.
"Kau curang Nath, liburan tapi tidak mengajakku."
"Sudahlah di sini sangat banyak makhluk seperti yang semalam kita lihat, sebaiknya kita pergi." Kata Nathan menyela.
"Apa..! " Pekik Farel berubah pucat.
"Kau mau mengantarkan dia." Nathan tersenyum serayap menunjuk ke arah Lena.
"Kenapa begitu? Biar Lena bersama kita." Sahut Bella tidak setuju.
Nathan dan Lena saling melihat seolah memang sedang merencanakan sesuatu." Emm aku pulang bersama dia saja." Kata Lena meraih lengan Farel dan cukup membuat jantung Farel berdebar, sebab sejak tadi dia memang memperhatikan Lena.
"Hahaha iya, biar dia ku antarkan saja."
"Ya sudah sampai jumpa besok Bella." Lena mencium sejenak pipi Bella dan menyeret Farel ke arah mobil Farel.
"Ya hati-hati." Jawab Bella Kikuk, sebab dia harus berdua saja dengan Nathan setelah kejadian tadi.
Setelah mobil Farel menjauh pergi, Bella terdiam, begitupun Nathan. Keduanya menyandarkan punggungnya pada body mobil milik Nathan melihat sekeliling yang terlihat cukup indah setelah insiden tadi. Nathan yang sudah melihat wujud lain dari Bella tadi sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, meski memang Bella terlihat sangat mengerikan.
"Aku sudah melihatnya, jadi tidak ada alasan lagi untuk menolak pinangan ku sebab aku menerimamu apa adanya." Kata Nathan tanpa melihat ke arah Bella.
"Melihat apa?" Tanya Bella tidak sadar.
"Wujud lainmu."
"Maksudmu?" Bella memutar bola matanya menatap ke arah Nathan.
"Apa kau tidak sadar berubah menjadi apa tadi?" Tanya Nathan.
"Tidak, memangnya aku berubah menjadi apa?" Tanya Bella balik.
Berarti dia benar-benar tidak sadar tadi.
"Sudahlah tidak perlu membahasnya."
"Emm aku terkadang seperti itu saat aku tidak bisa mengatasi masalah, tapi aku sendiri tidak tahu wujud ku seperti apa karena aku tidak sadar saat itu." Jawab Bella lirih." Emm apa aku mengerikan Nath?" Imbuh Bella.
"Cukup mengerikan, tapi sudahlah itu tidaklah penting." Kata Nathan mengusap lembut puncak kepala Bella.
"Emm tapi..."
"Tukang derek sudah datang, aku akan mengurus mobil Bastian dahulu setelah itu kita pulang ke rumah, sebab Ayah ingin membicarakan beberapa hal padamu." Sahut Nathan langsung pergi meninggalkan Bella menuju ke arah mobil derek yang di panggilnya tadi.
.
.
.
Vero yang sudah pulih kecantikannya setelah melakukan ritual semalaman, mengendap-endap keluar dari gubuk milik Ki Aryo. Obsesinya untuk mendapatkan Bastian membuat dia di butakan oleh segalanya, Vero menapaki jalan setapak yang di kelilingi oleh pohon kelapa sawit. Sejak awal dia berjalan, sudah ada sesuatu yang mengintainya. Dia bertengger di antara pohon tersebut serayap membaca pikiran Vero saat ini, Vero sendiri tidak menyadari hal itu dan langsung pergi setelah tukang ojek pesanannya datang.
Setibanya di rumah, alangkah terkejutnya Vero saat melihat Bastian tengah duduk di teras rumahnya. Dengan gerakan kaku, Bastian menoleh ke arah Vero yang sedang berjalan ke arahnya.
"Bastian." Sapa Vero tersenyum.
"Hmm ya." Jawabnya tersenyum.
"Sejak kapan kamu datang, maaf tadi aku sedang ada urusan." Tutur Vero serayap mencari-cari di mana mobil Bastian.
"Tidak apa-apa, aku juga baru saja datang."
"Kau naik apa ke sini? Biasanya kau membawa mobil?" Tanya Vero merasa curiga dengan gelagat aneh Bastian.
Mata Bastian sesaat menyala, melihat ke arah bahu jalan depan rumah Vero. Setelah itu munculah sebuah mobil yang sama persis dengan milik Bastian.
"Itu di belakangmu."
Vero menoleh ke belakang dan merasa aneh sebab tadi tidak ada mobil di sana. Mungkin aku kelelahan. Batinnya Mencoba tidak memperdulikan semuanya.
"Ohh iya maaf. Mari masuk." Vero segera mengambil kunci dari tasnya dan membuka pintu untuk Bastian.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, apa kau mau?"
Kenapa dia jadi tiba-tiba seperti ini? Bukannya kemarin dia marah padaku? Apa pelet dari Ki Aryo lebih manjur dari pada Nyai? Ahh sudahlah, aku tidak perduli, yang penting aku bisa jalan dengan Bastian.
"Tentu Bas. Sebentar ya aku berganti baju dahulu." Jawab Vero tersenyum manis dan segera masuk rumah untuk berganti baju. Dia bahkan tidak tahu, jika itu bukanlah Bastian.
NB. Jika ada keterlambatan Update, mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena Author sudah coba buat update setiap hari tapi terkadang review-nya terlalu lama🙏
Tetap setia..
Silahkan like 👍
Komentar 💬
Klik♥️
Jangan lupa share dan Votenya ya😘
Salam sayang Arabella Maheswari 😘